Friday, December 21, 2012

Book Review : Negeri Para Bedebah


Sejauh saya mengenal karya seorang Tere Liye, saya pikir novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu yang akan menjadi novel terbaik. But I was wrong. Tatkala mengikuti satu demi satu cerita bersambung berjudul Bangsat-Bangsat Berkelas di page sang penulis, saya tak sabar menunggu kelanjutannya (yang tentu saja suka-suka sang penulis kapan ia mempublikasikannya) hingga tulisan tersebut berhenti di tengah-tengah. Tere Liye agaknya lihai dalam membuat orang penasaran. Ia menciptakan jeda berbulan-bulan sebelum merilis novel yang meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2012 ini. Novel yang merupakan kumpulan catatan tersebut berlanjut dengan judul ‘Negeri Para Bedebah’. Buku yang akan kita kupas kali ini.

Adalah Thomas, seorang penasihat keuangan terkemuka. Usianya masih muda. Kariernya cemerlang, hingga tingkat internasional. Namun jarang ada yang tahu bahwa masa sekolahnya ia habiskan di sebuah panti asuhan dengan makanan yang dijatah. Yatim piatu. Ia menyimpan dalam-dalam sejarah masa lalunya hingga seseorang dari masa lalunya datang dan menariknya dalam sebuah pusaran. Om Liem, adik ayahnya sekaligus orang yang paling dibencinya di dunia ini. Empat puluh delapan jam, tiba-tiba ia hanya memiliki waktu sesingkat itu untuk menyelamatkan sebuah bank nasional dari ambang kehancuran. Thomas tak kuasa menolak, apalagi penyelamatan Bank Semesta akan melengkapi puzzle kehidupan masa lalu yang selama ini menghantuinya. Atas orang-orang yang bertanggung jawab akan kematian kedua orangtuanya.

Kalau Anda beranggapan bahwa Tere Liye piawai meramu tulisan puitis mengharu biru dalam berbagai novel sebelumnya (ah ya tentu tak lengkap tanpa menyebut Hafalan Sholat Delisa dan Bidadari-Bidadari Surga), novel ini nyaris jauh dari kesan mengharu biru. Mengikuti petualangan Thomas dari jam ke jam akan membuat pembaca menghela nafas, mulai dari taktik Thomas meloloskan om Liem dari sergapan polisi, kepiawaiannya menciptakan persepsi publik melalui media massa, strategi mempengaruhi opini sang pengambil keputusan besar penyelamatan bank hingga langkah Thomas mengejar orang-orang di masa lalu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sungguh seru sekali. Latar belakang keilmuan sang penulis sebagai alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menjadikan  nilai tambah novel yang kental dengan teori dan logika ekonomi ini. Beberapa kali saya terkagum-kagum dengan bahasa ekonomi yang disajikan cerdas sekaligus indah khas Tere Liye *sedikit banyak seperti menikmati mata kuliah ekonomi.

Yang tak kalah menarik adalah pelajaran demi pelajaran yang disampaikan melalui percakapan Thomas dan sang opa. Misalnya saat Thomas menonton acara televisi memilih hadiah yang ada di sebuah kotak dari tiga kotak, satu kotak telah dibuka dan tersisa dua kotak.

“Penjelasannya amat sederhana. Ada tiga kotak, itu berarti kemungkinan kalian memenangkan pertaruhan adalah 33,3% alias sepertiga. Itu kemungkinan yang rendah, bahkan dibawah 505 permainan “ya” atau “tidak”. Ketika aku memilih salah satu kotak, lantas professor di depanku membuka kotak lain yang ternyata kosong, maka kemungkinanku sekarang adalh 50% bukan? Apakah aku akan pindah? Ingat rumus ini : Jika kalian tetap di pilihan sebelumnya, variable baru yang hadir dalam permainan tidak diperhitungkan. Jika kalian tetap di pilihan pertama, dengan dua kotak tersisa, kesempatan kalian untuk menang sesungguhnya bukan 50%, melainkan tetap 33,3% karena kalian tetap memilih kotak yang sama dari tiga kotak sebelumnya.”
“Pindah”

Dan yang lebih mengesankan dari buku ini adalah sang penulis seperti menciptakan teori demi teori latar belakang bailout sebuah bank berskala nasional oleh pemerintah *ah tentu Anda tahu bank yang dimaksud bukan.

Negeri Para Bedebah. Agaknya judul ini amat tepat untuk menggambarkan Thomas yang licin bagai belut menghadapi para bedebah. Atau Thomas kah salah satu bedebah itu sendiri? Temukan jawabannya dalam novel yang  menurut saya layak diberi 4,5 dari 5 ini. Mengecualikan ending yang masih menyisakan sebuah pertanyaan. Mungkinkah ada kelanjutannya? Semoga saja.

Monday, December 17, 2012

Jleb #2 : Kalau Pedang Dicabut Saja Tak Terasa Sakitnya


Mushola/masjid sebagai tempat ibadah utama umat Muslim, seharusnya, tempat dimana orang-orang menjaga ketenangannya, pun ketika telah selesai menjalankan ibadah. Tetap saja ketenangan tempat ibadah harus dijaga, setidak-tidaknya untuk menghargai orang yang sedang melaksanakan ibadah bukan. Namun, agaknya tak semua orang berpendapat demikian. Pernah suatu ketika di salah satu mushola bandara, seorang ibu menerima telpon dengan kencangnya tatkala orang-orang sedang melaksanakan sholat ketika itu, ia tidak mengecilkan volume suaranya dan tidak juga cepat-cepat menyudahi pembicaraanya hingga lebih dari setengah durasi waktu sholat waktu itu terdominasi oleh percakapannya. Selepas sholat, sontak seorang bapak menegur dengan keras sang ibu yang belum selesai juga berbicara *sigh*.

Di sebuah Mushola ketika hendak menjalankan sholat, orang-orang yang sedang mengobrol tak juga menghentikan obrolannya dan tak pula merendahkan suaranya (berbincang-bincang dan sesekali diselingi candaan dan tawa) ketika ada orang yang datang hendak sholat, tak juga ketika orang sedang sholat. Biasa saja. Cuek saja. 

Secara pribadi, terus terang saja saya merasa sangat terganggu tapi saya sungkan untuk menegur sehingga saya pun memilih sholat di tempat lain atau menunggu hingga yang sedang ngobrol-ngobrol bubar. Buat saya, untuk khusyuk di tempat sepi saja saya masih harus belajar dan belajar apalagi di tempat yang riuh dan ramai. Saya pun menceritakan kegelisahan saya pada seorang ikhwah, mulai dari saya yang sungkan menegur hingga sikap saya seharusnya *sepertinya pergi dan sholat di tempat lain atau memundurkan waktu sholat menunggu sepi juga bukan sikap yang tepat. Ia pun menjawab,
“Mon, kamu tahu kisah Ali yang meminta dicabut pedang dari punggungnya tatkala sedang sholat kan agar ia tak merasakan sakitnya. Nah Mon, kamu tahu jawabannya kan,”

Jleb. Bagaikan pedang menusuk dada saya *lebay* ketika mendengar jawabannya. Tertohok. Bukan, bukannya dengan menuntut lingkungan seharusnya bersikap bagaimana tetapi lebih-lebih paling penting adalah bagaimana dengan diri kita sendiri, dengan sholat kita. Sudah benarkah niatnya? Sudah sempurnakah wudhunya? Sudah sesuaikah dengan tuntunan nabi? Sudah tahukah kita makna apa-apa yang kita baca? Sehingga ketika apapun kondisi kita tatkala menjalankan ibadah yang akan dihisab pertama kalinya itu, khusyuk lah yang akan selalu ada, Seperti Ali yang tak merasakan sakit cabutan pedang di punggungnya tatkala sholat.
gambar dari sini
Well, tentu saja lingkungan yang kondusif tatkala sholat tak kalah pentingnya tapi jauh ada yang lebih penting… Diri kita...

Wallahu a'lam

NB : Catatan ini sungguh pengingat diri yang masih dan masih harus senantiasa belajar dan belajar, berusaha dan berusaha untuk mampu sholat dengan khusyuk, atau setidaknya seperti kata ustadz selalu berjuang untuk ke arah itu, mudah-mudahan…

Friday, December 14, 2012

Mau Dibawa Kemana Anak Kita?


my little bro, Hilmy, ketika kecil
Anak-anak. Ah, siapa yang tak suka dengan anak-anak? Anak-anak yang lucu dan menggemaskan tatkala kecil, tumbuh menjadi anak yang dapat dibanggakan orang tua dan berguna bagi banyak orang. Generasi terbaik adalah generasi pertama, kemudian selanjutnya dan selanjutnya 1. Generasi saat ini menghadapi tantangan zaman yang lebih berat daripada generasi sebelumnya, tentu saja. 

Lalu mau dibawa kemana anak kita?
Ibu sebagai madrasah pertama sang anak memiliki perkembangan penting dalam kehidupan sang anak tetapi tentu saja peran sang ayah tak kalah pentingnya. Ibaratnya, ayah adalah sang kepala sekolah, ia tak selalu ‘nampak’ dalam keseharian sang anak, bisa jadi lantaran kewajiban sang ayah mencari nafkah menyita sebagian besar porsi waktunya (misal berangkat pagi pulang malam) tetapi kehadirannya yang tak terlalu sering memberikan kesan yang membekas di hati.

Nah, tentu saja membentuk generasi tangguh nan berkarakter pada zaman sekarang tak bisa dibilang mudah, generasi yang tak hanya cerdas secara akademis tetapi tentunya juga memiliki akhlak islami. Ustadz Bendri Jaisyurrahman memberikan pemaparan-pemaparan beliau dalam salah satu sesi parenting beberapa waktu yang lalu :

1.       Ada apa dengan anak kita? 
Generasi saat ini menghadapi tantangan berupa BLAST yakni Bored, Lonely, Angry, Stressful, Tired. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Misalnya pelajaran anak SD zaman sekarang dengan materi pelajaran padat, tas berisi buku-buku nan tebal (jadi ingat si bungsu Hilmy tasnya beratnya na’udzubilah), pulang sekolah masih mengikuti les ini itu, pulang ke rumah masih harus mengerjakan PR seabrek, ia tak punya cukup waktu untuk bermain. Apalagi jika orangtua jarang berinteraksi dengannya, sang anak jarang ditanya tentang bagaimana harinya, jarang didengarkan ceritanya. Diceritakan bahwa beberapa santri di pondok pesantren penghafal Al Qur’an ketika malam tiba melompati pagar pesantrennya, menuju warnet dan menghabiskan berjam-jam untuk membuka game online dan situs porno. Bisa jadi penyebabnya adalah kebosanan yang luar biasa atas rutinitas keseharian yang monoton dan itu-itu saja.

2.       Apa yang menyebabkan anak memiliki karakter yang lemah?
Bermula dari ketiadaan ayah. Ayah tak hadir secara psikologis. Ia hanya ada untuk memberi nafkah dan memberi izin untuk menikah. Anak yang tak memiliki sosok ayah (secara psikologis) dalam hidupnya akan mengalami apa yang disebut dengan Father Hunger yakni suatu kerusakan psikologis yang diderita anak yang tidak mengenal ayahnya.

Ciri-ciri ‘Father Hunger’ antara lain sebagai berikut :
a.      Rendahnya harga diri
b.     Bertingkah kekanak-kanakan
c.     Terlalu bergantung pada orang lain
d.     Kesulitan menetapkan identitas sosial
e.     Kesulitas dalam belajar
f.       Kurang bisa mengambil keputusan
g.   Sulit menentukan pasangan yang tepat untuknya, bagi perempuan bisa-bisa ia salah memilih pria yang layak sebagai pasangannya karena ia tak menemukan sosok itu pada ayahnya.

3.       Apa saja peran ayah dalam pendidikan sang anak?