Monday, February 11, 2013

Kursus Pra Nikah, Perlukah?


“Kalau untuk naik haji yang empat puluh hari saja ada ilmunya, masak buat nikah yang seumur hidup nggak ada ilmunya?” *perkataan salah seorang ustadz
“Hah, kursus pranikah? Ada ya?”
“Kursus pranikah, buat apaan?”
“Ah nikah mah nggak usah kursus, tinggal praktek aja, belajar dari pengalaman juga cukup,”

Kursus pranikah memang masih belum terlalu populer di Indonesia, belum sepopuler seminar pernikahan. Beda seminar dengan kursus tentu saja, alokasi waktu yang disediakan. Seminar hanya berlangsung setengah hari dengan materi pernikahan tertentu. Adapun kursus, materi disajikan secara komprehensif selama sekian pertemuan. Salah satu lembaga yang menyediakan kursus pranikah adalah Arrahman Qur’an Learning Islamic Centre melalui Ar-rahman Pre Wedding Academy (APWA). Membentuk keluarga islami dan membangun tatanan sosial ilahiyah adalah tujuan utama dari APWA.

Pernikahan sebagai pintu gerbang awal pembentukan keluarga yang mana dari keluarga lah tatanan sosial paling inti bermula. Pernikahan tak hanya sebagai ikatan antara sepasang laki-laki dan perempuan yang saling mencintai tetapi lebih dari itu pernikahan haruslah dilandasi dengan ilmu demi mewujudkan keluarga yang sarat dengan nilai-nilai islami, yang akan melahirkan generasi penerus yang akan menegakkan Islam di muka bumi, perjanjian yang amat berat yang tentunya tak ingin sekadar berakhir di dunia tetapi hingga kekal di akhirat. Karena itulah ilmu sebelum pernikahan mutlak diperlukan. 

Selama dua belas pekan setiap hari Ahad, peserta kursus (dibatasi per angkatan hanya sekitar enam puluh orang saja) mengikuti tiap sesi kursus dari pukul 08.00-dhuhur. Materi disajikan secara padat dan komprehensif, mulai dari Fiqh Nikah dan Proses Pernikahan Islami, Hukum Perkawinan bagi Orang Islam di Indonesia, Akhlaq dan Etika dalam Pernikahan Islami, Kesehatan Pra Nikah dan Keluarga, Manajemen Rumah Tangga Islami, Pareting (Pola Asuh) Islami, Psikologi Keluarga Islami, Keuangan Keluarga dan ditutup dengan outbound yang sarat hikmah.

Yang menarik dari kursus pranikah ini adalah materi disajikan oleh tokoh-tokoh yang amat mumpuni di bidangnya. Sebut saja misalnya, hukum pernikahan dibagikan oleh seorang guru besar Fakultas Hukum universitas paling ternama di Jakarta, kesehatan disajikan oleh seorang profesor di bidang kedokteran, hingga Sitaresmi Soekamto (sosok yang sudah saya kenal namanya dari zaman awal-awal mengenal majalah Bobo) dan Ahmad Gozali. Tak ada pemateri yang tak berkesan. Tak sekadar royal dalam membagikan ilmu tetapi juga dengan senang hati berbagi cerita dan hikmah yang luar biasa.

Pertemuan terakhir yang tak kalah mengesankan adalah outbound di pondok pesantren Arrahman yang mengajak peserta refreshing sekaligus bermain games yang tentunya tak sekadar bersenang-senang tetapi membuat para peserta mengambil hikmah. Misalnya, saat berjalan peserta disuruh mengambil benda apapun di jalan yang paling menarik hatinya, satu benda saja dan satu kali saja, sekali mengambil tidak boleh dikembalikan dan tidak boleh melihat ke belakang. Ada yang mengambil batu, bunga, daun, tanaman pakis, dsb dan juga ada pula yang tak mengambil apa-apa.Ketika mengambil batu, salah seorang peserta mengatakan bahwa batu adalah benda yang pertama kali dilihatnya sehingga ia pun mengambilnya, ada yang mengambil daun karena itulah yang terjatuh di jalan dan ia tak ingin merusak tanaman dengan memetiknya. Seperti itulah diibaratkan sebuah pernikahan, point of no return. Tak ada manusia yang sempurna sehingga sekali kita memilih seseorang sebagai pendamping hidup, kita harus sekuat tenaga menjaga amanah pernikahan seperti diibaratkan tatkala para peserta diinstruksikan untuk menggenggam sebutir telur ‘amanah’ yang harus dibawa kemanapun pergi untuk jangka waktu tertentu.

Satu kata untuk menggambarkan kursus pranikah ini adalah : LUAR BIASA. Mulai dari ilmunya, pengajarnya, pengurusnya, hingga silaturahminya. Tak sekadar kursus dalam rangka mendapatkan ilmu sekaligus menjemput kepantasan tetapi juga kuatnya nafas islami yang ada. Mempelajari hal yang tak terkatakan, mempelajari kehidupan. 

Ohya, investasi kursus ini juga amat murah dibandingkan dengan betapa banyak hal yang akan didapat. Hanya Rp600.000 (diluar biaya outbond). Kursus pranikah angkatan berikutnya (angkatan VI) insya Allah akan diadakan pada bulan April/Mei. APWA juga akan mengadakan seminar pernikahan yang insya Allah dahsyat di bulan April nanti. Pokoknya dijamin nggak rugi deh ikutan. Tunggu tanggal mainnya ya :)

Bisa follow twitter @apwanikah untuk mendapatkan ilmu-ilmu menarik dan bermanfaat seputar pernikahan juga lho :)

NB : Beberapa materi kursus dirangkum pada postingan di blog ini “Mau Dibawa Kemana Anak Kita?" “Aisyah dan Maisyah: Persiapan Keuangan Menuju Pelaminan”

16 comments:

  1. perlu,mba monik. tapi di kotaku kok belum ada ya, heuheuuu :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. mudah2an nanti APWA ada d kota2 lain k depannya :)

      Delete
    2. sy sgt berminat unt jd asisten psikolog keluarga dan pranikah.. gmna caranya y mb..? pgn bgt..^^
      sy lulusan fpsi unair.. :)
      ada ndak y d Sby?

      Delete
  2. mungkin ada baiknya juga ya tapi aku dulu ngga ikut kursus mba.. ya udah sekarang learning by doing aja

    ReplyDelete
  3. Kayaknya perlu sih, mengingat angka perceraian akhir2 ini makin tinggi

    ReplyDelete
  4. lebih baik pergi belajar kursus pra nikah untuk lebih faham dan tahu tanggungjawab suami isteri..

    ReplyDelete
  5. perlu banget gan, biar menghindari yg ngga diinginkan

    ReplyDelete
  6. setuju banget deh sama kata ustadnya

    ReplyDelete
  7. perlu ya menurut saya...............biar lebih mantap pengetahuannya ttg rumah tangga dan hukum2nya...........hehehe

    ReplyDelete
  8. Saya juga setuju dengan Mbak, acaranya kursus pranikah memang penting sekali. Bahkan, acara yang sebagaimana Mbak tulis di atas, sungguh luar biasa.

    ReplyDelete