Tuesday, February 26, 2013

The Best Planner



“Kalau hidup selalu sesuai harapan dan keinginan, mungkin seseorang tak akan tahu rasanya perjuangan.. Jika doa-doa selalu terkabulkan, mungkin seseorang tak akan tahu rasanya penerimaan… bahwa diatas segala rencana, Dialah sebaik-baiknya pembuat rencana…”


Tak pernah terpikir olehnya untuk menjadi seorang pegawai negeri, pun di ibukota negara pula, sekian ratus kilometer jauhnya dari rumah. Anak SMA yang amat menggemari bahasa Inggris dan bercita-cita melalang buana ke seluruh dunia dengan menjadi seorang diplomat. Apa daya, kondisi ekonomi orangtua yang kurang bagus saat ia lulus SMA membuatnya berubah haluan.  Tak ada Fakultas Hubungan Internasional di universitas yang ada di kota Semarang.

“Kamu kuliahnya nanti di Undip saja, kondisi keluarga kita lagi kurang bagus. Berat untuk menyekolahkanmu ke luar kota,” 

Mengangguk. Mengubur impian dalam-dalam. Ia pun mendaftar ketiga perguruan tinggi yang sekiranya tak memberatkan orangtua. Sebuah sekolah tinggi manajemen milik BUMN di bidang telekomunikasi yang berlokasi di Bandung,universitas negeri di Semarang dan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Yang pertama dipilih karena menawarkan beasiswa untuk tiga orang dengan nilai terbaik, yang kedua melalui jalur SPMB dengan biaya terjangkau dan yang ketiga lantaran memberikan pendidikan gratis untuk mahasiswanya. Alhamdulillah tiga-tiganya diterima. Ia pun memilih yang terakhir. Rencana pertama.

Sempat tak percaya diri dengan kemampuannya, ia pun menghabiskan tiga tahun terbaik dalam hidupnya di Bintaro, menggeluti buku karangan Warren Reeve Fess hingga Stice Stice Skousen. Sekolah tersebut mengubah hidupnya, banyak pelajaran kehidupan yang ia dapatkan sehingga ia pun bercita-cita setelah lulus ditempatkan menjadi pegawai pada sekolah tersebut. Ia ingin berada di lingkungan kampus itu. Meleset. Ia ditempatkan disebuah Direktorat Jenderal yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya, yang selama ini hanya singkatan namanya yang ia ketahui. Rencana kedua.
  
Seiring berjalannya waktu, ia pun bertemu dengan sebuah sekolah tinggi yang lagi-lagi memberinya pelajaran kehidupan. Al Manar. Tempat ia menimba ilmu bahasa dan agama. Tempat ketiga terbaiknya setelah kota kelahiran dan kampus STAN.

Ah, kalau saja ia tetap bersikeras dengan keinginannya setelah lulus SMA, ia mungkin tak akan pernah mengenal STAN, kampus dengan lingkungan relijius kental yang banyak membentuk kepribadiannya, ia tak akan mengenal orang-orang hebat yang berperan dalam langkah-langkah selanjutnya. Kalau saja ia bekerja di lingkungan kampus, mungkin ia tak akan tahu dunia di luar lingkungan kampusnya dan ia tak akan pernah mengenal Al Manar. Ia mungkin tak akan mendapatkan ilmu-ilmu melimpah ruah ditambah teladan para ustadznya. 

Cerita selanjutnya adalah ia kemudian lolos seleksi penerimaan mahasiswa D-IV di kampusnya. Ia (tetap) kembali seperti apa yang dicita-citakannya. Dengan cara yang berbeda, yang tak pernah terpikirkannya. Jalan yang lebih indah yang mungkin tak sesuai rencana pada awalnya, tak diinginkannya tetapi selalu rencana-Nya lebih indah. Jauh lebih indah. 

Manusia merangkai rencana demi rencana tetapi di atas segalanya adalah rencana-Nya yang terindah, yang terhebat, dan maha dahsyat. Entah untuk dunia, entah untuk akhirat. Tuliskan rencanamu dengan pensil dan berikan penghapusnya kepada Tuhan, perkataan sang bijak. Semua potongan kehidupan akhirnya akan bermuara pada satu pemahaman yang dikatakan berulang-ulang pada kitab suci : Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. :)


Menunggu rencana indah-Nya selanjutnya....


18 comments:

  1. quotenya hebat sekali mbak.. bikin dada kembang kempis..

    rencana Allah yang paling baik

    ReplyDelete
  2. ya kita manusia cuma bisa merencanakan toh...kadang rencana indah berubah menjadi mengerikan, tapi kadang pula sebaliknya..namun ada sisi-sisi dimana kita juga berkontribusi untuk mewujudkan rencana kita itu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener mas, ikhtiar dan tawakal.. salam mas :)

      Delete
  3. Monik asli semarang jadinya nih? sama Mbak Rani.

    saya setuju sama kamu Mon. kamu termasuk orang2 yang beruntung. Bersyukurlah. beda sama saya harapan dan cita2ku semua terhapuskan. Tapi yasudhlah saya melihat ini memang bukan kehendak saya melanikan jalan yang akan indah jika dilaluinya. karena usaha dan doa hars disertai bukan?

    Ganbate yah ukht.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya asli Semarang :)

      semangat ukh, pasti nanti ada suatu titik yang menunjukkan bahwa semua yg trjadi adalah yg terbaik, insya Allah :)

      Delete
  4. Maha Rencana kan gak termasuk dalam nama" Allah yang sudah Allah sebutkan dalam dalil" di Quran dan Sunnah, mon. Ahsannya diganti

    ReplyDelete
  5. mon, itu foto laut di Bali ya mon? yang pas ke lovina? *malah OOT hehe

    ReplyDelete
  6. Rencana Allah mah kadang tak bisa diduga-duga, tapi bagi orang yang selalu bersyukur semuanya terasa indah..

    ReplyDelete
  7. Maasya Allah.. bener.. teringat sebuah kutipan: Jika kita terus mendapatkan apa yg kita inginkan, berkuranglah tempat kita untuk belajar ikhlas :')

    ReplyDelete
  8. manusia itu hanya bisa merencanakan saja, yang menentukan semuanya iu Allah s.w.t :D
    salam kenal yah mba :D

    ReplyDelete
  9. Selalu banyak hikmah ya di balik sebuah peristiwa :D
    saya suka lho sama quotenya :D

    ReplyDelete
  10. Perjalanan hidup Mbak Monika indah. Subhanallah, alhamdulilah.... Ikut berbahagia :)

    ReplyDelete