Wednesday, February 27, 2013

Seberapa Penting Imunisasi Halal dan Thayyib?



Tak dapat dipungkiri bahwa umat Islam membutuhkan jaminan kehalalan dari berbagai aspek. Dewasa ini, kesadaran akan kebutuhan jaminan halal tersebut semakin meningkat. Mulai dari apa yang dikonsumsi langsung seperti makanan dan minuman hingga produk yang dikonsumsi badan secara tak langsung sebut saja sabun mandi, lulur, kosmetik hingga plastik bening. Pencantuman logo halal semakin jamak disertakan. Salah satu komunitas yang giat menginformasikan dan mengkampanyekan mengenai kehalalan produk-produk yang dikonsumsi secara luas oleh masyarakat adalah @halalcorner. Dimulai dari dunia maya, akun ini pun berkembang luas menjadi sebuah komunitas. Seminar bertajuk “Imunisasi Halal dan Thayyib?” merupakan kegiatan yang pertama kali digelar untuk masyarakat umum. Tiga dokter, satu perwakilan PT Biofarma (sebagai salah satu produsen vaksin di Indonesia) dan satu perwakilan MUI membahas tuntas tema menarik tersebut.

Seberapa pentingkah vaksin dalam tubuh manusia?
Pada dasarnya, imunisasi merupakan suatu bentuk perangsangan imunitas (kekebalan) secara artifisial baik secara vaksinasi atau pemberian antibodi. Konsep dasar vaksin adalah memasukkan racun (bakteri/virus yang aman/inactivated toxic) ke dalam tubuh untuk merangsang antibodi.  Artinya vaksin merupakan suatu bentuk pencegahan (precaution) seseorang akan penyakit yang mungkin akan menyerangnya. Vaksin menyediakan ‘lawan’ untuk tubuh untuk pertahanan. Pada titik ini timbul sebuah pertanyaan, apakah perlu kita memasukkan ‘racun’ ke dalam tubuh untuk menghindari sesuatu yang belum pasti terjadi? Perlu diperhatikan pula bahwa vaksin memiiki efek samping dan dapat memicu kontraindikasi yang tak diinginkan. 

Dari segi kesehatan, menjaga kesehatan merupakan hal yang tak boleh diabaikan. Salah satunya melalui peningkatan imunitas tubuh dengan vaksinasi. Tujuan imunisasi sendiri adalah menurunkan kesakitan dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Imunisasi sendiri disebut-sebut merupakan metode yang paling cost-effective.Selain itu imunisasi tak hanya berguna bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain. Imunisasi tak hanya memberikan kekebalan pribadi tetapi juga memberikan kekebalan komunitas (herd immunity). Orang-orang yang mendapatkan vaksin dalam sebuah komunitas akan mampu melindungi komunitasnya. Orang-orang yang tak boleh divaksinasi misalnya penderita leukimia akan mendapatkan perlindungan melalui teman-temannya yang telah divaksinasi. Bahkan disebutkan oleh dokter pembicara pertama bahwa vaksin merupakan infak seseorang untuk melindungi lingkungan dari penyakit berbahaya dan mematikan.

Secara agama, tujuan syariah yang utama adalah merealisasikan kemaslahatan dan mencegah kemudaratan. Apabila kondisi tersebut tidak terpenuhi maka dicari kaidah berikutnya yakni menjaga agar tidak terdapat bahaya (mendahulukan untuk mencegah kemudaratan ketimbang mencari kemaslahatan). Lalu kaidah selanjutnya apabila dua kaidah tersebut tidak terpenuhi (tidak ada manfaat yang dapat dilihat dari dua pilihan) adalah apabila terdapat dua bahaya, maka memilih bahaya yang memberikan dampak lebih kecil.

Pada dasarnya, menjaga kesehatan adalah bagian dari kewajiban dasar kemanusiaan dalam rangka merealisasikan tujuan syariat hifzh al nafs (menjaga jiwa). Menjaga kesehatan terbagi menjadi dua yakni melakukan upaya preventif dan melakukan pengobatan. Salah satu langkah preventif menjaga kesehatan adalah melalui imunisasi. Namun tentu saja, dalam tujuan menjaga dan mewujudkan kesehatan, kita sebagai umat Muslim tetap terikat kaidah agama ikhtiar dan kewajiban konsumsi halal dan thayyib. Halal merupakan aspek yang dilihat dari isu keagamaan sedangkan thayyib merupakan aspek yang dilihat dari isu kesehatan dan keamanan. Sebut saja misal buah durian, hukumnya halal tetapi bisa jadi ia tidak bersifat thayyib bagi penderita penyakit tertentu yang mengkonsumsinya. Hukumnya bisa menjadi haram lighairihi.

Lalu imunisasi yang halal dan thayyib itu yang seperti apa?

Biofarma sebagai salah satu produsen vaksin di Indonesia menjelaskan bahwa diantara sekian banyak vaksin yang diproduksi hanya satu vaksin yang pernah tersentuh oleh tripsin yang mengandung babi yakni vaksin polio. Selain vaksin polio, vaksin yang lain tidak menggunakan tripsin dalam pembuatannya. Tripsin digunakan untuk memotong tempat hidup virus lepas. Virus polio tidak tersentuh oleh tripsin melainkan medianya karena dikatakan bahwa jika masih mengandung tripsin, proses selanjutnya tidak berjalan. Ibaratnya, jika hendak memasak ayam yang ada di kandang, untuk mengeluarkan ayamnya dengan membuka kandangnya maka tripsin adalah alat yang diperlukan untuk membuka kandang. Ia tidak tersisa pada proses selanjutnya. Saat ini, Biofarma sendiri sedang mengembangkan pembuatan vaksin polio yang tidak menggunakan tripsin (disebut sebagai Sabin Inactivated Polio Vaccine/SIPV) dan juga vaksin yang free animal origin.
 
Dalam perspektif hukum Islam, halal tidak semata merupakan persoalan bahan tetapi juga proses pembuatan. Terkait vaksin polio, fatwa MUI No. 16 Tahun 2005 menyatakan bahwa “penggunaan Oral Polio Vaccine (OPV)/vaksin polio oral dibolehkan sepanjang belum ada OPV lain yang halal.”

Terdapat dua kondisi imunisasi : apabila vaksin halal maka diperbolehkan secara mutlak untuk menggunakannya, apabila vaksin tersebut haram dan terdapat alternatif yang lain maka tidak boleh secara mutlak untuk menggunakan vaksin tersebut dan apabila tidak ada vaksin alternatif maka diperbolehkan untuk menggunakan vaksin haram tersebut secara kondisional (bersifat temporal).

Adakah alternatif selain vaksinasi?
Terdapat ilmu yang menyelidiki nutrisi yang mempengaruhi DNA (disebut sebagai nutrigenomics). Bayi yang lahir dengan kondisi badan kecil memiliki imunitas yang lebih rendah, dikarenakan mendapatkan nutrisi yang lebih rendah dari ibunya. Hal tersebut berarti proses menjaga kesehtan seorang anak bisa dimulai semenjak ia berada dalam kandungan. Terapi dengan nutrisi menyediakan bahan bagi tubuh untuk pertahanan. Meningkatkan imunitas dapat melalui asupan ASI, madu, habatussauda dsb. Tetapi dikatakan bahwa pemberian nutrisi tersebut memberikan kekebalan secara umum tidak seperti vaksin yang bersifat memberi kekebalan secara khusus.

Saran terkait vaksinasi
Masyarakat perlu mengetahui terlebih dahulu mengenai kontraindikasi yang mungkin timbul sehubungan dengan pemberian vaksinasi karena reaksi yang muncul bisa berbeda-beda untuk tiap orang (perlu untuk mengetahui kondisi anak). Selain itu juga perlunya untuk mengetahui kehalalan dari vaksin yang akan dikonsumsi.

Kesimpulan yang didapat
Halal Corner menyatakan “mendukung imunisasi yang halal dan thayyib”. MUI sebagai lembaga yang memberikan jaminan kehalalan juga memperbolehkan imunisasi dengan syarat kehalalan terpenuhi.

Demikian, semoga bermanfaat. Mohon koreksi apabila ada kata-kata yang kurang tepat mengingat latar belakang saya bukan di bidang kesehatan ^^


nb : website halal corner http://www.myhalalcorner.com/

22 comments:

  1. sebenarnya kalo tanpa vaksin kita masih bisa tetap hidup sehat kan kakak? selama kita memang jaga tubuh dan lingkungan bersih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener dek... klo dr yg kakak tangkap kemarin itu vaksin adalah salah satu upaya menjaga kesehatan... menjaga tubuh dan lingkungan adalah untuk membentuk kekebalan yang bersifat umum, klo vaksin membentuk kekebalan yg bersifat khusus. Kira2 begitu dari seminarnya...

      Delete
    2. tapi vaksin kan seperti insurance... untuk menjaga andai terjadi, karena kita tidak pernah bisa pasti kondisi kita dan lingkungan setiap saat .... , mungkin kita tidak perlu tapi mungkin kita perlu...

      Delete
  2. Ini no komen dulu, soale udah lama jadi perdebatan :D

    Apa kabar, Mbak Monik? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe.. bener mba... pro kontra ttg vaksinasi itu sendiri :)

      alhamdulillah baik :)

      Delete
  3. kerennn banget ada imunisasi halal dan toyib. Mantappp

    ReplyDelete
  4. imunisasi hala dan toyib baru tahu nih hihihi

    ReplyDelete
  5. mudah2an masih ada yang halal2 deh

    ReplyDelete
  6. mon keren aku copas diprint deh hehe...
    eh btw klo anak saya gak saya beri posyandu lengkap gmna ya?? jujur ga tega, soalnya ada juga yg ga cocok temen saya contohnya. dia gak bsa kena suntikan posyandu sampe gede pun dia malah bis disuntik malah sakit. dan pengaruh sama tubuh kembangnya juga.
    wallahu 'alam bisshowab

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, ibu harus tahu sebelum nge-vaksin anaknya, kontraindikasi yg mungkin timbul sm keadaan anaknya...

      mungkin klo nannti aku punya anak, istikharah dulu kali ya hehe

      Delete
  7. Ow...vaksin yang halal...hum...ini bisa jadi info yang berguna buat aku nantii.....(meski belum nikah)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama mba, aku blm nikah juga.. sala kenal ya mba :)

      Delete
  8. makasiii mon infonya ... insyaAllah sejauh ini memilih untuk imunisasi, tapi emang gak semuanya ...

    ReplyDelete
  9. Kalau ga di vaksin akibatnya apa mbak?
    ada temen saya yg dari kecil ga pernah dii vaksin sama sekali, tapi sampai sekarang sehat-sehat aja tuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya divaksin jg ga jaminan mba hehe... divaksin atau ga itu pilihan... yg terpenting adalah menjaga imunitas tubuh *menurut saya hehe

      Delete
  10. tambahan referensi saat akan punya anak nanti nih :)

    ReplyDelete
  11. http://www.mirajnews.com/id/artikel/opini/3195-mewaspadai-bahaya-imunisasi.html

    yang menjadi narasumber produsen vaksinasi ya terang saja lah mbak...
    silahkan dikaji pendapat lain..

    lalu apakah dijamin semua vaksinasi/imunisasi yang ada itu halal
    saya bukannya meragukan MUI..
    tapi belum lama ada perusahaan Investasi yang didukung/dihalalkan oleh MUI tapi kabur juga...
    dan saya lihat tidak ada tindak lanjut real MUI...kawan saya menjadi korban saat ini..

    menurut saya halal dan thoyyib imunisasi harus dikaji lagi (silahkan baca link di atas)..,
    bukan sekedar sertifikasi MUI semata...

    terimakasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih Mas atas komentarnya.
      Sebagai umat Islam yang tidak memiliki kemampuan berijtihad saya bersandarkan pada ulama-ulama yang berani memfatwakan suatu hukum bagi umat, dalam hal ini MUI.

      Tentu, mereka tak sempurna, karena dalam hadits pun dikatakan bagi orang yang berijtihad mendapat dua pahala jika benar dan satu pahala jika salah.

      Saya sudah baca Mas. Terima kasih atas masukannya.
      Salam.

      Delete