Wednesday, August 28, 2013

Dari Borobudur ke Angkor Wat



Saya masih ingat benar teriknya matahari di Candi Borobudur, tiga belas tahun silam tatkala karya wisata Sekolah Dasar. Candi Borobudur amat memukau dengan kemegahannya. Tak henti-hentinya saya memandang kagum bangunan yang sudah lebih dari dua belas abad berdiri itu. Dengan antusias, tangan kecil saya berusaha merogoh patung Buddha yang ada di dalam stupa melalui celah-celah stupa, katanya jika berhasil menyentuh maka keinginan akan terkabul. 

Borobudur (Sumber: Wikipedia)
Angkor Wat (Sumber: Wikipedia)
Keindahan Candi Borobudur kerapkali dibandingkan dengan keindahan Angkor Wat yang ada di kota Siem Reap, Kamboja. Angkor Wat sendiri dibangun sekitar tiga abad setelah Candi Borobudur ada yakni pada abad 12M oleh Raja Suryavarman II. Bedanya, Angkor Wat merupakan kawasan candi dengan banyak candi yang ada di dalamnya sehingga Angkor Wat jauh lebih luas dibanding Borobudur (konon katanya butuh tiga hari untuk memutarinya). Angkor Wat sendiri dibangun dengan berlandaskan pada agama Hindu  sebagai sebuah penghormatan kepada Dewa Wishnu meskipun pada perkembangannya dialihfungsikan menjadi candi Buddha seiring dengan kemenangan tentara Siam yang memeluk agama Buddha pada akhir abad 13M. Baik Candi Borobudur maupun Angkor Wat telah diteliti oleh para ahli sejarah memiliki kesamaan dalam bentuk arsitektur maupun relief.

Kok bisa sama ya?

Berdasarkan penelusuran saya melalui Om Google, baik Candi Borobudur maupun Angkor Wat dibuat oleh seorang arsitek bernama Gunadharma. Kerajaan Sriwijaya yang merupakan salah satu kerajaan terhebat di zamannya mempunyai pengaruh yang luas hingga ke negara-negara Asia Tenggara lain seperti Kamboja. Raja Jayavarman II sebagai pendiri kerajaan Khmer dengan ibukota Angkor Wow. Artinya dua bangsa ini telah menjalin hubungan sejak lama.

Persamaan arsitektur candi hanyalah merupakan salah satu bukti bahwa bangsa-bangsa di wilayah Asia Tenggara memiliki akar rumpun yang sama. Dari segi bahasa misalnya, Bahasa Melayu dari rumpun bahasa Austronesia banyak digunakan di negara seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura. Tak bisa dipungkiri, dari segi wajah penduduk Asia Tenggara memiliki bentuk wajah mirip-mirip. Tentu saja, mengingat konon berasal dari ras yang sama yakni Mongoloid.
Mari bersinergi (sumber gambar)

Kesamaan rumpun sebagai suatu warisan kebudayaan merupakan salah satu modal yang bagus untuk membina hubungan kekerabatan yang erat. Ibaratnya, negara-negara di wilayah Asia Tenggara bersaudara sepupu. Komunitas Ekonomi ASEAN yang akan ada pada tahun 2015 nanti merupakan salah satu sarana yang tepat untuk bersinergi, bahu membahu bergandeng tangan menyongsong persaingan global yang semakin ketat.

Jadi, sudah siapkah bersinergi? :)


Referensi :

4 comments:

  1. saya sudah pernah ke borobudur tapi belum pernah ke Angkor wat. Harus kesana untuk membuktikan kalo kedua candi tersebut memiliki persamaan :)

    ReplyDelete
  2. wowowowooo...ternyata kompetitor pulak neh di Asean.
    Selamat berjuang...hehehe

    ReplyDelete
  3. Wah, banyak ketemu postingan tentang ASEAN dan Salon Thailand...
    Semoga saya bisa keliling ASEAN dan nyalon di salon Thailand

    ReplyDelete
  4. Kayaknya Angkor Wat juga mirip Candi Prambanan ya? Sekilas sih, soalnya ke Borobudur dan Prambanan masing-masing baru 1x, itu pun waktu masih mungil pas SD dulu.

    Satu lagi yang mirip-mirip antara Indonesia sama negara-negara ASEAN lainnya: mukanya. Kalo liat film-film produksi negara-negara ASEAN, pasti ada aja muka orang-orangnya yang secara reflek bakal kita kira sebagai orang Indonesia :)

    ReplyDelete