Tuesday, August 27, 2013

Menikmati Salon Thailand di Dekat Rumah


Aku menatap cermin persegi panjang di depan. Rambut panjangku mulai tak beraturan,  sudah beda jauh dengan gambaran gadis iklan shampo di televisi. Ah, sudah waktunya potong nih, pikirku. Segera ku sambar jilbab coklat kesayangan dan bersiap pergi.

“Ma, aku mau potong dulu ya,” pamitku pada Mama yang sedang asyik bereksperimen di dapur
“Potong dimana, nduk?”
“Biasa, di salon langganan,”
“Eh, ada salon baru lho di dekat pom bensin. Sebelah kiri dealer motor itu. Kemarin Mama lewat tulisannya masih grand opening. Ada tulisan diskon dua puluh persen kalau nggak salah. Salon perempuan juga,”

Cling, demi mendengar kata diskon, aku langsung semangat. Lagipula, tak ada salahnya mencoba salon baru, barangkali bagus juga pelayanannya.

“Sawadee kha”

Ucapan hangat nan ramah menyambutku dari dua orang gadis yang menyatukan kedua telapak tangannya setinggi dagu dengan sedikit menunduk begitu aku memasuki ruangan salon yang cukup luas. Aroma wewangian yang baru pertama kali ku cium meruap di ruangan bernuansa cerah ini. Aku pun melangkahkan kaki ke arah meja. 

“Good afternoon, Miss. Can I help you?”

Glek. Ini mbaknya kok ngomongnya bahasa Inggris. Aku menatap wajah perempuan di depanku, cantik banget. Mirip artis di film Thailand yang barusan aku tonton semalam.  Wait. Thailand? Tiba-tiba mataku menangkap hiasan gajah di sebagian sudut ruangan. Bola mataku berputar lagi. Di dinding yang berhadapan langsung dengan pintu masuk tertempel tulisan yang tak ku mengerti, menggunakan aksara yang mirip aksara jawa. Eh, ini aksara Thailand kayaknya. Di sebelah kanan dan kiri ruangan berbentuk persegi ini terpajang pigura bergambar para artis terkenal. Ada gambar para artis terkenal Indonesia, ada juga gambar para artis Thailand. Eh, aku nggak salah masuk salon kan ya?

“Miss?” perempuan berambut panjang di depanku membuyarkan pikiranku yang lari-lari
Nattasha Nauljam, salah satu artis Thailand
“Emm, I wanna have a new haircut,”

Ia tersenyum manis. Jemarinya memencet monitor di depanku. Eh, sampai nggak nyadar ada monitor layar sentuh di depanku. Di layar terpampang beragam model rambut beraneka ragam. Swype. Aku melihat-lihat sejenak sebelum menjatuhkan pilihanku pada salah satu potongan rambut.

“Well, a nice choice Miss. This haircut will make you look more chic,”

Aku tersenyum. Eh, ruangan salon ada yang tertutup nggak ya? Walau salon perempuan, kadang ada saja lelaki masuk. Seperti membaca pikiranku, si mbak resepsionis menawarkan ruangan tertutup di belakang ruang utama. “We have considered the need of Moslemah,” Tak lama kemudian seorang perempuan lain mengantarkanku ke ruangan dimaksud, ia yang akan memotong rambutku. Kres, kres. Setengah jam berlalu tanpa terasa. Perempuan ini melakukan tugasnya dengan cekatan, pijatannya pun nyaman sekali. Wah, nggak usah jauh-jauh ke Thailand kalau mau nyoba pijatan perempuan Thailand hihi. Aku pun memandang puas penampilan baruku.

“Wah, uangku cukup nggak ya,” Tanpa sadar aku pun bergumam
“Ndak mahal-mahal banget kok mbak,” Eh, aku menoleh. Mbaknya kok tahu bahasa Indonesia?
“Kulo nggih wong jowo,”

Mukaku bersemu merah. Tak lama kemudian kami pun terlibat perbincangan hangat. Salon ini memang salon asal Thailand, sebagian pegawainya pun dari sana, ada juga yang penduduk lokal seperti mbak ini. Sebelum resmi bekerja, para pegawai diberikan pelatihan khusus selama tiga bulan oleh trainer asal Thailand. Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasannya.

Aku menuju meja resepsionis kembali untuk membayar. Benar, biaya jasanya tak terlalu mahal, apalagi dibanding pelayanannya yang ciamik. Dapat diskon pula hihi. Sebelum aku beranjak resepsionis memberiku sebuah gantungan kunci gajah. Untuk lima puluh pengunjung pertama katanya. Asyik.

“Terima kasih. Semoga datang kembali,” 

---

Dalam beberapa tahun ke depan, bukan tak mungkin kondisi imajiner di atas menjadi kenyataan. Perekonomian berkembang dengan pesat dan dunia semakin global. Terlebih untuk wilayah ASEAN yang ditunjang dengan kesepakatan bersama, salah satunya melalui integrasi ekonomi. Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community akan dimulai pada tahun 2015. Artinya, penduduk lokal dituntut untuk memiliki kompetensi yang semakin tinggi agar semakin mampu bersaing dengan penduduk asing. Di bidang ekonomi, para pengusaha lokal dituntut memiliki keunggulan kompetitif lebih. Jika tidak, bukan tak mungkin pasar akan lebih memilih layanan produk atau jasa dari mancanegara.

Sudah siapkah Indonesia?

Hal baru dapat disikapi melalui dua sudut pandang : peluang atau ancaman. Masyarakat Indonesia, khususnya para pelaku bisnis, dapat memiliki jangkauan pasar yang makin luas dengan dibukanya perekonomian ASEAN lebar-lebar. Begitu pula sebaliknya. Persaingan yang semakin kompetitif juga merupakan sebuah tantangan, bagaimana untuk mempertahankan pelanggan lama serta semakin memikat hati pelanggan baru. Artinya, Indonesia haruslah memiliki produk unggulan global, standar pelayanan dan kepuasan yang tinggi serta berinovasi secara terus menerus. Jika itu dilakukan, persaingan global bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Untuk maju, perlu ada pesaing tangguh bukan? :)

Yang terakhir, hal tak kalah penting lainnya adalah sikap mental pemenang. Sumber daya dan potensi lokal tak perlu dipertanyakan lagi, begitu melimpah ruah di Indonesia. Sikap mental pemenang akan membentuk keyakinan atas kemampuan diri yang diperlukan dalam persaingan yang makin global dan kompetitif.
Siap-siap bersaing, sumber : klik

6 comments:

  1. Kok tiba2 banyak Salon Thailand bermunculan ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pak Mars, mau coba salon gaya Indonesia Kan ? he,,, he,, he,,,

      Delete
  2. Siapa takut asal bersaing sehat anak bangsa Indonesia pasti bisa menghadapi ini semua, terlepas menang atau kalau persoalan yang lain. Namanya juga proses terus berjalan sampai akhir waktu. Hore..... semangat ya !

    Salam wisata

    ReplyDelete
  3. Sama salon lokal, gimana kualitasnya, Mon?

    ReplyDelete
  4. kondisi imajiner?
    jadi salonnya ga beneran? -____-a

    ReplyDelete