Friday, September 6, 2013

[7 Wonders] Jatuh Cinta pada Sawarna



Suntuk dengan padatnya Jakarta tapi tak punya banyak waktu untuk liburan selain weekend? Tak perlu jauh-jauh untuk menyegarkan kembali pikiran yang penat. Sekitar 200 kilometer dari Jakarta, terdapat sebuah daerah yang disebut sebagai salah satu ‘surga tersembunyi’ di Indonesia. Apalagi kalau bukan Sawarna. Sebuah desa di pesisir selatan Banten yang mahsyur akan pantai-pantai nan elok, sebut saja Tanjung Layar, Karang Teraje dan Ciantir.

Perjalanan menuju Sawarna dapat ditempuh dalam waktu 6-7 jam menyusuri pulau Jawa bagian barat. Salah satu jalur ditempuh dari Jakarta menuju Pelabuhan Ratu lalu dilanjutkan dengan perjalanan menuju Desa Sawarna yang terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak. Jalan yang dilalui cukup mulus meski harus melewati cukup banyak kelokan  dan tanjakan. Ah, saya membayangkan perjalanan darat menuju Sawarna tentu akan lebih menyenangkan bila menggunakan mobil tangguh untuk menggunakan perjalanan jauh. Daihatsu Terios salah satunya. Tahun lalu mobil ini telah teruji melakukan ekspedisi sepanjang 3.300 km dari Jakarta ke Lampung, dari Lampung hingga titik nol kilometer di Sabang.

Selain tujuan utama perjalanan itu sendiri, perjalanan menuju Sawarna tak membosankan dengan pemandangan hijau di kanan kiri jalan serta pesisir pantai selatan. Ada salah satu spot menarik di  kecamatan Malingping yang membuat perjalanan kami terhenti sejenak untuk menikmati keindahannya dan juga tentu saja tak lupa mengabadikan gambar.

Dari Malingping
Memasuki Desa Sawarna, tujuan pertama kami adalah Pantai Karang Teraje. Pantai dengan hamparan karang dimana-mana ini menyuguhkan pemandangan yang cantik. Airnya pun sangat jernih sehingga pengunjung dapat puas bermain-main. Tak hanya itu, terdapat pula ikan-ikan kecil berenang di dalam cekungan karang. Naik ke atas bukit karang, rasanya sungguh damai menghabiskan sore dengan menikmati debur ombak pantai selatan sambil memandang birunya langit di tengah-tengah pantai yang tak terlalu ramai. Hmm.

Karang Teraje

Karang Teraje

Melewati jembatan kecil
Tujuan kami selanjutnya adalah pantai Tanjung Layar, pantai yang menjadi ikon Sawarna ini terletak sekitar dua kilometer dari pantai Karang Teraje. Jalanan berkelok-kelok dan menyempit sehingga diperlukan kewaspadaan lebih. Sempat menahan nafas tatkala kami berhadapan dengan bus besar di kelokan yang cukup curam. Untuk memasuki pantai Tanjung Layar, wisatawan harus melewati akses jalan yang hanya bisa dilalui motor sehingga mobil pun diparkir di pinggir jalan. Para pengojek motor telah siap sedia mengantarkan para wisatawan menuju pantai Tanjung Layar dengan biaya antar Rp20.000 pulang pergi. Setelah melewati jembatan kayu kecil, kita akan melewati perkampungan penduduk, di sana terdapat banyak homestay yang dapat digunakan oleh para pengunjung. Pemandangan hijau sawah nampak di sebelah kiri jalan sementara di sebelah kanan terhampar pantai selatan, aih indahnya.

Pantai Tanjung Layar, kami tiba saat mendung

Pantai Tanjung Layar merupakan daya tarik utama Sawarna. Tak salah memang, mata saya berkejap begitu memandang dengan lanskap nan cantik : dua buah batu karang besar sebagai ikon pantai Tanjung Layar berpadu dengan air nan amat jernih. Untuk dapat bermain air dan menikmati keindahan batu karang, kita harus melewati laguna (air yang tertutup di belakang gugusan karang) setinggi kira-kira selutut orang dewasa. 
Dua buah batu karang yang menjadi ikon pantai Tanjung Layar




Batu karang dari samping

Aduhai. Mata saya tak bosan memandang keindahan ini. Pantai ini begitu menawan, sehingga tak salah jika disebut sebagai ‘surga tersembunyi’. Langit biru, gugusan batu karang nan cantik, air yang begitu jernih, udara yang begitu segar hingga keras debur ombak pantai selatan yang pecah oleh batu karang besar. Tawa kami lepas sekali sore itu. Kami begitu menikmati pemandangan, bermain air sepuasnya dan asyik berpose disana-sini. Bagi Anda yang memiliki hobi fotografi, pantai ini memiliki banyak titik-titik yang amat sayang jika dilewatkan oleh lensa kamera.



Pantai Ciantir (foto oleh rekan saya Adhi Kurniawan)
Tak jauh dari Tanjung Layar, sekitar satu kilometer, terdapat pula Pantai Ciantir atau disebut juga dengan Pantai Pasir Putih. Pantai ini merupakan salah satu pantai yang kerap digunakan untuk berselancar, baik oleh peselancar nasional maupun internasional. Bahkan, keindahan pantai Ciantir katanya ditemukan pertama kali oleh warga asing.

Hal yang menyenangkan lain dari Sawarna adalah budaya Sunda yang melekat dengan masyarakat Lebak ini. Saya bisa merasakan kehangatan masyarakatnya, terlebih kami menginap di rumah orangtua salah seorang kenalan yang berada di kaki gunung, tak terlalu jauh dari Sawarna. Rumah yang begitu asri dengan aneka hasil cocok tanam, kolam ikan besar serta ayam yang berlari-larian. Rupa-rupanya, makanan Sunda yang lezat terhidang semuanya merupakan hasil kebun sendiri. Sedap.

Ah, saya jatuh cinta pada Sawarna.

Rasa-rasanya tak cukup sekali untuk mengunjungi Sawarna. Masih banyak lagi keindahan yang belum dieksplorasi, sebut saja saya belum sempat mengunjungi gua-gua yang ada di Sawarna seperti Gua Lawuk dan Gua Lalay. Mengingat Sawarna artinya mengingat akan ‘surga tersembunyi’ di Indonesia, yang tak hanya ada satu dua. Jelajah ‘7 Keajaiban Nusantara bersama Daihatsu’ adalah eksplorasi tujuh ‘surga tersembunyi’ di Indonesia. Ah, alangkah indahnya jika beruntung mendapatkan kesempatan emas itu. Apalagi menggunakan moda transportasi darat senyaman Terios, bagi pecinta perjalanan darat seperti saya yang amat menikmati perjalanan, selain tujuan perjalanan itu sendiri, perjalanan adalah momen yang selalu dinantikan.

---

Referensi :
http://www.daihatsu.co.id/news/read/269/jejak-petualang-terios-7-wonders

2 comments: