Monday, September 2, 2013

Duduk Bersama ASEAN : Penyelesaian Sengketa Antar Negara



Sumber : Wikipedia
Yang namanya hidup bertetangga pasti ada saja ‘gesekan’. Begitu pula dengan kehidupan bertetangga antar negara. Sebut saja, perselisihan antara Singapura dan Malaysia atas klaim kepemilikan tiga pulau : Pedra Branca (Pulau Batu Puteh), Pulau Batuan Tengah dan Pulau Karang Selatan. Perselisihan bermula ketika pada tanggal 21 Desember 1979 Malaysia mempublikasikan peta negaranya yang mencakup Pedra Branca (Pulau Batu Puteh) di dalam wilayah perairannya. Pada 15 Februari 1980, Singapura melayangkan keberatannya atas klaim Malaysia dan meminta Malaysia mengakui kedaulatan Singapura atas Pedra Branca. Sejak itu, rangkaian pertemuan bilateral digelar antar dua negara dengan hasil yang nihil. Akhirnya, pada 6 Februari 2003 kedua negara menandatangani kesepakatan untuk  meminta bantuan secara formal kepada The International Court of Justice guna menyelesaikan sengketa berlarut-larut kedua negara. Setelah 28 tahun, perselisihan berakhir dengan keputusan The International Court of Justice yang menegaskan kepemilikan Singapura atas Pedra Branca, kepemilikan Malaysia atas Pulau Batuan Tengah dan Pulau Karang Selatan diputuskan tak bertuan.

Fyuh, lama amat ya?

Sengketa Antar Negara Asia Tenggara
Dalam lingkup Asia Tenggara, bukan sekali dua kali terdapat perselisihan atas batas negara dan bukan hanya satu dua negara yang pernah berselisih satu dengan lainnya. Beberapa di antaranya sebut saja sengketa Thailand-Kamboja atas candi Preah Vihear yang bermula pada tahun 1962 dan berakhir pada tahun 2008, perselisihan Malaysia-Filipina atas Sabah, Thailand-Laos, Thailand-Myanmar dalam menentukan batas wilayah hingga yang paling diingat oleh rakyat Indonesia tentu saja kekalahan Indonesia atas klaim Pulau Sipadan dan Ligitan.

Aih, banyak juga ya? 

Menuju Komunitas ASEAN 2015
Asia Tenggara merupakan kawasan yang kian diperhitungkan di kancah Internasional. Selain berada di wilayah perdagangan strategis, perekonomian tumbuh stabil serta negara ASEAN memiliki jumlah penduduk yang cukup besar. Integrasi ASEAN menjadi satu komunitas tunggal pada tahun 2015 merupakan salah satu bentuk perkuatan antar negara-negara anggotanya dalam satu kesatuan.
Komunitas ASEAN 2015 bertumpu pada tiga pilar utama yakni Komunitas Keamanan ASEAN, Komunitas Ekonomi ASEAN dan komunitas Sosial Budaya ASEAN. Perselisihan antar negara di dalam lingkup ASEAN sedikit banyak akan menggoyahkan perdamaian di wilayah ASEAN. Suasana ‘perang dingin’ tentu bukanlah hal yang menyenangkan untuk dihadapi. Mau tak mau, perselisihan haruslah segera dicarikan jalan keluar agar tak berlarut-larut, bahkan hingga puluhan tahun lamanya.

Hal-hal yang sekiranya perlu untuk diperhatikan dalam penyelesaian sengketa antar negara ASEAN adalah sebagai berikut :
1.    Menetapkan batas yang jelas antar negara di wilayah Asia Tenggara
Batas antar wilayah negara dikritik ‘belum ditetapkan dengan jelas’. Baik batas daratan maupun batas lautan harus ditetapkan dengan jelas untuk meminimalisasi perselisihan atas klaim wilayah yang mungkin timbul.
2.    Penyelesaian sengketa di lingkup Asia Tenggara
Kata orang jawa ‘podo sedulur sing akur’. Ibaratnya, negara Asia Tenggara adalah saudara yang harus senantiasa dijaga kerukunannya. Apabila terdapat konflik antar dua negara, sebisa mungkin diselesaikan melalui penyelesaian bilateral. Jika tidak bisa, Komunitas ASEAN haruslah mampu menjadi penengah antara negara yang berselisih. Sebisa mungkin, kasus perselisihan tidak sampai ke The International Court of Justice lagi, cukup diselesaikan di lingkup ASEAN saja.
3.    Mempererat rasa kesatuan
Komunitas ASEAN 2015 menginginkan adanya suatu komunitas tunggal, artinya tiap-tiap negara seyogianya mampu meredam ego masing-masing dan mengedepankan kepentingan bersama. Ibarat suami istri, yang terpenting adalah bagaimana caranya agar tujuan bersama lah yang dapat dicapai. Bukan ‘aku’ atau ‘kamu’, melainkan ‘kita’. 


Sumber
Jadi, sudah siapkah duduk bersama ASEAN? 

---

Referensi :
2. Strachan, Anna Louise. 2009. Resolving Southeast Asia Territotial Disputes. IPCS.
3. Amer, Ramses. 2000. Managing Border Disputes in Southeast Asia. Kajian Malaysia.
5. http://id.wikipedia.org/wiki/Wawasan_2020_ASEAN


2 comments: