Thursday, September 5, 2013

Selamat Datang di Jakarta 'The Diplomatic City of ASEAN'



Jakarta, The Diplomatic City of ASEAN

Tugu Monas, ikon Jakarta (Wiki)
Dalam sejarah mengenai ASEAN (Association of Southeast Asian Nations), Indonesia memegang peran sentral sebagai salah satu dari lima negara pendiri ASEAN bersama-sama dengan Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand. 8 Agustus 1967. Tanggal ketika PM Indonesia Adam Malik menorehkan tintanya menandatangani kesepakatan bahwa mulai tanggal itulah Indonesia bertekad mewujudkan sebuah komunitas regional yang tak hanya bercita-cita memperkuat pertumbuhan ekonomi saja tetapi juga mencakup berbagai aspek luas seperti sosial, budaya dan perdamaian.

Jika Adam Malik masih hidup hingga saat ini, tentu ia akan bangga dengan Indonesia yang mampu menjadi salah satu motor Asia Tenggara. Jakarta, ibukota negara dengan penduduk lebih dari 230 juta jiwa ini, merupakan kota yang disebut sebagai ‘Diplomatic City of ASEAN’ yakni kota yang mampu menjadi penghubung antar negara anggota ASEAN. Salah satu wujudnya berupa berdirinya markas besar ASEAN di kota yang terkenal dengan kemacetannya itu. Menjadi Sekretariat ASEAN artinya mendapatkan hak istimewa dan imunitas khusus. 

Predikat ‘Diplomat City of ASEAN’ tentu bukanlah sesuatu yang asal disematkan. Indonesia seringkali menjadi inisiator penyelesaian konflik negara-negara ASEAN. Masih segar dalam ingatan ketika Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mendesak pemerintah Myanmar memberikan status dan hak hukum kepada para pengungsi Rohingnya serta Presiden SBY mengadakan pertemuan bilateral dengan presiden Myanmar U Thein Sein yang salah satu pembahasannya adalah mendorong proses demokratisasi di Myanmar. Dalam KTT ASEAN ke-9 tahun 2003 di Bali, Indonesia mendorong terwujudnya Komunitas ASEAN yang memiliki tiga pilar yakni keamanan, ekonomi dan sosial budaya.

Berbicara mengenai masalah keamanan di wilayah Asia Tenggara tentu tak bisa dilepaskan dari peran aktif Indonesia. Indonesia menganut pendekatan damai dalam penyelesaian konflik yang ada dengan mengedepankan perdamaian dan stabilitas kawasan, bukan bagaimana menjatuhkan ‘lawan’. Sebut saja, saat Indonesia mampu menjembatani perdamaian antara Vietnam dan Kamboja serta memfasilitasi perundingan antara pemerintah Filipina dengan kelompok minoritas Moro. Dalam lingkup dalam negeri, diplomasi Indonesia telah teruji misalnya pada saat penandatanganan nota kesepakatan damai dengan Gerakan Aceh Merdeka(GAM) di Helsinki.

Selain keunggulan diplomasi yang dimilikinya, Indonesia juga memiliki posisi strategis yang membuatnya patut diperhitungkan. Saat krisis global pada tahun 2008 lalu misalnya, perekonomian Indonesia terbukti kokoh menghadapi tekanan global bahkan mampu tumbuh. Indonesia juga masuk dalam anggota G-20, kumpulan negara paling berpengaruh dalam kancah perekonomian dunia. Selain itu, populasi Indonesia merupakan salah satu kelebihan Indonesia.

Dampak Positif dan Negatif ‘The Diplomatic City of ASEAN’
Lambang ASEAN, sumber Wikipedia

Menjadi ‘the diplomatic city of ASEAN’ artinya memperoleh kesempatan sekaligus tantangan. Jakarta memiliki kesempatan untuk memperkenalkan lebih luas lagi mengenai Indonesia, tak hanya sekadar tentang wajah Indonesia yang ditangkap media tetapi juga memperkenalkan segala potensi yang dimiliki Indonesia, misalnya dalam bidang pariwisata yang amat kaya. Selain itu, pemerintah daerah Jakarta sendiri memiliki kesempatan untuk lebih mempromosikan dan ‘menjual’ Jakarta di berbagai sisi, seperti perekonomian, perdagangan dan investasi. 

Predikat tersebut juga akan membuat Indonesia lebih disegani di kawasan Asia Tenggara sehingga Indonesia dapat membangun hubungan bilateral yang lebih baik dengan negara ASEAN lain. Ibaratnya, berbicara dengan orang yang kita anggap ‘penting’ pasti berbeda perlakukannya. Indonesia menggenggam satu poin penting lagi dalam hal memimpin Asia Tenggara. Tentu, hal tersebut akan membuat Indonesia  memiliki kesempatan lebih dalam hal mewujudkan inisiatif yang dimilikinya. One step ahead.

Dampak negatifnya tentu saja akan terjadi jika Indonesia tak mampu memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik. Indonesia juga harus mampu dalam menjadi penghubung yang baik, tak hanya netral tetapi juga mampu memberikan solusi. Jika Indonesia gagal menunjukkan kemampuannya menjadi penghubung antar negara ASEAN yang baik, hal tersebut tentu akan berimbas pada kepercayaan negara ASEAN lainnya dan kepercayaan dunia internasional kepada Indonesia yang akan merosot. Apabila kepercayaan merosot, hal tersebut tentu akan berimbas ke daya tawar negara yang lebih rendah di berbagai bidang lainnya seperti politik luar negeri dan perekonomian.

Kesiapan Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menyatakan akan melakukan apapun yang dibutuhkan untuk mewujudkan Jakarta sebagai ‘the diplomatic city of ASEAN’. Pemerintah DKI Jakarta akan memberikan lahan bekas kantor Walikota Jakarta Selatan yang terletak di sebelah Sekretariat ASEAN saat ini untuk memperluas kantor Sekretariat yang ada. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki T. Purnama bahkan mengungkapkan keinginannya agar markas besar ASEAN nanti akan mampu menjadi ikon baru Jakarta selain Tugu Monas. Selain itu, beliau juga meminta kepada Sekjen ASEAN Le Luong Minh agar setiap ada event di Jakarta para anggota ASEAN dapat berpartisipasi.
Jakarta, salah satu kota yang terkenal dengan keruwetannya, juga harus mampu memberikan fasilitas dan kenyamanan baik bagi penduduknya maupun warga negara asing yang tinggal di dalamnya. 

Kemacetan dan banjir merupakan dua isu utama yang menuntut pemerintah Jakarta mengerahkan kemampuan optimal yang dimiliki. Transportasi publik yang nyaman merupakan suatu kebutuhan. Saat ini, pemerintah DKI Jakarta tengah merencanakan membangun Mass Rapid Transportation dan monorail untuk menyelesaikan permasalahan klasik kemacetan. 

Selain kesiapan pembangunan fisik, kesiapan yang tak kalah penting lainnya adalah mempersiapkan kompetensi dan mental SDM Indonesia dalam menyongsong Komunitas ASEAN 2015. Kesiapan SDM Indonesia merupakan hal yang harus senantiasa ditingkatkan agar tak ketinggalan dan mampu bersaing di kancah internasional selain agar Indonesia mampu menjadi tempat aman dan nyaman bagi markas besar ASEAN yang tentunya akan menarik lebih banyak orang untuk datang. Indonesia tak hanya ditunjukkan oleh tempat-tempat yang ada di Indonesia maupun kondisi yang dirasakan tetapi juga melalui kompetensi dan kehangatan penduduk Indonesia.

Jadi, penduduk Jakarta, siap-siap yuk :D

 ---

Referensi :
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Perhimpunan_Bangsa-bangsa_Asia_Tenggara
2. http://id.scribd.com/doc/23430462/Bagaimana-Peran-Indonesia-Dalam-ASEAN
3. http://www.asean.org/news/item/asean-security-community-plan-of-action
4. http://lembagakeris.net/2013/05/peningkatan-kerjasama-pertahanan-indonesia-di-kawasan-asean-dalam-mendukung-diplomasi-pertahanan/
5. http://www.asean.org/news/item/asean-security-community-plan-of-action
6. http://news.xinhuanet.com/english/world/2012-12/14/c_132041047.htm
7. http://www.beritajakarta.com/2008/id/berita_detail.asp?nNewsId=55735



 

1 comment:

  1. semoga jakarta dapat menjadi contoh ota bagi kota-kota yang lain di negara asean

    ReplyDelete