Saturday, November 23, 2013

Let's Move On (Lemon) Bersama Hijab Alila



Lebih dari seribu perempuan berhijab memadati ballroom Graha K-Link Gatot Subroto lantai 5 dari pagi hingga menjelang maghrib tadi. Wajah-wajah penuh antusias tampak dari para peserta acara bertajuk Lemon (Let’s Move On) yang diselenggarakan oleh Hijab Alila, salah satu brand hijab syar’i yang kian mendapat tempat di hati para Muslimah Indonesia. Lemon sendiri merupakan serangkaian acara berbagi hikmah hijrah (move on) dari para pembicara, peluncuran model gamis dan bergo sekaligus pembentukan program nasional Komunitas Hijab Syar’i dari brand yang pada bulan November ini genap berusia satu tahun.

Dalam pengantarnya, ustadz Felix Siauw selaku pemilik Hijab Alila menyatakan bahwa Hijab Alila dibangun karena dakwah. Ummu Alila, ustadz Felix Siauw, menyatakan keresahannya pada sang suami atas kesulitannya mendapatkan hijab syar’i di pasaran sehingga kemudian timbul gagasan untuk membentuk sebuah label pakaian yang sesuai dengan pakem syariat. Selanjutnya, diharapkan dengan Hijab Alila para Muslimah didorong untuk berhijab dari segi pakaian (berpakaian syar’i) kemudian untuk selanjutnya berperilaku secara syar’i. Apabila wanita baik maka akan melahirkan generasi emas yang merupakan generasi Qur’ani. Diharapkan Hijab Alila mampu menjadi salah satu penggerak geliat Islam dan berkontribusi untuk dakwah.

Akal Membawa Kepada Keyakinan
Gambarnya dari jauh hehe
Ustadz yang digelari sebagai ‘ustadz Twitter’ ini mengawali sesi berbagi ghirah hijrah dengan menceritakan pergumulan batinnya dalam mencari Tuhan saat ia duduk di bangku kelas dua SMP. Ia terus bertanya dan bertanya tentang Tuhan, apakah Tuhan ada dan Tuhan hendak ia sembah dalam agama apa. Laki-laki berusia dua puluh sembilan tahun ini menyukai pelajaran Biologi dan ilmu pasti lainnya dan pergolakan akalnya akan ilmu pasti membawanya pada keyakinan bahwa Tuhan itu ada. Tak mungkin jagat raya tercipta secara kebetulan, ada begitu saja. Pada hitungan matematis yang ditampilkan, probabilitas bahwa alam semesta tercipta secara kebetulan adalah satu per sepuluh pangkat sepuluh pangkat seratus dua puluh tiga atau lebih dari impossible. Jikapun seseorang tidak bisa membuktikan bahwa satu hal ada, tidak otomatis satu hal tersebut tidak ada, sebelum memang bahwa hal tersebut dapat dibuktikan tidak ada. Tak lupa, sang ustadz juga menyentil umat Islam yang sebagian besar beriman tanpa melalui proses berpikir atau berdasarkan ‘pokoknya’ saja. Keyakinan timbul berdasarkan bukti, bukti menghasilkan keyakinan. 

Pada akhir sesi, laki-laki yang juga merupakan penulis buku best seller ‘Udah Putusin Aja’ ini menegaskan bahwa akidah Islam harus masuk akal, sementara syariat tidak harus masuk akal. Ia menganalogikan dengan hubungan pasien dengan dokter, pasien tidak bertanya mengapa dokter memberi resep obat untuk diminum dua kali sehari mengapa tidak tiga kali sehari. Begitu juga dengan syariat, umat Islam tidak selayaknya mempertanyakan mengapa sholat Subuh dua raka’at tidak tiga atau empat raka’at. Kalau seseorang sudah mempercayai Allah SWT sebagai Tuhannya, maka sami’na wa atho’na. Apapun yang Allah minta, akan dilakukan.

Ketika Gemerlap Dunia Hiburan Melelahkan
Peggy Melati Sukma membuka sesi kedua dengan membacakan sebuah puisi yang menyentuh jiwa. Dalam puisinya, perempuan yang tenar dengan ucapan “Pusiiiiiiiing” ini menceritakan kegelisahannya betapa dunia yang telah digenggamnya malah semakin membuatnya rindu akan Tuhan. Ia rindu akan dekapan Illahi yang mampu membuatnya tenang, bukan nikmat dunia yang tak akan habis dikejar. Selepas membacakan puisi, ia menceritakan mengenai latar belakang kehidupan dan berbagai profesi atau kegiatan yang digelutinya, sebut saja berbagai kegiatan keartisan seperti pemain sinetron, pemain film, penyiar, model hingga berbagai aktivitas sosial yang ditekuni serta profesinya sebagai pengusaha. Pendek kata, Peggy Melati Sukma dikenal sebagai sosok dengan banyak pencapaian.

Namun, pencapaian demi pencapaian tidak membuat hidupnya tenang. Ia melukiskan bahwa ia merasa terpontal-pontal dengan bisingnya dunia, ketika keyakinan menjadi ritual dan hati tidak mampu hadir sepenuhnya pada ibadah yang dilakukan. Hingga pada suatu hari ia sampai pada suatu titik tanya : betulkah apa-apa yang dilakukannya, semua pencapaiannya, merupakan hal yang dilakukannya secara lillah atau semata-mata hanya karena Allah. Para peserta acara diajak untuk mempertanyakan kembali dasar dari apa-apa yang dilakukan selama ini. Apakah niat yang hadir sudah karena Allah, apakah ibadah yang dilakukan bukan sekadar ritual penggugur kewajiban. Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab, begitu kata Sayyidina Umar bin Khattab. Saat kita merenung, kita akan mampu pulang ke hati karena dikatakan bahwa hati merupakan mukjizat yang nyata. Hati merupakan segumpal daging dalam tubuh, apabila segumpal daging itu baik maka baiklah hal lainnya. 

Perempuan pemilik akun Twitter @peggymelatis ini kemudian menceritakan pengalaman hidupnya yang penuh liku-liku kehidupan, tatkala ia dirundung berbagai masalah yang ternyata tidak mampu diselesaikannya dengan kemampuan dan pengalaman yang dimilikinya. Lebih lanjut lagi, ia menegaskan bahwa ketika kita mengimani syahadat, semua yang terjadi adalah hikmah. “Selesaikan masalahku dengan cara-Mu, bukan caraku,” begitu doa yang dipanjatkannya dan Allah begitu mudah menyelesaikan semua permasalahan hamba-Nya. Hidup adalah hijrah dari keadaan yang buruk menjadi baik, dari tidak berjilbab menjadi berjilbab misalnya. Maka pesannya, jangan takut berhijrah dan jangan pernah mengecewakan orang tua.

Hijrahlah dan Berjama’ahlah
Bagi para pembaca ‘Udah Putusin Aja’ dan ‘Yuk Berhijab’ tentu tak asing dengan karya perempuan ini. Pemilik nama lengkap Emeralda Noor Achni atau tenar dikenal sebagai Benefiko ini merupakan sosok dibalik desain visual kedua buku tersebut. Ia mengisahkan perjalanan hidupnya, dari saat ia tidak berhijab, berhijab dengan gaya yang disebutnya sebagai rock n roll syariah hingga kemudian ia berhijrah kepada hijab syar’i. Berbagai pujian dilayangkan kepadanya tetapi pujian justru membuatnya takut. Pujian merupakan sebuah hal mematikan yang dapat membuat manusia lupa bahwa jika ia hebat maka itu karena Allah.

Selain pujian yang datang, ia juga tak lepas mendapat cacian dari orang-orang yang tak suka dengan hijrahnya, terutama saat ia berganti penampilan lalu kemudian aktif berdakwah melalui akun Twitter @benefiko. Ia dikucilkan dari pergaulannya selama ini tetapi ia meyakinkan dirinya bahwa surga lah tujuannya. Ia menegaskan bahwa pentingnya seseorang untuk berhijrah dan kemudian berjama’ah dengan komunitas yang satu visi. Kita harus khawatir jika kita belum bisa move on dari suatu keburukan. Berhijrah haruslah segera, tanpa nanti tanpa tapi.

Tak Sekadar Berjualan Hijab Saja
Pada acara kali ini, Hijab Alila memberikan kesempatan kepada para Muslimah yang hadir untuk menjadi peri (pejuang syar’i) yang akan membumikan hijab dan perilaku syar’i di daerah masing-masing. Para muslimah yang mendaftar menjadi peri kemudian akan diseleksi dan akan dibimbing langsung oleh ustadz Felix Siauw dan Benefiko selama delapan bulan sebagai bekal dalam perjuangannya. Bayangkan pahala yang terus mengalir dari kebaikan yang timbul satu demi satu hingga ikatan ukhuwah antar Muslimah yang terjalin. Menjadi cantik merupakan hal yang penting tetapi berakhlak baik merupakan hal yang lebih penting.

#YukBerubah
Di penghujung acara, ustadz Asep Supriatna atau yang lebih tenar dengan nama Asep Fakhri telah siap untuk membakar semangat para muslimah untuk berubah. Hijrah merupakan hal yang berat, tidak mudah bagi seseorang untuk berubah tetapi berubah merupakan sebuah pilihan. Hidup adalah ibarat BCD, birth choice and death. Kelahiran adalah pasti dan kematian adalah sebuah keniscayaan, pilihan ada di antara kelahiran dan kematian. Apakah kita akan memilih untuk menjadi pribadi yang istimewa atau biasa saja adalah sebuah pilihan. Yang harus kita khawatirkan bukanlah kematian, tetapi pilihan-pilihan apa yang akan kita ambil. 

Untuk berubah tidaklah mudah, diperlukan pendorong yang kuat agar mampu berubah secara istiqomah. Misalnya untuk suami, kebutuhan istri dan anak dapat menjadi salah satu pendorong agar lebih giat mencari rezeki halal lebih banyak lagi. Laki-laki pemilik akun twitter @asepfakhri ini menyatakan bahwa banyak orang menunda untuk berubah sementara ada orang-orang yang menunggu orang yang menunda tersebut untuk menjadi hebat. Selanjutnya, ia meminta para peserta untuk menuliskan sepuluh pendorong sukses masing-masing orang, mengapa seseorang harus sukses, berhasil dan hebat. Untuk berubah bukanlah bagaimana dan seperti apa perubahan itu melainkan mengapa kita harus berubah. Ustadz yang mampu membuat audiens tertawa dan meneteskan air mata ini menutup acara dengan lagu yang dipersembahkannya untuk ibu.

Semangat hijrah mewarnai acara yang berlangsung meriah ini. Lepas acara, para peserta acara tampak antusias mendekati para model koleksi gamis dan bergo terbaru Hijab Alila. Tak lepas doa semoga hijab syar’i semakin membumi di Indonesia dan semoga Hijab Alila mampu menjadi salah satu penggerak komunitas hijab syar’i sekaligus menjadi bagian dari dakwah Islam.

3 comments:

  1. jujur mon, sya termasuk orang yg suka bgt download kajian dari ustd felix siaw
    soalnya dia itu bicaranya singkat dan padat bahkan mudah dipahami.
    senangnya ya bisa ikut langsung....

    ya, semoga artis lainnya juga pada ngikut berhijab seperti mbak Peggy.
    Semangat berhijrah.. Eh semangat LEMON ^_^
    Pa kabar mon?

    ReplyDelete
  2. alhamdulillah, bisa ikutan acara di sana, ya, Mon? :D

    waa... jazakillah khair sudah berbagi di sini..

    ReplyDelete