Wednesday, November 20, 2013

People Around Me : Pemimpin yang Benar-Benar Pemimpin



Kehidupan membuat kita belajar. Salah satunya melalui tindakan orang-orang yang menjadi pemimpin kita atau dalam konteks yang sederhana, atasan kita. Ada atasan yang dihormati bawahan karena jabatannya, karena ditakuti bawahannya dan ada pula yang memang dihormati karena memperoleh respek dari anak buahnya. Tak semua atasan bisa menjadi pemimpin, bukan?

Sepertinya tak ada yang tak kehilangan saat bapak ini melepaskan jabatan eselon tiga untuk promosi menjadi eselon dua di pulau seberang. Bagaimana tidak, sosoknya amat berkesan untuk orang-orang yang ada di kantor. Beliau tak sekadar atasan yang bisa menyuruh tanpa memberi contoh, tetapi juga ia mengajak anak buahnya bersama-sama menjalankan apa yang dicontohkannya. Ia memberi kebebasan anak buah untuk mengeluarkan ide-ide terbaik dalam ruang lingkup pekerjaan dengan tidak lupa membimbing dan memberikan arahan yang diperlukan. Bukan mengekang sehingga anak buah tertekan, bukan pula melepaskan sehingga anak buah tanpa arahan. 

Hal mengesankan yang saya kagumi dari bapak berusia empat puluh lima tahun ini adalah beliau bukan hanya sekadar sosok yang mengejar target pekerjaan dengan menyuruh anak buah, melainkan juga sosok yang memberikan semangat dan motivasi serta menciptakan hal-hal yang membangun semangat kekeluargaan. Misalnya, saat beliau mengajak kami makan siang bersama-sama di Monas atau di pinggir danau di Menteng dengan menyantap bekal yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Tak perlu mewah untuk merekatkan hubungan antar pegawai tetapi bagaimana menciptakan makna.

Sebagai seorang pria Minang, bapak ini terkadang memperdengarkan alunan musik Melayu dari speaker yang terpasang di sebelah komputernya, terkadang pula memperdengarkan alunan musik lembut maupun oldies. Saya juga masih ingat betul lantunan ayat as Shof yang dibacakannya dengan merdu tempo itu, pada saat mengimami sholat jama’ah bersama di kantor. Salah satu hal yang amat saya kagumi dari beliau adalah pengetahuan agamanya yang luas, beliau tak jarang menyisipkan nasihat-nasihat agama melalui cerita-cerita yang disampaikan kepada kami.

Saat perpisahan beberapa hari yang lalu, beliau tak lupa berpesan agar kami sekolah setinggi-tingginya, meskipun kami perempuan (kebetulan saat itu beliau berpesan kepada saya dan seorang rekan kantor perempuan) untuk menempuh tingkat pendidikan terbaik yang bisa kami capai. Walaupun mungkin suatu hari nanti kami harus memilih antara karier atau keluarga, memiliki ilmu tinggi tak akan pernah rugi, minimal dapat menjadi modal untuk mendidik anak kelak. 

Sungguh, saya belajar banyak dari beliau. Dari beliau yang senantiasa menyempatkan diri membaca buku di sela-sela padatnya aktivitas, kebiasaannya membuat mind-map, caranya menyampaikan sesuatu dengan tegas tetapi tetap santun, hingga keteladanan-keteladanan lain yang beliau tunjukkan. Semoga Bapak selalu mendapatkan kemudahan dan kekuatan dari-Nya dimanapun Bapak berada, pemimpin yang benar-benar pemimpin.

5 comments:

  1. sepertinya bisa saya tebak orangnya...

    ReplyDelete
  2. Seorang peminpin tentunya akan selalu menuntun kita dan senantiasa mengayomi

    ReplyDelete
  3. Saya jadi "iri" membaca tulisan mba monilando, karena di sini pemimpinnya lebih suka menyalahkan dan menyuruh2 seenaknya tanpa tau gimana pelaksanaan di lapangan.. Semoga di sini pun bisa mendapat rezeki pemimpin seperti yang mba monilando gambarkan di atas.. aamiin

    ReplyDelete
  4. susah dcari , , ,

    salam kenal,,mampir diblog q ya , , , ,

    ReplyDelete