Saturday, March 30, 2013

Be There : Seminar Akbar Pra Nikah Islami 2013



Ar Rahman Pre Wedding Academy mempersembahkan Seminar Akbar Pra Nikah Islami 2013 : "Sucikan Cinta, Raih Bahagia"

bersama pembicara : Asma Nadia, Ustadz Bahtiar Nasir, Salim A. Fillah dan Shofwan Al Banna  dengan moderator Mandala Shoji

Kapan? Ahad, 14 April 2013, pukul 08.00-15.30
Dimana? Convention Hall Lt.2, Gd. Smesco UKM, Jln. Gatot Subroto Kav.94 Jakarta Selatan

HTM? 75rb hingga 31 Maret, 100 rb untuk tgl 1-12 April dan 120rb untuk tiket on the spot. Mendapatkan snack, makan siang, modul, goodie bag dan yang jelas ilmu yang tak ternilai harganya :D

Jangan lewatkan kesempatan :
  • Mendapatkan ilmu bermanfaat dalam rangka persiapan pernikahan :D
  • Belajar banyak secara langsung dari para pembicara
  • Ikhtiar untuk memantaskan diri :D
  • Barangkali wasilah untuk bertemu jodoh *eh
Daftar segera ya ke 081381121441 dengan format Nama Lengkap_jenis kelamin_usia_status pernikahan ^^

NB : Yang mau tanya2 monggo via komen :D

Thursday, March 21, 2013

Catatan Perjalanan : Sulsel Nan Eksotis


Salah satu hal yang membahagiakan dalam hidup adalah ketika pada akhirnya dapat menjejakkan kaki di tempat yang selama ini hanya didengar namanya, dilihat gambarnya atau dicari letaknya di peta.Ya, kebahagiaan sesederhana itu, salah satunya. Beberapa hari yang lalu saya bersama beberapa teman semasa kuliah berkesempatan untuk menjelajah bumi Celebes bagian Selatan. Bandara Hasanudin nan megah menjadi pintu gerbang yang menyambut kedatangan kami pagi itu.

Dari bandara kota paling ramai di Indonesia bagian timur itu kami mengendarai shuttle bus keluar bandara menuju jalan raya. Rencananya kami hendak naik pete-pete (sebutan untuk angkot di sana) menuju Bantimurung dan Leang-leang tetapi kami akhirnya memutuskan untuk menyewa angkot tersebut seharian. Taman Prasejarah Leang-leang, tempat yang hanya pernah saya dengar saat mengikuti mata kuliah Budaya Nusantara adalah destinasi pertama kami.

Awas nginjek kaki seribu
Di sepanjang jalan yang dekat dengan Leang-leang, pemandangan hijau dipadu batu-batu marmer tinggi nan elok memanjakan mata. Memasuki lokasi wisata, batu-batu marmer tinggi peninggalan zaman prasejarah kembali menyambut kami sebelum masuk ke gua-gua yang berisi lukisan manusia purba. Ada dua gua di Leang-leang (leang sendiri bermakna 'gua') : Leang Pettakere dan Leang Pettae. Untuk mencapai Leang Pettakere kami harus melewati puluhan anak tangga. Gua merupakan tempat tinggal manusia purba, di dinding atas gua terdapat lukisan tangan manusia purba serta gambar babi rusa. Ohya selain itu, hewan yang disebut sebagai 'kaki seribu' melimpah ruah di Leang-leang. Warna abu-abu badannya memudahkan artropoda itu menyaru dengan paving block berwarna sama.Yang tak kalah cantik adalah pemandangan alam di Leang-leang. Perpaduan bebatuan, langit dan hijau pepohonan.
Dari kiri ke kanan atas ke bawah : bebatuan di leang-leang, pintu masuk leang pettae, pemandangan depan leang-leang dan sampah dapur orang purba (kjokkenmodinger)

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang terletak tak jauh dari Leang-leang. Di taman nasional yang terkenal sebagai habitat kupu-kupu ini lah kami mengamati taman penangkaran kupu-kupu, melihat-lihat koleksi bangkai kupu-kupu yang diawetkan di museum kupu-kupu serta sempat terpukau dengan debit air terjun yang begitu deras. Tak lupa kami pun memasuki gua batu yang dikatakan oleh sang pemandu kami terdapat mata air yang digunakan oleh raja bantimurung untuk bersuci serta tempat beliau melaksanakan ibadah sholat. Kawasan wisata ini bersih dan nyaman.

Dari kiri ke kanan atas ke bawah : penangkaran kupu-kupu, tempat bersuci raja Bantimurung, koleksi di museum kupu-kupu, dan air terjun bantimurung yang deras

Menjelang petang, kami bergegas menuju tempat keberangkatan bus yang akan membawa kami menuju Tana Toraja. Perjalanan dari Makassar ke Toraja ditempuh dalam waktu delapan jam tetapi perjalanan tak terasa melelahkan karena bus Scania yang kami tumpangi amat nyaman. Kursi empuk, ada guling, selimut dan jarak antar kursi yang luas. Harga tiket bus tersebut Rp130.000, sama dengan harga tiket bus yang biasa saya tumpangi ke Semarang. Kami tiba di kota Rantepao, ibukota kabupaten Toraja Utara sekitar pukul enam pagi waktu setempat. Kota Rantepao merupakan kota kecil yang cukup ramai. Mayoritas masyarakat Toraja adalah pemeluk Kristiani jadi bagi wisatawan yang Muslim ada baiknya untuk bersantap di warung makan Muslim yang tersedia cukup banyak di kota Rantepao.

Dari atas ke bawah : penampakan bus yang membawa kami ke Rantepao, 'tetenger' kota Rantepao, ornamen masjid di Rantepao yang khas ;)

Petualangan kami di Toraja dimulai dari Pasar Bolu. Pasar yang menjajakan kerbau dan babi itu ramai dengan banyaknya manusia yang bertransaksi. Maklum saja, Tana Toraja terkenal dengan adat istiadatnya yang menggunakan hewan kerbau dalam jumlah besar, sebut saja Rambu Solok yang merupakan upacara kematian masyarakat Toraja. Dalam sekali upacara Rambu Solok bisa puluhan kerbau dan babi yang disembelih. Semakin tinggi kedudukan atau status sosial seseorang dalam masyarakat, semakin besar jumlah kerbau yang akan dikorbankan dalam upacara kematiannya. Sayang seribu sayang, kami tiba di Toraja pada hari Ahad yang notabene merupakan hari masyarakat Toraja bersantai. Kalau saja kami datang keesokan harinya, kami akan bisa menyaksikan prosesi Rambu Solok yang termasyur itu. Jadi saran saya, kalau Anda ke Toraja kalau bisa jangan pada hari Minggu hehe.
Pasar Hewan Bolu dari depan dan penampakan seekor kerbau seharga 400juta

Berturut-turut kemudian kami berwisata sejarah dimulai dari Rante Karessik yang merupakan situs peninggalan Megalithikum, kami melanjutkan perjalanan ke Ke'te' Kesu' yang merupakan kompleks pemukiman tradisional masyarakat Toraja. Memasuki kawasan tersebut, kami disambut oleh hamparan rumah tradisional masyarakat Toraja, Tongkonan. Lebih dalam lagi terdapat kompleks pemakaman khas masyarakat Toraja. Ada tiga cara pemakaman yakni jenazah dimakamkan di makam batu berukir (biasanya untuk kalangan berada), di makamkan di dalam gua dan dimakamkan di tebing. Masuk ke gua yang ada di Ke'te' Kesu' pengunjung akan menemukan beberapa peti yang digantung di bagian atas gua. Ohya, karena wisata kuburan jangan kaget apabila menemukan tengkorak yang berserakan.

Rante Karessik : peninggalan situs Megalithikum
Ke'te Kesu' : tampak depan, kompleks pemukiman tradisional Toraja (rumah adat Tongkonan), peti batu di sepanjang jalan dan peti yang ada di dalam goa
Wisata selanjutnya kami menuju Londa, Suaya dan Kambira. Londa merupakan gua makam seperti yang terdapat pada Ke'te' Kesu' sedangkan Suaya merupakan tempat pemakaman para bangsawan, jenazah di letakkan di liang batu pada tebing. Sayang Suaya nampak kurang terawat. Adapun Kambira merupakan kawasan pemakaman bayi yang dikuburkan di pohon besar.



Berturut-turut :Tampak dpan Londa, Suaya dan Kambira

Kembali ke Makassar, kami berkeliling ke Fort Rotterdam, benteng peninggalan Belanda yang didalamnya terletak Musem La Galigo, museum yang menyimpan kekayaan sejarah masyarakat Sulawesi Selatan, mulai dari zaman prasejarah hingga kini, mulai dari alat yang digunakan untuk memecah batu hingga senjata perang. Pulau Samalona adalah tujuan kami berikutnya, letaknya persis di seberang Fort Rotterdam. Dari tepi kota Makassar, kami menaiki speedboat sekitar dua puluh lima menit dengan biaya sewa Rp300.000 bolak balik *ditunggu oleh sang pemilik kapal. Air di Pulau Samalona cukup bersih dengan banyaknya batu karang di pinggir pantai.
Fort Rotterdam tampak luar dan tampak dalam.. Ada Al Qur'an tulisan tangan juga lho :)

Pulau Samalona
Selepas menyeberang kembali ke Makassar, kami tak lupa bersantap siang dengan Konro Karebossi yang mahsyur itu. Konro bakar dengan bumbu kacang terasa lumer di lidah, bekal untuk melanjutkan perjalanan ke Gowa untuk singgah di Istana Tamalate dan Museum Balla Lompoa. Di museum ini tersimpan koleksi peninggalan kerajaan Gowa. Selanjutnya kami menuju benteng Somba Opu, salah satu benteng terkuat di zamannya.

Istana Tamalate dan Museum Balla Lompoa
Liburan kami pun berakhir dengan wisata kuliner di kota Makassar, mulai dari pisang epe' (semacam pisang dibakar) saat matahari terbenam di Pantai Losari, Pallu Basa Serigala nan terkenal (Pallu Basa sejenis coto tetapi dengan kuah lebih kental dan bubuk santan yang terasa) hingga Pisang Ijo dan Pallu Butung di RM Bravo. Hmm, jangan pikirkan berat badan saat liburan ya hihi.


Pantai Losari
Sebagian kuliner di kota Makassar : Pallu Basa, es Pallu Butung, Konro Bakar Karebosi, dan Jalangkote

Berakhir sudah tiga hari yang menyenangkan dan kembalilah kami ke ibukota dengan kenangan liburan yang berkesan :)


Friday, March 8, 2013

Medhok Yo Ben To



Kalau melihat judul tulisan ini, dapat dipastikan isinya tak jauh-jauh dari bahasa daerah. Sebagai orang Semarang asli (Papa orang Semarang, Mama orang Sragen, lahir dan besar di kota Semarang) dan terbiasa menggunakan bahasa Jawa Semarangan sehari-hari, tak heran kalau logat saya ini medhok. Banget. Hehe. Lepas SMA, kuliah di STAN yang memiliki mayoritas mahasiswa berasal dari daerah berbahasa Jawa, di kampus pun sehari-hari berbahasa Jawa bahkan orang luar Jawa pun jadi fasih berbahasa Jawa. Sekosan dengan orang-orang Jawa. Di kantor pun mayoritas orang Jawa, jadi ya medhoknya terus bertahan. Herannya, walo logat udah medhok begini, seringkali saya dikira orang Sumatra, kalau bukan orang Padang, orang Batak ya orang Palembang. Katanya nama dan wajah saya mencerminkan orang Sumatra. 

Bahasa daerah sebagai salah satu identitas lokal membentuk suatu budaya yang memperkaya khazanah kebudayaan bangsa Indonesia. Contohnya bahasa Jawa, sama-sama berbahasa Jawa, penutur dari daerah Jawa Tengah dan Jawa timur memiliki kosa kata dan logat yang berbeda-beda. Sesama Jawa Tengah saja berbeda-beda, bahasa Jawa Semarangan beda dengan bahasa Jawa Banyumasan yang ngapak atau bahasa Jawa daerah Solo yang cenderung alus. Bahasa Semarangan bisa dibilang di tengah-tengah bahasa Jawa Surabaya (Suroboyoan) yang cenderung kasar dan bahasa Jawa Solo yang cenderung alus. 

Kosa kata bahasa Jawa bisa dibilang amat kaya. Sebut saja untuk kata ‘berjalan’ (bahasa Jawa secara umum adalah mlaku), bahasa Jawa memiliki kosa kata ‘mlipir’ untuk mendeskripsikan ‘berjalan pelan-pelan di pinggir jalan’. Untuk kata ‘minum’ yang secara umum bahasa Jawanya adalah ngombe, terdapat kosa kata ‘ngokop’ untuk menunjukkan kegiatan meminum air secara langsung dari botol tanpa memakai gelas dan mulut menempel pada ujung botol. Untuk kata ‘jatuh ’ terdapat beberapa kosa kata, misalnya ‘nggeblak’ yang menunjukkan gerakan jatuh ke belakang dan mengenai kepala dan kata ‘kejrungup’ untuk menunjukkan gerakan jatuh ke depan. 

Saat SMA, amat lazim untuk berbahasa Jawa dengan teman sebaya (yang sama-sama orang Jawa tentunya). Berbahasa Jawa menunjukkan keakraban. Menggunakan Bahasa Indonesia dengan teman  bisa jadi menunjukkan kurang akrab atau sedang ada hubungan khusus. Ya seperti orang Jakarta yang menggunakan lu-gue  dengan teman untuk menunjukkan keakraban dan menggunakan aku-kamu kalau ada hubungan khusus (tapi tentunya tak semua demikian, ada sebagian orang yang memang terbiasa berbahasa Indonesia)

Yang amat disayangkan, terkadang orang Jawa sendiri seperti malu untuk berbahasa Jawa. Di kampus dulu misalnya,  tak jarang saya kaget karena baru tahu kalau teman tersebut berasal dari daerah Jawa lantaran ia tak pernah berbahasa Jawa. Ia lebih sering menggunakan lu-gue bahkan dengan teman yang sama-sama berasal dari daerah Jawa. Bahasa Jawa dianggap bahasa nomor dua. Di Jakarta ini pun, ketika saya berbicara menggunakan bahasa Jawa dengan teman, beberapa orang menirukan kata-kata yang saya ucapkan atau logat jawa saya yang kental. Ah, biar saja. Kenapa harus malu, toh bahasa Jawa adalah bahasa ibu dan bukan suatu hal yang membuat malu bukan? :)

Jadi mau ditirukan kata-katanya atau ditirukan logat Semarangan ini, tak masalah. Kalau kata orang Semarang, medhok yo ben to (medhok biarkanlah saja) ^_^

Mari lestarikan bahasa Jawa :D 


*Postingan ini diikutsertakan di "Aku Cinta Bahasa Daerah Giveaway"


Wednesday, March 6, 2013

Satu-satunya Alasan Mencintai




Kemarin pagi ketika jam kantor baru dimulai. Mengomentari berita perceraian artis saya pun bergumam,”Ah, bisa ya dua orang yang saling mencintai kemudian bercerai, kemudian saling mencaci,”

Mas-mas rekan kantor menyahuti, “Ya dulu alasan menikahnya apa dulu,”

Terdiam sejenak sebelum menjawab, “Jadi ingat kata-kata yang ada di undanganmu dulu Mas,” 


“Satu-satunya alasan aku mencintaimu adalah karena aku tak punya alasan untuk mencintaimu,”

Kala itu, sempat bingung dengan kata-kata di atas (biasanya kan seseorang jatuh cinta dengan alasan tertentu) saya pun menanyakan maksud tulisannya, “Jadi begini Mon, kalau kita punya alasan untuk mencintai seseorang maka tatkala alasan itu hilang maka akan hilang juga rasa cinta kita kepadanya, misal menikahi seorang perempuan karena cantiknya atau kekayaannya maka saat dia udah nggak cantik atau kaya, cinta itu pun akan hilang….”

Manggut-manggut. Sandarkan alasan mencintai karena Allah. Sang pembolak-balik hati. Seperti indah sebuah syair terkenal,


Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu,”
Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu,




*seseorangyangberusahatidakjatuhcintasebelumwaktunya*