Tuesday, April 23, 2013

Book Review : Selimut Debu


Pembeli : Berapa harga kepala kambing ini?
Penjual : Lima puluh afghani
Pembeli : Lima puluh! Terlalu mahal! Dua puluh saja.
Penjual : Apa? Dua puluh afghani? Kamu gila? Kamu kira ini kepala manusia?
-       Lelucon Kandahar (Selimut Debu, hal. 123)

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar negara Afghanistan? Taliban, perang, darah, bom atau kesengsaraan? Tak sekadar menatap negeri itu dari internet atau televisi, Agustinus Wibowo menjelajah secara langsung negeri yang luluh lantak oleh perang. Sendirian, ia menghabiskan waktunya menyusuri sudut demi sudut negeri yang merupakan Tanah Bangsa Afghan ini (-istan sendiri berarti tanah). Dua tahun ia tinggal di Kabul sebagai fotografer jurnalis. Benarkah tak ada yang tersisa selain penderitaan dan kepiluan? Lalu apa yang membuatnya berada di sana?

“Ini adalah perjalanan yang dimulai dari sebuah mimpi. Mimpi untuk menyingkap rahasia negeri Afghan. Mimpi yang membawa saya berjalan ribuan kilometer untuk menemukan rohnya, menikmati kecantikannya, merasakan air mata yang membasahi pipinya…” (catatan Agustinus Wibowo dari Beijing ke Afghanistan)

Siapa nyana di sebuah dusun di Afghanistan bernama Bamiyan terdapat patung Buddha raksasa yang walau pada akhirnya dihancurkan oleh pasukan Taliban hingga tinggal tersisa reruntuhan merupakan bukti bahwa jauh sebelum masukya Islam agama Buddha pernah berkembang pesat di sana, bahkan Afghanistan disebut-sebut pernah menjadi negeri suci umat Buddha sedunia. Siapa sangka di negeri nun jauh di mata itu penulis beberapa kali menemukan penduduknya pernah tinggal di Indonesia. Bangsa ini adalah bangsa yang bertahan atas kecamuk perang, kesulitan hidup hingga keterbelakangan dibandingkan negara tetangga seperti Pakistan atau Iran. Menjadi “Afghan” berarti menjadi berani, tahan banting dan pantang mundur, seperti kata penulis pada halaman 330.

Buku ini tak sekadar catatan perjalanan biasa. Sang penulis pastilah menulis dengan segenap jiwa sehingga ruh dari perjalanan mampu sampai kepada pembaca. Beberapa kali saya menahan nafas mengikuti perjalanannya, mulai dari menuju daerah paling pelosok di Afghanistan, terguncang-guncang di Kamaz (sebutan untuk salah satu truk buatan Toyota Jepang), berselimut debu padang pasir, terdiam di kesunyian pegunungan Ghor hingga nyaris kehilangan harddisk berisi foto-foto selama perjalanan. Di buku setebal 461 halaman ini pembaca akan mendapatkan sejarah negara tersebut tanpa merasa bosan, foto-foto indah nan artistik hasil bidikan penulis, pemahaman akan budaya hingga semangat juang bangsa Afgan. Yang saya kagumi dari penulis adalah kepiawaiannya memainkan kata serta pendeskripsiannya yang amat jelas sehingga seolah-olah saya ikut larut di dalam perjalanannya. Deskripsi yang tak semata apa yang dilihat oleh mata tetapi juga akan cerita-cerita di baliknya. 

Pada akhirnya, Afghanistan bukanlah sekadar negeri yang hancur lantaran kecamuk perang. Bukan pula semata-mata negeri yang tak ada apa-apa melainkan debu dan debu. Ia adalah negeri yang sarat akan keindahan peradaban masa lalu, ia adalah negeri yang elok akan lukisan alam, ia adalah negeri dimana penduduknya disebut-sebut sebagai penduduk yang paling ramah sedunia. Buku ini amat layak untuk Anda nikmati dan ya saya merasa terlambat baru membacanya sekarang :)

Ohya situs pribadi penulis avgustin.net juga amat menarik untuk dikunjungi lho!
 

Judul : Selimut Debu
Penulis : Agustinus Wibowo
Jumlah halaman : xiv, 461
Terbit pertama pada Januari 2010
Rating : 5/5

Friday, April 12, 2013

Nyilaturahim



Tante : “Kita punya keluarga di kota X lho, namanya mas A, anaknya adeknya Eyang,”
Aku : “Oiya ya tante, udah lama ga ketemu ya?”
Tante : “Iya, dia nggak pernah main ke rumah sih. Kalau ada pertemuan juga nggak pernah dateng,”
Aku : “Lha, tante yang silaturahim ke rumahnya aja,”
Tante : “Lho harusnya dia dong yang ke rumah tante, dia kan yang lebih muda,”
~~~

Dulu saya pikir kata ‘menyambung tali silaturahmi’ itu artinya berbuat baik sama orang, tidak melakukan hal-hal yang membuat hubungan pertemanan atau kekerabatan menjadi buruk. Seiring berjalan waktu dan semakin ‘tua’ sekadar menjaga hubungan agar tidak buruk itu tidak cukup. Seperti dialog pembuka di atas, Tante merasa bahwa bahwa om A yang harusnya sowan dulu lantaran beliau lebih muda. Seorang teman pernah berkata bahwa dia tidak akan tersenyum sama temannya jika berpapasan di jalan apabila temannya tidak tersenyum duluan

Teman akrab dulu saat di sekolah, kemudian melanjutkan pendidikan di universitas yang berbeda ketika bertemu bisa berubah menjadi orang asing. Istilahnya lost contact. Si A mungkin beranggapan si B kok tidak sms duluan, tidak nanya kabarnya duluan sementara si B mungkin berpikiran sebaliknya. Akhirnya ya tak bertemu. Saya juga pernah merasakan ketika teman yang akrab saat di sekolah, awalnya masih sering smsan atau telpon kemudian jarang dan akhirnya tak pernah. Ketika itu saya ingin ditanya duluan, ingin dihubungin duluan. Mungkin teman juga beranggapan demikian.Saling menunggu. Akhirnya tak bertemu

Waktu jalan-jalan ke Bali tahun lalu, saya teringat bahwa Mama punya Om (adik Eyang) yang tinggal di Denpasar dan sudah puluhan tahun tak ditemuinya. Akhirnya saya mengajak teman-teman ke rumah Eyang tersebut. Eyang sempat kaget tiba-tiba kedatangan tamu yang tak disangkanya sebelum kami berbincang-bincang dengan akrab seolah sudah lama kenal. Menyambung silaturahim rasanya nikmat sekali.

Rasa-rasanya poin terpenting dari menyambung silaturahim adalah menghilangkan siapa yang lebih dulu dan menunggu didahului. Tidak menunggu orang lain senyum duluan (ya dia diam saja ya saya juga diam), tidak menunggu disapa duluan dan tidak menunggu didatangi duluan. Pernah dulu ada penghuni baru di kosan dan dia tidak tersenyum atau menyapa saat bertemu saya. Saya pun akhirnya tidak tersenyum sama dia (karena saya merasa sebagai penghuni lama, “harusnya yang baru senyum duluan dong”) akhirnya kami pun tidak saling bertegur sapa untuk beberapa lama. Tak enak dengan situasi demikian, saya akhirnya tersenyum dan menyapa dia terlebih dahulu. Semenjak itu baru kami bertegur sapa.

Dulu saya enggan senyum ke orang yang tak membalas senyuman saya (masak disenyumin tak membalas sih pikir saya) tetapi kemudian saya sadar kalau saya berbuat baik kan mengharapkan balasan dari Yang Maha Penyayang bukan mengharap sama manusia. Sudut pandang itu akhirnya membuat saya bisa senyum dengan leluasa, dibalas ataupun tidak tak saya pikirkan lagi. Senyum, gerbang pertama dari silaturahim bukan? :)

Yuk, sama-sama belajar. Nyilaturahim. Semoga makin dilancarkan rejekinya dan dipanjangkan umurnya*. Jumuah Mubarokah ^_^


*"Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi". (Muttafaqun 'alaihi).

Monday, April 1, 2013

Blogiveaway - Monilando

Menulis review itu menyenangkan lho. Mencoba melihat sesuatu dari perspektif yang objektif. Meski tak sering-sering amat, blog ini sudah beberapa kali menulis review tentang buku dan tempat wisata. Dan kali ini tak ada salahnya buat ikutan Blogiveaway Bersama Tom Kuu, yuk :)


Review Buku :
1. http://monilando.blogspot.com/2011/05/book-of-week-1-ayahku-bukan-pembohong_04.html
2. http://monilando.blogspot.com/2011/05/book-of-week-2-think-dinar_04.html
3. http://monilando.blogspot.com/2011/05/book-of-week-3-islam-liberal-101_04.html
4. http://monilando.blogspot.com/2011/05/book-of-week-4-terapi-penyakit-hati.html
5. http://monilando.blogspot.com/2011/05/book-of-week-5-saatnya-untuk-menikah.html
6. http://monilando.blogspot.com/2011/06/book-of-week-6-9-summers-10-autumns_07.html
7. http://monilando.blogspot.com/2011/10/book-of-week-7-menciptakan-dunia-tanpa.html
8. http://monilando.blogspot.com/2012/01/book-of-week-8-twitografi-asma-nadia.html
9. http://monilando.blogspot.com/2012/01/berjalanlah-kamu-di-muka-bumi-dan.html
10. http://monilando.blogspot.com/2012/02/book-of-week-10-dua-tangis-dan-ribuan.html
11. http://monilando.blogspot.com/2012/02/book-of-week-11-buku-pintar-mind-map.html
12. http://monilando.blogspot.com/2012/02/book-of-week-12-eliana.html
13. http://monilando.blogspot.com/2012/02/book-of-week-13-madre.html
14. http://monilando.blogspot.com/2012/03/book-of-week-14-halal-dan-haram.html
15. http://monilando.blogspot.com/2012/03/book-of-week-15-please-look-after-mom.html
16. http://monilando.blogspot.com/2012/03/book-of-week-16-indonesia-mengajar.html
17. http://monilando.blogspot.com/2012/04/book-review-17-99-cahaya-di-langit.html
18. http://monilando.blogspot.com/2012/05/book-review18-muhammad-al-fatih-1453.html
19. http://monilando.blogspot.com/2012/06/book-review-19-life-traveler.html
20. http://monilando.blogspot.com/2012/07/book-review-20-how-to-master-your.html
21. http://monilando.blogspot.com/2012/09/book-review-21-sepatu-dahlan.html
22. http://monilando.blogspot.com/2012/12/book-review-negeri-para-bedebah.html


Review Tempat Wisata :
1. http://monilando.blogspot.com/2012/11/an-amazing-trip-sumut-sumbar.html
2. http://monilando.blogspot.com/2013/01/cantiknya-pantai-sawarna.html
3. http://monilando.blogspot.com/2013/03/catatan-perjalanan-sulsel-nan-eksotis.html

Yang mau ikutan, hari ini hari terakhir lho.. :)