Monday, May 20, 2013

Book Review : Negeri di Ujung Tanduk

Ada rasa tak puas tatkala saya membaca novel Tere Liye berjudul ‘Negeri Para Bedebah’, akhir cerita terasa ganjil untuk sebuah penutup, teka-teki terbesar malah belum tuntas. Syukurlah beberapa bulan kemudian, terbitlah novel pemungkas dari peraih penghargaan ‘Anugerah Pembaca Indonesia 2012’ ini. ‘Negeri di Ujung Tanduk’, novel dengan cover amat menarik : kumpulan monyet berdasi bermuka culas.

dari Goodreads
Di Negeri di Ujung Tanduk
Kehidupan semakin rusak
Bukan karena orang jahat semakin banyak
Tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi

Kali ini Thomas tak lagi berperan sebagai seorang konsultan finansial terkemuka, ia membuka lini baru perusahaannya sebagai konsultan politik. Ia juga tak ditemani Julia, wartawan majalah ekonomi yang menjadi mitranya di novel pertama, mitranya kali ini adalah seorang wartawan majalah politik bernama Maryam. Namun antara Julia dan Maryam memiliki sebuah kesamaan : sama-sama akan mengalami petualangan menegangkan dengan laki-laki tiga puluh tahun itu.

Thomas tengah mengikuti pertandingan sebuah klub petarung di Makau sebelum serentetan kejadian buruk mengikutinya. Ia dituduh memiliki seratus kilogram bubuk heroin oleh Kepolisian Hongkong dengan barang bukti yang ada dalam kapal pesiarnya, klien politiknya yang menjadi kandidat kuat calon presiden dari partai X ditangkap dengan tuduhan korupsi hingga potongan besar puzzle kehidupan masa lalu yang harus diselesaikan: orang-orang yang paling bertanggung jawab atas kematian kedua orang tuanya, pusaran mafia hukum terbesar di seantero negeri. Pembaca akan disuguhi kejadian-kejadian menegangkan seperti pada novel pertama, seolah-olah ikut berada dalam petualangan. Penyelesaian dengan cara yang kadang tak terduga.

Dalam novel ini pula, Tere Liye seolah-olah menyindir sistem politik demokrasi yang lazim dewasa ini melalui tokoh Thomas. Misalnya saat Thomas diwawancarai oleh Maryam,

"Apakah suara terbanyak adalah suara Tuhan? Omong kosong. Berani sekali manusia mengklaim sepihak, fait accompli suara Tuhan. Coba kau bayangkan sebuah kota yang dipenuhi pemabuk, pemadat, mereka mayoritas, maka saat undang-undang tentang peredaran minuman keras dan ganja disahkan melalui referendum warga kota, otomatis menang sudah mereka. Bebas menjual minuman keras dimana-mana, mabuk-mabukan di mana pun. Juga masalah lain seperti pernikahan sesama jenis, kebebasan melakukan aborsi bayi. Bahkan dalam kasus ekstrem, jika mayoritas penduduk kota sepakat pembunuhan adalah tindakan legal, di mana suara Tuhan?”

Bagi saya, cara Tere Liye memaparkan pemikirannya melalui dialog antar tokoh selalu mengesankan : cerdas dan rasional. Yang menjadi catatan saya atas novel setebal 359 halaman ini adalah pada beberapa bagian, rasa-rasanya potongan kejadian seperti dipaksakan, kebetulan yang seolah-olah selalu cocok. Ada beberapa bagian yang mudah ditebak kelanjutannya sehingga membuat kurang greget.  

Secara umum, novel ini kalah mengesankan dibandingkan dengan novel pendahulunya. Namun secara keseluruhan, novel ini merupakan novel yang berbobot untuk dibaca, apalagi apabila telah membaca novel pendahulu. Inti pesan moral novel ini amat mengena : jarak antara akhir yang baik dan akhir yang buruk hanya dipisahkan oleh sesuatu yang kecil saja, yakni kepedulian. Nasihat yang klasik tetapi tentu saja, tak semua orang memilih untuk peduli. Happy reading!
Sepotong kecil kepedulian akan membuat perbedaan berarti di masa depan.

Friday, May 3, 2013

People Around Me : Perempuan yang Paling Dicintai Suaminya



Salah satu perempuan paling dicintai suaminya bisa jadi adalah istri Shah Jehan, sang permaisuri Mumtaz yang dibangunkan bangunan semegah Taj Mahal sebagai peristirahatan terakhirnya. Tetapi melihat secara langsung tentulah memberikan kesan yang lebih mendalam dibandingkan dengan hanya mendengar cerita saja. Salah satu perempuan dalam kehidupan nyata yang paling inspiratif bagi saya adalah salah seorang yang saya panggil dengan Tante yang merupakan istri dari salah satu adik kandung Mama (Om).

Setiap kali saya bertandang ke rumah beliau, saya harus ‘bersiap-siap’ tak boleh iri dengan kemesraan yang ditunjukkan oleh keduanya misalnya Om yang kerap memuji Tante sehingga tersipu malu. Usia Om sudah lebih dari setengah abad tetapi rasa-rasanya cara Om memperlakukan Tante seakan tak luntur oleh waktu.

Usia Tante masih dua puluh empat tahun ketika ia menikah dengan Om. Kariernya di bidang akuntansi pada sebuah perusahaan swasta sedang bagus-bagusnya ketika ia memutuskan untuk mengundurkan diri setelah melahirkan anak pertamanya. Beliau pun resmi menjadi ibu rumah tangga sembari merintis butik busana Muslim. Lalu apa yang istimewa dengan Tante untuk diceritakan kali ini?

Selain cantik, Tante adalah salah seorang perempuan paling cerdas yang pernah saya kenal. Beliau mampu melihat segala sesuatu dari berbagai sisi sehingga amat menyenangkan untuk dimintai pendapat. Selain itu, nada bicara beliau halus, khas orang Sunda. Beliau memang ibu rumah tangga biasa, tetapi di mata saya beliau perempuan yang luar biasa. Masakannya lezat sekali, Om kerap memuji masakan istrinya dan menyuruh saya belajar dari Tante, yang lebih istimewa kecepatan Tante memasak di atas rata-rata. Sreng sreng, dalam waktu tak terlalu lama jadilah masakan yang menggugah rasa. Ia juga gemar berkebun, lahan kosong di depan rumahnya penuh dengan tanaman, mulai sayur hingga tanaman obat. Jadi jika mau memasak sayur atau memerlukan obat, sering kali tinggal memetik saja. 

Tak ketinggalan, Tante pun kursus kecantikan dan kosmetik. Selain untuk menjaga penampilan, beliau juga bercita-cita mendirikan spa rumahan di rumahnya. Tante ingin berkarya dengan tanpa berjauhan dari keluarga. Selanjutnya, Tante juga mengikuti kursus bekam dan akupuntur, semua yang diikutinya untuk keluarga. Jadi jika Om atau anak-anaknya mengeluh sakit Tante tinggal mengeluarkan jarum akupuntur atau alat bekamnya. 

Tak hanya itu, Tante juga mengikuti program hafizhah di masjid dekat rumahnya. Sembari memasak, ia melantunkan hafalannya. Ia juga mengikuti program tahsin dan bahasa Arab. Buku-buku agama menumpuk di perpustakaan mini rumah Om dan Tante, hampir setiap hari (ketika saya libur beberapa hari dan menginap di sana) saya tak pernah melihat Tante melewatkan waktu tanpa membaca buku.

Yang saya sukai adalah nasihat-nasihat Tante yang disampaikan dengan halus, tegas dengan sudut pandang yang selalu positif. Pantang ia menggunakan kata ‘tidak bisa’ jika mendengar keponakannya ini mulai mengeluh. Tak heran jika pernah suatu hari saya melihat salah seorang anak laki-lakinya bisa menangis tersedu-sedu sambil memeluk ibunya dengan hanya mendengar beberapa kata nasihat Tante yang disampaikan dengan amat halus, nyaris tak pernah saya melihat beliau marah.

Pendek kata, kalau ada gelar ibu rumah tangga terhebat salah satunya hendak saya sematkan kepada Tante. Ibu rumah tangga paket komplet. Perempuan hebat yang rela meninggalkan puncak kariernya demi menghebatkan keluarganya, perempuan yang memiliki semangat amat tinggi dalam belajar dan mengembangkan diri dengan berorientasi pada kepentingan keluarga. Bersyukur mengenal beliau dan bisa belajar banyak darinya.

Jadi tak berlebihan kan kiranya saya sebut beliau sebagai salah satu perempuan yang paling dicintai suaminya? Hehe

Wednesday, May 1, 2013

Kerja atau Kuliah : Pilih Mana?



“Ketika kuliah waktu banyak tetapi uang tak ada, ketika kerja  uang ada tetapi waktu tak ada,”

Ketika memasuki dunia kerja, waktu terasa amat berharga. Jam kerja pukul 07.30 hingga 17.00 belum ditambah kemacetan kota Jakarta membuat waktu terasa amat sempit. Belum lagi jatah cuti yang hanya dua belas hari per tahun dipotong cuti bersama. Rasa-rasanya ingin kembali ke masa kuliah ketika banyak memiliki waktu. Alhamdulillah kesempatan itu datang saat ini, ketika diterima sebagai mahasiswa D-IV STAN alias pegawai tugas belajar. Resmi pindah ke Bintaro nan tak sehiruk pikuk Jakarta Pusat.

Ngomong-ngomong, tadi salah seorang dosen berkata, “Ketika kerja, ada yang ingin kembali kuliah.. Ketika kuliah, ada yang ingin kembali kerja,”

Aha, saya jadi teringat ketika kecil dulu saya ingin segera menjadi seorang dewasa. Meniru-niru Mama berdandan hingga mencoba bajunya, saat SD ingin cepat-cepat SMP biar tak dibilang anak kecil lagi, saat SMP ingin cepat-cepat SMA biar kelihatan keren.. Lalu splash.. sampailah ke titik itu, ketika beranjak dewasa (atau bertambah tua), masa kanak-kanak nampak amat menyenangkan dan tentu saja tak mungkin untuk kembali ke masa itu.

Kerja dengan segala dinamikanya, kuliah dengan segala dinamikanya. Pekerjaan mungkin berhubungan dengan tugas yang susah dikerjakan, deadline pekerjaan, bertemu orang yang menyebalkan, dimarahi atasan, dsb. Kuliah mungkin berhubungan dengan tugas yang bertumpuk, deadline tugas dan ujian. Mungkin bukan rejekinya yang kurang, tetapi syukurnya yang kurang kalau kata Ippho Santosa. Bersyukur memiliki pekerjaan sementara masih ada yang sedang mencari pekerjaan, bersyukur bisa kuliah sementara masih ada yang putus sekolah.

Manusia selalu ada saja yang dikeluhkan, sementara mungkin banyak hal yang luput untuk dia syukuri bukan? Nikmati, nikmati apapun yang ada di depan :) *catatan untuk diri

Cheers, live your life, enjoy your life ;)

-semangat mahasiswa, jiwa berasa kembali muda beberapa tahun- :D