Monday, November 25, 2013

[Terios7wonders] Jelajahi Negeri, Temukan Arti


Apa yang akan dilakukan untuk membuktikan bahwa sebuah mobil memang handal dan tangguh untuk segala medan? Mengiklankannya di televisi dengan kata-kata bombastis? Memajangnya di pameran otomotif dengan menampilkan spesifikasi produk yang ada. Bisa jadi. Namun, apa jadinya jika sebuah brand mobil ternama mengadakan sebuah perhelatan akbar menjelajah tujuh surga tersembunyi negeri ini melanjutkan kesuksesan menjelajah surga kopi di Pulau Sumatra tahun lalu? Tak sekadar promosi biasa, tetapi lebih dari itu, program ini juga menunjukkan kecintaan yang luar biasa akan negeri ini sekaligus membawa misi mulia. Indonesia tak sekadar itu-itu saja. Kali ini mari menjelajah tujuh surga tersembunyi : Sawarna, Kinahrejo, Tengger, Baluran, Sade, Sumbawa, dan Pulau Komodo.

Tarik Nafas dan Bacalah
Bagaimana mungkin seorang yang menyukai travelling tidak iri dengan keberuntungan yang menggelayuti tujuh blogger, tujuh awak media, tujuh driver dan tiga kru memiliki kesempatan menjelajah tempat-tempat yang membuat mata berdecak kagum dan berkali-kali memuji nama Tuhan akan keindahan apa yang telah Ia ciptakan? Saya menarik nafas dalam-dalam saat membaca tulisan para blogger, seolah-olah mata saya menatap landscape demi landscape yang terlukis sempurna itu melalui mata telanjang, bukan hanya melalui gambar. Seolah-olah saya yang berada di di jok tengah Terios, menikmati antusiasme yang ada pada setiap jangkah petualangan hingga bersiap menemukan kejutan apa yang akan saya temukan. Bukan sekadar menikmati keindahan wisata saja, melainkan terlampau mahal harga dari sebuah pengalaman sensasional perjalanan darat empat belas hari. Dari ‘mendaki’ gunung, mengarungi lembah, hingga menyeberangi lautan.

Surga Pantai Itu Ada di Indonesia
Keindahan Indonesia tak sekadar ada di Bali, pesona Indonesia tak sekadar tempat-tempat yang telah populer. Siapa nyana tak jauh dari Jakarta, tepatnya di selatan provinsi Banten ada sebuah desa nan indah bernama Sawarna. Tak sekadar menyajikan pemandangan indah pantai Tanjung Layar dengan karang-karangnya yang merupakan ikon desa Sawarna, Sawarna juga memiliki gua Lawuk dan Gua Lalay yang ada di bukit karst. 

Batu Layar di Sawarna

Lalu, siapa nyana pulau Komodo yang terkenal sebagai habitat reptil fenomenal itu ternyata menyimpan pesona pantai yang luar biasa bernama Pantai Pink. Kata Harris Maulana, salah seorang blogger yang mengikuti perjalanan tersebut, tak perlu diving untuk menyelami keindahannya cukup dengan snorkeling, keindahan tersebut terpampang begitu jelas di depan mata. Air yang begitu jernih, pemandangan dalam laut menyodok indera penglihatan untuk membelalak. 
Pink Beach

Lalu ada pula Lakey Beach di Dompu yang terkenal untuk surfing, pantai Pede di Labuan Bajo, pantai Pink (iya, namanya Pink juga) dan Selong Belanak di Lombok serta pantai Bama di Taman Nasional Baluran yang menyimpan pesona bawah laut yang belum banyak diketahui orang. Aih, Indonesia memang merupakan surga pecinta pantai bukan?

Arti Sebuah Gunung, Pesona Danau dan Sensasi Menembus Sabana
Keindahan alam di Indonesia tak semata-mata pantai saja. Surga tersembunyi ada dimana-mana. Gunung juga merupakan kekayaan alam yang menyimpan magnet bagi siapa yang hendak menyibak. Tak ketinggalan, gunung Merapi nan mahsyur merupakan salah satu dari tujuh destinasi kali ini. Siapa yang tak ingat Mbah Maridjan, sosok yang sempat fenomenal kala itu? Sang abdi dalem yang bersikeras tak mau dievakuasi dari desa Kinahrejo tatkla erupsi Merapi pada tahun 2010 lalu.

Performa Daihatsu Terios di uji di segala medan, termasuk saat mendaki gunung Merapi. Debu dan pasir menemani sepanjang perjalanan. Perjalanan kali ini bukanlah perjalanan biasa. Di Musium Sisa Hartaku misalnya, sebuah museum yang menyimpan kerangka barang yang tersisa setelah erupsi Merapi, tersimpan pelajaran untuk meresapi apa arti hidup ini.
Petualangan panjang tentu harus didukung mobil sahabat petualang

Lalu beranjak ke Ranu Pane, danau (ranu) yang terletak di kaki gunung Semeru yang berada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Tak sekadar pemandangan danau biasa tetapi juga keindahan gunung Semeru ada di depan mata. Selain Ranu Pane juga terdapat Ranu Kombolo yang merupakan salah satu tempat syuting film 5cm.

Ranu Pane

Belum lengkap rasanya jika telah menjelajah pantai, gunung, danau tetapi tidak mengarungi padang sabana yang ada di Indonesia. Ya, Taman Nasional Baluran yang disebut-sebut sebagai Africa van Java merupakan destinasi menakjubkan lainnya. Vegetasi sabana merupakan daya tarik utama Taman Nasional ini, dilengkapi dengan safari mengamati kehidupan para penghuni Baluran. Tak perlu jauh-jauh ke Afrika bukan?

Memasuki Baluran

Kearifan Lokal Indonesia Nan Amat Kaya
Berada di sebuah destinasi, terlalu picik rasanya jika hanya semata-mata menikmati keindahan alam saja. Buka pikiran dan buka hati, kearifan lokal siap menanti. Mulai dari masyarakat Kinahrejo yang amat menghargai harmoni dengan gunung Merapi, sinergi masyarakat Tengger dengan gunung Semeru, keahlian masyarakat desa Sade Rembitan di Lombok Tengah dalam menenun hingga proses memeras susu kuda liar di Sumbawa.

Tak lepas juga berbagai atraksi budaya menarik merupakan suguhan istimewa selama perjalanan. Sebut saja tarian Jathilan yang disajikan masyarakat Kinahrejo, pertunjukan Gendang Belik yang merupakan ucapan selamat datang yang ditampilkan oleh masyarakat Sasak, dan tarian Amak Tempengus oleh masyarakat pulau juga.

Gendang Belik

Memerah Susu Kuda Liar
Kearifan lokal tentulah melibatkan budaya yang begitu mendarah daging pada masyarakat setempat. Budaya Indonesia begitu kaya, misalnya wanita yang di desa Sade belum boleh menikah jika belum bisa menenun atau penduduk desa di Sumbawa yang memelihara kuda liar sebagai hewan ternak layaknya ayam, melepas kuda-kuda itu sendiri kemudian mengambil susunya.

Nikmati Momennya
Aih, siapa yang akan menolak menikmati sunrise di Taman Nasional Baluran atau sunset dengan siluet kuda liar di Pulau Sumbawa atau menikmati gemerlap bintang di kaki gunung Semeru? Momen demi momen tak terlupakan tentu begitu banyak terekam dari perjalanan panjang selama dua minggu ini. Mulai dari kebersamaan yang terjalin antar keduapuluh empat para petualang, ‘tersesat’ di padang sabana, ‘mendaki’ gunung, mengarungi lautan, menikmati atraksi budaya dan kearifan lokal serta momen demi momen lainnya. 

Gemerlap Bintang di Kaki Gunung Semeru

Berbagi Kepedulian
Tak sekadar mengambil, tetapi juga memberi. Begitu mungkin salah satu filosofi yang dianut oleh pihak Daihatsu Terios. Tak sekadar menjelajah destinasi, tetapi juga berbagi kepada masyarakat sekitar destinasi. Misalnya saat tim memberikan tong sampah beserta alat kebersihan di Ranu Pane sebagai wujud kepedulian, memberikan bantuan tujuh ekor kambing di Labuan Bajo, hingga memberikan bantuan buku untuk perpustakaan sekolah di Lombok.
Memberikan bantuan hewan kurban

Perjalanan Ini Merupakan Bukti
Menyusuri perjalanan tujuh destinasi dalam dua minggu ini (melalui tulisan-tulisan yang ada tentunya) membuka mata saya akan banyak hal :

Bahwa Indonesia begitu kaya, tak sekadar tempat-tempat wisata yang sudah menjadi tempat tourisity tetapi juga surga-surga lain yang masih tersembunyi. Kekayaan Indonesia begitu beragam, mulai dari keindahan berbagai objek wisata alam hingga kearifan lokal. Hal-hal menakjubkan tersebut tentu tak akan bisa didapatkan hanya dengan melihat foto-foto yang ada di internet atau memutar video di Youtube. Kemasi barang dan masukkan ke dalam tas, adakan perjalanan demi perjalanan, eksplorasi negeri ini. Jika bukan kita siapa lagi yang akan mencintai negeri ini. 

Dan tentu seperti kata Soe Hok Gie bagaimana kita bisa mencintai ibu pertiwi jika kita tak pernah menjelajah negeri!  

Catatan :
Foto di tulisan ini seluruhnya diambil dari blog Harris Maulana, salah satu blogger pemenang.  


Saturday, November 23, 2013

Let's Move On (Lemon) Bersama Hijab Alila



Lebih dari seribu perempuan berhijab memadati ballroom Graha K-Link Gatot Subroto lantai 5 dari pagi hingga menjelang maghrib tadi. Wajah-wajah penuh antusias tampak dari para peserta acara bertajuk Lemon (Let’s Move On) yang diselenggarakan oleh Hijab Alila, salah satu brand hijab syar’i yang kian mendapat tempat di hati para Muslimah Indonesia. Lemon sendiri merupakan serangkaian acara berbagi hikmah hijrah (move on) dari para pembicara, peluncuran model gamis dan bergo sekaligus pembentukan program nasional Komunitas Hijab Syar’i dari brand yang pada bulan November ini genap berusia satu tahun.

Dalam pengantarnya, ustadz Felix Siauw selaku pemilik Hijab Alila menyatakan bahwa Hijab Alila dibangun karena dakwah. Ummu Alila, ustadz Felix Siauw, menyatakan keresahannya pada sang suami atas kesulitannya mendapatkan hijab syar’i di pasaran sehingga kemudian timbul gagasan untuk membentuk sebuah label pakaian yang sesuai dengan pakem syariat. Selanjutnya, diharapkan dengan Hijab Alila para Muslimah didorong untuk berhijab dari segi pakaian (berpakaian syar’i) kemudian untuk selanjutnya berperilaku secara syar’i. Apabila wanita baik maka akan melahirkan generasi emas yang merupakan generasi Qur’ani. Diharapkan Hijab Alila mampu menjadi salah satu penggerak geliat Islam dan berkontribusi untuk dakwah.

Akal Membawa Kepada Keyakinan
Gambarnya dari jauh hehe
Ustadz yang digelari sebagai ‘ustadz Twitter’ ini mengawali sesi berbagi ghirah hijrah dengan menceritakan pergumulan batinnya dalam mencari Tuhan saat ia duduk di bangku kelas dua SMP. Ia terus bertanya dan bertanya tentang Tuhan, apakah Tuhan ada dan Tuhan hendak ia sembah dalam agama apa. Laki-laki berusia dua puluh sembilan tahun ini menyukai pelajaran Biologi dan ilmu pasti lainnya dan pergolakan akalnya akan ilmu pasti membawanya pada keyakinan bahwa Tuhan itu ada. Tak mungkin jagat raya tercipta secara kebetulan, ada begitu saja. Pada hitungan matematis yang ditampilkan, probabilitas bahwa alam semesta tercipta secara kebetulan adalah satu per sepuluh pangkat sepuluh pangkat seratus dua puluh tiga atau lebih dari impossible. Jikapun seseorang tidak bisa membuktikan bahwa satu hal ada, tidak otomatis satu hal tersebut tidak ada, sebelum memang bahwa hal tersebut dapat dibuktikan tidak ada. Tak lupa, sang ustadz juga menyentil umat Islam yang sebagian besar beriman tanpa melalui proses berpikir atau berdasarkan ‘pokoknya’ saja. Keyakinan timbul berdasarkan bukti, bukti menghasilkan keyakinan. 

Pada akhir sesi, laki-laki yang juga merupakan penulis buku best seller ‘Udah Putusin Aja’ ini menegaskan bahwa akidah Islam harus masuk akal, sementara syariat tidak harus masuk akal. Ia menganalogikan dengan hubungan pasien dengan dokter, pasien tidak bertanya mengapa dokter memberi resep obat untuk diminum dua kali sehari mengapa tidak tiga kali sehari. Begitu juga dengan syariat, umat Islam tidak selayaknya mempertanyakan mengapa sholat Subuh dua raka’at tidak tiga atau empat raka’at. Kalau seseorang sudah mempercayai Allah SWT sebagai Tuhannya, maka sami’na wa atho’na. Apapun yang Allah minta, akan dilakukan.

Ketika Gemerlap Dunia Hiburan Melelahkan
Peggy Melati Sukma membuka sesi kedua dengan membacakan sebuah puisi yang menyentuh jiwa. Dalam puisinya, perempuan yang tenar dengan ucapan “Pusiiiiiiiing” ini menceritakan kegelisahannya betapa dunia yang telah digenggamnya malah semakin membuatnya rindu akan Tuhan. Ia rindu akan dekapan Illahi yang mampu membuatnya tenang, bukan nikmat dunia yang tak akan habis dikejar. Selepas membacakan puisi, ia menceritakan mengenai latar belakang kehidupan dan berbagai profesi atau kegiatan yang digelutinya, sebut saja berbagai kegiatan keartisan seperti pemain sinetron, pemain film, penyiar, model hingga berbagai aktivitas sosial yang ditekuni serta profesinya sebagai pengusaha. Pendek kata, Peggy Melati Sukma dikenal sebagai sosok dengan banyak pencapaian.

Namun, pencapaian demi pencapaian tidak membuat hidupnya tenang. Ia melukiskan bahwa ia merasa terpontal-pontal dengan bisingnya dunia, ketika keyakinan menjadi ritual dan hati tidak mampu hadir sepenuhnya pada ibadah yang dilakukan. Hingga pada suatu hari ia sampai pada suatu titik tanya : betulkah apa-apa yang dilakukannya, semua pencapaiannya, merupakan hal yang dilakukannya secara lillah atau semata-mata hanya karena Allah. Para peserta acara diajak untuk mempertanyakan kembali dasar dari apa-apa yang dilakukan selama ini. Apakah niat yang hadir sudah karena Allah, apakah ibadah yang dilakukan bukan sekadar ritual penggugur kewajiban. Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab, begitu kata Sayyidina Umar bin Khattab. Saat kita merenung, kita akan mampu pulang ke hati karena dikatakan bahwa hati merupakan mukjizat yang nyata. Hati merupakan segumpal daging dalam tubuh, apabila segumpal daging itu baik maka baiklah hal lainnya. 

Perempuan pemilik akun Twitter @peggymelatis ini kemudian menceritakan pengalaman hidupnya yang penuh liku-liku kehidupan, tatkala ia dirundung berbagai masalah yang ternyata tidak mampu diselesaikannya dengan kemampuan dan pengalaman yang dimilikinya. Lebih lanjut lagi, ia menegaskan bahwa ketika kita mengimani syahadat, semua yang terjadi adalah hikmah. “Selesaikan masalahku dengan cara-Mu, bukan caraku,” begitu doa yang dipanjatkannya dan Allah begitu mudah menyelesaikan semua permasalahan hamba-Nya. Hidup adalah hijrah dari keadaan yang buruk menjadi baik, dari tidak berjilbab menjadi berjilbab misalnya. Maka pesannya, jangan takut berhijrah dan jangan pernah mengecewakan orang tua.

Hijrahlah dan Berjama’ahlah
Bagi para pembaca ‘Udah Putusin Aja’ dan ‘Yuk Berhijab’ tentu tak asing dengan karya perempuan ini. Pemilik nama lengkap Emeralda Noor Achni atau tenar dikenal sebagai Benefiko ini merupakan sosok dibalik desain visual kedua buku tersebut. Ia mengisahkan perjalanan hidupnya, dari saat ia tidak berhijab, berhijab dengan gaya yang disebutnya sebagai rock n roll syariah hingga kemudian ia berhijrah kepada hijab syar’i. Berbagai pujian dilayangkan kepadanya tetapi pujian justru membuatnya takut. Pujian merupakan sebuah hal mematikan yang dapat membuat manusia lupa bahwa jika ia hebat maka itu karena Allah.

Selain pujian yang datang, ia juga tak lepas mendapat cacian dari orang-orang yang tak suka dengan hijrahnya, terutama saat ia berganti penampilan lalu kemudian aktif berdakwah melalui akun Twitter @benefiko. Ia dikucilkan dari pergaulannya selama ini tetapi ia meyakinkan dirinya bahwa surga lah tujuannya. Ia menegaskan bahwa pentingnya seseorang untuk berhijrah dan kemudian berjama’ah dengan komunitas yang satu visi. Kita harus khawatir jika kita belum bisa move on dari suatu keburukan. Berhijrah haruslah segera, tanpa nanti tanpa tapi.

Tak Sekadar Berjualan Hijab Saja
Pada acara kali ini, Hijab Alila memberikan kesempatan kepada para Muslimah yang hadir untuk menjadi peri (pejuang syar’i) yang akan membumikan hijab dan perilaku syar’i di daerah masing-masing. Para muslimah yang mendaftar menjadi peri kemudian akan diseleksi dan akan dibimbing langsung oleh ustadz Felix Siauw dan Benefiko selama delapan bulan sebagai bekal dalam perjuangannya. Bayangkan pahala yang terus mengalir dari kebaikan yang timbul satu demi satu hingga ikatan ukhuwah antar Muslimah yang terjalin. Menjadi cantik merupakan hal yang penting tetapi berakhlak baik merupakan hal yang lebih penting.

#YukBerubah
Di penghujung acara, ustadz Asep Supriatna atau yang lebih tenar dengan nama Asep Fakhri telah siap untuk membakar semangat para muslimah untuk berubah. Hijrah merupakan hal yang berat, tidak mudah bagi seseorang untuk berubah tetapi berubah merupakan sebuah pilihan. Hidup adalah ibarat BCD, birth choice and death. Kelahiran adalah pasti dan kematian adalah sebuah keniscayaan, pilihan ada di antara kelahiran dan kematian. Apakah kita akan memilih untuk menjadi pribadi yang istimewa atau biasa saja adalah sebuah pilihan. Yang harus kita khawatirkan bukanlah kematian, tetapi pilihan-pilihan apa yang akan kita ambil. 

Untuk berubah tidaklah mudah, diperlukan pendorong yang kuat agar mampu berubah secara istiqomah. Misalnya untuk suami, kebutuhan istri dan anak dapat menjadi salah satu pendorong agar lebih giat mencari rezeki halal lebih banyak lagi. Laki-laki pemilik akun twitter @asepfakhri ini menyatakan bahwa banyak orang menunda untuk berubah sementara ada orang-orang yang menunggu orang yang menunda tersebut untuk menjadi hebat. Selanjutnya, ia meminta para peserta untuk menuliskan sepuluh pendorong sukses masing-masing orang, mengapa seseorang harus sukses, berhasil dan hebat. Untuk berubah bukanlah bagaimana dan seperti apa perubahan itu melainkan mengapa kita harus berubah. Ustadz yang mampu membuat audiens tertawa dan meneteskan air mata ini menutup acara dengan lagu yang dipersembahkannya untuk ibu.

Semangat hijrah mewarnai acara yang berlangsung meriah ini. Lepas acara, para peserta acara tampak antusias mendekati para model koleksi gamis dan bergo terbaru Hijab Alila. Tak lepas doa semoga hijab syar’i semakin membumi di Indonesia dan semoga Hijab Alila mampu menjadi salah satu penggerak komunitas hijab syar’i sekaligus menjadi bagian dari dakwah Islam.

Wednesday, November 20, 2013

People Around Me : Pemimpin yang Benar-Benar Pemimpin



Kehidupan membuat kita belajar. Salah satunya melalui tindakan orang-orang yang menjadi pemimpin kita atau dalam konteks yang sederhana, atasan kita. Ada atasan yang dihormati bawahan karena jabatannya, karena ditakuti bawahannya dan ada pula yang memang dihormati karena memperoleh respek dari anak buahnya. Tak semua atasan bisa menjadi pemimpin, bukan?

Sepertinya tak ada yang tak kehilangan saat bapak ini melepaskan jabatan eselon tiga untuk promosi menjadi eselon dua di pulau seberang. Bagaimana tidak, sosoknya amat berkesan untuk orang-orang yang ada di kantor. Beliau tak sekadar atasan yang bisa menyuruh tanpa memberi contoh, tetapi juga ia mengajak anak buahnya bersama-sama menjalankan apa yang dicontohkannya. Ia memberi kebebasan anak buah untuk mengeluarkan ide-ide terbaik dalam ruang lingkup pekerjaan dengan tidak lupa membimbing dan memberikan arahan yang diperlukan. Bukan mengekang sehingga anak buah tertekan, bukan pula melepaskan sehingga anak buah tanpa arahan. 

Hal mengesankan yang saya kagumi dari bapak berusia empat puluh lima tahun ini adalah beliau bukan hanya sekadar sosok yang mengejar target pekerjaan dengan menyuruh anak buah, melainkan juga sosok yang memberikan semangat dan motivasi serta menciptakan hal-hal yang membangun semangat kekeluargaan. Misalnya, saat beliau mengajak kami makan siang bersama-sama di Monas atau di pinggir danau di Menteng dengan menyantap bekal yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Tak perlu mewah untuk merekatkan hubungan antar pegawai tetapi bagaimana menciptakan makna.

Sebagai seorang pria Minang, bapak ini terkadang memperdengarkan alunan musik Melayu dari speaker yang terpasang di sebelah komputernya, terkadang pula memperdengarkan alunan musik lembut maupun oldies. Saya juga masih ingat betul lantunan ayat as Shof yang dibacakannya dengan merdu tempo itu, pada saat mengimami sholat jama’ah bersama di kantor. Salah satu hal yang amat saya kagumi dari beliau adalah pengetahuan agamanya yang luas, beliau tak jarang menyisipkan nasihat-nasihat agama melalui cerita-cerita yang disampaikan kepada kami.

Saat perpisahan beberapa hari yang lalu, beliau tak lupa berpesan agar kami sekolah setinggi-tingginya, meskipun kami perempuan (kebetulan saat itu beliau berpesan kepada saya dan seorang rekan kantor perempuan) untuk menempuh tingkat pendidikan terbaik yang bisa kami capai. Walaupun mungkin suatu hari nanti kami harus memilih antara karier atau keluarga, memiliki ilmu tinggi tak akan pernah rugi, minimal dapat menjadi modal untuk mendidik anak kelak. 

Sungguh, saya belajar banyak dari beliau. Dari beliau yang senantiasa menyempatkan diri membaca buku di sela-sela padatnya aktivitas, kebiasaannya membuat mind-map, caranya menyampaikan sesuatu dengan tegas tetapi tetap santun, hingga keteladanan-keteladanan lain yang beliau tunjukkan. Semoga Bapak selalu mendapatkan kemudahan dan kekuatan dari-Nya dimanapun Bapak berada, pemimpin yang benar-benar pemimpin.