Monday, December 22, 2014

Surat untuk Anakku dari Ibumu yang Masih Gadis


Duhai anakku, sedang apa kau saat membaca tulisan ini? Saat kau membaca judul ini, ku harap engkau tak mengernyitkan alismu. Tentu ibumu ini bukanlah Siti Maryam, sang perempuan suci yang melahirkan seorang bayi dalam keadaan belum terjamah lelaki. Ibumu saat ini masih berstatus mahasiswi yang sedang berjuang menyelesaikan skripsi, ku harap engkau membaca surat ini ketika kau mulai beranjak remaja. Saat kau mungkin mulai bisa memaknai, kata demi kata yang coba ku untai....

Duhai anakku. Aku tak tahu apakah ketika kau membaca ini, Doraemon si robot abad 22 masih setia menemani di hari Minggu pagi, aku tak tahu apakah Bobo masih menjadi teman bermain dan belajar dari generasi ke generasi, aku tak tahu zaman apa yang akan kau hadapi. Kita adalah manusia akhir zaman, kita berada di detik terakhir dalam percaturan alam semesta, begitu kata yang ku dengar dan ku takuti. Aku tak bisa membayangkan seberapa fantastisnya kah kehidupanmu nanti, dengan segala modernitas, mungkin teknologi ‘augmented reality’ nanti sudah menjadi hal yang sangat jamak kau hadapi. 

Namun, apapun itu, ku harap kau selalu berpegang teguh pada apa yang tak akan terlindas zaman : ayat-ayat suci dan sabda nabi. Ku harap di usiamu ini, kau lebih dari ‘sekadar’ lancar mengeja abatasa atau hafal juz ‘amma, lantunan merdumu menderas firman-Nya lebih sering terdengar di rumah daripada suara televisi. 

Duhai anakku. Jika kau seorang gadis kecil, saat membaca ini barangkali kau telah melewati tanda kedewasaanmu untuk pertama kali, kau mungkin sedikit bingung dengan perubahan demi perubahan yang kau hadapi. Tenang nak, ceritakanlah pada Ibu, tak usah kau tutup-tutupi, ibumu akan dapat memahami.  Jika kau mulai menyukai teman lelaki, berbagilah cerita denganku, aku ingin menjadi temanmu, seseorang yang kau percaya untuk berbagi rahasia dan resah hati. Semoga kau tak memilih menghabiskan waktumu  dengan teman-temanmu sementara risauku menanti kehadiranmu, pun tatkala kau bersamaku jari jemarimu lincah memencet tombol layar dan pandanganmu berpusat pada kotak sekian inchi. 

Duhai anakku. Jika kau seorang anak lelaki, di awal mula kedewasaanmu saat kau disebut ‘baligh’, ku harap engkau tak penasaran mencoba ini itu, atas nama pergaulan dan apa yang dianggap sebagai aksioma bahwa wajar-wajar saja untuk menjadi nakal mumpung ‘masih remaja’. Ku harap engkau lebih memilih untuk menyibukkan dirimu dengan organisasi, buku atau melakukan hal-hal baik yang kau suka. Akrabilah ayahmu, ikutilah apa yang kau lihat baik darinya, turutilah perkataannya meski gejolak mudamu meminta sebaliknya. Tentu, kadang-kadang ajaklah ibumu ini turut serta.

Jika kau membaca lagi tulisan ini ketika usiamu sudah layak dipinang, sibukkan hari-harimu dengan memiliki banyak teman dan penuhi dengan rangkaian kegiatan, tebalkanlah ilmumu agar kelak kau lebih baik dari ibu dalam menunggu. Jika kau seorang laki-laki yang hendak menjadi seorang suami, janganlah sembarang menebar janji hendak menikahi jika kau tak benar-benar memaksudkannya, datangi orang tuanya begitu kau mampu.

Duhai anakku, saat menulis ini, aku belum tahu siapa namamu. Aku juga belum tahu siapa laki-laki yang akan menyematkan nama belakangnya di belakang namamu atau nama gabungan apa yang akan menjadi nama tengahmu. Aku belum tahu bagaimana nanti gayaku mengasuhmu, saat ini aku masih mengamati teman-temanku yang lebih dahulu menimang buah hati. Membayangkan kau lah yang terbaring hangat dalam dekap diri.

Duhai anakku. Sungguh aku telah menyayangimu, jauh sebelum aku mengenalmu, sebelum janji sehidup semati terikrar antara ayah dan ibumu. Meski tertatih, sedikit dan perlahan, ku belajar untuk menjadi ibu terbaik untukmu, seorang ibu yang kelak bisa kau banggakan, seorang ibu yang bisa menghebatkan. Aku ingin menjadi yang pertama mengajarimu mengenal Tuhan, aku ingin menjadi yang pertama mengajarimu Al Qur’an, aku ingin menjadi yang pertama mengajarimu berjalan, aku ingin menjadi yang pertama mengajarimu kebaikan demi kebaikan.

Kaulah semangatku untuk berjuang. Kau adalah salah satu alasan. 

Berjuang agar mampu menghebatkanmu artinya aku harus bisa menghebatkan diriku. Mengajarimu ini itu artinya setidaknya aku tahu. Menyuruhmu melakukan ini itu maka aku pun harus mencontohimu. Aku harus memantaskan diriku, menjadi ibu terhebatmu.....

Sungguh nak, aku telah menyayangimu......

---

terpanjat doa agar Allah ridhoi diri ini menjadi seorang ibu, kelak suatu hari nanti




SELAMAT HARI IBU
untuk para ibu
untuk calon-calon ibu

---

Wednesday, December 10, 2014

Resensi Buku Khilafah Remake



khilafah remake
sumber : Goodreads
Apa yang muncul di benak Anda ketika mendengar kata ‘khilafah’? Suatu pemerintahan Islam yang menjalankan syariat Islam, menaungi negara-negara yang tunduk padanya? Atau apakah Anda membayangkan bahwa khilafah Islam merupakan suatu bentuk pemerintahan yang ‘menakutkan’? Jiwa dibalas dengan jiwa, mata dibalas dengan mata, hukuman potongan tangan untuk pencuri, para pezina yang telah menikah dirajam hingga mati? Benarkah demikian? Felix Siauw, seorang ustadz muda populer, menghadirkan buku berjudul ‘Khilafah Remake’ untuk memberikan pemahaman mengenai khilafah secara ‘berbeda’. Mari kita kupas ‘Khilafah Remake’.


Apa yang Membuat Seorang Agnostik Memeluk Islam?
Sekitar dua belas tahun yang lalu, pasca pengeboman World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001, telunjuk dunia menuding Islam sebagai agama teroris yang penuh kebencian dan menebar permusuhan. Islam dinilai dari perilaku kaum Muslimnya, begitu pikir Felix kala itu, sebelum ia berdiskusi dengan rekan kuliahnya Samsul hingga mempertemukannya dengan seorang ustadz bernama Fatih Karim. Sang ustadz memuaskan ‘dahaga keimanan’ dengan tak hanya mengedepankan dalil semata, tetapi juga memuaskan akal. Salah satunya adalah dengan menjelaskan konsep kepemimpinan dalam Islam, Khilafah Islamiyah, yang tak hanya memberi konsep kehidupan tetapi juga menuntun prosesi detail implementasinya melalui sistem tersebut. Felix Siauw, dalam acara rilis buku ‘Khilafah Remake’ di masjid Baitul Ihsan kompleks Bank Indonesia pada 7 Desember 2014 lalu, menuturkan bahwa ia dibuat terkesima oleh betapa sempurnanya Islam mengatur kehidupan, contohnya dalam Islam diatur mengenai ‘azl (senggama terputus).  Sempurnanya Islam mengatur kehidupan tentunya tak akan lepas dari Khilafah Islamiyah. Islam bukanlah sekadar agama ritual.

Penuturan Sejarah yang Tak Membosankan
Bila lazimnya buku yang mengisahkan sejarah dituturkan dengan paragraf demi paragraf panjang dengan spasi rapat, bersiaplah menemukan hal yang berbeda pada buku setebal 296 halaman ini. Seluruh halaman dicetak full colour dengan desain grafis yang memanjakan mata di setiap halamannya. Buku bersampul dominan hitam ini diawali dengan penjelasan mengenai sejarah peradaban dunia yang meliputi kegemilangan tiga peradaban besar di zamannya : peradaban Mesopotamia (Persia), Romawi hingga peradaban Islam. Tak perlu mengerutkan kening membaca sejarah, bukan?

Runtut dan Sistematis
Setiap buku tentunya diciptakan dengan tujuan, buku ini bertujuan untuk memudahkan pemahaman umat Islam mengenai khilafah. Sistematikanya runut dengan kalimat-kalimat tak terlalu panjang (jarang ditemui paragraf panjang) yakni dimulai dari sejarah peradaban Islam, kondisi umat Islam sekarang hingga kondisi umat Islam yang ideal seperti apa.  Tak lupa juga dijelaskan mengenai apa itu khilafah dimulai dari arti kata secara harfiah dan istilah, syarat khilafah hingga sejarah khilafah dari awal hingga kehancurannya. Beberapa potongan pemahaman tentang konsep khilafah yang saya dapatkan dari berbagai buku seperti dirangkum secara utuh dalam buku ini.


http://felixsiauw.com/home/buku-khilafah-remake/

Konsep Khilafah Dimudahkan untuk Dipahami
Perpaduan kata dan infografis secara ciamik membantu visualisasi pembaca tentang konsep (yang menurut saya) berat yang diembannya : khilafah. Mengapa berat? karena (lagi-lagi menurut saya) belum banyak umat Islam yang mengetahui secara mendalam mengenai konsep ini, bahkan mungkin hanya tahu khilafah dari kulit luarnya saja (termasuk saya). Bahasanya sederhana dan tepat sasaran, boleh dibilang, tak semembuai Muhammad Al-Fatih 1453, karya fenomenal pertama laki-laki yang telah dikaruniai empat buah hati ini. Bisa jadi karena dukungan visual yang luar biasa telah sedemikian memperkuat kata demi kata yang dituliskan (Felix Siauw menyebutnya sebagai magnum opus –sebuah karya besar-  Al Fatih Studios yang merupakan hasil keroyokan 1 penulis, 1 scriptwriter, 1 ilustrator dan 3 visualis) atau memang lantaran ingin memberikan pemahaman secara mudah bagi pembaca lintas usia maupun pemahaman. Tak lupa, berbagai dalil baik ayat Al Qur’an dan hadits serta dukungan fakta sejarah dari berbagai sumber melengkapi buku ini.
http://felixsiauw.com/home/buku-khilafah-remake/


Feel the Spirit!
Buku ini menyedot perhatian saya pada halaman pertama, lagi dan lagi. Hanya dalam tiga jam saya mampu menyelesaikannya. Saya seperti merasakan energi yang dibagikan oleh sang penulis, sosok yang telah saya temui empat kali dan terasa sekali semangat keislamannya dari nada bicara dan pilihan kata yang digunakan. Ia berkali-kali menekankan urgensi khilafah dalam potongan demi potongan buku ini, mulai dari wajibnya berjamaah, kritikan mengenai sekularisme hingga tiga pilar yang menyokong kejayaan Islam : pilar individu yang bertakwa, masyarakat yang berdakwah dan negara yang menerapkan syariah.

“Masalah terbesar yang ada di tengah umat Islam adalah syirik modern bernama sistem SEKULARISME! Paham ini menganggap bahwa Allah hanya melihat kita pada saat-saat tertentu saja.
Sistem sekularisme ini perumpamaannya seperti perempuan yang biasa memperlihatkan auratnya dengan tank-top dan hot-pants pasti tidak akan berani memakai pakaian minim itu ketika sedang sholat. Karena dia merasa bahwa ketika sedang shalat Allah sedang menyaksikannya. Tetapi ketika solatnya selesai, dia memperlihatkan auratnya lagi,” (halaman 142)
http://felixsiauw.com/home/buku-khilafah-remake/


Bukan Sekadar Romantisme Sejarah
Hadis Imam Ahmad juga diriwayatkan oleh Baihaqi dari Nu'man Bin Basyir;
Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya.
Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya.
Selanjutnya masa kerajaan yang menggigit (Mulkan ’Adhan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya.
Setelah itu, masa kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyyan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya.
Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.”
[HR Ahmad dan Baihaqi dari Nuâman bin Basyir dari Hudzaifah]
- dikutip dari Wikipedia

Merujuk pada hadits di atas, Felix Siauw menyatakan keyakinannya akan bangkitnya khilafah Islamiyah. Kehancuran suatu peradaban memiliki pola dan kehidupan yang berkiblat pada barat akan runtuh dan digantikan oleh sistem Islam. Buku ini tidak dibuat untuk sekadar mengenang ‘romantisme sejarah’ bahwa Islam pernah berjaya tetapi juga untuk mempersiapkan umat untuk menghadapi masa yang akan  datang, menjadi bagian dari tegaknya khilafah Islamiyah. 

Bagian epilog menjelaskan mengenai pertanyaan mendasar yang mungkin dirasakan pembaca : lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Tentu tak seru jika saya membocorkannya di sini.

Syariat Islam : Menyeramkan?
Yang saya pahami Allah tentu tak akan menurunkan suatu syariat jika hal tersebut tidak membawa manfaat atau tak sanggup dipikul manusia. Syariat yang mengatur mengenai hukum qishash misalnya, diiringi dengan diperbolehkannya ‘pemaafan dari pihak keluarga’ dan bahwa memaafkan lebih baik. Hukuman potong tangan juga mengatur mengenai berapa jumlah minimal uang yang dicuri hingga dilaksanakan hukuman tersebut dan ada tahap-tahapnya (koreksi saya jika salah). Semakin umat Islam mengkaji syariat Islam, akan menemukan bahwa syariat tak lain diberikan Allah untuk memuliakan manusia. Yang perlu kita lakukan adalah mengkajinya lagi dan lagi.

Bukan Milik Harakah Tertentu
Meski referensi buku ini sebagian besar merujuk pada sebuah harokah tertentu, tidak ada provokasi atau ajakan untuk mengikuti golongan tersebut. Pada halaman 278, penulis menegaskan bahwa untuk mengkaji bisa dengan kelompok yang mana saja asal sesuai dengan QS Ali Imran 104 dan asal berjuang untuk Islam.

Buku ini bisa jadi menjadi pintu gerbang pemahaman umat mengenai khilafah Islamiyah yang sayang untuk dilewatkan!

--

Judul : Khilafah Remake
Penulis : Felix Y. Siauw
Visual : Al FatihStudios
Penerbit : Al Fatih Press
Cetakan pertama : September 2014



Sunday, August 31, 2014

Maka Air Asia Menerbangkan Mimpi

Dekade 90-an bepergian menggunakan pesawat terbang agaknya hanya sanggup dilakukan oleh sekelompok orang lantaran harga tiket pesawat tidak dapat dijangkau semua lapisan. Sewaktu kecil, saya hanya bisa mendongakkan kepala ke langit setiap melihat pesawat terbang, membayangkan menjadi salah satu penumpangnya. Naik pesawat merupakan sebuah cita-cita. Hingga, AirAsia datang ke Indonesia, menawarkan pengalaman terbang pertama bagi banyak orang. “Hanya dengan belasan ribu bisa terbang. Wow!” pikir saya melihat iklan AirAsia kala itu. Malah kemudian, AirAsia membagikan promo kursi gratis.

Bukan Orang Kaya Saja yang Bisa Naik Pesawat

Slogan AirAsiaNow Everyone Can Fly’ merupakan kata-kata yang terasa amat powerful. Dari seorang mahasiswa berkantong pas-pasan yang memiliki pola pikir tercetak sekian lama bahwa naik pesawat hanya untuk orang kaya lalu berani bermimpi naik pesawat untuk pertama kali. Ada AirAsia, pesawat yang tiketnya murah, begitu pikir saya kala itu.

Lalu untuk pertama kalinya saya pulang ke kampung halaman bersama AirAsia, Jakarta-Semarang dengan tiket promo (sayang, saat ini rute tersebut sudah tidak ada lagi). Sering terbang menggunakan jasa LCC (low cost carrier) tetapi pengalaman bersama AirAsia yang paling menyenangkan sejauh ini. Dua hal yang paling menonjol dari pelayanan AirAsia adalah pendaratan (landing) yang selalu mulus dan penerbangannya yang selalu tepat waktu. Itu yang paling saya suka dari maskapai ini. Selain itu, kursi penumpang yang nyaman, suasana dalam pesawat yang terang dan bersih membuat penerbangan nyaman. AirAsia mengubah paradigma saya bahwa murah tak mesti murahan dengan menunjukkan pelayanan yang oke. Tak salah jika Roy Morgan Research, salah satu lembaga riset independen yang berbasis kepuasan pelanggan, memberikan penghargaan Domestic Airline of The Year 2013 untuk AirAsia Indonesia.

AirAsia merupakan salah satu maskapai penerbangan yang sering mengadakan promo, selain berbasis penerbangan murah tentunya. Meskipun saat ini saya belum pernah menjejakkan kaki di negeri orang karena alasan tertentu, harga tiket Air Asia yang terjangkau untuk PNS golongan II (misal Semarang-Kuala Lumpur PP hanya 550rb) ini membuat saya berani membayangkan bahwa suatu hari nanti saya bisa menjelajah negara-negara yang saat ini hanya saya bayangkan saja. Air Asia mengubah persepsi bahwa hanya orang kaya yang bisa naik pesawat dan hanya orang kaya yang boleh keliling dunia! 

Bagaimana membuat orang semakin meyakini mimpinya tidak mengubah hidup orang itu?

Wednesday, August 20, 2014

Kultum Supermentor 3 : Dahsyat!





Senin, 18 Agustus 2013, 18.40-22.10. Bertempat di Djakarta Theatre, Kultum Supermentor kembali dilangsungkan. Edisi ketiga ini kali ini bertemakan “Bibit Lokal, Juara Dunia” dengan menghadirkan sejumlah tokoh yang mengharumkan nama negeri : Susi Susanti, Ridwan Kamil, Iwan Setiawan, Richard Th Tampubolon, dan Sri Mulyani Indrawati.

Meritokrasi merupakan tema besar Kultum Supermentor 3 yang dibawakan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Dino Patti Djalal, beliau sekaligus merupakan founder dari acara yang menyedot antusiasme publik tinggi ini. Meritokrasi merupakan suatu sistem dimana semua orang bisa maju, memiliki kesempatan yang sama, tergantung pada mana yang paling memiliki kemampuan.

Pria yang pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat ini menegaskan bahwa dunia tidak melihat apa agama yang seseorang anut, apakah seseorang berasal dari China atau Amerika Serikat, apakah tua atau muda, tetapi melihat pada apa kemampuan yang dimiliki oleh seseorang. 

Lebih lanjut lagi beliau menyebutkan empat hal yang paling penting di era meritokrasi, khususnya agar Indonesia mampu berprestasi di kancah internasional :
1.       Berani bersaing
2.       Mental juara
3.       Berpikir besar
4.       Percaya diri

Meritokrasi memunculkan Metropolitan Revolution yakni pertumbuhan, inovasi, generasi pemimpin baru tak hanya ada pada kota-kota besar semata tetapi juga pada daerah.

Tak Takut Kalah, Tapi Tak Mau Kalah

Siapa yang tak kenal namanya, seorang perempuan asal Tasikmalaya yang mengharumkan nama Indonesia pada Olimpiade Barcelona 1992 melalui emas yang diraihnya pada cabang olahraga Bulu Tangkis. Ia lah Susi Susanti, seorang pebulutangkis wanita Indonesia yang berhasil menjuarai All England empat kali berturut-turut. 

Perjalanan panjang menuju karier gemilangnya dimulai tatkala pada usia 14 tahun perempuan yang mengidolakan Rudi Hartono ini memperoleh beasiswa sebuah klub bulu tangkis besar (termasuk mengenyam pendidikan di sekolah khusus atlet) di Jakarta. Maka pada usia yang relatif belia itu ia mulai mendedikasikan hidupnya untuk olahraga mahsyur negeri ini. Dari Senin hingga Jum’at, ia biasa berlatih 5-6 jam sehari.

Tak dapat dipungkiri bahwa masa remajanya hilang, begitu sebutnya. Namun ia tak pernah menyesalinya. Keyakinan akan pilihannya lah yang membuatnya terus menjaga konsistensi.

“Saya harus melakukan itu. Bulu tangkis adalah pilihan saya. Tak mungkin prestasi dapat dicapai dengan mudah,” ucapnya tanpa ragu

Berbicara mengenai mentalitas juara sebagai salah satu modal memperoleh kemenangan, istri dari Alan Budikusuma ini meyakini bahwa persiapan dan latihan yang matang serta ditunjang dengan fokus pada pertandingan menguatkan mentalnya di setiap pertandingan.

“Saya tidak takut kalah, tetapi saya tidak mau kalah,” begitu ucapnya berulang

Maka, jika ingin menjadi seorang juara, berlatihlah seperti juara, berlatih lah lebih dibanding yang lain. Ia terbiasa berlatih lebih keras dibanding teman-temannya yang lain. Selain itu, ia juga menggunakan teknik Sun Tzu bahwa untuk menguasai pertandingan haruslah menguasai lawan, ia mempelajari kelebihan dan kelemahan lawannya sebelum bertanding.

Konsistensi dan kerja kerasnya mendudukkannya menjadi atlet buku tangkis dunia. Namun, perempuan yang saat ini menjadi staf ahli PBSI ini memiliki motto bahwa di atas langit masih ada langit dan ia harus berdiri di atas kaki sendiri.

“Isilah masa muda dengan kegiatan positif, di bidang masing-masing, berkaryalah untuk orang lain, bangsa dan negara,” pungkasnya

How Far Can Dream Take You?

Pada kelas satu SD, lelaki Sunda ini menuliskan bahwa ia ingin mengunjungi 100 kota di seluruh dunia sebelum usia empat puluh. Pada usianya ke tiga puluh sembilan, ia menjejakkan kakinya ke kota ke-seratus di negeri Jerman. Sebelum menjabat sebagai walikota Bandung, laki-laki ini lebih dahulu dikenal sebagai arsitek dan urban designer.

 Proper education changed my life,” begitu kalimat pembuka darinya

Thursday, August 7, 2014

Bagaimana Rasanya Menjadi Tua?

“Apa yang sudah, sedang dan akan kamu lakukan menuju umur lebih dari 60 tahun?”
Menjadi tua adalah sebuah ketakutan bagi sebagian orang. Ketakutan itu dapat berupa kemampuan fisik yang mulai menurun, gangguan kesehatan yang datang bertandang, rambut yang kian memutih, keriput yang makin kelihatan, memori yang makin memudar dan hal-hal berbayang tua lainnya. Menjadi tua adalah keniscayaan, bahkan detik yang berganti pun menandakan usia bertambah bilangan. Namun, ketakutan adalah suatu pilihan.

Salah satu adagium populer mengatakan bahwa menjadi tua itu pasti sedangkan dewasa adalah pilihan. Maka, bagaimana jika sudut pandang disesuaikan. Bertambahnya bilangan usia bermakna semakin banyaknya kesempatan, semakin bertambahnya ilmu didapatkan, serta semakin banyak pengalaman dirasakan, orang tak dikenal yang menjadi teman pun tempat-tempat baru untuk menjejakkan kaki.

“Maka jika engkau takut, peluklah ketakutanmu,”

Ketakutan akan semakin menghilang bila ia didekati, begitu pernah ku dengar. Maka izinkanlah aku memeluk ketakutanku…..

Wednesday, August 6, 2014

Perempuan yang Mengajariku Arti Syukur

Langit yang cerah pada siang itu tak selaras dengan apa hendak yang dikatakan perempuan di depanku ini. Berbasa basi setelah sekian lama tak berjumpa, aku menanyakan kabarnya.

“Alhamdulillah, Allah beri aku cobaan,”

“Cobaan apa, Mbak?” sergahku tak sabar

“Beberapa hari lalu dokter memvonisku terkena kanker rahim,” ia berkata lirih, dua bulir air mata jatuh perlahan.

Aku mengusap punggung tangannya, lidahku tercekat demi mendengar apa yang baru saja disampaikannya. Udara seperti tertahan di dekat kami, memberikan ruang. Lalu setelah beberapa saat ia pun bercerita tentang tanda-tanda yang dirasakan sebelumnya hingga ia akhirnya ia mengetahui bahwa ia menderita kanker rahim stadium dua. Kali ini, sama sekali tak ada air mata mengalir, yang kudengar adalah kata demi kata yang ia sampaikan dengan penuh ketegaran.

“Alhamdulillah, Allah beri aku penyakit ini, Dek……”

“Alhamdulillah, mungkin ini cara Allah menegurku agar semakin mendekat padaNya, aku nggak boleh capek-capek sehingga aku akhirnya keluar kerja, alhamdulillah dengan penyakit ini suamiku juga makin sayang padaku………..”

Dan tak ku dengar perkataan lain darinya selain ungkapan pujian kepada Allah.

“Dek Monika, Mbak aja yang dikasih sakit begini saja bersyukur. Kamu harusnya bisa lebih bersyukur dari Mbak ya. Kamu kuliah gratis, lulus langsung dapat kerja, ditempatkan di Jakarta sementara saudara Mbak pengen dapet Jakarta malah dapet di luar Jawa, kamu dapet kesempatan lanjut kuliah lagi nggak usah disambi kerja, kamu udah punya usaha sendiri,…….”

 “Dua doa yang tak lepas kupanjatkan pada Allah, Dek. Semoga Allah memberikan aku kekuatan untuk senantiasa memperbaiki diri dan semoga aku senantiasa menjadi hambaNya yang bisa bersyukur dalam setiap keadaan…….”

Perkataannya membuatku tergugu. Aku menundukkan kepala di pangkuannya. Terkubur dalam-dalam sudah curhatanku yang tadinya hendak kusampaikan padanya jika ia menanyakan kabarku.

---


Teruntuk seorang perempuan hebat yang amat ku sayangi dan ku hormati. Semoga Allah senantiasa memberimu kekuatan untuk melewati semua ini....


Monday, May 19, 2014

Muslimah Aktif? Ini Dia 6 Tips Simpel dan Syari

Muslimah aktif yang punya banyak kegiatan tetapi tetap ingin syari sehari-hari, tak ada salahnya mencoba beberapa tips simpel yang bisa dicoba :)

1.   Selipkan peniti di dompet
      Peniti merupakan alat kecil yang penting bagi Muslimah. Tentu tak ingin kan ketika tiba-tiba ada kejadian kancing baju lepas atau rok sobek tercantol paku, muslimah terlihat auratnya. Tak ada salahnya, berjaga-jaga dengan menyimpan peniti di dompet. Toh ringan dan tak memberatkan, bukan? :)

2.   Bawa manset tangan di tas
      Meskipun lengan baju tampak menutup tangan, tetapi tetap ada kemungkinan 'tertarik'. Jika kamu cukup percaya diri bahwa bajumu syar'i, tak perlu membawa mukena (fyi, mukena hanya digunakan Muslimah di Indonesia dan Malaysia). Cukup dengan baju yang dikenakan, plus manset tangan untuk makin menyempurnakan menutup aurat, siap untuk melaksanakan ibadah sholat :)

3.   Bawa kaos kaki cadangan   
      Melanjutkan poin kedua, kaos kaki merupakan barang yang wajib dipakai Muslimah untuk menyempurnakan menutup aurat. Bawa selalu kaos kaki bersih cadangan di tas (kaos kaki tak berat rasanya dibawa-bawa) berjaga-jaga jika kaos kaki yang dipakai misal terkena lumpur becek atau terinjak sesuatu yang najis.

4.   Gunakan rok dalaman
      Meskipun telah menggunakan dalaman celana (misal legging), itu belum cukup jika mengenakan rok yang tidak cukup tebal (bahan sifon misalnya). Mengenakan dalaman celana saja jika menggunakan rok yang tak tebal akan berisiko tinggi memperlihatkan lekukan kaki. Penggunaan dalaman rok membantu mencegahnya *kecuali rok dilengkapi furing tebal :)

5.   Gunakan tas ketika berdesakan di tempat umum

      Bukan hal yang nyaman bagi Muslimah untuk berdesakan di tempat umum, utamanya di angkutan umum seperti bus kota atau Commuter Line, tas bisa digunakan untuk melindungi tubuh dari berhimpitan dengan lawan jenis :)


6.   Jangan buka jilbab di tempat umum, bahkan sekalipun terasa aman 
      Tak ada tempat umum yang benar-benar aman untuk membuka jilbab. Toilet wanita misalnya, tak ada yang menjamin jika tak akan ada petugas pria yang tiba-tiba menyelonong masuk. Tetap waspada dan berhati-hati :)

Sekian enam tips singkatnya, semoga sedikit banyak bermanfaat. Keep syar'i, keep active, keep productive. Proud to be Muslimah :)

*Adakah yang ingin menambahkan? :)
     

Monday, May 5, 2014

Bea Cukai di Tapal Batas Negeri


Atapupu merupakan nama pelabuhan strategis yang terletak di Kabupaten Belu, Timor Barat. Daerah yang menjembatani transit perdagangan antar negara di wilayah perbatasan RI-Timor Leste ini menjadi saksi lalu lintas penduduk dan barang datang silih berganti. Jika pihak imigrasi memeriksa kedatangan penduduk maka Ditjen Bea dan Cukai merupakan instansi tingkat Eselon I di bawah Kementerian Keuangan yang memiliki tugas, dalam bahasa sederhana, untuk mengawasi lalu lintas barang. Pengawasan yang dilakukan oleh Ditjen Bea dan Cukai sendiri bukan hanya bertujuan untuk memungut penerimaan negara dari bea masuk dan pajak impor, melainkan Bea Cukai juga mengemban tugas dari melindungi rakyat dari masuknya barang-barang berbahaya semisal narkoba.
Atapupu

Atapupu berbatasan dengan Timor Leste
Bisa dibilang, tugas para pegawai Bea Cukai di daerah perbatasan, sebut saja di Atapupu dan Entikong di Kalimantan Barat yang berbatasan dengan wilayah Serawak Malaysia lebih berat lagi. Mengutip pernyataan Dirjen Bea dan Cukai Agung Kuswandono, fungsi pengawasan akan lebih dominan dibandingkan dengan fungsi penerimaan pada daerah perbatasan. Pengawasan daerah perbatasan sendiri memiliki keunikan, umpamanya di daerah Atapupu yang berbatasan dengan Timor Leste, penduduk Indonesia dan Timor Leste mendapatkan kelonggaran dan kemudahan dalam keluar masuk wilayah dua negara. Cukup meninggalkan Kartu Tanda Penduduk. Tak mengherankan mengingat Timor Leste pernah menjadi bagian dari Republik Indonesia sehingga hubungan kekerabatan erat terjalin, pun kesamaan adat turut mempengaruhi. Kemudahan keluar masuk daerah perbatasan itu kerap digunakan penduduk Timor Leste untuk membeli berbagai barang kebutuhan di Belu mengingat harga jual barang lebih tinggi di negaranya. 

Hal tersebut membawa konsekuensi pengawasan yang lebih ketat. Penyelundupan merupakan salah satu isu utama perbatasan. Terindikasi dalam tiga tahun terakhir, penyelundupan Bahan Bakar Minyak (BBM) makin marak di Belu. BBM dengan harga subsidi dari Pemerintah Republik Indonesia dinikmati secara massal oleh rakyat luar negeri. Alhasil, masyarakat Belu yang notabene merupakan penduduk Indonesia merasakan efek domino kesulitan mendapatkan BBM lantaran maraknya penyelundupan. Bea Cukai berperan strategis dalam perlindungan masyarakat terhadap aksi penyelundupan tersebut, bukan hanya tentang barang yang diselundupkan (misal barang berbahaya seperti narkoba) melainkan juga penyelundupan merupakan kejahatan yang dapat mengganggu kedaulatan dan stabilitas ekonomi negara tersebut. Pun berhadapan dengan masyarakat daerah perbatasan artinya dituntut untuk lebih jeli dalam melakukan administrasi bea masuk yang merupakan salah satu unsur penerimaan negara. Namun, petugas Bea Cukai dihadapkan pada dilema antara memberikan izin perlintasan barang dan kondisi perekomian penduduk perbatasan yang membutuhkan barang tersebut.  

Tantangan yang dihadapi oleh pegawai Bea Cukai di daerah perbatasan dalam menjalankan tugasnya tak bisa dibilang ringan. Bekerja di daerah perbatasan artinya berada di daerah yang bisa dibilang jauh dari keramaian kota, dengan kondisi infrastruktur sarana dan prasarana yang tentunya lebih terbatas dibandingkan dengan daerah perkotaan pun kondisi geografis turut mempengaruhi. Atapupu misalnya memiliki kontur wilayah gunung dan laut sehingga bagian tanah yang rata dan bisa menjadi tempat pemukiman penduduk sedikit. Tak hanya itu, pegawai KPPBC Atapupu hanya berjumlah 18 orang dengan ditunjang oleh empat pos bantu Bea dan Cukai serta sepuluh personil sekuriti menjadi tantangan tersendiri bagi KPPBC Atapupu yang memiliki wilayah kerja luas untuk melakukan pelaksanaan intelijen, patroli, penindakan dan penyidikan di bidang kepabeanan dan cukai. Sedikitnya personil Bea Cukai tersebut tentunya menyulitkan pengawasan perbatasan.

Pihak Bea Cukai sendiri telah melakukan upaya-upaya dalam mengoptimalkan pengawasan. 
Misalnya dengan menambah kapal patroli laut sebagai prasarana yang diperlukan dalam melakukan pengawasan perairan, pun memberlakukan berbagai peraturan perbatasan seperti peraturan yang tampak di KPPBC Atapupu : tidak diperkenankan untuk membawa uang tunai senilai seratus juta rupiah atau senilai tersebut dalam mata uang asing kecuali dilaporkan terlebih dahulu, jika tidak akan dikenakan denda sejumlah tiga ratus juta rupiah. Kebijakan tersebut merupakan salah satu contoh optimalisasi kewenangan Bea Cukai dalam mendukung stabilitas ekonomi negara melalui pencegahan penyelundupan. 
 
Salah satu kapal yang dimiliki KPPBC Atapupu
Jika boleh memberikan sumbangsih saran, kiranya akan lebih optimal jika Bea Cukai lebih banyak mempekerjakan putra daerah dalam menjalankan tugasnya, mengingat kesamaan suku maupun bahasa daerah akan mempermudah dalam melakukan pengawasan. Selain itu, diharapkan dengan hal tersebut Bea Cukai dapat memperoleh tambahan personel yang memadai sehingga permasalahan kekurangan pegawai, utamanya di daerah perbatasan, dapat diatasi. Yang tak kalah penting, tugas yang diemban oleh pegawai Bea Cukai akan berjalan lebih optimal jika ditunjang dengan sinergi erat antar instansi pemerintah seperti pihak Imigrasi dan aparat keamanan setempat. 

Semoga motto yang saya baca pada situs KPPBC Atapupu “Borders Divide, Customs Connects (Perbatasan Negara Memisahkan, Kepabeanan Menghubungkan)” benar-benar terwujud.

 ---

Referensi tulisan :
1. www.beacukai.go.id
2. http://kppbcatapupu.blogspot.com/2013/07/susunan-organisasi-kppbc-tipe-pratama.html
3. http://kppbcatapupu.blogspot.com/2013/07/gedung-utama-kppbc-tipe-pratama-atapupu.html
4. http://www.investor.co.id/home/dirjen-bea-cukai-fungsi-pengawasan-domain-di-perbatasan/70367
5. http://kupang.tribunnews.com/2014/03/10/pemkab-belu-perluas-dermaga-atapupu
6. http://regional.kompasiana.com/2014/01/27/para-pelintas-gelap-di-perbatasan-timor-leste-629252.html 
7. Wawancara lisan salah seorang pegawai Bea Cukai, Alhadi Sembiring, yang bertugas di Kanwil DJBC Bali, NTB dan NTT 

Sumber foto : dokumentasi Alhadi Sembiring, dipublikasikan dengan izin dari pemilik gambar 




Sunday, May 4, 2014

Grand Launching One Day One Juz : Dahsyat!


Apa yang menggerakkan lebih dari tiga puluh ribu pasang kaki para Muslimin dan Muslimah melangkah menuju Istiqlal pagi ini? Dari berbagai penjuru negeri, menempuh ribuan kilometer untuk menggelorakan salah satu masjid kebanggaan Indonesia ini. Grand Launching Komunitas One Day One Juz merupakan jawabannya. 

Apa Itu One Day One Juz?

Gerakan One Day One Juz (ODOJ), seperti dikutip dalam situs resminya, merupakan sebuah gerakan yang memiliki visi membudayakan (terbiasakan) tilawah sehari sejuz di seluruh lapisan masyarakat muslim dari berbagai kalangan serta memiliki misi menyebarluaskan One Day One Juz dengan memaksimalkan program kerja kepengurusan. Yang menarik, gerakan ODOJ ini bukan digagas oleh alumni Perguruan Tinggi Agama Islam melainkan oleh para alumni Perguruan Tinggi Negeri. Gerakan yang pada awalnya merupakan gelombang kecil kini menjelma menjadi gerakan masif yang menggerakkan negeri.

Secara teknis, melalui grup whatsapp/BBM program ini dijalankan. Tiga puluh orang dalam satu grup memiliki target bacaan masing-masing satu juz berbeda setiap harinya, sesuai dengan urutan masing-masing. Tiga puluh orang dari seluruh penjuru negeri, dengan latar belakang yang berbeda-beda, semuanya bertekad menyelesaikan tilawah satu juz perharinya. Tercatat hingga saat ini, komunitas ODOJ telah memiliki lebih dari 95.000 anggota. Dalam pemberian award ODOJ pagi tadi disebutkan bahwa anggota ODOJ tertua berusia 78 tahun dan anggota termuda berusia delapan tahun. 

Grand Launching ODOJ dihadiri oleh Ustadz Yusuf Mansyur (Pendiri PPPA Darul Quran), Prof Nasarudin Umar (Wakil Menteri Agama), Dr. Amir Faishol al-Fath (Pakar Tafsir Al-Quran), Ust Fadyl Usman Baharun (Muhdhir Rumah Al-Quran Daarut Tarbiyah) serta para pesohor negeri yang merupakan anggota komunitas ini, sebut saja Dimas Seto, Dhini Aminarti, Oki Setiana Dewi, Baim Wong, Teuku Wisnu, Dude Herlino dan Alyssa Soebandono.

Apa Kata Para Pesohor Negeri tentang ODOJ?

Dude Herlino menyatakan bahwa pada awalnya terasa berat membiasakan membaca satu juz dalam satu hari tetapi dalam ibadah adalah niat, tentang keikhlasan bacaan kita karena Allah. Membaca Al Qur’an merupakan cara agar kita lebih dekat kepada Allah. Efek membaca Al Qur’an sangat memberikan keuntungan seperti langkah-langkah yang dimudahkan, ditenangkan pikiran hingga diberikan jalan atas permasalahan kehidupan. 

Tak kalah dengan Dude Harlino, Baim Wong menuturkan pengalaman berkesannya selama bergabung dengan Komunitas ODOJ. Ia pernah terpancang dengan target selesai satu juz lantaran tidak enak dengan anggota grupnya hingga ia pun takut bahwa ibadahnya berbumbu riya’. Selanjutnya, ia mulai membaca arti dari apa yang telah ia lafalkan dan apa hikmah dari bacaannya. Hal penting dalam membaca Al Qur’an adalah dilakukan setiap hari, diserap di dalam hati hingga memahami arti dan merenunginya. Bukan dilakukan secara terburu-buru maupun hanya mengejar target selesai, melainkan juga menikmati setiap huruf yang dibaca.

Membumikan Al Qur’an, Melangitkan Manusia

Tak berlebihan kiranya jika diharapkan dengan gerakan ini membaca Al Qur’an mampu menjadi budaya di Indonesia, di mana saja. Seperti dalam video pendek berjudul “Aku Kembali Padamu” yang diputarkan pagi tadi, berkisah tentang seorang pria (diperankan oleh Teuku Wisnu) yang kehilangan arah setelah kematian sang istri. Ia berjudi dan berkelahi. Di sebuah gang ia bertemu dengan seorang perempuan (diperankan oleh Oki Setiana Dewi) kemudian ia membawa lari tas sang perempuan lantaran perempuan tersebut menolak menyerahkan uang. Namun, ‘nahas’ baginya, alih-alih uang yang didapatkan, ia hanya menemukan Al Qur’an dan sejumlah buku. Ia kemudian membuka Al Qur’an tersebut dengan asal dan menemukan surat Thoha sesuai dengan nama pria tersebut. Tertarik dengan namanya, ia mulai membaca dan kemudian tergugu.
Thaa Haa
Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah
tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah) “
(QS Thaahaa: 1-3)
Hal yang menarik, dalam pelarian sang laki-laki setelah mengambil tas si perempuan, ia bertemu dengan berbagai orang di berbagai tempat yang semuanya melakukan aktivitas sama : memegang mushaf Al Qur’an dan membacanya. Mulai dari tukang ojek hingga warga yang sedang duduk-duduk di depan rumah. Bisa jadi, hal tersebut bukanlah suatu hal yang berlebihan. Dalam sebuah gambar yang dibagikan seorang teman, tampak seorang ibu penyapu jalan beristirahat dengan membaca Al Qur’an.

Pecahkan Rekor Dunia
Dalam rangkaian kegiatan acara akbar ini disiarkan pula taushiyah on air “Damai Indonesiaku” TV One dengan tajuk “Membumikan Al Qur’an, Melangitkan Manusia”.  Acara kemudian ditutup dengan deklarasi gerakan Indonesia Cinta Al Qur’an dengan duta ODOJ Teuku Wisnu dan Oki Setiana Dewi. Yang patut dicatat, dalam acara Grand Launching ODOJ kali ini dihadiri pula oleh Ketua Yayasan Museum Rekor Indonesia (MURI) Jaya Suprana yang menyerahkan tiga rekor kepada Komunitas ODOJ yakni membaca Al Qur’an oleh Peserta Terbanyak, komunitas pecinta Qur’an terbanyak. Sebelumnya, pada pukul 09.30 hingga setengah jam berikutnya, lebih dari tiga puluh ribu hadirin diminta untuk secara bersama-sama membaca Al Qur’an. Betapa indahnya tatkala lantunan ayat-ayat suci berdengung merdu.



Bila Al Qur’an Bukan Sekadar Mahar

Indah bukan? Bila Al Qur’an bukan sekadar kitab yang menjadi mahar pernikahan, bukan pula sekadar penghias ruangan. Membaca Al Qur’an dilakukan setiap hari. Bukankah Allah menyukai amalan yang dilakukan secara konsisten? Bisa jadi awalnya dipaksakan melalui gerakan ODOJ, kemudian menjadi sebuah kebiasaan lalu bertransformasi menjadi sebuah kebutuhan. Tak malu para Muslimin membaca Al Qur’an di tempat umum, tak takut dibilang riya’ jika niatnya hanyalah Allah semata.  Saat berada di Commuter Line, saat berada di pesawat seperti ibu dalam gambar di bawah ini.

Dan tentu saja, betapa indahnya bila negeri ini berisi orang-orang yang gemar mengaji. Indonesia Mengaji. Tak hanya sekadar membaca, tetapi memahami dan kemudian mengaplikasikan ayat-ayat illahi dalam kehidupan sehari-hari. Betapa rahmat dan hidayah Allah akan semakin tercurah untuk negeri ini. Semoga Allah meridhoi.



Sumber gambar :
1. Akun twitter @onedayonejuz
2. Akun twitter @oki_setiana
4. Gambar beredar via whatsapp (khusus gambar ibu penyapu jalan)