Friday, January 3, 2014

Bila Mukmin Tunduk pada Takdir



Kita terlahir dengan takdir. Tertulis lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, ketetapan-Nya. Ada hal-hal yang tak akan bisa kita ubah, setengah mati hati ingin mengingkari, sebulat lisan hendak mendustakan. Bahwa terlahir sebagai laki-laki atau perempuan, lahir sebagai anak siapa, tak ada pilihan. Ketetapan-Nya. Mutlak.

Ada hal-hal yang sungguh-sungguh kita perjuangkan. Lalu kita dapatkan. Ada pula yang tak akan kita dapatkan, sesungguh apapun kita mengupayakan. Lagi-lagi takdir.

Islam telah diturunkan dengan sempurna melalui seorang nabi yang tak bisa membaca dan menulis. Dengan segala syari’at untuk memuliakan umatnya. Yang karena keterbatasan akal manusia tidak (atau belum) bisa mencerna apa yang kelak disebut dengan hikmah. Syari’at Islam adalah ketetapan-Nya.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.....” (terjemahan Q.S. Al Ahzab:36)

Penggunaan kata tidak patut menunjukkan teguran yang halus terhadap kaum Mukmin. Mukmin bukan sekadar orang yang bersyahadat, ia memiliki tingkatan yang lebih tinggi daripada Muslim. Penggunaan kata mukmin merujuk kepada orang yang beriman, orang-orang yang meyakini bahwa apa-apa yang ditetapkan-Nya adalah yang terbaik, orang-orang yang tidak memilih jalan yang diharamkan bila ketetapan-Nya tidaklah sesuai harapan. Misalnya, ditakdirkan menjadi perempuan lalu mengubah takdirnya menjadi seorang laki-laki. Mukmin adalah sosok yang tunduk...

“Tangisku tergugu
Mengiba untuk bisa mengeja ketetapan-Mu
Aku yang tidak tahu
Cara-Mu
Ingin ini itu sekenaku
Sementara mencintai-Mu sungguh aku belum mampu”



Karena sungguh, apa-apa yang ditetapkan-Nya adalah yang terbaik. Walaupun mungkin tak bisa dipahami untuk saat ini atau tak terlihat kebaikan apa yang didapatkan di waktu sekarang. Apa-apa yang telah ditetapkan-Nya untuk kita tak akan meleset barang sedikit pun dan apa-apa yang tidak ditetapkan-Nya tak akan menimpa. Hikmah dari ketetapan-Nya bisa jadi untuk saat ini, beberapa waktu lagi atau bahkan tidak untuk diterima di dunia tetapi menjadi tabungan akhirat. Allahu a’lam.

----
#Hari1

*Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway #1Hari1Ayat. Semoga meningkatkan semangat untuk semakin mengkaji surat cinta-Nya, tidak hanya sekadar membaca tanpa mengetahui makna dan semoga menjadi bagian dari syiar Islam di muka bumi. Islam itu terlalu indah untuk ditutupi :)








No comments:

Post a Comment