Saturday, January 4, 2014

Ingat Mati Ketika Kepepet



Tiba-tiba sebuah motor dengan kecepatan tinggi menabrak stang motorku, saat itu aku duduk membonceng. Motor oleng ke kiri, aku terlempar dengan posisi terjerembap ke depan, helm yang ku pakai  terlempar entah ke mana. Di tengah-tengah Jalan Raya Siliwangi seberang kantor Imigrasi Jateng, sebuah jalur ramai lalu lintas luar kota, badanku menggeleser di atas permukaan aspal yang basah oleh air hujan beberapa meter . Tak ada yang lain yang kupikirkan saat itu kecuali “Inikah saat terakhirku?”. Aku menyebut asma Allah. Bus dan truk dengan kecepatan tinggi bisa saja menghantam tubuhku saat itu, perlu waktu beberapa detik bagiku untuk bangkit dan menepi. 

Kejadian tadi malam menyadarkanku. Maut bisa begitu dekat, kapan saja ia bisa menjemput. Tak peduli apakah sosok yang dijemput siap atau tidak, tak memandang berapa usianya. Benarlah perkataan Imam Ghozali bahwa hal yang paling dekat dengan kita bukanlah teman atau orang tua tetapi maut. Ya, maut. Sesuatu yang kerap dilupakan oleh manusia. Merasa masih muda sehingga maut akan datang pada saat ia tua, merasa masih jauh dari maut sehingga ia merasa aman melakukan perbuatan yang sia-sia atau bahkan berdosa. Tobatnya nanti-nanti saja.

Kullu Nafsin Dzaiqotul Maut. Setiap yang Bernyawa akan Merasakan Maut.


Ah, siapa yang menjamin usia kita berakhir di bilangan angka yang kita anggap 'tua'. Barangkali masa muda saat ini adalah masa 'tua' kita yang sebenarnya. Siapa yang menjamin lima menit lagi kita masih baik-baik saja? Bisa saja malaikat pencabut nyawa sedang bersiap-siap menarik ruh dari ubun-ubun. Lalu bisa apa? Hanya amal baik yang menjadi teman abadi. Seseorang yang kesehariannya terbiasa mengingat Allah dan membaca Al Qur’an, insya Allah, tidak akan kesulitan mengucapkan ayat demi ayat Al Qur’an ataupun mengeja asma-Nya di saat-saat terakhir hidupnya.

Ah, kalau setiap yang bernyawa akan mati. Untuk apa semua dunia kita kejar mati-matian jikalau dengan dunia itu tidak bisa mejadi bekal menuju kampung akhirat yang abadi? Apa artinya kenikmatan dunia yang setetes jika harus menggadaikan akhirat yang hakiki. Lalu, kalau setiap orang akan mati, apa yang bisa disombongkan manusia di muka bumi ini. Haruskah manusia baru sadar setelah Allah memberinya ketakutan akan maut terlebih dahulu, untuk kembali kepada-Nya.

Menyadarkannya bahwa ia belum siap mati. Menyadarkannya bahwa belum cukup banyak bekal yang ia punya....

Menyadarkannya bahwa Allah masih memberinya kesempatan berbuat lebih banyak amal....

Jalur luar kota yang biasanya ramai, tadi malam sepi lalu lalang kendaraan saat kejadian, memberi jeda waktu untuknya berjalan menepi dan merenungi.
 
---

Hari #2 #1Hari1Ayat

5 comments:

  1. karena belum punya bekal, rasa takutnya jadi lebih, mba. semoga makin istiqomah beribadah ya, aamiin

    ReplyDelete
  2. subhanallah mon. aku juga pernah mengalami hal yng hampir sama, gugup ketakutan dikala maut serasa sangat dekat. ceritanya kami mau makan siang keluar kantor. teman yang naik motor dah sampe duluan di tempat makan, sementara aku berserta 2 teman lain yg naik mobil terjebak macet. karena aku mengeluh sudah sangat kelaparan, temanku menyuruh untuk turun ja, karena posisi kami udah depan resto seberang jalan. awalnya aku menolak, memilih nyampe sama", tapi teman yang tau betul aku gak bisa lapar, memaksa turun dengan membuka pintu mobil. aku nurut, keluar mobil dan ketika ingin menyebarang jalan.. huss... ada pickup melaju kencang dan berlawan arah. spontan aku langsung berbalik. seketika aku langsung lemas,". sebentar saja nyawaku bisa hilang. aku lama berdiri tak menghiraukan suara klakson yg memperbolehkanku untuk menyebrang, sampai teman yg ada di mobil turun dan menuntunku untuk menyebrang jalan.emang benar mon yang paling dekat dengan kita adalah maut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Rahma... diingetin itu deg banget rasanya.... :')

      semoga kita selalu berada di jalan kebaikan

      Delete
  3. uwuwww mon... :( aku sempat mikir apakah mati itu kayak kesadaran yg berkurang pas jatuh? tau tau terluka... ah entahlah... barokallahu fiik :)

    ReplyDelete