Thursday, January 23, 2014

Saya dan Tarbiyah


Tarbiyah. Pertama kali saya mengetahui harakah ini pada saat saya menjadi mahasiswa baru Diploma III STAN atau tahun 2007. Sebelumnya, sependek pemahaman pada saat itu, tarbiyah merujuk pada kata dalam bahasa Arab yang berarti ‘pendidikan’. Itu saja. Walaupun mengetahui tentang liqo’ pada saat SMA, saya sama sekali asing dengan Tarbiyah pada saat itu. Hingga akhirnya mengikuti Dinamika (Studi Perdana Memasuki Kampus) dan dibagi per kelompok, laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan. Saya masih belum mafhum ketika kakak mentor mengatakan “Nanti habis Dinamika kita kumpul-kumpul lagi ya,” adalah awal dari sebuah kelompok mentoring/liqo’ secara tak sadar. Oya, ngomong-ngomong STAN merupakan kampus dengan basis Tarbiyah yang dapat dibilang kuat.

Bisa dibilang, pada saat Diploma III, saya termasuk orang yang kadang-kadang ikut mentoring, masih tergantung ‘mood atau tidak mood datang’ atau ada tidaknya kegiatan lain yang lebih menarik daripada mentoring. Selama kurun waktu itu kalau tak salah ingat ada tiga murobbi. Murobbi pada saat Dinamika kakak tingkat dua tahun di atas saya, lalu diganti dengan kakak kelas setahun di atas saya ketika mentor/murabbi pertama lulus dan kemudian seorang ummahat ketika murobbi kedua lulus.

Jujur saja, saya bukanlah tipe orang yang mentoring-banget dalam artian mengutamakan datang mentoring dalam keadaan apapun. Tidak boleh datang kecuali udzur syar’i katanya. Namun definisi dari udzur syar’i bisa jadi berbeda-beda setiap orang. Kalau masa ujian berlangsung dua minggu dan hari Ahad ada mentoring, saya memilih tidak datang dan belajar. “Ujian kan udzur syar’i”. Namun, seorang teman saya (yang menurut saya mentoring-banget) tetap datang di tengah kondisi ujian.
Bagi saya, mentoring merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri pada Allah dan belajar agama, sekaligus sarana saling mengingatkan tetapi bukan satu-satunya jalan. Saya menghargai orang yang memilih ikut liqo’ pun orang yang tidak ikut liqo’, bisa jadi jalan menuju kebaikan yang diambilnya berbeda. Yang saya suka dari mentoring adalah kajian dari Murobbi serta kesempatan bertemu dengan teman-teman satu lingkaran. Namun, sekali lagi saya bukan orang yang mentoring-banget. Hingga sekarang, saya masih ikut liqo’ di kampus (setelah lulus, penempatan di Jakarta pusat hingga kembali menjadi mahasiswa Diploma IV) tetapi kalau ada kegiatan yang menurut saya lebih penting/menarik bisa jadi saya tidak datang liqo’.


Perkenalan saya dengan harakah Tarbiyah selanjutnya adalah pada saat saya mengikuti Ma’had Tarbiyah MBM (Masjid Baitul Ma’al) STAN kurun waktu 2008-2009. Sederhana saja, niat saya pada saat itu adalah semata-mata mendalami agama lebih dalam lagi. Saya sama sekali tak berpikir saya ikut suatu harakah tertentu atau apa. Murni ingin belajar. Sebelum mendaftar saya malah sempat berpikir, “Wah, ini ada baiat baiat nya nggak ya, kalau ada saya langsung keluar deh”. Hehe. Ternyata tidak ada sama sekali, tidak ada hal-hal ‘seram’ perkataan orang : “Nanti kamu begini atau begitu kalau ikut gerakan tertentu,”. Dua kali seminggu dari ba’da Maghrib hingga pukul sembilan malam, kami belajar mengenai Fiqh, Ushul Fiqh, Siroh, Bahasa Arab dst. Tak ada seram-seramnya sama sekali. Kami masuk ke kelas, menunggu dosen datang dan belajar lalu pulang. Itu saja.

Selanjutnya saya berkenalan dengan Al Manar ketika bekerja atau pada tahun 2011. Awalnya saya hanya mengikuti kursus Bahasa Arab hingga level akhir (walau masih cethek kemampuan saya) kemudian saya tertarik untuk mengikuti STIDA (Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah) Al Manar yang berbasis Tarbiyah. Sungguh, belum lah pantas diri ini dengan kata ‘dakwah’ ataupun berniat jadi pendakwah dengan mengikuti STIDA. Niat saya ikut adalah semata-mata ingin mendalami agama ini dan bisa mengaplikasikannya minimal untuk diri dan keluarga, bagaimana lagi cara belajar agama dengan intensif jika tidak dengan bersekolah. Pengajian, mentoring atau membaca buku agama sungguh tidaklah cukup. Belajar harus dipaksakan dan dibiasakan. Singkat cerita, selama seminggu tiga kali dari pukul lima sore hingga delapan malam (pasti terlambat karena dari kantor paling cepat jam lima sore) saya mendalami ilmu-ilmu luar biasa : segala jenis Fiqh (mulai Fiqh Thaharah hingga Fiqh Munakahat), Ushul Fiqh, Shiroh Nabawiyah, Bahasa Arab, Ulumul Qur’an, Ulumul Hadits, dsb. Meski karena kondisi sekarang berpindah tempat tinggal dan musim hujan menjadi jarang datang, Al Manar begitu membekas di hati.

Gerakan Tarbiyah bisa dibilang begitu mewarnai hidup saya. Mulai dari saya yang berpakaian kaos panjang ketat, celana jeans dan kerudung sebatas leher pada saat masuk kuliah dahulu menjadi berpakaian (yang mudah-mudahan) sesuai dengan tuntunan agama. Saya yang dahulu ‘alergi’ dengan jilbab panjang (pikir saya dulu, “Berjilbab kok lebay amat,”) pelan-pelan memanjangkan kerudung hingga minimal menutup dada. Saya yang dulu berpikir “Ujian kok datang mentoring sih,” sekarang “Datang saja mendengar kebaikan, kalau cuma mengejar nilai sih pertolongan Allah mudah saja datang,”. Perubahan perilaku hingga perubahan pola pikir. Saya harus berterima kasih dengan gerakan ini.

Yang saya rasakan berikutnya adalah Tarbiyah membuat saya (mudah-mudahan) mencintai ilmu dan ingin selalu belajar, semakin saya belajar tentang Islam semakin saya tahu bahwa masih teramat sedikit ilmu agama yang saya tahu. Ibarat setetes air di lautan ilmu-Nya. Namun, bukankah jika Allah mengkehendaki kebaikan bagi hamba-Nya maka Ia akan memahamkan hamba-Nya tersebut perihal agama? Kalau untuk ilmu duniawi yang berakhir ketika mata terpejam saja bisa mati-matian belajar, mengapa untuk bekal abadi menuju kampung akhirat tidak mau lebih keras berusaha. Tak ada sensasi yang lebih luar biasa dibanding saat mendengarkan para asatidz Al Manar menyampaikan ilmunya dan bergumam, “Aku baru tahu tentang itu,”. Tak ada lelah yang lebih terbayar kecuali pada saat menempuh perjalanan dua setengah jam PP berkendara sepeda motor menuju Al Manar untuk mendengarkan ilmu selama satu setengah jam dan kadang-kadang sambil terkantuk-kantuk. Ah, saya rindu tempat itu. Mudah-mudahan saya bisa datang lagi dan lagi.

 Namun, jika ada yang bertanya “Kamu ikut harokah apa?” saya belum bisa menjawab bahwa saya memilih Tarbiyah. Bagi saya yang awam ini, setidak-tidaknya saya tahu dasar dari apa yang saya lakukan, apakah ada dalil yang mengharuskan atau melarang suatu tindakan atau jika tidak tahu pun, saya tahu kemana harus bertanya atau mencari tahu. Rasa-rasanya masih teramat sedikit tentang Tarbiyah yang saya tahu, saya mungkin hanya tahu kulitnya saja. Bahkan buku “Menuju Jama’atul Muslimin” yang saya beli atas rekomendasi salah seorang senior pun saya anggap ‘terlalu berat’ untuk saya pahami. Hehe. 

Yang saya tahu Al Islamu Ad Diin. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk-Nya dan membolak-balikkan hati kita dalam ketaatan. Dalam naungan Islam.

1 comment:

  1. a nice posting, Mon..
    Tarbiyah bukan hanya berasal dari mentoring/ Liqa saja. Ilmu bisa diperoleh di mana saja.
    Asal kita bisa menilai sesuatu secara objektif, tidak mengkhususkan diri mengikuti golongan tertentu :)

    ReplyDelete