Monday, January 13, 2014

The Choices We Are Living



Kalau saja Edison memilih berhenti di percobaan ke sekian ratus, akankah bola lampu ditemukan? Kalau saja Margaret Thatcher memilih untuk tetap melangsungkan pertemuan yang dijadwalkan setelah mendapatkan serangan bom pada tahun 1984 ia akan dikenal sebagai sosok yang berani? Kalau saja Abu Ayyub Al Ansari tidak memilih berjihad di medan perang mengingat usianya yang telah senja akankah ia mati dalam keadaan syahid di tanah Konstantinopel?

Saya percaya bahwa kita selalu memiliki pilihan, bahkan pilihan untuk tidak memilih itu sendiri. Kita merupakan kumpulan pilihan kita, we are what we choose. Kita memang tak bisa memilih di keluarga mana kita dilahirkan, tak bisa memilih terlahir menjadi manusia dengan suku bangsa apa tetapi kita bisa memilih bagaimana kita menjalani kehidupan.

Dan pilihan kita lah yang membuat perbedaan.

Saya percaya bahwa kita selalu memiliki pilihan. Fa alhamahaa fujuurahaa wa taqwahaa (maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya). Begitu firmannya dalam As Syams:8. Betapa Allah Maha Adil sehingga Dia memberi manusia kebebasan hendak dibawa kemana jiwanya dengan dua pilihan yang diberikan, Dia tidak serta merta membuat hamba-Nya beriman atau kufur begitu saja. 

Pilihan lah yang membentuk siapa kita.

Kita memilih tetap berselimut atau mengambil air wudlu dan bertahajud di malam yang dingin, kita bisa memilih bersegera dalam shalat atau menunda-nundanya, kita bisa memilih membaca Al Qur’an atau tidak atau bahkan tidak melakukan itu semua. Kita memilih terpuruk atau bangkit dari kegagalan, kita bisa memilih memaafkan atau menyimpan dendam. Kita selalu memiliki pilihan.
Dan tentu saja, pilihan menjadi berbeda di tangan orang yang berbeda.

Sepuluh juta bisa digunakan untuk membeli motor atau komputer, sepuluh juta yang sama bisa digunakan untuk bersedekah, sepuluh juta yang sama bisa untuk berfoya-foya. Lalu apa yang membedakan pilihan kita? Niat dan cara. Apakah sepuluh juta yang digunakan untuk membeli komputer lebih buruk dibandingkan dengan sepuluh juta untuk bersedekah? Belum tentu, jika dengan komputer itu ilmu-ilmu yang bermanfaat didapatkan, dituliskan lalu disebarluaskan. Bisa jadi kebermanfaatannya lebih besar dibandingkan misalnya sedekah untuk membeli bahan pangan.

Ah, saya tahu apa tentang pilihan sementara saya belum bisa mempertanggungjawabkan semua pilihan yang saya buat. Saya belum tahu bagaimana nanti arah kaki saya bergeser ketika ditanya empat pertanyaan : untuk apa umur dihabiskan, untuk apa ilmu diamalkan, darimana harta dan kemana menghabiskannya serta untuk apa badan digunakan.

Keempat pertanyaan itu merujuk pada pilihan demi pilihan yang akan ditanyakan ketika kita tidak bisa lagi membuat alasan. Yes, we are what we choose. The choices we are living.

----

#1Hari1Ayat

3 comments:

  1. weh komen pertama ni...bagus deng artikelnya,,terus berkarya dengan tulisannya ya mbk..sukses selalu dan salam kenal

    ReplyDelete
  2. same here

    it's about choices

    kenapa aku memilih menikahi wanita Aceh...
    kenapa istri aku memilih untuk menutupi wajahnya dengan cadar...
    dan masih banyak lagi...

    heuhuehue

    ReplyDelete
  3. bahkan untuk menempuh jalan Tuhan pun kita di kasih pilihan (maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya) Subhanallah..

    sy jadi ingat nasehat seorang teman, saat memilih maka pilihlah apa-apa yang dapat mendekatkanmu pada Allah.

    ReplyDelete