Wednesday, January 22, 2014

Yang Terindah dari Istikharah


Masih terkait dengan postingan terakhir tentang pilihan, Allah telah memberikan ‘media’ kepada hamba-Nya tentang bagaimana cara memilih : sholat istikharah. Tak ada yang tahu tentang masa depan. Tak ada manusia yang tahu mana yang terbaik sebelum suatu hal terjadi atau malah baru ‘ketahuan’ terbaik bertahun-tahun kemudian.

Ngomong-ngomong soal istikharah, izinkan kali ini saya sedikit berbagi. Saat ini saya berstatus sebagai pegawai tugas belajar Diploma IV STAN, ‘cuti kerja’ selama dua tahun. Sempat ada rasa gamang saat pengumuman penerimaan mahasiswa baru D-IV dirilis, untuk beberapa alasan yang dipertimbangkan (padahal daftar pun belum tentu diterima). Berhari-hari saya istikharah dan kemudian hati bulat mantap menyuruh mendaftar. Alhamdulillah, ternyata keputusan itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat. Sebut saya ‘lebay’ tetapi masa D-IV ini adalah masa terbaik dalam hidup saya, hingga saat ini. Saya belajar lebih mendalam tentang akuntansi dkk, bertemu teman-teman hebat, melakukan lebih banyak kegiatan dan hal-hal luar biasa lainnya. 

Hasil istikharah lainnya adalah keputusan untuk menjadi distributor salah satu busana Muslim sejak Desember 2012. Beberapa pilihan kegiatan bisnis dipertimbangkan sejak beberapa bulan sebelumnya, tetapi belum ada yang ‘sreg’ di hati. Berbulan-bulan mencari dan terus mencari bisnis apa yang ingin digeluti. Bisnis yang tak sekadar mencari rupiah tetapi juga semoga ada investasi akhirat di dalamnya. Berminggu-minggu sholat istikharah minta petunjuk dari Allah sebelum Allah menggerakkan hati mendaftar menjadi distrinbutor brand ini. Hati saya bulat menjalani bisnis ini. 

Alhamdulillah, keputusan ini adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat. Insya Allah, produk-produknya syar’i (dan semoga mampu menggerakkan para muslimah berhijab syar’i, menjadi salah satu alternatif di tengah ‘bombardir’ busana –katanya- muslim yang –mohon maaf- malah semakin membuat para muslimah terlihat ‘seksi’) serta penerimaan pasar amat baik terhadap produk ini.

Namun, apakah semua istikharah menghasilkan keputusan yang baik, menurut di mata manusia? Menghasilkan hal  yang sesuai keinginan? Tidak. Bisa jadi sebenarnya kita condong ke A, tetapi hasil istikharah mengatakan B. Pernah suatu kali saya beristikharah dan melakukan hal sesuai hasil istikharah itu untuk mengupayakan suatu hal terwujud. Apakah yang saya inginkan terwujud? Tidak sama sekali.
Yang ajaib, saya sama sekali tidak sedih, tidak kecewa atau tidak merasakan perasaan tidak enak apapun saat tahu saya gagal. Rasanya saat itu saya begitu ikhlas, begitu ‘nerima’, hati saya begitu ‘lapang’. Tak ada beban.

Lalu apakah hasil istikharah adalah hasil yang sempurna dan tanpa kendala apapun saat menjalani? Tidak. Kendala selalu ada, bukanlah manusia tidak akan beriman sebelum diuji? Beberapa kendala bisnis datang silih berganti membuat bisnis ini tidak sempurna tetapi selalu ada pertolongan demi pertolongan dari-Nya yang sempurna. Mungkin ini salah satu berkah dari istikharah.

Mungkin, hal terindah dari istikharah bukan pada kita condong pada sesuatu atau menginginkan suatu hal terjadi lalu hal tersebut terwujud, sesuatu yang terbaik di mata kita. Namun bisa jadi, hal terbaik dari istikharah adalah pada saat hati pasrah pada apapun keputusan-Nya, menyadari dengan penuh kesungguhan dan penerimaan bahwa Allah yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu telah memilihkan hal terindah serta menjalani ketetapan-Nya dengan penuh keridaan. 

“... Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui,” (terjemahan Q.S Al Baqarah:216)

Dan semoga, apapun pilihan kita, Allah lah yang menjadi tujuan. Allah ghoyatunna.

----
Allahu a'lam

1 comment:

  1. Saya setuju sekali sama artikelnya, bahwa istikharah adalah media yg tepat di kala kita gamang utk menentukan pilihan karena saya sendiri mengalaminya :)

    ReplyDelete