Saturday, February 22, 2014

Pagi Nan Memukau di Kelimutu


The best lens in the world is your eye 

Sebelumnya, danau Kelimutu hanyalah suatu tempat yang tercetak pada lembaran uang lima ribu lama. Keindahan danau yang juga disebut sebagai danau tiga warna ini hanya sempat sekilas tergambar dari foto demi foto di artikel jalan-jalan. Hingga beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjejakkan kaki di Pulau Flores. Danau Kelimutu merupakan destinasi pertama dari perjalanan sembilan hari ini. Dari Jakarta, saya dan beberapa orang teman transit di Denpasar untuk kemudian melanjutkan penerbangan dengan maskapai berbeda ke Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, yang merupakan pintu gerbang wilayah Timur pulau yang mendapatkan namanya dari bahasa Portugis yang berarti ‘bunga’ ini. 

Selama tiga jam, mobil Avanza yang kami sewa melaju menuju Moni, sebuah desa terakhir sebelum memasuki Taman Nasional Kelimutu. Malam telah menjelang tatkala kami tiba di desa kecil tersebut, kami memutuskan untuk bermalam di sebuah homestay bertarif 250 ribu per malam. Tujuan utama kami adalah mengejar sunrise di puncak gunung Kelimutu, sambil memandang indahnya danau yang berisi air yang dapat berubah-ubah warna. Danau Kelimutu. 

Sekitar pukul lima pagi kurang WITA, kami memulai perjalanan dari Moni. Kira-kira sekitar tiga belas kilometer sebelum kami bertemu dengan pos jaga Taman Nasional Kelimutu. Tarif masuk yang kami bayar bisa dibilang sangat murah, hanya Rp2.500,00 per orang ditambah Rp5.000 per kamera (kamera DSLR, kamera saku digital tidak) dan Rp6.000,00 untuk ongkos parkir mobil. Dari parkiran mobil, pendakian menuju puncak gunung kami mulai. 

Angin bertiup cukup kencang tatkala kami melangkahkan kaki mendaki gunung Kelimutu. Gemerisik suara pohon memecah pagi, menambah suasana mistis sekitar danau. Pemerintah setempat agaknya telah mempersiapkan sarana pendakian dengan baik, jalur pendakian telah dibuat nyaman untuk mendaki. Matahari belum menyembulkan sinarnya tatkala kami tiba di puncak gunung sekitar tiga puluh menit kemudian, kami sholat subuh berjama’ah di tengah terpaan angin. 

 
Perlahan-lahan keindahan itu tersibak. Surya seakan muncul malu-malu. Seindah apapun kamera mengabadikan, tak ada yang lebih indah dibandingkan dengan kecantikan yang tertangkap langsung oleh lensa mata. Dari atas tugu di puncak gunung Kelimutu, jepret kamera kami beradu. Untuk sekian lama, waktu seakan berhenti, memberi jeda untuk sang insan menarik nafas menikmati. Perpaduan birunya air danau (tatkala kami datang air berwarna biru), kuning matahari pagi, biru langit dan putihnya awan berarak membuat pagi itu terasa begitu memukau. Pagi itu begitu syahdu.

Masyarakat sekitar danau percaya bahwa roh-roh orang yang telah mati akan tinggal di danau Kelimutu selamanya. Roh (atau dalam bahasa setempat disebut Mae) akan dikelompokkan berdasarkan usia dan karakter ketika hidup. Warna air berubah tanpa ada tanda-tanda alam sebelumnya disebabkan oleh mineral yang terkandung di dalam air dan perubahan iklim. Diyakini bahwa perubahan warna air merupakan salah satu pertanda alam yang patut diperhatikan.


 
Kami beruntung, tak turun hujan di pagi itu setelah selama beberapa hari sebelumnya hujan. Beberapa turis mancanegara asyik menikmati pemandangan bersama kami, beberapa pedagang menggelar dagangannya menyajikan berbagai minuman dan makanan untuk menghangatkan badan. Tak ketinggalan, seekor anjing berwarna hitam berlari-lari di sekitar kami.

Setelah dua jam, kami turun dan mencari spot lain. Gunung Kelimutu sendiri memiliki tiga danau dengan warna yang bisa jadi berbeda-beda tergantung aktivitas vulkanik yang ada di sekitar. Ketiga danau tersebut bernama Tiwu Ata Polo, Tiwu Nua Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Mbupu. Tercatat hingga tahun 2011, Tiwu Ata Polo telah mengalami 44 kali perubahan warna, Tiwu Nua Muri Koo Fai mengalami sekitar 25 kali perubahan warna dan Tiwu Ata Mbupu mengalami sekitar 18 kali perubahan warna.



Kalau tadi kami berangkat tatkala hari masih gelap, pagi menjelang siang kami menuruni gunung dengan mata tak henti memandang keindahan sekitar. Panorama gunung dengan pepohonan hijau begitu memanjakan mata, gesekan dedaunan mengalunkan irama dan tak bisa dipungkiri, suasana pagi itu memang memukau.

Catatan : Keseluruhan foto dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi dan tanpa pengeditan apapun.

11 comments:

  1. Indah....seperti puding raksasa...

    ReplyDelete
  2. wow..cakep ih lokasinya. Pengen bisa kesini :)

    btw....kenapa sekarang DSLR harus bayar ya di beberapa lokasi gini :(

    ReplyDelete
  3. Masya Allah... indah bangeet.. semoga suatu saat nanti bisa kesana juga :)

    ReplyDelete
  4. Masya Allah.. luar biasa indaaaahhh :)) wooww, saya bener2 penasaran sama danau yang berubah warna tersebut..hmm..

    ReplyDelete
  5. Panorama alam Indonesia,,, masih banyak menyimpan keindahan yang alami,,,

    ReplyDelete
  6. Sya rasa ini danau yang paling indah di Indonesia...bener2 kereeeennn !

    ReplyDelete
  7. kerennnn alamnya... suatu saat nanti kubisa menjelajahi negeri kalimutu ya .. agar menjadi episode episode sejarah ku

    ReplyDelete
  8. masyaAllah..kerennyaaa! semoga bisa kesana suatu hari nanti >.<

    salam kenal, monik! :)

    ReplyDelete
  9. huaaaa, danau yg cantik, saya pengen bgt ke kelimutu mbak,,, sekaligus explore flores klo boleh hehehe

    ReplyDelete
  10. Wow indahnya,,,, Sekarang hanya bisa memandang di mata uang 5rb an dahulu... dipandangi dan dipandangi, siapa tahu nanti bisa memandangi yang beneran,,, hehehe

    ReplyDelete
  11. indah banget pemandanganannya baik danau atau gunungnya, bikin mata seger

    ReplyDelete