Friday, May 2, 2014

Jika yang Dikejar Hanyalah Nilai (Sebuah Refleksi Hardiknas)



Beberapa waktu lalu, ramai diberitakan mengenai catatan yang diunggah pada akun Facebook salah seorang pelajar SMA yang baru saja mengikuti Ujian Nasional. Nurmillaty Abadiah, pelajar SMA Khadijah Surabaya menantang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh dalam catatan tertanggal 18 April 2014 lalu, “Saya tantang Bapak untuk duduk dan mengerjakan soal Matematika yang kami dapat di UNAS kemarin selama dua jam tanpa melihat buku maupun internet. Jika Bapak bisa menjawab benar lima puluh persen saja, Bapak saya akui pantas menjadi Menteri.”

Dalam catatannya, perempuan berjilbab menyoroti mengenai kecurangan yang ada dalam pelaksanaan UNAS, soal UNAS yang memiliki tipe soal hingga dua puluh buah hingga soal yang tak sesuai dengan SKL serta soal yang memiliki tingkat kesulitan yang disebutnya belum pernah disosialisasikan ke siswa. Ia memungkasinya,

“Pada akhirnya, Pak, izinkan saya untuk mengatakan, bahwa apa yang sudah Bapak lakukan sejauh ini tentang UNAS justru hanya membuat kecurangan semakin merebak. Bapak dan orang-orang dewasa lainnya sering mengatakan bahwa kami adalah remaja yang masih labil. Masih dalam proses pencarian jati diri. Sering bertingkah tidak tahu diri, melanggar norma, dan berbuat onar. Tapi tahukah, ketika seharusnya Bapak selaku orangtua kami memberikan kami petunjuk ke jalan yang baik, apa yang Bapak lakukan dengan UNAS selama tiga hari ini justru mengarahkan kami kepada jati diri yang buruk. Tingkat kesulitan yang belum pernah disosialisasikan ke siswa, joki yang tidak pernah diusut sampai tuntas letak kebocorannya, paket soal yang belum jelas kesamarataan bobotnya, semua itu justru mengarahkan kami, para siswa, untuk mengambil jalan pintas. Sekolah pun ditekan oleh target lulus seratus persen, sehingga mereka diam menghadapi fenomena itu alih-alih menentang keras. Para pendidik terdiam ketika seharusnya mereka berteriak lantang menentang dusta. Kalau perlu, sekalian jalin kesepakatan dengan sekolah lain yang kebetulan menjadi pengawas, agar anak didiknya tidak dipersulit.”

Kami yang berusaha jujur masih belum tahu bagaimana nasib nilai UNAS kami, Pak. Tapi barangkali hal itu terlalu remeh jika dibandingkan dengan urusan Bapak Menteri yang bejibun dan jauh lebih berbobot. Maka permintaan saya mewakili teman-teman pelajar cuma satu; tolong, perbaikilah UNAS, perbaikilah sistem pendidikan di negeri ini, dan kembalikan sekolah yang kami kenal. Sekolah yang mengajarkan pada kami bahwa kejujuran itu adalah segalanya. Sekolah yang tidak akan diam saat melihat kadernya melakukan tindak kecurangan. Kami mulai kehilangan arah, Pak. Kami mulai tidak tahu kepada siapa lagi kami harus percaya. Kepada siapa lagi kami harus mencari kejujuran, ketika lembaga yang mengajarkannya justru diam membisu ketika saat untuk mengamalkannya tiba...”
Izinkan saya mencetak tebal kata kejujuran, sesuatu yang ia resahkan. Tatkala dibenturkan antara mengerjakan dengan kejujuran, soal yang memiliki tingkat kesulitan tinggi, ia dan teman-temannya yang berusaha begitu keras bisa jadi kalah dengan pihak yang mendapatkan ‘wangsit jawaban’.
Saya tak hendak membicarakan mengenai polemik perlu tidaknya UNAS.
Ingatan saya melayang sekitar delapan tahun yang lalu tatkala naik kelas dua belas. Seseorang yang hampir selalu mendapatkan nilai ulangan matematika di bawah batas tuntas yang dipersyaratkan begitu ketakutan di bawah ‘momok’ bernama Ujian Nasional. Jatuh bangun memahami ilmu-ilmu matematika yang dahulunya tak diseriusi dalam belajar, mulai dari bangun pagi, bersekolah, mengambil kelas bimbingan belajar, mengundang guru privat, bahkan tak bisa tidur sebelum menemukan jawaban soal. Satu tahun untuk mengejar ketertinggalan pemahaman selama dua tahun. Saya begitu takut sungguh kala itu.
Pada akhirnya, nilai UN Matematika saya tercetak sempurna di ijazah. Satu, nol dan nol. Murni hasil kerja keras ‘berdarah-darah’, tak ada yang hasil mencontek, tak ada yang hasil membeli jawaban joki.
Bisa jadi saya lebih beruntung daripada Nurmillaty. Soal UN Matematika yang saya hadapi tahun 2007 bisa dibilang ‘tidak susah’. Jauh lebih susah soal tahun sebelumnya. Tanpa bermaksud sombong, saya bisa mengkoreksi jawaban UN saya tatkala itu sebanyak dua kali karena waktu masih bersisa banyak. Pun seingat saya, ada soal dimensi tiga yang bisa diselesaikan hanya dengan satu buah rumus.
Namun, sedih untuk saya akui, saat SMA masih zaman jahiliyah di mana belum sepenuhnya jujur dalam mengerjakan ulangan (kecuali UN). Saya baru benar-benar jujur mengerjakan soal tatkala menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Keras diperingatkan, “Sekali ketahuan mencontek, tanpa ampun langsung kena DO,” Bisa jadi pada awalnya tak mau mencontek lagi karena takut terkena DO jika ketahuan mencontek, terlalu sayang jika keberhasilan menembus ratusan ribu pendaftar  menjadi sia-sia. Tiga tahun menempuh pendidikan Diploma-III di kampus tersebut merupakan kawah candradimuka yang ampuh untuk menghapuskan keinginan mencontek dan membentuk mental yakin dengan kemampuan diri serta berani bertanggung jawab atas usaha yang telah dilakukan. Ya, kejujuran itu mungkin pada awalnya harus dipaksakan.
Hingga akhirnya saya bekerja selama dua tahun sebelum kemudian kembali menjadi mahasiswa D-IV pada kampus yang sama. Saya terhenyak mendapati bahwa hafalan demi hafalan saat D-III seperti menguap entah kemana. Beberapa pertanyaan dosen yang seharusnya mudah, membuat bingung dalam menjawab. Nilai IPK yang tinggi saat D-III tak menjadi jaminan bahwa saya akan ingat apa yang telah saya pelajari.
Jangan-jangan saya belajar selama ini hanya demi mengejar nilai?
Jangan-jangan, jatuh bangun saat hendak UN SMA hanya untuk mendapatkan nilai Matematika bagus? Jangan-jangan, catatan demi catatan serta susah payah memahami dan menghafal berbagai ilmu akuntansi dan ekonomi hanya untuk mendapatkan IP tinggi?
Apa yang sesungguhnya saya cari?
Mana tahu selama ini saya melupakan esensi dari belajar itu sendiri, saya terlalu terpukau oleh target pengejaran hasil akhir, sesuatu yang memang kasat mata. Innamal a’malu binniyati, sesungguhnya perbuatan dinilai sesuai dengan niatnya. wa innama likulli 'mri'in ma nawa, dan sesungguhnya setiap orang mendapat sesuai dengan apa yang diniatkannya. Bisa jadi saya ‘hanya’ berhasil dapat nilai bagus dan IPK tinggi karena itu yang saya inginkan saat itu, tetapi saya tak benar-benar paham. Bisa jadi nilai bagus itu bukan merupakan indikasi akan kepandaian tetapi keridhoan Allah memberi nilai bagus lantaran doa-doa munajat yang terpanjat oleh ibu menembus langit. Tak ada yang tahu bukan apa yang membuat Allah ridho akan suatu hasil.
Jika hanya mengejar nilai, mungkin hanya itulah yang akan didapatkan...
Jika hanya mengejar nilai, segala cara dihalalkan...
Gambar diambil dari penelusuran internet
Mati-matian sebagian orang menghalalkan segala cara demi apa yang disebut dengan ‘nilai bagus’, mulai dari mencontek teman hingga membeli jawaban dari joki. Mental ‘mendapatkan hasil bagus bagaimana pun caranya’ bisa jadi kemudian akan berlanjut, ketika hendak menjadi pegawai menyogok sana sini. Tak jarang kita jumpai dalam berita, ada orang yang rela membayar ratusan juta demi menjadi pegawai negeri.
Semoga akan ada Nurmillaty-Nurmillaty berikutnya, yang setengah mati menggenggam kejujuran di tengah berbagai terpaan. Semoga seperti harapannya, kejujuran adalah segalanya, termasuk direpresentasikan dalam seluruh aspek pendidikan di negeri ini.
Semoga pendidikan tak hanya sekadar untuk mencari nilai yang tercetak di selembar ijazah, tetapi mampu menghasilkan siswa-siswa yang menjunjung tinggi kejujuran dan merasai manisnya proses pembelajaran.
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Untuk semua siswa yang menggenggam kejujuran. Untuk semua guru yang tak lelah mengajarkan. Pun teruntuk siswa usia sekolah yang masih belum mampu mengenyam bangku sekolah lantaran beratnya kehidupan.
Selamat Hari Pendidikan Nasional.
 ---








6 comments:

  1. Wuah artikel kita mirip nih ttg pendidikan yg dilihat dari nilai. Moga cari ilmu tak semata mendapat nilai ya

    ReplyDelete
  2. Sy merasakan apa yang Monik tulis. Sy termasuk mahasiswa yang mengejar nilai dulu. Sy bisa lulus 4 tahun lebih dgn IPK 3 koma sekian. Tapi habis itu saya gamang, selanjutnya apa yang mau saya lakukan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hiks betul betul... Smoga ilmu kita bermanfaat ya mba T.T

      Delete
  3. Saya banyak menyesal selama di sekolah maupun kuliah, jujur yang dipikirannya saya nilai bagus bukan dalamnya ilmu... benar-benar penyesalan yang mendalam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga menyesalinya Mas, semoga sesudahnya bisa lebih baik lagi. Makasih atas komentarnya ya

      Delete