Thursday, August 7, 2014

Bagaimana Rasanya Menjadi Tua?

“Apa yang sudah, sedang dan akan kamu lakukan menuju umur lebih dari 60 tahun?”
Menjadi tua adalah sebuah ketakutan bagi sebagian orang. Ketakutan itu dapat berupa kemampuan fisik yang mulai menurun, gangguan kesehatan yang datang bertandang, rambut yang kian memutih, keriput yang makin kelihatan, memori yang makin memudar dan hal-hal berbayang tua lainnya. Menjadi tua adalah keniscayaan, bahkan detik yang berganti pun menandakan usia bertambah bilangan. Namun, ketakutan adalah suatu pilihan.

Salah satu adagium populer mengatakan bahwa menjadi tua itu pasti sedangkan dewasa adalah pilihan. Maka, bagaimana jika sudut pandang disesuaikan. Bertambahnya bilangan usia bermakna semakin banyaknya kesempatan, semakin bertambahnya ilmu didapatkan, serta semakin banyak pengalaman dirasakan, orang tak dikenal yang menjadi teman pun tempat-tempat baru untuk menjejakkan kaki.

“Maka jika engkau takut, peluklah ketakutanmu,”

Ketakutan akan semakin menghilang bila ia didekati, begitu pernah ku dengar. Maka izinkanlah aku memeluk ketakutanku…..



Menjadi tua tanpa cukup ilmu adalah bayangan yang sungguh menyeramkan. Maka aku harus senantiasa belajar dan meningkatkan kemampuan. Pendidikan dasar dua belas tahun telah kulewati, pun tiga tahun kuliah Diploma III, hingga saat ini pendidikan Diploma IV sedang ku jalani. Aku bertekad akan menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Pun bersekolah saja bagiku tidaklah cukup, aku mengambil berbagai kursus seperti Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Bahasa Mandarin, menjahit hingga berbagai seminar ku ikuti.

Menjadi perempuan tua yang tak menghasilkan generasi unggulan adalah kerugian, karena perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya maka ia harus lah mampu menghebatkan. Ia harus lah pantas untuk menjadi pendamping seorang lelaki hebat untuk kemudian menjadi ibu dari generasi kebanggaan. Maka, Allah berikan aku kesempatan memantaskan diri seraya menanti. Mulai dari kesempatan belajar di pendidikan formal, mengikuti kursus pra nikah selama tiga bulan, membaca berbagai buku dan artikel tentang pernikahan, kehamilan dan pendidikan anak, hingga menyerap ilmu kehidupan dari sekitar : memasak, bersosialisasi, dsb. Seorang ibu haruslah mengerti banyak hal meski ia tak mungkin menguasai segala karena itu ia memerlukan banyak bekal karena itu aku harus terus belajar.

Menjadi tua tanpa bertambah kawan dan pengalaman akan menjadikan hidup hambar dan  diri kesepian. Maka aku berusaha untuk terlibat dalam berbagai hal, baik menjadi anggota organisasi, berpartisipasi di berbagai kepanitiaan, mengikuti berbagai kursus, berkenalan dengan orang-orang baru baik di dunia nyata maupun di dunia maya hingga berpetualang menjelajahi tempat-tempat baru yang belum pernah ku datangi. Aku juga tak sungkan melakukan hal-hal baru, mendaki gunung misalnya sesuatu yang pada awalnya tak kusukai akhirnya aku lewati. Pikiranku semakin terbuka, menghargai perbedaan, pengetahuanku semakin kaya dan aku mencoba mengeksplorasi beraneka tantangan. Semakin aku takut akan sesuatu, maka aku berusaha menaklukannya dengan menghadapinya.

Menjadi tua tanpa menjaga kesehatan adalah kebodohan. Saat ini aku berusaha mengurangi konsumsi daging, tetapi itu belum cukup, aku juga harus berolahraga, mengonsumsi berbagai makanan sehat, menghilangkan kebiasaan buruk seperti begadang, menjaga pikiran agar tetap positif.

Menjadi tua tanpa bertambah kebermanfaatan adalah kesia-siaan. Maka selain mengikuti berbagai kegiatan, aku juga memiliki mimpi suatu hari nanti dapat mendirikan sebuah sekolah gratis yang tak hanya mengajarkan pendidikan formal tetapi juga keterampilan. Berdiri mengajar di depan anak-anak dengan tatapan mata haus pendidikan adalah suatu kebahagiaan. Menghasilkan karya adalah bentuk kebermanfaatan yang bisa ditebar, entah berwujud pekerjaan atau buah pikiran.

Menjadi tua tanpa bertambah bekal kehidupan tentulah menggelisahkan, salah satunya tentu saja bekal finansial. Selain tercatat sebagai seorang pegawai, berjualan merupakan salah satu pintu rezeki halal. Uang memang bukan segalanya tetapi laku kehidupan membutuhkan pendanaan. Aku harus menjadi mampu secara materi sehingga mampu melakukan banyak hal, membantu banyak orang dan lebih banyak berbagi. Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah1, begitu kata Nabi, merupakan sebuah penggugah tersendiri.

Dan di atas segala-galanya menjadi tua tanpa Tuhan adalah sebuah kemarabahayaan. Kitab dideras tanpa tahu makna, sholat diamalkan hanya sekadar gerakan, hidup dijalani tanpa tahu dasar agama, serta jatah hidup yang berkurang tanpa bertambahnya ilmu dan amal. Maka iman adalah pondasi, ia akan bertambah seiring dengan bertambahnya ilmu agama. Aku berusaha membaca berbagai buku agama, mengikuti pendidikan agama formal melalui ma’had dan sekolah tinggi agama, menimba ilmu di berbagai pengajian hingga bertanya pada orang-orang yang paham. Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, walau dengan tertatih, aku harus bisa mengurangi kadar keawaman agama pada diriku.

Pagiku hilang sudah melayang,
Hari mudaku sudah pergi
Kini petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi
Aku lalai di hari pagi
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta
Ah, apa guna kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma

Potongan puisi klasik karya Ali Hasjmi tersebut mengingatkan untuk tak lengah di masa muda. Lagipula, bisa jadi usia yang dianggap muda (anggap saja sekarang berusia dua puluh tahun lima) adalah masa senja seorang manusia jika jatah hidupnya hingga usia tiga puluh maka ia telah berada di masa senja usianya. Maka,menyegerakan kebaikan adalah kebaikan itu sendiri. Maka bergeraklah, bekerja lah dan bersegeralah. Karena seperti kata Leo Tolstoy, Tuhan tahu tapi menunggu.
“Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan,” (terjemahan Q.S. At Taubah : 105)
---
1Salah satu hadits riwayat Muslim

sebuah catatan untuk diri

7 comments:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Giveaway Road to 64 di BlogCamp
    Segera didaftar sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. Tulisannya bagus, Monika.. semoga bisa terus berkarya!

    ReplyDelete
  3. semoga kita bisa terus berkarya dan berbagi hingga di hari tua ya mbak

    semoga sukses lombanya.. aamin

    ReplyDelete
  4. puisinya bagus, ulasannya juga bagus.. :) semoga menang ukhti monik

    ReplyDelete
  5. Halo, Kakak, ikutan projek bikinanku yuk! Kita seru-seruan bareng untuk berbagi cerita di bulan September nanti. Tertarik ikutan? Ayo, pssst... ajak juga teman-teman lainnya untuk ikut seseruan bareng. Yuk!

    #EmotionalSeptemberProject: Ikutan Yuk!

    Terimakasih :)

    ReplyDelete