Friday, February 28, 2014

Pesona Taman Laut 17 Pulau Riung

Petualangan di Pulau Flores berlanjut. Dari Kelimutu, kami beranjak menuju Riung, sebuah kecamatan di kabupaten Ngada, sebuah kabupaten di bagian utara pulau Flores. Tujuan kami berikutnya adalah Taman Laut 17 Pulau Riung yang pernah masuk dalam daftar sementara World Heritage oleh Unesco.

Perjalanan dari Moni ke Riung menempuh waktu sekitar lima-enam jam. Kami singgah sejenak di Ende, sebuah kota kecil yang sempat menjadi tempat pengasingan Bung Karno selama empat tahun. Sayang, saat kami tiba rumah yang pernah didiami oleh sang Proklamator sedang tak bisa dikunjungi, pintu pagarnya terkunci rapat. Kami terpaksa puas melongok dari atas pagar yang tak terlalu tinggi.
Rumah Peristirahatan Bung Karno di Ende. Sayang tak bisa masuk.
Jika Nusa Tenggara Timur disebut-sebut sebagai salah satu daerah paling gersang di Indonesia, kesan yang kami tangkap saat perjalanan overland Flores  pada awal Februari ini adalah sebaliknya. Hijau. Pepohonan nan meneduhkan mata dan sabana yang terhampar luas di kanan kiri jalan. Bang Us, pengemudi mobil Avanza yang kami sewa menunjukkan keahliannya mengemudi, ia melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Padahal kami melewati jalur yang berkelok-kelok, tak jarang lebar jalan hanya satu meter dengan semak lebat menghalangi pandangan, sehingga membuat pengemudi harus senantiasa waspada karena kendaraan dari arah berlawanan tak nampak oleh pandangan mata.

Seperti membentuk mata bukan?
Jalanan berkelok dengan pemandangan sabana
Kami berhenti sejenak di tepi jalan pada sebuah kota bernama Mbay, ibukota Kabupaten Nagakeo yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Ngada. Hijau sabana dan dua buah bukit yang seperti membentuk mata memantik keinginan kami mengambil foto dari dekat.  Tak cukup sampai di situ, sebuah bukit bernama Tanjung Lima Belas (lepas Nagakeo) merupakan spot yang amat sayang untuk dilewatkan. Dari atas bukit, kami memandang Riung dari kejauhan seraya membidik lanskap sabana. Matahari bersinar amat cerah siang itu.

Dari atas Tanjung Lima Belas
Kami tiba di Riung saat hari menjelang sore. Selepas meletakkan barang-barang di sebuah penginapan kami berjalan-jalan ke dermaga seraya menikmati pemandangan senja. Pak Alex, seorang nelayan warga setempat, memandu kami. Ia yang akan mengantarkan kami menjelajah Taman Wisata 17 Pulau keesokan harinya. Saya sempat tertegun sejenak mendengarkan suara azan melengking dari sebuah pengeras suara sebuah masjid kecil pada saat perjalanan pulang dari dermaga menuju penginapan. Maklum, Flores merupakan daerah minoritas Muslim. Rupanya, penduduk Nangamese (nama kelurahan dermaga berada) yang mayoritas nelayan sebagian merupakan keturunan dari suku Bugis yang notabene merupakan Muslim. Mereka meninggalkan tanah kelahiran di Sulawesi dan mengadu nasib di pulau seberang. Yang perlu dicatat, kehidupan di Nangamese antara penduduk asli Riung dengan pendatang dari Bugis berjalan rukun dan harmonis.

Aktivitas para nelayan
 Pagi-pagi, lepas Subuh kami bersiap ke dermaga. Pak Alex ditemani seorang keponakannya telah menunggu kami. Kami menyewa kapal seharian dengan tarif sewa Rp500.000,00 (di luar biaya sewa alat snorkeling dan makan siang). Meski memiliki nama Taman Wisata 17 Pulau, bukan berarti pulau-pulau yang ada berjumlah tujuh belas. Pak Alex menyebut angka dua puluh empat. Katanya, angka 17 sendiri merujuk pada tanggal kemerdekaan bangsa Indonesia.  Tiga pulau menjadi tujuan kami : Pulau Ontoloe (atau disebut juga Pulau Kelelawar), Pulau Tiga dan Pulau Rutong.

Saturday, February 22, 2014

Pagi Nan Memukau di Kelimutu


The best lens in the world is your eye 

Sebelumnya, danau Kelimutu hanyalah suatu tempat yang tercetak pada lembaran uang lima ribu lama. Keindahan danau yang juga disebut sebagai danau tiga warna ini hanya sempat sekilas tergambar dari foto demi foto di artikel jalan-jalan. Hingga beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjejakkan kaki di Pulau Flores. Danau Kelimutu merupakan destinasi pertama dari perjalanan sembilan hari ini. Dari Jakarta, saya dan beberapa orang teman transit di Denpasar untuk kemudian melanjutkan penerbangan dengan maskapai berbeda ke Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, yang merupakan pintu gerbang wilayah Timur pulau yang mendapatkan namanya dari bahasa Portugis yang berarti ‘bunga’ ini. 

Selama tiga jam, mobil Avanza yang kami sewa melaju menuju Moni, sebuah desa terakhir sebelum memasuki Taman Nasional Kelimutu. Malam telah menjelang tatkala kami tiba di desa kecil tersebut, kami memutuskan untuk bermalam di sebuah homestay bertarif 250 ribu per malam. Tujuan utama kami adalah mengejar sunrise di puncak gunung Kelimutu, sambil memandang indahnya danau yang berisi air yang dapat berubah-ubah warna. Danau Kelimutu. 

Sekitar pukul lima pagi kurang WITA, kami memulai perjalanan dari Moni. Kira-kira sekitar tiga belas kilometer sebelum kami bertemu dengan pos jaga Taman Nasional Kelimutu. Tarif masuk yang kami bayar bisa dibilang sangat murah, hanya Rp2.500,00 per orang ditambah Rp5.000 per kamera (kamera DSLR, kamera saku digital tidak) dan Rp6.000,00 untuk ongkos parkir mobil. Dari parkiran mobil, pendakian menuju puncak gunung kami mulai. 

Angin bertiup cukup kencang tatkala kami melangkahkan kaki mendaki gunung Kelimutu. Gemerisik suara pohon memecah pagi, menambah suasana mistis sekitar danau. Pemerintah setempat agaknya telah mempersiapkan sarana pendakian dengan baik, jalur pendakian telah dibuat nyaman untuk mendaki. Matahari belum menyembulkan sinarnya tatkala kami tiba di puncak gunung sekitar tiga puluh menit kemudian, kami sholat subuh berjama’ah di tengah terpaan angin. 

 
Perlahan-lahan keindahan itu tersibak. Surya seakan muncul malu-malu. Seindah apapun kamera mengabadikan, tak ada yang lebih indah dibandingkan dengan kecantikan yang tertangkap langsung oleh lensa mata. Dari atas tugu di puncak gunung Kelimutu, jepret kamera kami beradu. Untuk sekian lama, waktu seakan berhenti, memberi jeda untuk sang insan menarik nafas menikmati. Perpaduan birunya air danau (tatkala kami datang air berwarna biru), kuning matahari pagi, biru langit dan putihnya awan berarak membuat pagi itu terasa begitu memukau. Pagi itu begitu syahdu.

Masyarakat sekitar danau percaya bahwa roh-roh orang yang telah mati akan tinggal di danau Kelimutu selamanya. Roh (atau dalam bahasa setempat disebut Mae) akan dikelompokkan berdasarkan usia dan karakter ketika hidup. Warna air berubah tanpa ada tanda-tanda alam sebelumnya disebabkan oleh mineral yang terkandung di dalam air dan perubahan iklim. Diyakini bahwa perubahan warna air merupakan salah satu pertanda alam yang patut diperhatikan.