Monday, May 19, 2014

Muslimah Aktif? Ini Dia 6 Tips Simpel dan Syari

Muslimah aktif yang punya banyak kegiatan tetapi tetap ingin syari sehari-hari, tak ada salahnya mencoba beberapa tips simpel yang bisa dicoba :)

1.   Selipkan peniti di dompet
      Peniti merupakan alat kecil yang penting bagi Muslimah. Tentu tak ingin kan ketika tiba-tiba ada kejadian kancing baju lepas atau rok sobek tercantol paku, muslimah terlihat auratnya. Tak ada salahnya, berjaga-jaga dengan menyimpan peniti di dompet. Toh ringan dan tak memberatkan, bukan? :)

2.   Bawa manset tangan di tas
      Meskipun lengan baju tampak menutup tangan, tetapi tetap ada kemungkinan 'tertarik'. Jika kamu cukup percaya diri bahwa bajumu syar'i, tak perlu membawa mukena (fyi, mukena hanya digunakan Muslimah di Indonesia dan Malaysia). Cukup dengan baju yang dikenakan, plus manset tangan untuk makin menyempurnakan menutup aurat, siap untuk melaksanakan ibadah sholat :)

3.   Bawa kaos kaki cadangan   
      Melanjutkan poin kedua, kaos kaki merupakan barang yang wajib dipakai Muslimah untuk menyempurnakan menutup aurat. Bawa selalu kaos kaki bersih cadangan di tas (kaos kaki tak berat rasanya dibawa-bawa) berjaga-jaga jika kaos kaki yang dipakai misal terkena lumpur becek atau terinjak sesuatu yang najis.

4.   Gunakan rok dalaman
      Meskipun telah menggunakan dalaman celana (misal legging), itu belum cukup jika mengenakan rok yang tidak cukup tebal (bahan sifon misalnya). Mengenakan dalaman celana saja jika menggunakan rok yang tak tebal akan berisiko tinggi memperlihatkan lekukan kaki. Penggunaan dalaman rok membantu mencegahnya *kecuali rok dilengkapi furing tebal :)

5.   Gunakan tas ketika berdesakan di tempat umum

      Bukan hal yang nyaman bagi Muslimah untuk berdesakan di tempat umum, utamanya di angkutan umum seperti bus kota atau Commuter Line, tas bisa digunakan untuk melindungi tubuh dari berhimpitan dengan lawan jenis :)


6.   Jangan buka jilbab di tempat umum, bahkan sekalipun terasa aman 
      Tak ada tempat umum yang benar-benar aman untuk membuka jilbab. Toilet wanita misalnya, tak ada yang menjamin jika tak akan ada petugas pria yang tiba-tiba menyelonong masuk. Tetap waspada dan berhati-hati :)

Sekian enam tips singkatnya, semoga sedikit banyak bermanfaat. Keep syar'i, keep active, keep productive. Proud to be Muslimah :)

*Adakah yang ingin menambahkan? :)
     

Monday, May 5, 2014

Bea Cukai di Tapal Batas Negeri


Atapupu merupakan nama pelabuhan strategis yang terletak di Kabupaten Belu, Timor Barat. Daerah yang menjembatani transit perdagangan antar negara di wilayah perbatasan RI-Timor Leste ini menjadi saksi lalu lintas penduduk dan barang datang silih berganti. Jika pihak imigrasi memeriksa kedatangan penduduk maka Ditjen Bea dan Cukai merupakan instansi tingkat Eselon I di bawah Kementerian Keuangan yang memiliki tugas, dalam bahasa sederhana, untuk mengawasi lalu lintas barang. Pengawasan yang dilakukan oleh Ditjen Bea dan Cukai sendiri bukan hanya bertujuan untuk memungut penerimaan negara dari bea masuk dan pajak impor, melainkan Bea Cukai juga mengemban tugas dari melindungi rakyat dari masuknya barang-barang berbahaya semisal narkoba.
Atapupu

Atapupu berbatasan dengan Timor Leste
Bisa dibilang, tugas para pegawai Bea Cukai di daerah perbatasan, sebut saja di Atapupu dan Entikong di Kalimantan Barat yang berbatasan dengan wilayah Serawak Malaysia lebih berat lagi. Mengutip pernyataan Dirjen Bea dan Cukai Agung Kuswandono, fungsi pengawasan akan lebih dominan dibandingkan dengan fungsi penerimaan pada daerah perbatasan. Pengawasan daerah perbatasan sendiri memiliki keunikan, umpamanya di daerah Atapupu yang berbatasan dengan Timor Leste, penduduk Indonesia dan Timor Leste mendapatkan kelonggaran dan kemudahan dalam keluar masuk wilayah dua negara. Cukup meninggalkan Kartu Tanda Penduduk. Tak mengherankan mengingat Timor Leste pernah menjadi bagian dari Republik Indonesia sehingga hubungan kekerabatan erat terjalin, pun kesamaan adat turut mempengaruhi. Kemudahan keluar masuk daerah perbatasan itu kerap digunakan penduduk Timor Leste untuk membeli berbagai barang kebutuhan di Belu mengingat harga jual barang lebih tinggi di negaranya. 

Hal tersebut membawa konsekuensi pengawasan yang lebih ketat. Penyelundupan merupakan salah satu isu utama perbatasan. Terindikasi dalam tiga tahun terakhir, penyelundupan Bahan Bakar Minyak (BBM) makin marak di Belu. BBM dengan harga subsidi dari Pemerintah Republik Indonesia dinikmati secara massal oleh rakyat luar negeri. Alhasil, masyarakat Belu yang notabene merupakan penduduk Indonesia merasakan efek domino kesulitan mendapatkan BBM lantaran maraknya penyelundupan. Bea Cukai berperan strategis dalam perlindungan masyarakat terhadap aksi penyelundupan tersebut, bukan hanya tentang barang yang diselundupkan (misal barang berbahaya seperti narkoba) melainkan juga penyelundupan merupakan kejahatan yang dapat mengganggu kedaulatan dan stabilitas ekonomi negara tersebut. Pun berhadapan dengan masyarakat daerah perbatasan artinya dituntut untuk lebih jeli dalam melakukan administrasi bea masuk yang merupakan salah satu unsur penerimaan negara. Namun, petugas Bea Cukai dihadapkan pada dilema antara memberikan izin perlintasan barang dan kondisi perekomian penduduk perbatasan yang membutuhkan barang tersebut.  

Tantangan yang dihadapi oleh pegawai Bea Cukai di daerah perbatasan dalam menjalankan tugasnya tak bisa dibilang ringan. Bekerja di daerah perbatasan artinya berada di daerah yang bisa dibilang jauh dari keramaian kota, dengan kondisi infrastruktur sarana dan prasarana yang tentunya lebih terbatas dibandingkan dengan daerah perkotaan pun kondisi geografis turut mempengaruhi. Atapupu misalnya memiliki kontur wilayah gunung dan laut sehingga bagian tanah yang rata dan bisa menjadi tempat pemukiman penduduk sedikit. Tak hanya itu, pegawai KPPBC Atapupu hanya berjumlah 18 orang dengan ditunjang oleh empat pos bantu Bea dan Cukai serta sepuluh personil sekuriti menjadi tantangan tersendiri bagi KPPBC Atapupu yang memiliki wilayah kerja luas untuk melakukan pelaksanaan intelijen, patroli, penindakan dan penyidikan di bidang kepabeanan dan cukai. Sedikitnya personil Bea Cukai tersebut tentunya menyulitkan pengawasan perbatasan.

Pihak Bea Cukai sendiri telah melakukan upaya-upaya dalam mengoptimalkan pengawasan. 
Misalnya dengan menambah kapal patroli laut sebagai prasarana yang diperlukan dalam melakukan pengawasan perairan, pun memberlakukan berbagai peraturan perbatasan seperti peraturan yang tampak di KPPBC Atapupu : tidak diperkenankan untuk membawa uang tunai senilai seratus juta rupiah atau senilai tersebut dalam mata uang asing kecuali dilaporkan terlebih dahulu, jika tidak akan dikenakan denda sejumlah tiga ratus juta rupiah. Kebijakan tersebut merupakan salah satu contoh optimalisasi kewenangan Bea Cukai dalam mendukung stabilitas ekonomi negara melalui pencegahan penyelundupan. 
 
Salah satu kapal yang dimiliki KPPBC Atapupu
Jika boleh memberikan sumbangsih saran, kiranya akan lebih optimal jika Bea Cukai lebih banyak mempekerjakan putra daerah dalam menjalankan tugasnya, mengingat kesamaan suku maupun bahasa daerah akan mempermudah dalam melakukan pengawasan. Selain itu, diharapkan dengan hal tersebut Bea Cukai dapat memperoleh tambahan personel yang memadai sehingga permasalahan kekurangan pegawai, utamanya di daerah perbatasan, dapat diatasi. Yang tak kalah penting, tugas yang diemban oleh pegawai Bea Cukai akan berjalan lebih optimal jika ditunjang dengan sinergi erat antar instansi pemerintah seperti pihak Imigrasi dan aparat keamanan setempat. 

Semoga motto yang saya baca pada situs KPPBC Atapupu “Borders Divide, Customs Connects (Perbatasan Negara Memisahkan, Kepabeanan Menghubungkan)” benar-benar terwujud.

 ---

Referensi tulisan :
1. www.beacukai.go.id
2. http://kppbcatapupu.blogspot.com/2013/07/susunan-organisasi-kppbc-tipe-pratama.html
3. http://kppbcatapupu.blogspot.com/2013/07/gedung-utama-kppbc-tipe-pratama-atapupu.html
4. http://www.investor.co.id/home/dirjen-bea-cukai-fungsi-pengawasan-domain-di-perbatasan/70367
5. http://kupang.tribunnews.com/2014/03/10/pemkab-belu-perluas-dermaga-atapupu
6. http://regional.kompasiana.com/2014/01/27/para-pelintas-gelap-di-perbatasan-timor-leste-629252.html 
7. Wawancara lisan salah seorang pegawai Bea Cukai, Alhadi Sembiring, yang bertugas di Kanwil DJBC Bali, NTB dan NTT 

Sumber foto : dokumentasi Alhadi Sembiring, dipublikasikan dengan izin dari pemilik gambar 




Sunday, May 4, 2014

Grand Launching One Day One Juz : Dahsyat!


Apa yang menggerakkan lebih dari tiga puluh ribu pasang kaki para Muslimin dan Muslimah melangkah menuju Istiqlal pagi ini? Dari berbagai penjuru negeri, menempuh ribuan kilometer untuk menggelorakan salah satu masjid kebanggaan Indonesia ini. Grand Launching Komunitas One Day One Juz merupakan jawabannya. 

Apa Itu One Day One Juz?

Gerakan One Day One Juz (ODOJ), seperti dikutip dalam situs resminya, merupakan sebuah gerakan yang memiliki visi membudayakan (terbiasakan) tilawah sehari sejuz di seluruh lapisan masyarakat muslim dari berbagai kalangan serta memiliki misi menyebarluaskan One Day One Juz dengan memaksimalkan program kerja kepengurusan. Yang menarik, gerakan ODOJ ini bukan digagas oleh alumni Perguruan Tinggi Agama Islam melainkan oleh para alumni Perguruan Tinggi Negeri. Gerakan yang pada awalnya merupakan gelombang kecil kini menjelma menjadi gerakan masif yang menggerakkan negeri.

Secara teknis, melalui grup whatsapp/BBM program ini dijalankan. Tiga puluh orang dalam satu grup memiliki target bacaan masing-masing satu juz berbeda setiap harinya, sesuai dengan urutan masing-masing. Tiga puluh orang dari seluruh penjuru negeri, dengan latar belakang yang berbeda-beda, semuanya bertekad menyelesaikan tilawah satu juz perharinya. Tercatat hingga saat ini, komunitas ODOJ telah memiliki lebih dari 95.000 anggota. Dalam pemberian award ODOJ pagi tadi disebutkan bahwa anggota ODOJ tertua berusia 78 tahun dan anggota termuda berusia delapan tahun. 

Grand Launching ODOJ dihadiri oleh Ustadz Yusuf Mansyur (Pendiri PPPA Darul Quran), Prof Nasarudin Umar (Wakil Menteri Agama), Dr. Amir Faishol al-Fath (Pakar Tafsir Al-Quran), Ust Fadyl Usman Baharun (Muhdhir Rumah Al-Quran Daarut Tarbiyah) serta para pesohor negeri yang merupakan anggota komunitas ini, sebut saja Dimas Seto, Dhini Aminarti, Oki Setiana Dewi, Baim Wong, Teuku Wisnu, Dude Herlino dan Alyssa Soebandono.

Apa Kata Para Pesohor Negeri tentang ODOJ?

Dude Herlino menyatakan bahwa pada awalnya terasa berat membiasakan membaca satu juz dalam satu hari tetapi dalam ibadah adalah niat, tentang keikhlasan bacaan kita karena Allah. Membaca Al Qur’an merupakan cara agar kita lebih dekat kepada Allah. Efek membaca Al Qur’an sangat memberikan keuntungan seperti langkah-langkah yang dimudahkan, ditenangkan pikiran hingga diberikan jalan atas permasalahan kehidupan. 

Tak kalah dengan Dude Harlino, Baim Wong menuturkan pengalaman berkesannya selama bergabung dengan Komunitas ODOJ. Ia pernah terpancang dengan target selesai satu juz lantaran tidak enak dengan anggota grupnya hingga ia pun takut bahwa ibadahnya berbumbu riya’. Selanjutnya, ia mulai membaca arti dari apa yang telah ia lafalkan dan apa hikmah dari bacaannya. Hal penting dalam membaca Al Qur’an adalah dilakukan setiap hari, diserap di dalam hati hingga memahami arti dan merenunginya. Bukan dilakukan secara terburu-buru maupun hanya mengejar target selesai, melainkan juga menikmati setiap huruf yang dibaca.

Membumikan Al Qur’an, Melangitkan Manusia

Tak berlebihan kiranya jika diharapkan dengan gerakan ini membaca Al Qur’an mampu menjadi budaya di Indonesia, di mana saja. Seperti dalam video pendek berjudul “Aku Kembali Padamu” yang diputarkan pagi tadi, berkisah tentang seorang pria (diperankan oleh Teuku Wisnu) yang kehilangan arah setelah kematian sang istri. Ia berjudi dan berkelahi. Di sebuah gang ia bertemu dengan seorang perempuan (diperankan oleh Oki Setiana Dewi) kemudian ia membawa lari tas sang perempuan lantaran perempuan tersebut menolak menyerahkan uang. Namun, ‘nahas’ baginya, alih-alih uang yang didapatkan, ia hanya menemukan Al Qur’an dan sejumlah buku. Ia kemudian membuka Al Qur’an tersebut dengan asal dan menemukan surat Thoha sesuai dengan nama pria tersebut. Tertarik dengan namanya, ia mulai membaca dan kemudian tergugu.
Thaa Haa
Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah
tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah) “
(QS Thaahaa: 1-3)
Hal yang menarik, dalam pelarian sang laki-laki setelah mengambil tas si perempuan, ia bertemu dengan berbagai orang di berbagai tempat yang semuanya melakukan aktivitas sama : memegang mushaf Al Qur’an dan membacanya. Mulai dari tukang ojek hingga warga yang sedang duduk-duduk di depan rumah. Bisa jadi, hal tersebut bukanlah suatu hal yang berlebihan. Dalam sebuah gambar yang dibagikan seorang teman, tampak seorang ibu penyapu jalan beristirahat dengan membaca Al Qur’an.

Pecahkan Rekor Dunia
Dalam rangkaian kegiatan acara akbar ini disiarkan pula taushiyah on air “Damai Indonesiaku” TV One dengan tajuk “Membumikan Al Qur’an, Melangitkan Manusia”.  Acara kemudian ditutup dengan deklarasi gerakan Indonesia Cinta Al Qur’an dengan duta ODOJ Teuku Wisnu dan Oki Setiana Dewi. Yang patut dicatat, dalam acara Grand Launching ODOJ kali ini dihadiri pula oleh Ketua Yayasan Museum Rekor Indonesia (MURI) Jaya Suprana yang menyerahkan tiga rekor kepada Komunitas ODOJ yakni membaca Al Qur’an oleh Peserta Terbanyak, komunitas pecinta Qur’an terbanyak. Sebelumnya, pada pukul 09.30 hingga setengah jam berikutnya, lebih dari tiga puluh ribu hadirin diminta untuk secara bersama-sama membaca Al Qur’an. Betapa indahnya tatkala lantunan ayat-ayat suci berdengung merdu.



Bila Al Qur’an Bukan Sekadar Mahar

Indah bukan? Bila Al Qur’an bukan sekadar kitab yang menjadi mahar pernikahan, bukan pula sekadar penghias ruangan. Membaca Al Qur’an dilakukan setiap hari. Bukankah Allah menyukai amalan yang dilakukan secara konsisten? Bisa jadi awalnya dipaksakan melalui gerakan ODOJ, kemudian menjadi sebuah kebiasaan lalu bertransformasi menjadi sebuah kebutuhan. Tak malu para Muslimin membaca Al Qur’an di tempat umum, tak takut dibilang riya’ jika niatnya hanyalah Allah semata.  Saat berada di Commuter Line, saat berada di pesawat seperti ibu dalam gambar di bawah ini.

Dan tentu saja, betapa indahnya bila negeri ini berisi orang-orang yang gemar mengaji. Indonesia Mengaji. Tak hanya sekadar membaca, tetapi memahami dan kemudian mengaplikasikan ayat-ayat illahi dalam kehidupan sehari-hari. Betapa rahmat dan hidayah Allah akan semakin tercurah untuk negeri ini. Semoga Allah meridhoi.



Sumber gambar :
1. Akun twitter @onedayonejuz
2. Akun twitter @oki_setiana
4. Gambar beredar via whatsapp (khusus gambar ibu penyapu jalan)

Friday, May 2, 2014

Jika yang Dikejar Hanyalah Nilai (Sebuah Refleksi Hardiknas)



Beberapa waktu lalu, ramai diberitakan mengenai catatan yang diunggah pada akun Facebook salah seorang pelajar SMA yang baru saja mengikuti Ujian Nasional. Nurmillaty Abadiah, pelajar SMA Khadijah Surabaya menantang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh dalam catatan tertanggal 18 April 2014 lalu, “Saya tantang Bapak untuk duduk dan mengerjakan soal Matematika yang kami dapat di UNAS kemarin selama dua jam tanpa melihat buku maupun internet. Jika Bapak bisa menjawab benar lima puluh persen saja, Bapak saya akui pantas menjadi Menteri.”

Dalam catatannya, perempuan berjilbab menyoroti mengenai kecurangan yang ada dalam pelaksanaan UNAS, soal UNAS yang memiliki tipe soal hingga dua puluh buah hingga soal yang tak sesuai dengan SKL serta soal yang memiliki tingkat kesulitan yang disebutnya belum pernah disosialisasikan ke siswa. Ia memungkasinya,

“Pada akhirnya, Pak, izinkan saya untuk mengatakan, bahwa apa yang sudah Bapak lakukan sejauh ini tentang UNAS justru hanya membuat kecurangan semakin merebak. Bapak dan orang-orang dewasa lainnya sering mengatakan bahwa kami adalah remaja yang masih labil. Masih dalam proses pencarian jati diri. Sering bertingkah tidak tahu diri, melanggar norma, dan berbuat onar. Tapi tahukah, ketika seharusnya Bapak selaku orangtua kami memberikan kami petunjuk ke jalan yang baik, apa yang Bapak lakukan dengan UNAS selama tiga hari ini justru mengarahkan kami kepada jati diri yang buruk. Tingkat kesulitan yang belum pernah disosialisasikan ke siswa, joki yang tidak pernah diusut sampai tuntas letak kebocorannya, paket soal yang belum jelas kesamarataan bobotnya, semua itu justru mengarahkan kami, para siswa, untuk mengambil jalan pintas. Sekolah pun ditekan oleh target lulus seratus persen, sehingga mereka diam menghadapi fenomena itu alih-alih menentang keras. Para pendidik terdiam ketika seharusnya mereka berteriak lantang menentang dusta. Kalau perlu, sekalian jalin kesepakatan dengan sekolah lain yang kebetulan menjadi pengawas, agar anak didiknya tidak dipersulit.”

Kami yang berusaha jujur masih belum tahu bagaimana nasib nilai UNAS kami, Pak. Tapi barangkali hal itu terlalu remeh jika dibandingkan dengan urusan Bapak Menteri yang bejibun dan jauh lebih berbobot. Maka permintaan saya mewakili teman-teman pelajar cuma satu; tolong, perbaikilah UNAS, perbaikilah sistem pendidikan di negeri ini, dan kembalikan sekolah yang kami kenal. Sekolah yang mengajarkan pada kami bahwa kejujuran itu adalah segalanya. Sekolah yang tidak akan diam saat melihat kadernya melakukan tindak kecurangan. Kami mulai kehilangan arah, Pak. Kami mulai tidak tahu kepada siapa lagi kami harus percaya. Kepada siapa lagi kami harus mencari kejujuran, ketika lembaga yang mengajarkannya justru diam membisu ketika saat untuk mengamalkannya tiba...”
Izinkan saya mencetak tebal kata kejujuran, sesuatu yang ia resahkan. Tatkala dibenturkan antara mengerjakan dengan kejujuran, soal yang memiliki tingkat kesulitan tinggi, ia dan teman-temannya yang berusaha begitu keras bisa jadi kalah dengan pihak yang mendapatkan ‘wangsit jawaban’.
Saya tak hendak membicarakan mengenai polemik perlu tidaknya UNAS.
Ingatan saya melayang sekitar delapan tahun yang lalu tatkala naik kelas dua belas. Seseorang yang hampir selalu mendapatkan nilai ulangan matematika di bawah batas tuntas yang dipersyaratkan begitu ketakutan di bawah ‘momok’ bernama Ujian Nasional. Jatuh bangun memahami ilmu-ilmu matematika yang dahulunya tak diseriusi dalam belajar, mulai dari bangun pagi, bersekolah, mengambil kelas bimbingan belajar, mengundang guru privat, bahkan tak bisa tidur sebelum menemukan jawaban soal. Satu tahun untuk mengejar ketertinggalan pemahaman selama dua tahun. Saya begitu takut sungguh kala itu.
Pada akhirnya, nilai UN Matematika saya tercetak sempurna di ijazah. Satu, nol dan nol. Murni hasil kerja keras ‘berdarah-darah’, tak ada yang hasil mencontek, tak ada yang hasil membeli jawaban joki.
Bisa jadi saya lebih beruntung daripada Nurmillaty. Soal UN Matematika yang saya hadapi tahun 2007 bisa dibilang ‘tidak susah’. Jauh lebih susah soal tahun sebelumnya. Tanpa bermaksud sombong, saya bisa mengkoreksi jawaban UN saya tatkala itu sebanyak dua kali karena waktu masih bersisa banyak. Pun seingat saya, ada soal dimensi tiga yang bisa diselesaikan hanya dengan satu buah rumus.
Namun, sedih untuk saya akui, saat SMA masih zaman jahiliyah di mana belum sepenuhnya jujur dalam mengerjakan ulangan (kecuali UN). Saya baru benar-benar jujur mengerjakan soal tatkala menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Keras diperingatkan, “Sekali ketahuan mencontek, tanpa ampun langsung kena DO,” Bisa jadi pada awalnya tak mau mencontek lagi karena takut terkena DO jika ketahuan mencontek, terlalu sayang jika keberhasilan menembus ratusan ribu pendaftar  menjadi sia-sia. Tiga tahun menempuh pendidikan Diploma-III di kampus tersebut merupakan kawah candradimuka yang ampuh untuk menghapuskan keinginan mencontek dan membentuk mental yakin dengan kemampuan diri serta berani bertanggung jawab atas usaha yang telah dilakukan. Ya, kejujuran itu mungkin pada awalnya harus dipaksakan.
Hingga akhirnya saya bekerja selama dua tahun sebelum kemudian kembali menjadi mahasiswa D-IV pada kampus yang sama. Saya terhenyak mendapati bahwa hafalan demi hafalan saat D-III seperti menguap entah kemana. Beberapa pertanyaan dosen yang seharusnya mudah, membuat bingung dalam menjawab. Nilai IPK yang tinggi saat D-III tak menjadi jaminan bahwa saya akan ingat apa yang telah saya pelajari.
Jangan-jangan saya belajar selama ini hanya demi mengejar nilai?
Jangan-jangan, jatuh bangun saat hendak UN SMA hanya untuk mendapatkan nilai Matematika bagus? Jangan-jangan, catatan demi catatan serta susah payah memahami dan menghafal berbagai ilmu akuntansi dan ekonomi hanya untuk mendapatkan IP tinggi?
Apa yang sesungguhnya saya cari?
Mana tahu selama ini saya melupakan esensi dari belajar itu sendiri, saya terlalu terpukau oleh target pengejaran hasil akhir, sesuatu yang memang kasat mata. Innamal a’malu binniyati, sesungguhnya perbuatan dinilai sesuai dengan niatnya. wa innama likulli 'mri'in ma nawa, dan sesungguhnya setiap orang mendapat sesuai dengan apa yang diniatkannya. Bisa jadi saya ‘hanya’ berhasil dapat nilai bagus dan IPK tinggi karena itu yang saya inginkan saat itu, tetapi saya tak benar-benar paham. Bisa jadi nilai bagus itu bukan merupakan indikasi akan kepandaian tetapi keridhoan Allah memberi nilai bagus lantaran doa-doa munajat yang terpanjat oleh ibu menembus langit. Tak ada yang tahu bukan apa yang membuat Allah ridho akan suatu hasil.
Jika hanya mengejar nilai, mungkin hanya itulah yang akan didapatkan...
Jika hanya mengejar nilai, segala cara dihalalkan...
Gambar diambil dari penelusuran internet
Mati-matian sebagian orang menghalalkan segala cara demi apa yang disebut dengan ‘nilai bagus’, mulai dari mencontek teman hingga membeli jawaban dari joki. Mental ‘mendapatkan hasil bagus bagaimana pun caranya’ bisa jadi kemudian akan berlanjut, ketika hendak menjadi pegawai menyogok sana sini. Tak jarang kita jumpai dalam berita, ada orang yang rela membayar ratusan juta demi menjadi pegawai negeri.
Semoga akan ada Nurmillaty-Nurmillaty berikutnya, yang setengah mati menggenggam kejujuran di tengah berbagai terpaan. Semoga seperti harapannya, kejujuran adalah segalanya, termasuk direpresentasikan dalam seluruh aspek pendidikan di negeri ini.
Semoga pendidikan tak hanya sekadar untuk mencari nilai yang tercetak di selembar ijazah, tetapi mampu menghasilkan siswa-siswa yang menjunjung tinggi kejujuran dan merasai manisnya proses pembelajaran.
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Untuk semua siswa yang menggenggam kejujuran. Untuk semua guru yang tak lelah mengajarkan. Pun teruntuk siswa usia sekolah yang masih belum mampu mengenyam bangku sekolah lantaran beratnya kehidupan.
Selamat Hari Pendidikan Nasional.
 ---