Sunday, August 31, 2014

Maka Air Asia Menerbangkan Mimpi

Dekade 90-an bepergian menggunakan pesawat terbang agaknya hanya sanggup dilakukan oleh sekelompok orang lantaran harga tiket pesawat tidak dapat dijangkau semua lapisan. Sewaktu kecil, saya hanya bisa mendongakkan kepala ke langit setiap melihat pesawat terbang, membayangkan menjadi salah satu penumpangnya. Naik pesawat merupakan sebuah cita-cita. Hingga, AirAsia datang ke Indonesia, menawarkan pengalaman terbang pertama bagi banyak orang. “Hanya dengan belasan ribu bisa terbang. Wow!” pikir saya melihat iklan AirAsia kala itu. Malah kemudian, AirAsia membagikan promo kursi gratis.

Bukan Orang Kaya Saja yang Bisa Naik Pesawat

Slogan AirAsiaNow Everyone Can Fly’ merupakan kata-kata yang terasa amat powerful. Dari seorang mahasiswa berkantong pas-pasan yang memiliki pola pikir tercetak sekian lama bahwa naik pesawat hanya untuk orang kaya lalu berani bermimpi naik pesawat untuk pertama kali. Ada AirAsia, pesawat yang tiketnya murah, begitu pikir saya kala itu.

Lalu untuk pertama kalinya saya pulang ke kampung halaman bersama AirAsia, Jakarta-Semarang dengan tiket promo (sayang, saat ini rute tersebut sudah tidak ada lagi). Sering terbang menggunakan jasa LCC (low cost carrier) tetapi pengalaman bersama AirAsia yang paling menyenangkan sejauh ini. Dua hal yang paling menonjol dari pelayanan AirAsia adalah pendaratan (landing) yang selalu mulus dan penerbangannya yang selalu tepat waktu. Itu yang paling saya suka dari maskapai ini. Selain itu, kursi penumpang yang nyaman, suasana dalam pesawat yang terang dan bersih membuat penerbangan nyaman. AirAsia mengubah paradigma saya bahwa murah tak mesti murahan dengan menunjukkan pelayanan yang oke. Tak salah jika Roy Morgan Research, salah satu lembaga riset independen yang berbasis kepuasan pelanggan, memberikan penghargaan Domestic Airline of The Year 2013 untuk AirAsia Indonesia.

AirAsia merupakan salah satu maskapai penerbangan yang sering mengadakan promo, selain berbasis penerbangan murah tentunya. Meskipun saat ini saya belum pernah menjejakkan kaki di negeri orang karena alasan tertentu, harga tiket Air Asia yang terjangkau untuk PNS golongan II (misal Semarang-Kuala Lumpur PP hanya 550rb) ini membuat saya berani membayangkan bahwa suatu hari nanti saya bisa menjelajah negara-negara yang saat ini hanya saya bayangkan saja. Air Asia mengubah persepsi bahwa hanya orang kaya yang bisa naik pesawat dan hanya orang kaya yang boleh keliling dunia! 

Bagaimana membuat orang semakin meyakini mimpinya tidak mengubah hidup orang itu?

Wednesday, August 20, 2014

Kultum Supermentor 3 : Dahsyat!





Senin, 18 Agustus 2013, 18.40-22.10. Bertempat di Djakarta Theatre, Kultum Supermentor kembali dilangsungkan. Edisi ketiga ini kali ini bertemakan “Bibit Lokal, Juara Dunia” dengan menghadirkan sejumlah tokoh yang mengharumkan nama negeri : Susi Susanti, Ridwan Kamil, Iwan Setiawan, Richard Th Tampubolon, dan Sri Mulyani Indrawati.

Meritokrasi merupakan tema besar Kultum Supermentor 3 yang dibawakan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Dino Patti Djalal, beliau sekaligus merupakan founder dari acara yang menyedot antusiasme publik tinggi ini. Meritokrasi merupakan suatu sistem dimana semua orang bisa maju, memiliki kesempatan yang sama, tergantung pada mana yang paling memiliki kemampuan.

Pria yang pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat ini menegaskan bahwa dunia tidak melihat apa agama yang seseorang anut, apakah seseorang berasal dari China atau Amerika Serikat, apakah tua atau muda, tetapi melihat pada apa kemampuan yang dimiliki oleh seseorang. 

Lebih lanjut lagi beliau menyebutkan empat hal yang paling penting di era meritokrasi, khususnya agar Indonesia mampu berprestasi di kancah internasional :
1.       Berani bersaing
2.       Mental juara
3.       Berpikir besar
4.       Percaya diri

Meritokrasi memunculkan Metropolitan Revolution yakni pertumbuhan, inovasi, generasi pemimpin baru tak hanya ada pada kota-kota besar semata tetapi juga pada daerah.

Tak Takut Kalah, Tapi Tak Mau Kalah

Siapa yang tak kenal namanya, seorang perempuan asal Tasikmalaya yang mengharumkan nama Indonesia pada Olimpiade Barcelona 1992 melalui emas yang diraihnya pada cabang olahraga Bulu Tangkis. Ia lah Susi Susanti, seorang pebulutangkis wanita Indonesia yang berhasil menjuarai All England empat kali berturut-turut. 

Perjalanan panjang menuju karier gemilangnya dimulai tatkala pada usia 14 tahun perempuan yang mengidolakan Rudi Hartono ini memperoleh beasiswa sebuah klub bulu tangkis besar (termasuk mengenyam pendidikan di sekolah khusus atlet) di Jakarta. Maka pada usia yang relatif belia itu ia mulai mendedikasikan hidupnya untuk olahraga mahsyur negeri ini. Dari Senin hingga Jum’at, ia biasa berlatih 5-6 jam sehari.

Tak dapat dipungkiri bahwa masa remajanya hilang, begitu sebutnya. Namun ia tak pernah menyesalinya. Keyakinan akan pilihannya lah yang membuatnya terus menjaga konsistensi.

“Saya harus melakukan itu. Bulu tangkis adalah pilihan saya. Tak mungkin prestasi dapat dicapai dengan mudah,” ucapnya tanpa ragu

Berbicara mengenai mentalitas juara sebagai salah satu modal memperoleh kemenangan, istri dari Alan Budikusuma ini meyakini bahwa persiapan dan latihan yang matang serta ditunjang dengan fokus pada pertandingan menguatkan mentalnya di setiap pertandingan.

“Saya tidak takut kalah, tetapi saya tidak mau kalah,” begitu ucapnya berulang

Maka, jika ingin menjadi seorang juara, berlatihlah seperti juara, berlatih lah lebih dibanding yang lain. Ia terbiasa berlatih lebih keras dibanding teman-temannya yang lain. Selain itu, ia juga menggunakan teknik Sun Tzu bahwa untuk menguasai pertandingan haruslah menguasai lawan, ia mempelajari kelebihan dan kelemahan lawannya sebelum bertanding.

Konsistensi dan kerja kerasnya mendudukkannya menjadi atlet buku tangkis dunia. Namun, perempuan yang saat ini menjadi staf ahli PBSI ini memiliki motto bahwa di atas langit masih ada langit dan ia harus berdiri di atas kaki sendiri.

“Isilah masa muda dengan kegiatan positif, di bidang masing-masing, berkaryalah untuk orang lain, bangsa dan negara,” pungkasnya

How Far Can Dream Take You?

Pada kelas satu SD, lelaki Sunda ini menuliskan bahwa ia ingin mengunjungi 100 kota di seluruh dunia sebelum usia empat puluh. Pada usianya ke tiga puluh sembilan, ia menjejakkan kakinya ke kota ke-seratus di negeri Jerman. Sebelum menjabat sebagai walikota Bandung, laki-laki ini lebih dahulu dikenal sebagai arsitek dan urban designer.

 Proper education changed my life,” begitu kalimat pembuka darinya

Thursday, August 7, 2014

Bagaimana Rasanya Menjadi Tua?

“Apa yang sudah, sedang dan akan kamu lakukan menuju umur lebih dari 60 tahun?”
Menjadi tua adalah sebuah ketakutan bagi sebagian orang. Ketakutan itu dapat berupa kemampuan fisik yang mulai menurun, gangguan kesehatan yang datang bertandang, rambut yang kian memutih, keriput yang makin kelihatan, memori yang makin memudar dan hal-hal berbayang tua lainnya. Menjadi tua adalah keniscayaan, bahkan detik yang berganti pun menandakan usia bertambah bilangan. Namun, ketakutan adalah suatu pilihan.

Salah satu adagium populer mengatakan bahwa menjadi tua itu pasti sedangkan dewasa adalah pilihan. Maka, bagaimana jika sudut pandang disesuaikan. Bertambahnya bilangan usia bermakna semakin banyaknya kesempatan, semakin bertambahnya ilmu didapatkan, serta semakin banyak pengalaman dirasakan, orang tak dikenal yang menjadi teman pun tempat-tempat baru untuk menjejakkan kaki.

“Maka jika engkau takut, peluklah ketakutanmu,”

Ketakutan akan semakin menghilang bila ia didekati, begitu pernah ku dengar. Maka izinkanlah aku memeluk ketakutanku…..

Wednesday, August 6, 2014

Perempuan yang Mengajariku Arti Syukur

Langit yang cerah pada siang itu tak selaras dengan apa hendak yang dikatakan perempuan di depanku ini. Berbasa basi setelah sekian lama tak berjumpa, aku menanyakan kabarnya.

“Alhamdulillah, Allah beri aku cobaan,”

“Cobaan apa, Mbak?” sergahku tak sabar

“Beberapa hari lalu dokter memvonisku terkena kanker rahim,” ia berkata lirih, dua bulir air mata jatuh perlahan.

Aku mengusap punggung tangannya, lidahku tercekat demi mendengar apa yang baru saja disampaikannya. Udara seperti tertahan di dekat kami, memberikan ruang. Lalu setelah beberapa saat ia pun bercerita tentang tanda-tanda yang dirasakan sebelumnya hingga ia akhirnya ia mengetahui bahwa ia menderita kanker rahim stadium dua. Kali ini, sama sekali tak ada air mata mengalir, yang kudengar adalah kata demi kata yang ia sampaikan dengan penuh ketegaran.

“Alhamdulillah, Allah beri aku penyakit ini, Dek……”

“Alhamdulillah, mungkin ini cara Allah menegurku agar semakin mendekat padaNya, aku nggak boleh capek-capek sehingga aku akhirnya keluar kerja, alhamdulillah dengan penyakit ini suamiku juga makin sayang padaku………..”

Dan tak ku dengar perkataan lain darinya selain ungkapan pujian kepada Allah.

“Dek Monika, Mbak aja yang dikasih sakit begini saja bersyukur. Kamu harusnya bisa lebih bersyukur dari Mbak ya. Kamu kuliah gratis, lulus langsung dapat kerja, ditempatkan di Jakarta sementara saudara Mbak pengen dapet Jakarta malah dapet di luar Jawa, kamu dapet kesempatan lanjut kuliah lagi nggak usah disambi kerja, kamu udah punya usaha sendiri,…….”

 “Dua doa yang tak lepas kupanjatkan pada Allah, Dek. Semoga Allah memberikan aku kekuatan untuk senantiasa memperbaiki diri dan semoga aku senantiasa menjadi hambaNya yang bisa bersyukur dalam setiap keadaan…….”

Perkataannya membuatku tergugu. Aku menundukkan kepala di pangkuannya. Terkubur dalam-dalam sudah curhatanku yang tadinya hendak kusampaikan padanya jika ia menanyakan kabarku.

---


Teruntuk seorang perempuan hebat yang amat ku sayangi dan ku hormati. Semoga Allah senantiasa memberimu kekuatan untuk melewati semua ini....