Monday, December 22, 2014

Surat untuk Anakku dari Ibumu yang Masih Gadis


Duhai anakku, sedang apa kau saat membaca tulisan ini? Saat kau membaca judul ini, ku harap engkau tak mengernyitkan alismu. Tentu ibumu ini bukanlah Siti Maryam, sang perempuan suci yang melahirkan seorang bayi dalam keadaan belum terjamah lelaki. Ibumu saat ini masih berstatus mahasiswi yang sedang berjuang menyelesaikan skripsi, ku harap engkau membaca surat ini ketika kau mulai beranjak remaja. Saat kau mungkin mulai bisa memaknai, kata demi kata yang coba ku untai....

Duhai anakku. Aku tak tahu apakah ketika kau membaca ini, Doraemon si robot abad 22 masih setia menemani di hari Minggu pagi, aku tak tahu apakah Bobo masih menjadi teman bermain dan belajar dari generasi ke generasi, aku tak tahu zaman apa yang akan kau hadapi. Kita adalah manusia akhir zaman, kita berada di detik terakhir dalam percaturan alam semesta, begitu kata yang ku dengar dan ku takuti. Aku tak bisa membayangkan seberapa fantastisnya kah kehidupanmu nanti, dengan segala modernitas, mungkin teknologi ‘augmented reality’ nanti sudah menjadi hal yang sangat jamak kau hadapi. 

Namun, apapun itu, ku harap kau selalu berpegang teguh pada apa yang tak akan terlindas zaman : ayat-ayat suci dan sabda nabi. Ku harap di usiamu ini, kau lebih dari ‘sekadar’ lancar mengeja abatasa atau hafal juz ‘amma, lantunan merdumu menderas firman-Nya lebih sering terdengar di rumah daripada suara televisi. 

Duhai anakku. Jika kau seorang gadis kecil, saat membaca ini barangkali kau telah melewati tanda kedewasaanmu untuk pertama kali, kau mungkin sedikit bingung dengan perubahan demi perubahan yang kau hadapi. Tenang nak, ceritakanlah pada Ibu, tak usah kau tutup-tutupi, ibumu akan dapat memahami.  Jika kau mulai menyukai teman lelaki, berbagilah cerita denganku, aku ingin menjadi temanmu, seseorang yang kau percaya untuk berbagi rahasia dan resah hati. Semoga kau tak memilih menghabiskan waktumu  dengan teman-temanmu sementara risauku menanti kehadiranmu, pun tatkala kau bersamaku jari jemarimu lincah memencet tombol layar dan pandanganmu berpusat pada kotak sekian inchi. 

Duhai anakku. Jika kau seorang anak lelaki, di awal mula kedewasaanmu saat kau disebut ‘baligh’, ku harap engkau tak penasaran mencoba ini itu, atas nama pergaulan dan apa yang dianggap sebagai aksioma bahwa wajar-wajar saja untuk menjadi nakal mumpung ‘masih remaja’. Ku harap engkau lebih memilih untuk menyibukkan dirimu dengan organisasi, buku atau melakukan hal-hal baik yang kau suka. Akrabilah ayahmu, ikutilah apa yang kau lihat baik darinya, turutilah perkataannya meski gejolak mudamu meminta sebaliknya. Tentu, kadang-kadang ajaklah ibumu ini turut serta.

Jika kau membaca lagi tulisan ini ketika usiamu sudah layak dipinang, sibukkan hari-harimu dengan memiliki banyak teman dan penuhi dengan rangkaian kegiatan, tebalkanlah ilmumu agar kelak kau lebih baik dari ibu dalam menunggu. Jika kau seorang laki-laki yang hendak menjadi seorang suami, janganlah sembarang menebar janji hendak menikahi jika kau tak benar-benar memaksudkannya, datangi orang tuanya begitu kau mampu.

Duhai anakku, saat menulis ini, aku belum tahu siapa namamu. Aku juga belum tahu siapa laki-laki yang akan menyematkan nama belakangnya di belakang namamu atau nama gabungan apa yang akan menjadi nama tengahmu. Aku belum tahu bagaimana nanti gayaku mengasuhmu, saat ini aku masih mengamati teman-temanku yang lebih dahulu menimang buah hati. Membayangkan kau lah yang terbaring hangat dalam dekap diri.

Duhai anakku. Sungguh aku telah menyayangimu, jauh sebelum aku mengenalmu, sebelum janji sehidup semati terikrar antara ayah dan ibumu. Meski tertatih, sedikit dan perlahan, ku belajar untuk menjadi ibu terbaik untukmu, seorang ibu yang kelak bisa kau banggakan, seorang ibu yang bisa menghebatkan. Aku ingin menjadi yang pertama mengajarimu mengenal Tuhan, aku ingin menjadi yang pertama mengajarimu Al Qur’an, aku ingin menjadi yang pertama mengajarimu berjalan, aku ingin menjadi yang pertama mengajarimu kebaikan demi kebaikan.

Kaulah semangatku untuk berjuang. Kau adalah salah satu alasan. 

Berjuang agar mampu menghebatkanmu artinya aku harus bisa menghebatkan diriku. Mengajarimu ini itu artinya setidaknya aku tahu. Menyuruhmu melakukan ini itu maka aku pun harus mencontohimu. Aku harus memantaskan diriku, menjadi ibu terhebatmu.....

Sungguh nak, aku telah menyayangimu......

---

terpanjat doa agar Allah ridhoi diri ini menjadi seorang ibu, kelak suatu hari nanti




SELAMAT HARI IBU
untuk para ibu
untuk calon-calon ibu

---

Wednesday, December 10, 2014

Resensi Buku Khilafah Remake



khilafah remake
sumber : Goodreads
Apa yang muncul di benak Anda ketika mendengar kata ‘khilafah’? Suatu pemerintahan Islam yang menjalankan syariat Islam, menaungi negara-negara yang tunduk padanya? Atau apakah Anda membayangkan bahwa khilafah Islam merupakan suatu bentuk pemerintahan yang ‘menakutkan’? Jiwa dibalas dengan jiwa, mata dibalas dengan mata, hukuman potongan tangan untuk pencuri, para pezina yang telah menikah dirajam hingga mati? Benarkah demikian? Felix Siauw, seorang ustadz muda populer, menghadirkan buku berjudul ‘Khilafah Remake’ untuk memberikan pemahaman mengenai khilafah secara ‘berbeda’. Mari kita kupas ‘Khilafah Remake’.


Apa yang Membuat Seorang Agnostik Memeluk Islam?
Sekitar dua belas tahun yang lalu, pasca pengeboman World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001, telunjuk dunia menuding Islam sebagai agama teroris yang penuh kebencian dan menebar permusuhan. Islam dinilai dari perilaku kaum Muslimnya, begitu pikir Felix kala itu, sebelum ia berdiskusi dengan rekan kuliahnya Samsul hingga mempertemukannya dengan seorang ustadz bernama Fatih Karim. Sang ustadz memuaskan ‘dahaga keimanan’ dengan tak hanya mengedepankan dalil semata, tetapi juga memuaskan akal. Salah satunya adalah dengan menjelaskan konsep kepemimpinan dalam Islam, Khilafah Islamiyah, yang tak hanya memberi konsep kehidupan tetapi juga menuntun prosesi detail implementasinya melalui sistem tersebut. Felix Siauw, dalam acara rilis buku ‘Khilafah Remake’ di masjid Baitul Ihsan kompleks Bank Indonesia pada 7 Desember 2014 lalu, menuturkan bahwa ia dibuat terkesima oleh betapa sempurnanya Islam mengatur kehidupan, contohnya dalam Islam diatur mengenai ‘azl (senggama terputus).  Sempurnanya Islam mengatur kehidupan tentunya tak akan lepas dari Khilafah Islamiyah. Islam bukanlah sekadar agama ritual.

Penuturan Sejarah yang Tak Membosankan
Bila lazimnya buku yang mengisahkan sejarah dituturkan dengan paragraf demi paragraf panjang dengan spasi rapat, bersiaplah menemukan hal yang berbeda pada buku setebal 296 halaman ini. Seluruh halaman dicetak full colour dengan desain grafis yang memanjakan mata di setiap halamannya. Buku bersampul dominan hitam ini diawali dengan penjelasan mengenai sejarah peradaban dunia yang meliputi kegemilangan tiga peradaban besar di zamannya : peradaban Mesopotamia (Persia), Romawi hingga peradaban Islam. Tak perlu mengerutkan kening membaca sejarah, bukan?

Runtut dan Sistematis
Setiap buku tentunya diciptakan dengan tujuan, buku ini bertujuan untuk memudahkan pemahaman umat Islam mengenai khilafah. Sistematikanya runut dengan kalimat-kalimat tak terlalu panjang (jarang ditemui paragraf panjang) yakni dimulai dari sejarah peradaban Islam, kondisi umat Islam sekarang hingga kondisi umat Islam yang ideal seperti apa.  Tak lupa juga dijelaskan mengenai apa itu khilafah dimulai dari arti kata secara harfiah dan istilah, syarat khilafah hingga sejarah khilafah dari awal hingga kehancurannya. Beberapa potongan pemahaman tentang konsep khilafah yang saya dapatkan dari berbagai buku seperti dirangkum secara utuh dalam buku ini.


http://felixsiauw.com/home/buku-khilafah-remake/

Konsep Khilafah Dimudahkan untuk Dipahami
Perpaduan kata dan infografis secara ciamik membantu visualisasi pembaca tentang konsep (yang menurut saya) berat yang diembannya : khilafah. Mengapa berat? karena (lagi-lagi menurut saya) belum banyak umat Islam yang mengetahui secara mendalam mengenai konsep ini, bahkan mungkin hanya tahu khilafah dari kulit luarnya saja (termasuk saya). Bahasanya sederhana dan tepat sasaran, boleh dibilang, tak semembuai Muhammad Al-Fatih 1453, karya fenomenal pertama laki-laki yang telah dikaruniai empat buah hati ini. Bisa jadi karena dukungan visual yang luar biasa telah sedemikian memperkuat kata demi kata yang dituliskan (Felix Siauw menyebutnya sebagai magnum opus –sebuah karya besar-  Al Fatih Studios yang merupakan hasil keroyokan 1 penulis, 1 scriptwriter, 1 ilustrator dan 3 visualis) atau memang lantaran ingin memberikan pemahaman secara mudah bagi pembaca lintas usia maupun pemahaman. Tak lupa, berbagai dalil baik ayat Al Qur’an dan hadits serta dukungan fakta sejarah dari berbagai sumber melengkapi buku ini.
http://felixsiauw.com/home/buku-khilafah-remake/


Feel the Spirit!
Buku ini menyedot perhatian saya pada halaman pertama, lagi dan lagi. Hanya dalam tiga jam saya mampu menyelesaikannya. Saya seperti merasakan energi yang dibagikan oleh sang penulis, sosok yang telah saya temui empat kali dan terasa sekali semangat keislamannya dari nada bicara dan pilihan kata yang digunakan. Ia berkali-kali menekankan urgensi khilafah dalam potongan demi potongan buku ini, mulai dari wajibnya berjamaah, kritikan mengenai sekularisme hingga tiga pilar yang menyokong kejayaan Islam : pilar individu yang bertakwa, masyarakat yang berdakwah dan negara yang menerapkan syariah.

“Masalah terbesar yang ada di tengah umat Islam adalah syirik modern bernama sistem SEKULARISME! Paham ini menganggap bahwa Allah hanya melihat kita pada saat-saat tertentu saja.
Sistem sekularisme ini perumpamaannya seperti perempuan yang biasa memperlihatkan auratnya dengan tank-top dan hot-pants pasti tidak akan berani memakai pakaian minim itu ketika sedang sholat. Karena dia merasa bahwa ketika sedang shalat Allah sedang menyaksikannya. Tetapi ketika solatnya selesai, dia memperlihatkan auratnya lagi,” (halaman 142)
http://felixsiauw.com/home/buku-khilafah-remake/


Bukan Sekadar Romantisme Sejarah
Hadis Imam Ahmad juga diriwayatkan oleh Baihaqi dari Nu'man Bin Basyir;
Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya.
Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya.
Selanjutnya masa kerajaan yang menggigit (Mulkan ’Adhan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya.
Setelah itu, masa kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyyan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya.
Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.”
[HR Ahmad dan Baihaqi dari Nuâman bin Basyir dari Hudzaifah]
- dikutip dari Wikipedia

Merujuk pada hadits di atas, Felix Siauw menyatakan keyakinannya akan bangkitnya khilafah Islamiyah. Kehancuran suatu peradaban memiliki pola dan kehidupan yang berkiblat pada barat akan runtuh dan digantikan oleh sistem Islam. Buku ini tidak dibuat untuk sekadar mengenang ‘romantisme sejarah’ bahwa Islam pernah berjaya tetapi juga untuk mempersiapkan umat untuk menghadapi masa yang akan  datang, menjadi bagian dari tegaknya khilafah Islamiyah. 

Bagian epilog menjelaskan mengenai pertanyaan mendasar yang mungkin dirasakan pembaca : lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Tentu tak seru jika saya membocorkannya di sini.

Syariat Islam : Menyeramkan?
Yang saya pahami Allah tentu tak akan menurunkan suatu syariat jika hal tersebut tidak membawa manfaat atau tak sanggup dipikul manusia. Syariat yang mengatur mengenai hukum qishash misalnya, diiringi dengan diperbolehkannya ‘pemaafan dari pihak keluarga’ dan bahwa memaafkan lebih baik. Hukuman potong tangan juga mengatur mengenai berapa jumlah minimal uang yang dicuri hingga dilaksanakan hukuman tersebut dan ada tahap-tahapnya (koreksi saya jika salah). Semakin umat Islam mengkaji syariat Islam, akan menemukan bahwa syariat tak lain diberikan Allah untuk memuliakan manusia. Yang perlu kita lakukan adalah mengkajinya lagi dan lagi.

Bukan Milik Harakah Tertentu
Meski referensi buku ini sebagian besar merujuk pada sebuah harokah tertentu, tidak ada provokasi atau ajakan untuk mengikuti golongan tersebut. Pada halaman 278, penulis menegaskan bahwa untuk mengkaji bisa dengan kelompok yang mana saja asal sesuai dengan QS Ali Imran 104 dan asal berjuang untuk Islam.

Buku ini bisa jadi menjadi pintu gerbang pemahaman umat mengenai khilafah Islamiyah yang sayang untuk dilewatkan!

--

Judul : Khilafah Remake
Penulis : Felix Y. Siauw
Visual : Al FatihStudios
Penerbit : Al Fatih Press
Cetakan pertama : September 2014