Thursday, December 31, 2015

Penyesalan dan Tahun Baru

Apa yang paling mengganjal di penghujung tahun?

Penyesalan

Menyesal mengapa banyak hal yang disia-siakan. Waktu luang alangkah menjadi pedang bermata dua. Terlalu banyak melakukan hal yang tak perlu seperti banyak menghabiskan waktu di media sosial, sementara banyak hal produktif yang seharusnya bisa dikerjakan.

Menyesal tak sungguh-sungguh memperjuangkan mimpi di tahun 2015. Sekadar membuat resolusi tanpa berupaya habis-habisan agar terwujud. Nanti dan nanti. Betapa banyak hal baik yang tertunda atau malah tak jadi terwujud sama sekali.

Menyesal melewatkan kesempatan. Karena merasa minder, karena tak punya cukup mental untuk mengambil risiko gagal.

Menyesal tidak cukup berani mengatakan apa yang mengganjal. Yang mungkin saja mengubah keadaan.

Menyesal atas kesempatan berbuat baik yang dilepaskan.

~~

Tanggung jawab kita selalu lebih banyak dari waktu yang kita punya. Aku sering melupakannya....

~~

Welcoming new year. Because we need moment to reflect, to move on, to be excited of new things, to keep the hope that things will be better, to refresh our minds.

~~~



Friday, December 18, 2015

Pengumuman Pemenang Monilando’s Giveaway : Spread The Good Story

Pada awalnya, saya merasa kesal dengan berita-berita negatif yang bertebaran di dunia maya, khususnya di media sosial. Entah berita pembunuhan, kebencian terhadap sosok tertentu, perselingkuhan artis dan sebagainya. Namun, di tengah itu semua, berita kebaikan seperti pengguna media sosial yang membantu seorang pengendara gojek wanita, rombongan sedekah, dan sebangsanya layaknya sebuah oase di tengah semua berita negatif yang ada. Saya sungguh percaya dan meyakini bahwa kebaikan adalah salah satu naluri dasar manusia. Orang-orang baik ada di sekitar kita dan jika tidak ada, setidaknya mudah-mudahan kita bisa menjadi salah satunya.

Saya mengucapkan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para peserta giveaway. Insya Allah niatnya adalah membagikan kisah tentang perbuatan baik yang mudah-mudahan dapat menjadi inspirasi kebaikan bagi yang membacanya. Kebaikan itu menular bukan?

Tuesday, December 1, 2015

Does Beauty Really Rule?

"Kalau kamu cantik, masalah hidupmu selesai setengahnya," Dian berkata

Saya baru sadar kalau terkadang kecantikan merupakan rule pertama. Pertama, pada suatu percakapan beberapa bulan yang lalu, seorang teman laki-laki berkata, "Bagi gw sih kriteria milih istri yang pertama itu ya cantik," "Ohya, bukan agamanya?" tanya saya memastikan. "Nggak ah, menurut gw, agama itu bisa dtingkatkan. Tapi kalau cantik itu bawaan,"
Saya cuma ber-oh panjang. Selama ini yang saya dengar dari beberapa teman adalah agama-itu-nomor-satu dalam memilih pasangan tetapi kali itu saya mendengar perspektif baru.

Siapa yang tahu istilah late-bloomer? Nah mungkin saya salah satunya. Percaya atau nggak, baru di usia 25 tahun saya kenal dandan. Hah? telat banget ya. Iya, dari kuliah saya cuma memakai bedak sama lipgloss saja. Itu pun nggak touch-up lagi kalau bedaknya sudah luntur. Bahkan ketika di usia 21 tahun sudah bekerja pun penampilan tetap tak berubah. Jadi ya bisa dibilang penampilan 'lugu' kalau kata mama saya. Btw, mama sering mengingatkan untuk memperbaiki penampilan tapi saya cuek-cuek saja.


Hingga kemudian, di usia 25 tahun saya memutuskan untuk berdandan. Jangan dibayangkan berdandan ala mau datang kondangan ya. Definisi berdandan saya (saat ini) adalah memakai DD Cream + bedak + lipstik + eyeliner. Awalnya, biasa, beberapa orang men-cie-kan sebelum terbiasa melihat saya dengan penampilan baru. Saya juga touch up dandanan selepas salat Dhuhur atau ketika mau rapat.

Well, adakah yang berbeda?

Harus saya akui, iya. Semisal, saat saya rapat dengan orang-orang yang selama ini nggak pernah notice saya, lambat laun menjadi ramah dan menyapa duluan. Belum, cara menatap orang kepada saya berbeda. People notice me more than before. Apa ini lantaran 'penampilan berbeda' atau tidak, kemungkinan besarnya iya. Setelah memperhatikan saya beberapa saat di suatu acara, seorang kenalan bahkan terang-terangan mengatakan, "Eh, kayaknya kita pernah kenal ya?" Saya mengangguk, "Iya kan kita dulu pernah makan bareng (ramai-ramai)," Dia melanjutkan, "Ohiya, aku inget. Eh btw, kayaknya dulu kamu nggak kayak gini deh? Touch up ya sekarang?" Saya cuma tertawa mengiyakan.

Dulu, saya berpikir bahwa yang terpenting adalah 'isi'. Berdandan itu tidak penting. Berdandan itu berlebihan, bedak saja sudah cukup. People should not (only) recognize us from what we look. Tapi benarkah? Bukankah penampilan yang dilihat pertama kali? dan baru kemudian melihat lainnya. Ibarat mengambil buku, kita mengambil buku yang sampulnya menarik. Yang sampulnya tak menarik, terkadang, cuma dilirik sepintas lalu.

Ketika pandangan saya tentang penampilan berubah, saya berpikir bahwa berdandan itu bukan buat siapa-siapa, bukan bermaksud berlebihan, bukan karena ingin dipuji atau maksud tak baik lainnya.  Saya berdandan untuk menghargai diri sendiri. Dengan saya lebih menghargai diri, (ternyata) orang lain lebih menghargai.  

Bagi sebagian perempuan muslimah, berdandan termasuk tabarruj atau memamerkan kecantikan. Bahkan ada juga yang mengharamkan penggunaan bedak. Pokoknya, muslimah harus tanpa make-up apapun. Ah, saya tak berani berkomentar. Kalau saya pribadi, bedak dan lisptik saja untuk mendandani diri seperlunya. Dandan berlebihan itu seperti dandanan pengantin dengan penggunaan macam-macam (bulu mata palsu misalnya).


Bagaimana menurutmu? Apa kamu termasuk perempuan yang suka berdandan? Atau adakah yang late-bloomer juga? Silahkan tinggalkan jejak di kolom komentar ya :)


Thursday, November 26, 2015

Monilando's Giveaway : Spread The Good Story

Di media sosial banyak beredar tentang kisah-kisah orang ‘biasa’ (dalam arti bukan selebritas/orang terkenal) yang melalui tindakannya melakukan suatu hal yang menginspirasi atau membuat perubahan. Misalnya, ketika ramai diberitakan postingan Facebook Dewi Rachmayani yang menceritakan seorang supir ojek tua bernama Pak Soleh yang kesulitan mendapatkan pelanggan kemudian si penulis postingan sekaligus memberikan nomor HP Pak Soleh atau postingan Path Fitri yang menceritakan tentang supir gojek perempuan yang membawa anaknya ketika bekerja. Intinya, adalah setiap dari kita mampu melakukan suatu kebaikan yang menginspirasi atau memberikan hikmah dari tindakan yang pernah kita lakukan.

Oleh karena itu, saya bermaksud untuk mengadakan giveaway ketiga yakni Monilando's Giveaway : Spread The Good Story, semoga semakin banyak cerita kebaikan yang tersebar (insya Allah bukan dalam niat pamer/riya’)

Ketentuan dan persyaratan :
1.         Menuliskan pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain (jika pengalaman orang lain, WAJIB tahu dari sumber pertama  untuk menjaga validitas cerita) yang sesuai tema : pengalaman tentang melakukan suatu kebaikan yang kiranya mampu menginspirasi atau memberikan hikmah bagi orang lain yang membaca.
2.         Dituliskan di blog pribadi milik teman-teman (domain bebas), panjang tulisan bebas. Belum pernah dipublikasikan sebelumnya/tulisan baru.
3.         Pada akhir tulisan teman-teman, tambahkan tulisan :  “Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando's Giveaway : Spread The Good Story" yang diberi tautan hidup ke postingan ini serta sisipkan banner di bawah ini
Giveaway : Spread The Good Story

4.         Tuliskan nama penulis beserta judul dan tautan tulisan pada kolom komentar di bawah.
5.         Follow blog ini (sebenarnya kurang suka menyuruh orang mem-follow, tapi berdasarkan pengalaman giveaway sebelumnya ada pemenang yang tidak tahu dia menang walau sudah saya tinggalkan jejak di postingannya). Karena saya tak suka disuruh mem-follow orang, maka semua peserta giveaway akan saya follow back (jika ada tombol follow nya ya, jika tidak akan saya masukkan ke bloglist) biar fair :)
6.         Setiap peserta hanya dapat mengikutsertakan satu tulisan saja
7.         Peserta memiliki alamat pengiriman di Indonesia untuk memudahkan pengiriman hadiah
8.         Waktu pelaksanaan giveaway dari tanggal 26 November 2015-11 Desember 2015.
9.         Pengumuman giveaway insya Allah tanggal 18 Desember 2015.

Untuk giveaway kali ini, saya meminta tolong Ninda untuk menjadi juri

Jika ada keterangan yang belum jelas, silahkan ditanyakan melalui kolom komentar ya…

Hadiah :
1.         Juara pertama silahkan memilih buku senilai maksimal 200.000 di Gramedia.com atau bukukita.com (termasuk diskon yang ada di situs pembelian dan di luar ongkir). Jadi bisa saja total harga >200.000 asal net price dari buku yang dipilih maksimal 200rb.
2.         Juara kedua silahkan memilih buku senilai maksimal 150.000 di Gramedia.com atau bukukita.com
3.         Juara ketiga silahkan memilih buku senilai maksimal 100.000 di Gramedia.com atau bukukita.com
4.         Peserta giveaway tercepat/ peserta pertama (sesuai pendaftaran di kolom komentar) silahkan memilih buku senilai maksimal 50.000 di Gramedia.com atau bukukita.com
5.         Dan… sebagai apresiasi kepada semua blogger yang telah mengikuti giveaway, semua peserta berkesempatan untuk mendapatkan pulsa senilai 50.000 karena hadiah pulsa akan saya undi.

Jadi…. Satu peserta berkesempatan untuk mendapatkan TIGA HADIAH sekaligus lho (jika bisa jadi juara, peserta tercepat, dan beruntung saat undian)

Yuk tunggu apalagi. Spread goodness for everyone!


Monday, November 23, 2015

What Things To Consider Most in Buying Smartphone?

Ceritanya, adik kesayangan ingin mengganti ponselnya sekarang dengan yang baru. Alasannya sih karena HP sudah lemot dan kurang memuaskan. Mulai lah saya membantu mencarikan ponsel pintar berbasis Android dengan performa mumpuni. Sebenarnya apa saja sih pertimbangan-pertimbangan utama dalam memilih ponsel idaman? Ini daftar pertimbangan utama versi saya :

Pertama, performa tentu saja. Siapa yang tahan dengan ponsel yang lemot di tengah canggihnya zaman sekarang? Pasti akan sangat mengganggu kenyamanan dan aktivitas. Kedua, kamera. Ya, kamera yang bagus amat menyenangkan bukan? Mengabadikan momen berharga secara indah hingga eksis di media sosial. Ketiga, penampilannya harus stylish  dan kece biar enak dipandang mata. Keempat, dukungan jaringan dan konektivitas yang  handal. Aih, konektivitas merupakan kebutuhan penting saat ini kan? Entah untuk sekadar transfer file, berselancar di dunia maya hingga mencari informasi terbaru. Dan kelima, yang paling penting adalah harganya terjangkau dan tak banyak menguras kantong.

Jadi?

Asus Zenfone Laser 2 tampak depan
Saya menemukan kelima kriteria itu di Asus Zenfone 2 Laser, lini produk smartphone andalan Asus yang baru diluncurkan tanggal 19 November 2015 lalu. Gress banget kan? Performanya dapat dibilang mumpuni dengan penggunaan sistem operasi Android 5.0.2 Lollipop plus prosesor Qualcomm Snapdragon. Selain itu, juga didukung dengan ASUS ZenUI 2.0 dengan lebih dari 1000 peningkatan fitur. Tak hanya kinerjanya memadai,  tetapi juga efisiensi energinya amat bagus. Asus Zenfone 2 Laser menawarkan keseimbangan prima antara kinerja multimedia dengan efisiensi penggunaan baterai. Tentu, agar pengguna tak sering-sering mencolokkan charger atau powerbank.

Lalu, kedua, kameranya membuat mupeng. Kamera utamanya 13 MP dengan laser autofokus dengan waktu fokus kurang dari 0,03 detik. Fitur autofokus baru mampu mengurangi gambar buram dan memperbaiki stabilisasi gambar. Ada juga mode Super HDR yang memfasilitasi penggunanya untuk dapat melihat dengan jelas di tengah terik matahari. Belum lagi penggunaan diafragma besar dengan elemen Largan Lens, dualtone flash, adanya PixelMaster Camera sehingga foto dan video bisa lebih terang hingga 400%. Belum lagi kamera depannya 5MP plus adanya selfie panorama hingga 140 derajat. Wow. Bisa makin eksis di Instagram nih :)

Asus Zenfone Laser 2 tampak belakang
Yang tak kalah seru tentu tampilan Asus Zenfone 2 Laser. Selain desainnya elegan (btw, Asus Zenfone 2 memenangkan penghargaan "top design in innovation, ergonomics, and functionality"), beratnya ringan  hanya 145gr, dan juga dilindungi dengan Super Scratch Gorilla Glass 4. Gorilla Glass 4 ini  merupakan lapisan antigores terbaru dari Corning yang menawarkan daya tahan 2 kali lebih baik saat terjatuh dan mereduksi kemungkinan layar pecah hingga 85% serta 2,5 kali lebih kuat dibandingkan dengan lapisan Gorilla Glass 3. Selain itu, ASUS menggunakan teknologi ASUS TruVivid Full Screen Lamination Technology dan ASUS ZenMotion support Touch and motion gesture.

Pertimbangan utama keempat terkait dengan jaringan dan konektivitas. Asus Zenfone 2 Laser dipersenjatai dengan 4G LTE Cat4 yang memiliki kecepatan unduh hingga 150Mbps. Belum lagi ada WLAN, Wifi Direct, kemampuan Wifi Hotspot yang sangat cepat, dan MicroUSB dan dual antenna yang berfungsi untuk transmisi sinyal yang lebih baik. Apalagi untuk yang tak bisa lepas dari internet (seperti saya), jaringan dan konektivitas merupakan kriteria amat penting dalam memilih ponsel.

Infografis Asus Zenfone 2 Laser
Dan, tentunya, selain keempat pertimbangan di atas. Pertimbangan terpenting tentu saja... harga! Ya, mau ponsel sebagus apa jika harga tak terjangkau, tentu lewat dari pertimbangan. Untungnya, Asus Zenfone Laser 2 dibanderol dengan harga yang terjangkau dibandingkan dengan tingkat kualitas dan fitur yang ditawarkan. Untuk Zenfone 2 Laser  5.0 ZE500KL dibanderol dengan harga Rp2,099 juta, untuk Zenfone 2 Laser 5.5 ZE550KL seharga Rp2,399 juta, dan untuk Zenfone 2 Laser ZE601KL dipasarkan dengan harga Rp3,499 juta. Perbedaan ketiganya terletak di ukuran layar yang digunakan, berat ponsel dan kapasitas penyimpanan.

Tentu, memilih ponsel pintar harus cermat bukan? Dengan harga yang terjangkau, bisa memiliki ponsel dengan performa mumpuni. Dengan harga yang sama, bisa memiliki ponsel dengan lebih banyak fitur unggulan dibandingkan dengan ponsel lainnya. Dan ya, Asus Zenfone 2 Laser amat layak dipertimbangkan. 

Well, so, what are your things to consider most in buying smartphone?

Sunday, November 22, 2015

Resensi Buku : 5 Guru Kecilku



Buku 5 Guru Kecilku
Resensi buku 5 Guru Kecilku. Sudah lama saya ‘mengenal’ Kiki Barkiah melalui status demi status Facebook beliau yang banyak beredar di beranda hingga akhirnya saya memutuskan untuk follow.Sosok seorang ibu muda berusia 29 tahun dengan lima orang anak, tanpa saudara dan tanpa asisten rumah tangga, berjuang membesarkan dan mendidik sang buah hati di negeri Paman Sam. Tak hanya sekadar mengajarkan ‘ilmu dunia’ melalui penerapan ‘homeschooling’ tetapi juga menanamkan nilai-nilai islam di tengah ‘gempuran’ zaman di sebuah negara liberal. Tak heran, terbitnya buku berjudul “5 Guru Kecilku” disambut dengan antusiasme tinggi dengan langsung ludesnya cetakan pertama buku ini di hari pertama peluncurannya.

Bagi saya, Teh Kiki, begitu beliau akrab disapa, merupakan sosok yang istimewa. Bagaimana tidak, ia merupakan alumnus Institut Teknologi Bandung jurusan paling ‘mentereng’ : Teknik Elektro (salah satu jurusan yang memiliki passing grade tertinggi se-Indonesia), aktivis dakwah dengan seabrek kegiatan. Kesemuanya ia lepaskan demi mengemban amanah mulia menjadi seorang istri dan ibu. Belum lagi, salah seorang anaknya bukan merupakan anak kandung (kebetulan beliau menikah dengan seorang duda yang telah memiliki anak satu). Perjuangan beliau tentu tak mudah. Namun, justru dari sanalah, ia menemukan hikmah demi hikmah sebagaimana ia menjuluki dirinya “sang penjelajah hikmah”.

Buku bersampul foto Teh Kiki beserta kelima anaknya ini merupakan kumpulan kisah pengasuhan anak yang ditulis dengan gaya bahasa mengalir. Dibuka dengan bab berjudul “Niatmu Kekuatanmu”, Teh Kiki mengingatkan arti penting niat, sebagaimana hadits Arbain pertama mencatatnya. Sesungguhnya setiap amal bergantung dari niatnya dan sesungguhnya seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Mengapa memilih menikah dengan segala konsekuensinya? Mengapa ‘berani’ mengambil peran dan amanah sebagai orang tua yang tentu bukanlah sebuah hal yang mudah?

Terdapat 35 kisah dalam buku setebal 241 halaman ini. Mulai dari kisah Teh Kiki mendidik kelima permata hatinya untuk saling menyayangi dan menguatkan sesama anggota keluarga, cara beliau mendidik anak melalui homeschooling, langkah yang diambil tatkala nasihat biasa tak mampu menghentikan misbehavior anak, penanaman nilai Islam melalui kegiatan sehari-hari, kisah dalam memberikan pendidikan seks pada anak, hingga bentuk kerja sama suami istri dalam pengasuhan anak. Dari buku ini, saya banyak belajar tentang penerapan teori parenting.

Bagi saya pribadi, amatlah jarang sebuah buku mampu membuat berlinang air mata (bahasa jawanya mbrambang), apalagi sampai menangis. Namun, saya tak sanggup menahan air mata tatkala membaca beberapa kisah. Tentang perjuangan yang memuliakan : perjuangan seorang istri dan ibu, Teh Kiki menulisnya dengan begitu powerful :

“Memandang kehamilan, melahirkan dan menyusui sebagai bagian dari ibadah kepada Allah akan melahirkan sikap yang berbeda dalam menjalankannya, begitu juga dengan nilainya di mata Allah. Tentu akan sangat berbeda rasanya bila dibandingkan dengan para wanita yang melihat kehamilan, melahirkan, menyusui sebagai tambahan beban apalagi hambatan mereka dalam mencapai karir. Karena kesulitan dalam menjalaninya adalah sebuah keniscayaan, maka sangat disayangkan jika kita menjalankannya tanpa memandangnya sebagai bagian dari ibadah kita kepada Allah,” (halaman 12-13)  


Tentang niat menikah, Teh Kiki membagikan kisahnya berkenalan dengan sang suami. Bertemu dengan sang suami dan orang tuanya di tempat i’tikaf dan kemudian mereka menikah selang waktu sekitar satu bulan. Ayahanda Teh Kiki  bertanya apa niat sang anak ketika diutarakan maksud untuk menikah dan kemudian disambut jawaban tegas, “Mau ibadah, pah”

Tentang perjalanan Teh Kiki membesarkan sulung sang suami yang tak lahir dari rahimnya. Keteladanan demi keteladanan sang anak yang meluluhkan hati. Tentang Ali, sang sulung yang menjadi inspirasi dalam keluarga.

“Di suatu siang, Ali tiba-tiba memeluk saya dari belakang.
Ali : “Ummi, not every kids has a mom like you!”
Saya kaget, campur salah tingkah, saya usap rambutnya, dan berkata,
Ummi : “And not every mom has a child like you too!”
(halaman 195)

Ah, sungguh. Buku ini amatlah indah. Saya seperti merasakan ketulusan Teh Kiki menjadi seorang ibu penuh waktu, kekuatan niat dan azzamnya untuk melahirkan generasi Islam unggulan, ketangguhannya menghadapi berbagai ujian dan tantangan pengasuhan anak (beliau menyebutnya ‘iklan’ dalam kehidupan sehari-hari), hingga  kegigihannya terus belajar demi memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Beliau tak sempurna, tentu, di beberapa kisah beliau memberikan ‘tips’ bagi para ibu ‘untuk menjaga kewarasan dalam mendidik anak’. Mulai dari memperbanyak istighfar, memberikan pemahaman kepada anak alih-alih memarahinya, hingga pentingnya dukungan suami dalam menguatkan sang istri meski hanya melalui percakapan telepon sejenak.

Tentu, apa yang disampaikan dari hati akan sampai ke hati juga bukan?

Salah satu kutipan
Namun, jika boleh saya memberikan masukan. Untuk cetakan berikutnya, alangkah lebih indah jika proses editing dipertajam. Mulai ada beberapa typo, kata berbahasa asing yang tak dicetak miring, penulisan kata di- yang masih rancu antara kata depan dan kata sambung, pengabaian penggunaan huruf kapital, hingga terlalu panjangnya satu paragraf yang bisa ‘mengambil jatah’ satu halaman buku membuat lebih mudah lelah dalam menyusuri kata demi kata.

Akhir kata, tak ada yang membuat saya ragu merekomendasikan buku ini kepada Anda. Mulai dari yang belum menikah hingga yang sudah menikah, tak ada salahnya memelajari kisah demi kisah yang sarat hikmah sekaligus merenungkan kutipan-kutipan sang penulis. Tak hanya sekadar berbicara dalil tetapi juga pengaplikasiannya dalam kehidupan itu yang paling penting, bukan? Sangat menginspirasi sekaligus memberikan dorongan semangat kepada para orang tua (dan calon orang tua tentunya). 

--
Judul : 5 Guru Kecilku
Penulis : Kiki Barkiah
Penerbit : Mastakka Publishing
Cetakan kedua : Oktober 2015

---
Teriring doa semoga Allah segera pertemukan dengan lelaki terbaik dan Allah ridhoi menjadi seorang ibu kelak

Wednesday, November 18, 2015

How to Fit More Reading Into Your Busy Life

Berapa banyak buku yang dapat Anda baca dalam satu tahun? Berapa lama waktu yang Anda perlukan untuk menyelesaikan satu buah buku?
Jika Anda membaca lebih dari satu buku dalam waktu satu tahun, berbahagialah, produktivitas Anda dalam membaca buku di atas rata-rata orang Indonesia. Namun, jumlah tersebut jauh di bawah kemampuan orang Jepang membaca 10-15 buku dalam satu tahun sementara orang Amerika Serikat membaca 10-20 buku dalam satu tahun.
membaca, buku
Menutupi Monas dulu.. Review bukunya menyusul :D

Seringkali, tak memiliki waktu merupakan alasan yang dilontarkan. Benarkah demikian? Kesibukan sehari-hari bisa sangat menyita waktu dan melelahkan. Namun, bukankah membaca buku adalah sebuah kesenangan? Stephen King mengatakan, “Books are the perfect entertainment: no commercials, no batteries, hours of enjoyment for each dollar spent.

Nah, jika sudah demikian, bagaimana cara membaca lebih banyak di tengah kesibukan? Here are my tips :
1.        Bring book with you
Iya, bawa buku yang sedang ingin dibaca kemana saja, masukkan dalam tas tentunya. Seketika ada waktu longgar atau waktu tunggu, bisa digunakan untuk membaca. Meletakkan buku di atas juga semacam pengingat bagi diri untuk membaca buku yang dilihat setiap kali membuka tas. Tentu, bawalah buku yang tak terlampau berat.

2.        Take advantage of idle time or waiting time
Menunggu bukan lagi hal yang menyebalkan jika ada buku di tangan. Menunggu Commuter Line datang misalnya, tinggal cari spot yang nyaman untuk menjelajahi kata demi kata di buku. Teman datang terlambat ketika janjian di mal, gunakan waktu untuk membaca. Barangkali, tahu-tahu bisa selesai satu buku. Atau misal untuk ibu menyusui, sambil membaca buku mungkin?

3.        Turn off your internet
Ya, internet merupakan salah satu distraksi dalam membaca, terutama ketika membuka media sosial. Awalnya hanya berniat membuka Facebook barang lima menit, lalu menemukan status yang menarik dan kemudian mengikuti komentar di sana, lalu menemukan tautan artikel menarik yang merujuk ke laman lain, begitu seterusnya. Tahu-tahu dari sepuluh menit menjadi satu jam. Cobalah matikan internet ketika ingin membaca dan fokuslah pada buku di tangan. Ketika saya mencobanya, satu buku bisa diselesaikan dalam dua hingga tiga jam, bahkan ada novel yang selesai satu kali baca hanya dalam waktu 1,5 jam.

Sunday, November 15, 2015

Yuk, Menelusuri Sumber Berita : Bijak dalam Menerima Informasi


Kita hidup di zaman ketika informasi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Percakapan BBM, Whatsapp, Line, beranda Facebook, linimasa Twitter, postingan Path menjejali otak dengan beraneka ragam informasi. Entah mulai dari tulisan copy paste hingga hasil screenshot. Entah opini, fakta atau hoax. Deras.

Overloaded informations, yet, possibly asymmetric ones

Yang pertama muncul di kepala saya ketika mendapatkan sebuah informasi baru adalah apakah ada sumbernya?. Bisa dibilang lebih banyak tulisan tak mencantumkan sumber. Entah karena itu dianggap tak penting, tak tahu sumbernya, atau alasan lainnya. Tulisan tak ada sumbernya bisa dibilang diragukan validitasnya. Siapa yang berbicara tidak diketahui, entah itu tulisan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya juga tidak diketahui. Pokoknya sebarkan tulisan yang dianggap menarik. Pentingnya sumber selain itu mengetahui validitas informasi juga untuk mengetahui kapasitas si pemberi informasi. Dokter tentu merupakan sumber yang bisa dipercaya ketika ia berbicara mengenai masalah kesehatan, tetapi seorang pakar keuangan tentu lebih berkapasitas ketika berbicara tentang perencanaan keuangan rumah tangga. 
 
Informasi merupakan hal yang amat penting dan berharga karena informasi merupakan sumber dari pengambilan keputusan. Atau minimal informasi merasuk ke dalam cara pandang dalam melihat suatu hal. Dikutip dari laman Wikipedia, Notoatmodjo (2008) mengatakan bahwa semakin banyak informasi dapat memengaruhi atau menambah pengetahuan seseorang dan dengan pengetahuan menimbulkan kesadaran yang akhirnya seseorang akan berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.Itulah mengapa validitas dan kebenaran informasi menjadi sesuatu yang vital. Salah satu kisah tragis dalam sejarah modern adalah bahwa perang Irak terjadi berdasarkan informasi intelijen yang salah, sebagaimana yang telah diakui oleh Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair dua belas tahun pasca perang tersebut. Menteri propaganda Nazi, Joseph Goebbels, menyatakan bahwa kebohongan yang dikatakan berulang-ulang akan dianggap sebagai kebenaran.
 
Cara sederhana menelusuri berita

Yang pertama dilakukan ketika menemukan informasi baru dan tak ada sumbernya adalah bertanya kepada si pemberi informasi. “Sumber dari mana?”. Jika ia tak bisa mengatakan dan hanya menjawab copy paste, maka langkah berikutnya adalah googling. Ya, tulis saja kata kunci yang terkait dengan informasi. Misal ketika heboh berita seorang remaja Arab selfie dengan jenazah kakeknya, saya mengetik ‘Arabian teenager selfie with his dead grandfather’ dan muncullah sederet artikel dari situs terkait. 

Monday, November 9, 2015

Resensi Buku : Pesantren Impian

Sumber gambar : Goodreads
Pesantren Impian. Asma Nadia, siapa yang tak kenal dengan penulis produktif yang telah menghasilkan 50 karya ini. Awalnya, saya tak menyangka bahwa buku bergenre thriller religi ini mampu menghadirkan sebuah rentetan kisah yang sedemikian legit untuk dibaca. Bagaimana tidak, Asma Nadia ‘terlanjur’ membentuk imaji sebagai seorang penulis nonfiksi dan fiksi yang sarat akan kisah mengharubiru tentang perempuan dan pernikahan, sebut saja seperti serial Catatan Hati, Assalamu’alaikum Beijing, dan Surga yang Tak Dirindukan. Namun, buku setebal 292 halaman ini lahap terindera hanya dalam waktu satu setengah jam saja, tak lain karena kepiawaian bertutur sang penulis dan ketegangan yang dihadirkannya.

Siapa yang Tak Memiliki Masalah? Siapa yang Tak Memiliki Dosa?
Lima belas remaja putri dan putra dengan masa lalu kelam menerima undangan misterius untuk menetap di Pesantren Impian, sebuah tempat rehabilitasi yang terletak di sebuah pulau yang bahkan tak tercantum di dalam peta. Novel ini dibuka dengan tiga cuplikan peristiwa yang menimpa tiga orang gadis di tempat berbeda : “si Gadis” yang melakukan pembunuhan atas seorang laki-laki di sebuah kamar hotel, Rini yang mencoba mengakhiri hidupnya lantaran menjadi korban pemerkosaan dan mengandung janin yang tak pernah diinginkannya, dan Sissy si ‘gadis pesta’ yang telah lama mengakrabi dunia obat terlarang.

Bersama kedua belas gadis lainnya, mereka kemudian berupaya untuk mengubur masa lalunya dalam-dalam. Pesantren Impian, itulah nama yang tersemat dari sebuah tempat di mana para pendosa ingin bersimpuh merangkai taubat. Sebuah pondok pesantren dengan fasilitas lengkap yang dimiliki oleh sesosok misterius yang kerap dipanggil dengan nama Teungku Budiman. Semisterius rentetan peristiwa yang kemudian terjadi di Pesantren Impian.

Friday, November 6, 2015

5 Penyebab Gagal Diet

sumber gambar : infonutrisi.com
Tempo hari saya telah membahas mengenai Diet Mayo. Diet secara istilah didefinisikan oleh KBBI sebagai “aturan makanan khusus untuk kesehatan dan sebagainya” atau secara awam dimaknai sebagai “pembatasan asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh”. Meskipun gagal menyelesaikan hingga 13 hari alias gagal diet mayo, ternyata ada hikmah yang bisa diambil yakni munculnya inspirasi untuk menulis hal-hal yang menyebabkan untuk gagal diet. Hehe. Yuk, kita bahas :

1.         Niat diet kurang kuat
Jika Anda pernah mendengar istilah “willpower”, maka diet adalah salah satu hal yang membutuhkan “willpower” tinggi. Artinya, kalau niat tidak teguh, niscaya diet akan gagal. Bagaimana tidak, makan itu enak dan diet itu “menyiksa”. Hehe.

2.         Gagal menahan godaan
Rasa-rasanya, ketika diet semua makanan jadi terlihat lebih enak. Apalagi jika di kantor terdapat beraneka macam makanan mulai dari siomay, nasi padang, hingga kue coklat nan menggoda. Ditambah dengan komentar sekitar yang ‘menggoda’, “Hmm, enak banget lho kuenya,”. Siapkan mental dan iman untuk menahan godaan.

3.         Kurang tepat menentukan jenis diet
Di Indonesia, ada macam-macam jenis diet seperti tidak mengonsumsi nasi, diet mayo, OCD, dsb. Setiap orang (yang tertarik untuk melakukan diet) memiliki preferensi yang berbeda. Misalnya, ada yang bisa tak makan nasi, ada yang harus bertemu nasi, dsb. Memilih diet yang tepat sesuai dengan situasi pribadi akan menurunkan kemungkinan gagalnya diet.

Tuesday, November 3, 2015

The Graph 3 : Software Canggih yang Wajib Dipunyai Para Pelaku Dunia Maya

Pernah merasa punya produk bagus tapi kok susah lakunya?
Pernah merasa sudah promosi kemana-mana tapi kok laku sedikit saja?
Ingin meningkatkan omset penjualan hingga berkali lipat?
Pernah merasa memiliki konten bagus tapi kok pengunjungnya sedikit?
Ingin meningkatkan statistik pengunjung blog?
Ingin menemukan orang di dunia maya yang memiliki banyak kesamaan?
Atau ingin menemukan target pasar potensial?

Sebenarnya saya ragu-ragu mau membagikan rahasia ini. Salah satu alat canggih yang saya gunakan dalam berinteraksi di dunia maya, untuk menunjang jualan dan juga menunjang blogging. Gimana nggak canggih kalau alat ini bisa mengubah Facebook menjadi social search engine.

Coba Anda bayangkan, ada 1,35 miliar pengguna Facebook di seluruh dunia dan ada lebih dari 72 juta pengguna Facebook di Indonesia. Ada 30 miliar konten yang di-posting di Facebook setiap bulan dan terdapat interaksi dengan 900 juta objek (fanspage, group, place, dsb)

Jadi, intinya adalah Facebook tahu semua hal tentang kita. Facebook menyediakan sumber data yang amat berlimpah dan bisa dibilang bahwa Facebook merupakan tempat terbaik untuk melakukan riset.

Dan........ The Graph merupakan alat untuk membantu mengubah ‘hutan belantara’ Facebook sesuai kebutuhan Anda.

Apa Itu The Graph?

The graph is definitely a powerful search tool. Jadi, The Graph ini merupakan software yang di-install di browser Firefox (berupa Firefox addons) dan Chrome (berupa Chrome extensions). Tinggal klik icon the graph di ujung kanan browser maka software ini akan mencari dan mem-filter berbagai kriteria pencarian dengan cepat dan mudah. Yes. Anda dapat menemukan data apapun di Facebook, yang bisa Anda gunakan sebagai dasar untuk menyusun strategi pemasaran (atau strategi lainnya) dalam bertindak di dunia maya.

Cara Kerja The Graph
Klik icon the graph di ujung kanan atas browser, maka akan keluar kotak pencarian seperti ini :
1.     Tentukan kita mau memilih dan memfilter apa atau siapa (people, stories, groups, pages, places, apps, events)

Monday, November 2, 2015

Diet Mayo : Cara Menurunkan Berat Badan Instan


Apakah Anda ingin menurunkan berat badan dalam tempo yang relatif cepat? Diet Mayo bisa menjadi alternatif yang layak Anda coba. Hanya dalam tempo dua minggu, berat badan bisa berkurang hingga delapan kilogram.

Diet mayo menjadi salah satu tren diet di Indonesia sepanjang tahun 2015. Kebetulan dua orang teman mempromosikan tentang diet mayo yang katanya cepat menurunkan berat badan. Teman saya berhasil mengurangi berat badan sejumlah tiga kilogram dalam waktu seminggu. Jadi, apa diet mayo itu? Singkatnya, adalah tiga belas hari makan tanpa garam. Ditunjang juga dengan mengurangi karbohidrat dan memperbanyak protein serta sayuran. 

Singkat cerita, saya kemudian memesan katering diet mayo untuk menyediakan makan siang dan makan malam. Sarapannya dengan teh atau kopi (saya memilih teh karena tak suka kopi) plus satu sendok gula. Menunya apa saja? Beberapa menu antara lain :

1.         Pasta disertai sayuran rebus dan agar-agar (ini yang paling enak menurut saya)
2.         Pepes tahu, kentang kukus, acar dan strawberry
3.         Ayam rica-rica, ubi rebus dan tumis buncis
4.         Puding buah plus susu Ultra plain low fat

Pertama, mencoba masakan katering, hmmm lumayan. Ada rasa asin sedikit (yang jelas bukan asin garam), pedas, walau tak dapat dipungkiri bahwa masakan tanpa garam itu rasanya hambar. Hasilnya? Dalam lima hari berat badan saya turun lima kilo.

Tapi….
Kemudian saya menyerah. Hanya bertahan enam hari dietnya lantaran merasa hampa dan tak bahagia hidup tanpa garam (agak lebai sih tapi rasanya demikian). Jadi, ya sudahlah. Kalau gagal diet mayo di tengah jalan (sebelum 13 hari) artinya harus mengulang dari awal.

So, wanna try? Beneran lho bisa cepat langsing dengan diet ini (tapi harus dipertahankan dengan pola makan sehat dan olahraga ke depannya ya hehe)

Atau ada yang sudah pernah mencoba? Boleh dibagi pengalamannya :) 

PS : Katering diet mayo yang saya coba ini termasuk murah untuk ukuran Jakarta (berdasarkan perbandingan dengan beberapa katering penyedia diet mayo lainnya). Harga per paket (10 hari kerja, sehari dua kali makan) Rp750rb.

Disclaimer :
Saya tidak tahu efek dari segi kesehatannya (yang jelas sih saya baik-baik saja hehe). Silahkan jika ada yang menambahkan