Sunday, May 24, 2015

Tidak Tahu Bagaimana Caranya Tetapi Akan Ke Sana


Anggap saja cerita berawal dari ‘perburuan’ dosen pembimbing skripsi. Sekitar bulan Oktober tahun lalu, batas akhir penyerahan proposal skripsi (tentunya disertai persetujuan dosbing) tinggal seminggu lagi. Saya sudah mengantongi satu nama calon dosbing yang kira-kira bersedia membimbing, tinggal menunggu beliau datang dari Jepang (kebetulan saat itu beliau sedang mengikuti short course) menyetujui calon judul skripsi saya. Voila, ternyata karena satu dan lain hal, beliau tidak bisa menjadi pembimbing saya. Hari itu hari Senin malam dan nama dosbing beserta proposal harus sudah ada maksimal pada Jum’at sore. Proposal sudah saya buat, tetapi dosbing belum ada, sementara dosbing tentunya harus menyetujui proposal tersebut. Panik, saya mencoba tetap tenang. Aduh, tinggal empat hari lagi.

Tidak tahu bagaimana caranya, saya pasti akan dapat dosbing sebelum Jum’at

Calon dosbing lain yang saya hubungi ternyata tidak bisa. Ada yang sedang tidak menerima mahasiswa bimbingan, spesialisasi beliau ternyata berbeda dengan calon judul skripsi saya (sementara saya tak mau ganti judul), dsb. Akhirnya, saya mendatangi salah satu dosen untuk meminta saran kira-kira siapa yang bisa membimbing saya dengan judul yang saya ajukan. Saya sama sekali tak berharap bahwa dosen yang saya datangi itu akan menjadi dosbing saya, karena ada semacam aturan di kampus bahwa satu dosen maksimal membimbing enam mahasiswa penyusun skripsi. Saya ceritakan proposal skripsi saya dan sama sekali tak disangka, beliau berkata, “Yawda, sama saya saja,”

What? Saya sama sekali tak menyangka beliau bersedia. Mengingat beliau salah satu dosen pembimbing terfavorit dan ‘kuota’ mahasiswa bimbingan beliau sudah enam orang.

Singkat cerita, beliau lah yang menjadi pembimbing saya, lepas dari saya harus mengajukan permohonan ke pimpinan tertinggi di kampus untuk menjadi mahasiswa bimbingan beliau (terkait ‘kuota’ yang sudah penuh tadi). 

Saya percaya apabila kita menginginkan sesuatu kebaikan, Allah akan membantu kita. Dengan cara yang terkadang tak terduga. Di luar nalar kita. Keyakinan ini yang coba saya pegang erat.

Pada saat kuliah D-III, saya memasang target IPK minimal 3,5. Saya bukan mahasiswa pintar yang kritis. Bukan tipe orang yang pertama dapat materi pelajaran langsung paham, saya harus mengulang-ulang. Bukan pula tipe yang bisa memecahkan sesuatu hal yang baru. I think i’m just mediocre. Tapi saya yakin saya bisa mencapai target yang saya tetapkan. Entah bagaimana caranya. 

Bismillah. I trust Allah

Dan alhamdulillah, target itu tercapai. Begitu pula saat kuliah D-IV, kali ini saya memasang target IPK minimal 3,6. Saya tak tahu bagaimana caranya, percaya saya, insya Allah bisa. Bukan tipe mahasiswa yang pintar-pintar amat, jarang bisa berpikir out of the box, suka pusing membaca materi akuntansi, blabla. Intinya, saya merasa sebenarnya target saya ketinggian. Tetapi, bismillah saja. Alhamdulilah tercapai.

Perkara hasil, itu urusan Allah. Saya meyakini hal itu. Mendapatkan hasil yang bagus bukan berarti saya pintar. Bisa jadi, Allah meridoi hasil bagus itu lantaran rido dengan doa ibu saya, rido dengan orang yang mendoakan saya, atau pas sedekah dan kemudian dibalas dengan kebaikan itu atau hal-hal lain yang menyebabkan Allah rido dengan hasil itu. 

He found you misguided and He guides you (Q.S 93:6)

Pernah pada suatu ujian Auditing, saya benar-benar blank. Sepuluh menit pertama habis hanya untuk membolak-balik soal. Ya Allah, apa ini, saya tak paham. Keringat dingin mulai bercucuran. Mencoba tenang, saya menghirup nafas dalam-dalam. Merapal doa “Allahumma arinal haqqo haqqon warzuqnat tiba’ah, wa arinal bathila bathilan warzuqnat tinabah” berulang-ulang. Ya Allah, tunjukkan pilihan mana dari pilihan ganda ini yang benar. Alhamdulillah, kemudian diberi kemantapan untuk memilih.

Begitu pula, flashback saat UAN Matematika SMA. Seperti ada ‘tangan gaib’ yang menuntun saya. Saya bisa mengerjakan soal yang menurut saya susah dengan penyelesaian yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya. Seperti tangan saya bergerak sendiri menggunakan rumus yang tak pernah saya pakai. Alhamdulillah. 

Saya tak tahu bagaimana caranya meraih mimpi demi mimpi yang saat ini terasa mengambang di langit. Saya hanya PNS biasa, dari keluarga biasa. Tak punya kemampuan di atas rata-rata.

Tetapi saya meyakini saya akan sampai ke sana. Memeluk mimpi demi mimpi yang saat ini menyesakkan dada. Tak tahu bagaimana caranya, tetapi saya yakin saya akan sampai ke sana.

Because I have Allah and I trust Him

Bagi-Nya semua mudah karena Dia-lah sang pemilik segala. Berdoalah kepada-Ku, niscaya Ku perkenankan bagimu. Bukankah demikian firman-Nya? Lalu mengapa ragu?

Yakin saja. Meski saat ini terasa gelap, tak tahu arah mana yang akan membawa
Yakin saja. Meski diri ini begitu lemah, rapuh dan penuh kekurangan
Yakin saja. Meski banyak orang mencibir dan menyangsikan
Yakin saja. Ya yakin saja. Yakin saja. Gigit erat keyakinanmu

Bismillah. Berwasilah dengan niat baik dan upaya terbaik. Semoga Dia rido. Memberikan apa yang menjadi mimpi-mimpi. Atau bahkan dibalas lebih baik, lebih baik, lebih baik. Mudah saja bagi-Nya.

Allahumma laa sahla illa maa ja'altahu sahlaa, wa anta taj'alul hazna idza syi'ta sahlaa

Bi’idznillah

*ditulis untuk menguatkan keyakinan dan azzam, semoga*
*judul ini diakhiri dengan 'insya Allah' dan 'bi'idznillah*

4 comments:

  1. Bismillah than bi'idznillah :) keep writing..

    ReplyDelete
  2. ALHAMDULILLAH
    keep writing mons

    ReplyDelete
  3. Aaaaaak, bagus banget, Mon. Emang harus yakin dan percaya sama Alloh. Harus!

    ReplyDelete