Wednesday, September 23, 2015

Cinta Di Atas Cinta, Holycow dan Kesalehan Sosial

Alkisah, puluhan tahun nabi Ibrahim as bersabar menunggu kehadiran seorang anak. Hingga akhirnya, lahirlah Ismail dari rahim Siti Hajar, istri kedua, ketika nabi Ibrahim berusia delapan puluh tahun. Kesabaran nabi Ibrahim kembali diuji ketika beliau diperintahkan Allah SWT untuk meninggalkan anak yang telah dinantinya puluhan tahun, Ismail, beserta sang ibu di bukit Shafa yang gersang dan tandus, terpisah begitu jauh dari nabi Ibrahim yang tinggal di Palestina. Bertahun menahan rindu sebelum akhirnya bertemu, kesabaran nabi Ibrahim tak henti duji, dengan perintah untuk menyembelih Ismail. Namun, cinta Ibrahim kepada Tuhannya melebihi cintanya kepada sang buah hati, dilakukannya perintah itu. Lalu, Allah SWT mengganti Ismail, tatkala pisau telah tajam telah menggesek lehernya, dengan seekor gibas (domba).

Bagi sebagian orang, lezatnya steak Holycow misalnya, bukanlah hal yang ‘luar biasa’. Bukan hal yang memberatkan untuk merogoh kocek sekian puluh atau ratus ribu untuk sekali menyantap hidangan favorit. Santapan dengan menu daging bisa jadi merupakan hal yang jamak sehari-hari. Namun bagi sebagian orang lainnya, daging merupakan hidangan mewah yang dinikmati amat jarang, pendek kata bisa makan saja merupakan sesuatu yang amat disyukuri.

Jika Idul Fitri didahului dengan tiga puluh hari puasa wajib Ramadhan, maka Idul Adha didahului dengan sembilan hari puasa sunnah. Sejatinya, dengan puasa umat Muslim selain diharapkan mampu menjadi orang yang bertakwa dengan mengendalikan hawa nafsunya, juga diharap mampu berempati dengan orang-orang yang ‘berpuasa’ lantaran tak memiliki cukup uang untuk membeli makanan. Hari raya adalah keriangan, ketika orang-orang merayakan kemenangan di bulan Ramadhan, turut berkurban sebagian harta melalui hewan sembelihan hingga suka cita orang-orang menikmati lezatnya daging.

Momentum Idul Adha patut untuk menjadi refleksi diri, apakah cinta kepada Allah melebihi cinta pada harta. Mengeluarkan dua setengah juta untuk  membeli tiket konser, misalnya, apakah lebih mudah dibandingkan dengan mengeluarkan jumlah yang sama untuk membeli hewan kurban. Malu, jika seorang pemulung mampu berkurban dua ekor kambing dengan menyisihkan pendapatannya selama tiga tahun, sementara yang bergaji sebulan berlipat dari harga kambing tidak mampu (atau tidak mau) untuk melaksanakan ibadah sekali setahun ini. Adakah yang lebih indah daripada iman di dada?

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (Terjemahan QS. Al Hajj: 37)

Selamat Hari Raya Idul Adha


Referensi :
1.       Kisah Ibrahim disarikan dari materi yang disampaikan ketika liqo. Jika ada yang kurang tepat mohon dikoreksi

2.       http://www.dakwatuna.com/2012/10/27/23742/setelah-menabung-3-tahun-pemulung-itu-pun-berqurban-2-kambing-terbesar/

No comments:

Post a Comment