Tuesday, September 29, 2015

"Enak Nggak Kerja di Kemenkeu?"

Menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) atau sekarang disebut sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara) bukan merupakan cita-cita saya. Namun, jalan hidup membawa saya berada di sebuah gedung di dekat Monas, menghabiskan setidaknya sepuluh jam sehari. Kementerian Keuangan, tempat saya mencari penghidupan dan belajar.

Entah sudah berapa banyak pertanyaan yang sama dialamatkan, "Enak nggak kerja di Kemenkeu?" Saya tak bisa menjawabnya. Enak dari segi apa? Bagaimana? Secara pendapatan, bisa dibilang alhamdulillah cukup untuk hidup di Jakarta (walau rasanya tak bisa dibilang berlebih, kecuali mungkin jika bekerja di Ditjen Pajak dan kebetulan saya tidak). Dilihat dari kesempatan belajar, cukup banyak beasiswa dengan beberapa aturan yang membatasi (misal, baru boleh kuliah S1 setelah melewati dua tahun dari pengangkatan PNS dan itu lama). Dilihat dari jenjang karier, hmm, saya belum tahu, saya belum pernah berpikir mengejar karier untuk promosi. Dilihat dari kecemasan, saya cemas jika harus dimutasi (apalagi kalau jauh). Apalagi ya...

Orang Jawa berkata, "Urip iki sawang sinawang," (hidup itu saling memandang) atau secara istilah dapat diartikan bebas sebagai "Saya memandang hidupmu enak dan kamu memandang hidup saya enak," Saya memandang bahwa menjadi pegawai swasta enak lantaran gaji besar tidak terikat birokrasi sementara teman saya yang di swasta malah ingin menjadi PNS dan iri dengan saya. Rumput tetangga selalu lebih hijau bukan?

Yang jelas, apa yang ada saat ini saya syukuri. Saya bersyukur memiliki pekerjaan tetap yang cukup untuk hidup, bisa menjadi pegawai negeri dengan jalan terhormat, bisa kuliah dibiayai negara (gratis penuh) selama lima tahun, bersyukur dengan apa yang ada sekarang.

Walau saya tak tahu apa yang akan terjadi di depan nanti ya

Kadang-kadang saya temui orang-orang yang mengeluhkan tentang instansi bekerja di media sosial, bahkan terkadang keluh kesahnya 'keterlaluan'. Prinsip saya begini, "Take it or leave it," Kalau tak suka ya tinggalkan. Atau kalau belum bisa meninggalkan ya setidaknya diam saja, atau mengeluh sama teman dekat saja lah, tak perlu mengumbar di media sosial. Sederhana saja, jangan meludah di sumurmu sendiri :)

So, how's your job? Do you love it?

5 comments:

  1. i love my job tapiii pengen pindah kotanya hahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga segera dipertemukan dengan suami ya nin :*

      Delete
  2. saya bosen sama kerjaan di kantor, tapi kalo resign mesti bayar ganti rugi, jadi ya ditahan2 dulu lah sampe habis ikatan dinas :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama mba.. klo resign sy kudu bayar 50jt hiks

      Delete
  3. , "Urip iki sawang sinawang," (hidup itu saling memandang) atau secara istilah dapat diartikan bebas sebagai "Saya memandang hidupmu enak dan kamu memandang hidup saya enak,"

    Setuju banget.. padahal "syukuri apa yang ada" katanya lebih enak ya mbak

    ReplyDelete