Friday, October 23, 2015

[Movie Review] 3 (Alif, Lam, Mim)

Bagaimana jika negara Indonesia menjadi negara liberal tanpa agama? Bagaimana jika negara dianggap sebagai sumber kekacauan?

Jakarta tahun 2036.Ketika hak asasi manusia merupakan hal yang didewakan, Indonesia menjadi sebuah negara liberal. Salat di tempat umum dianggap sebagai suatu hal yang aneh, taat beragama dianggap sebagai sebuah simbol kekolotan. Masjid berubah menjadi gudang, pondok pesantren diberangus, orang-orang yang menggunakan simbol agama dicap sebagai teroris. 

Adalah Alif (diperankan oleh Cornelius Sunny), seorang penegak hukum yang berupaya menjunjung tinggi keadilan. Kariernya yang cemerlang menjadi ternoda dengan tuduhan menggunakan peluru tajam, sesuatu yang dilarang di masa itu, tatkala ia berhadapan dengan sang kriminal. Ia bersahabat karib dengan Herlam (diperankan oleh Abimana Aryasatya), seorang jurnalis cerdas di kantor berita Libernasia. Suatu kejadian pemboman di sebuah kafe  yang diduga dilakukan oleh sekelompok orang berjubah membawa Alif kepada Mimbo (diperankan oleh Agus Kuncoro), sahabat karibnya ketika berguru di Pesantren Al Ikhlas bersama dengan Herlam yang kini menjadi pengurus pesantren tersebut. Konflik pertama dalam film ini adalah perseteruan antara dua sahabat, Alif dan Herlam, yang kini berada di dua kubu berseberangan.

Bisa dibilang, film berdurasi 122 menit ini bergenre action dengan efek visual yang keren. Pesan demi pesan religi dikemas secara bernas melalui dialog atau laku para tokoh. Tengoklah misal ketika Herlam sang jurnalis ditegur oleh bosnya lantaran melakukan salat sementara ia bekerja di sebuah media liberal yang melepaskan diri dari simbol agama. Ia menjawab, “Apa urusannya tulisan saya dengan salat?”

Atau ketika akhirnya Kyai Mukhlis pemimpin utama pondok pesantren dengan suka rela ‘menyerahkan diri’ dengan adanya surat penangkapan yang dibawa oleh Alif, ia mengatakan ketundukannya pada aturan negara. Pun ketika sang kyai memiliki kesempatan untuk ‘melarikan diri’ di tengah kacaunya suatu peristiwa, ia tak menggunakannya.


Inilah film yang pada awalnya terasa “abu-abu”. Siapakah yang salah? Siapakah yang benar? Bagaimana kejadian yang sebenarnya? merupakan intrik legit yang disajikan kepada para penonton. Penonton akan dibuat tercengang mengetahui fakta di akhir film, ketika semua telah terungkap. Disajikan dengan sedikit bumbu drama melalui pengungkapan kisah cinta Alif dan Laras (diperankan oleh Prisia Nasution) yang menjadi pemeran kunci tak terduga, Anggy Umbara sang sutradara mampu menghasilkan sebuah karya yang ciamik dalam hal visual, pesan moral dan penceritaan. Kekuatan film ini juga ditunjang oleh akting menawan para tokoh utama, juga tokoh 'penjahat' yang muncul di akhir yang membuat greget dengan mimik muka dan caranya berbicara. Two thumbs up!

Jujur, saya mengetahui informasi tentang film ini dari akun Indonesia Tanpa JIL yang saya anggap tak sembarangan memberikan rekomendasi. Nyatanya, film ini benar-benar memukau dan amat layak Anda tonton. Film ini sejatinya mengangkat sebuah hadits bahwa Islam muncul dari keadaan asing dan akan berakhir dalam keadaan asing, sebuah hal yang mengerikan bila agama dikesampingkan.

Bagi Anda yang tertarik menyaksikan (dan juga berdomisili di Jakarta), bisa nonton bareng di Epicentrum Walk XXI Kuningan pada hari Minggu, 1 November 2015 dengan komunitas Indonesia Tanpa JIL dan RISKA (Remaja Islam Sunda Kelapa) melalui registrasi terlebih dahulu (lebih lengkapnya silakan cek postingan Indonesia Tanpa JIL). Film ini sungguh merupakan sebuah sajian segar di tengah film yang mengaku-ngaku menjunjung Islam atau berisi pesan hubungan sesama jenis. 

Tonton trailer film 3 berikut :

3 comments:

  1. Jadi penasaran dan pengen nonton... sekarang film Indonesia sudah banyak yg bagus ya mbak. Alhamdulillah.

    ReplyDelete
  2. pengen nonton film iniiiiii.... tapi ga tayang di bioskop. denger kabar katanya filmnya ditarik

    ReplyDelete
  3. Mungkin terlalu ekstrim fantasinya sutradaranya. Agak bertolak belakang / kontradiksi dgn perkembangan pesat Islam yg sehat di Indonesia.

    ReplyDelete