Wednesday, October 7, 2015

Travel Writing Ala Agustinus Wibowo


Travel Writing Ala Agustinus Wibowo. Di depan saya, berdiri seorang lelaki berkacamata. Perawakannya sedang dengan tinggi sekitar 160-an sentimeter. Memiliki wajah innocent, lelaki tiga puluh empat tahun ini tak nampak seperti petualang yang telah menaklukkan daerah jauh dan berbahaya seperti Afghanistan. Siapa nyana, ia telah menjelajah negeri-negeri nun jauh di sana, negeri yang barangkali tak dilirik sebagian besar orang untuk disinggahi. Pengalamannya tiga tahun tinggal di Afghanistan menghasilkan buku berjudul Selimut Debu, petualangannya menjelajahi berbagai negara Asia Tengah pecahan Uni Soviet terangkum dalam Garis Batas dan perjalanan panjangnya selama sepuluh tahun menghasilkan makna hidup mendalam sebagaimana ia kisahkan dalam Titik Nol. Ya, ialah Agustinus Wibowo, sosok yang disebut sebagai pionir dalam penulisan narasi perjalanan dengan gaya nonfiksi kreatif. 
 
Gus Weng, begitu lelaki asal Lumajang ini akrab disapa, merupakan anak laki-laki rumahan yang hampir tak pernah melakukan perjalanan jauh dari rumahnya hingga duduk di bangku kuliah. Perjalanan jauhnya dimulai ketika ia berkuliah di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya selama satu semester sebelum pindah ke Universitas Tsing Hua, salah satu universitas terbaik di China. Ia memulai perjalanan ketika liburan musim panas menuju Afganistan, tak lain karena Afganistan merupakan negara yang ramah untuk kantong mahasiswanya kala itu. Saat ini, ia telah memenuhi cita-cita masa kecilnya : menjadi seorang turis. 

Dari Engineer Menjadi Traveler : Satu Titik yang Mengubah Hidup 

Ia telah menyelesaikan pendidikan ilmu komputer sebelum memutuskan untuk menjadi seorang traveler. Satu titik yang mengubah hidupnya adalah ketika pada bulan Januari 2015 ia menjadi relawan lepas bencana Tsunami yang menimpa Aceh. Di sana, ia tidak menemukan keputusasaan dan air mata. Yang ia temui adalah orang-orang yang tak berhenti mengucap syukur, bahwa apa yang dianggap manusia sebagai sebuah bencana merupakan cara Tuhan membuat hidup lebih baik. Dari sanalah, ia memutuskan melakukan perjalanan untuk menemukan pertanyaan-pertanyaan dalam hidup.

Tulisan Perjalanan Adalah Tentang Cerita

Apakah yang dimaksud dengan tulisan perjalanan (travel writing)? Sederhananya, tulisan perjalanan adalah tulisan tentang tempat. Akan tetapi, jika tulisan itu hanya tentang tempat, ia hanya akan menjadi tulisan mati. Tulisan perjalanan adalah tentang cerita. Bagaimana sang musafir mendengar cerita tentang suatu tempat, orang-orang yang ditemuinya di tempat yang ia singgahi serta kemudian membagikan cerita yang telah dirangkumnya.

Bagi Gus Weng, merupakan suatu hal yang ironi bahwa kita mengetahui sejarah bangsa sendiri melalui orang asing, sebut saja Marcopolo yang menuliskan tentang Pulau Jawa. Baginya, bangsa yang besar adalah bangsa yang bukan hanya mengetahui sejarah melainkan juga mampu menuliskannya. Tentu, bagaimana orang asing melihat kita dengan bagaimana kita melihat diri kita akan berbeda.

Tulisan Perjalanan Bukan Sekadar Panduan

Panduan perjalanan berisi bagaimana untuk sampai ke suatu tempat, apa saja yang ada di tempat yang dituju, dan sebagainya. Menggabungkan cerita dengan panduan merupakan hal yang penting dalam menyusun tulisan perjalanan. Berikut tips bagaimana menggabungkan cerita dengan panduan :
1.         Akurasi adalah hal yang paling penting
Sekaligus merupakan  tantangan paling sulit dalam menulis. Mengapa? Karena, kita tidak dapat bersaing dengan internet.
2.         Objektivitas dan berjarak
Sebisa mungkin, unsur pengalaman pribadi penulis dikurangi.
3.         Informatif
4.         Riset
Pentingnya riset dalam menulis sebuah cerita perjalanan. 
5.         Menulis sesuai media (buku/blog/majalah)
Terdapat tipikal penulisan yang berbeda pada media penulisan berbeda, misal pada buku/blog/majalah. Penting juga untuk menyesuaikan target pembaca, misal majalah traveling sosialita dengan backpacker tentu akan menggunakan penulisan yang berbeda.

Good Writing Comes from Good Travel and Good Travel from Good Purpose

Bagi Gus Weng, perjalanan yang ia lakukan merupakan perjalanan untuk menjawab pertanyaannya. Ia tak sekadar jalan-jalan untuk memenuhi paspornya dengan cap. Saat ia melakukan perjalanan ke negara-negara Asia Tengah (negara berakhiran –stan seperti Tajikistan, Kirgistan, Turkmenistan), ia ingin menemukan jawaban mengapa terdapat garis batas antar negara yang pada awalnya satu. Saat ia menjelajah Papua Nugini, ia ingin menemukan jawaban mengapa negara yang notabene dekat secara geografis dengan Indonesia terasa amat asing. 

Terdapat lima kriteria perjalanan yang baik menurut laki-laki yang menguasai belasan bahasa dari perjalanannya ini : 1) Traveling with purpose, 2) Lakukan komunikasi selama perjalanan, 3) Lakukan observasi dalam perjalanan, 4) Adanya sudut pandang baru, 5) Keterbukaan. 

Namun, hal yang perlu digarisbawahi adalah perjalanan yang baik tidak terkait dengan jauh dekatnya tujuan dari tempat kediaman. Gus Weng mencontohkan Bill Bryson, seorang penulis Inggris terkemuka yang mampu menuliskan buku setebal 500 halaman tentang ‘perjalanan’ rumahnya, dengan melintasi waktu dan menggunakan berbagai sudut pandang. 

Tulisan Perjalanan Sebagai Sebuah Karya Nonfiksi Kreatif

Teknis membuat penutup sebuah tulisan (dokumentasi pribadi)
Tulisan perjalanan sebagai sebuah karya nonfiksi kreatif mengandung rumusan bahwa narasi perjalanan dihasilkan dari fakta yang digabungkan dengan cerita. Cerita digunakan untuk membangkitkan imajinasi pembaca. Jika fiksi adalah bacaan yang asyik sementara nonfiksi merupakan bacaan yang mengandung kebenaran, maka nonfiksi kreatif haruslah asyik sekaligus benar.  

Tulisan perjalanan terdiri dari deskripsi, narasi dan kontemplasi. Hal yang mampu membuat cerita menarik adalah kemampuan penulis untuk mengaitkan perjalanan pribadinya dengan pembaca. 

Contohnya adalah buku  terkenal “Eat, Pray, Love” yang merupakan sebuah buku perjalanan tentang jatuh cinta. Ketika menulis cerita, unsur manusia amatlah penting, penulis seyogianya mampu untuk lebih kreatif dalam menggali angle. Selain itu, kontemplasi merupakan unsur yang penting dalam sebuah tulisan perjalanan. Kontemplasi merupakan hasil perenungan sang musafir yang ia bangun pelan-pelan.

Salah satu hal yang amat penting dalam menyusun tulisan perjalanan adalah observasi. Mengapa? Karena dengan observasi, penulis akan mampu melihat apa yang orang lain tidak lihat. Observasi dilakukan tidak hanya dengan mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar saja, tetapi juga observasi yang baik akan menggunakan semua panca indra. 

Menuliskan Perjalanan Adalah Perjalanan Itu Sendiri

Bagi Gus Weng, adalah jauh lebih mudah untuk melakukan perjalanan daripada menuliskannya. Baginya, menuliskan perjalanan adalah perjalanan itu sendiri. Terdapat dua nasihat penting yang disampaikannya : 1) Sebelum menulis, jangan buru-buru menulis, 2) Sebelum mulai menulis, buatlah tema (simpulkan dari satu kalimat) dan kerangka (jenis cerita, harapan pembaca dan pesan yang ingin disampaikan)

Kunci Menulis Bagus Ala Agustinus Wibowo

Yang pertama adalah berikan izin pada dirimu sendiri untuk menulis jelek. 90% first draft is rubbish. Writing is revising. Konon, Agustinus Wibowo melakukan lebih dari 20 kali revisi sebelum mempublikasikan buku ketiganya yang berjudul “Titik Nol”.

Dua hari berjumpa dengan laki-laki ramah ini terasa kurang. Ia tak segan-segan untuk membagikan ilmu yang dimilikinya kepada para audiens. Berbagai teknik menulis ia jabarkan, lengkap dengan contoh yang komprehensif dan mudah dipahami. Auranya positif dan memancarkan antusiasme tinggi. Tak heran, jika ia mampu melakukan perjalanan yang tak semua orang mampu melakukannya.

---

Apresiasi tinggi untuk acara Smesco Netizenvaganza yang telah mempertemukan saya dengan Agustinus Wibowo dan tidak memungut biaya

6 comments:

  1. Selalu kagum dengan travel writer. Krn menurutku, fokus pada tema, kerangka tulis, belum lagi observasi yg tajam ketika travelling itu susah dan ngga semua orang mampu. Untuk observasi saja butuh kepekaan dan rentang perhatian yang baik.

    Selama baca artikel ini aku speechless :D dan dari pemaparan mba Monik bahwa mas Gus Weng dapat menyampaikan hal rumit dengan bahasa yg mudah berarti emang orgnya cerdas bingit ya hehe.

    Terima kasih banyak artikelnyaa :D sangat bermanfaat

    ReplyDelete
  2. Perjalanan memang tak semudah menuliskan perjalanan itu sendiri. Tetapi lebih menyenangkan membaca kembali perjlanan itu drpd mengingatnya di memori. Salut dah buat Gus Weng. Terimakasih mba infonya. Tulisannya bagus

    ReplyDelete
  3. Perjalanan memang tak semudah menuliskan perjalanan itu sendiri. Tetapi lebih menyenangkan membaca kembali perjlanan itu drpd mengingatnya di memori. Salut dah buat Gus Weng. Terimakasih mba infonya. Tulisannya bagus

    ReplyDelete
  4. wah! ternyata background mas agustinus wibowo dari IT juga? sama kayak saya dong :D btw, mas agustinus wibowo ino salah satu penulis favoritku :)

    ReplyDelete