Sunday, November 15, 2015

Yuk, Menelusuri Sumber Berita : Bijak dalam Menerima Informasi


Kita hidup di zaman ketika informasi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Percakapan BBM, Whatsapp, Line, beranda Facebook, linimasa Twitter, postingan Path menjejali otak dengan beraneka ragam informasi. Entah mulai dari tulisan copy paste hingga hasil screenshot. Entah opini, fakta atau hoax. Deras.

Overloaded informations, yet, possibly asymmetric ones

Yang pertama muncul di kepala saya ketika mendapatkan sebuah informasi baru adalah apakah ada sumbernya?. Bisa dibilang lebih banyak tulisan tak mencantumkan sumber. Entah karena itu dianggap tak penting, tak tahu sumbernya, atau alasan lainnya. Tulisan tak ada sumbernya bisa dibilang diragukan validitasnya. Siapa yang berbicara tidak diketahui, entah itu tulisan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya juga tidak diketahui. Pokoknya sebarkan tulisan yang dianggap menarik. Pentingnya sumber selain itu mengetahui validitas informasi juga untuk mengetahui kapasitas si pemberi informasi. Dokter tentu merupakan sumber yang bisa dipercaya ketika ia berbicara mengenai masalah kesehatan, tetapi seorang pakar keuangan tentu lebih berkapasitas ketika berbicara tentang perencanaan keuangan rumah tangga. 
 
Informasi merupakan hal yang amat penting dan berharga karena informasi merupakan sumber dari pengambilan keputusan. Atau minimal informasi merasuk ke dalam cara pandang dalam melihat suatu hal. Dikutip dari laman Wikipedia, Notoatmodjo (2008) mengatakan bahwa semakin banyak informasi dapat memengaruhi atau menambah pengetahuan seseorang dan dengan pengetahuan menimbulkan kesadaran yang akhirnya seseorang akan berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.Itulah mengapa validitas dan kebenaran informasi menjadi sesuatu yang vital. Salah satu kisah tragis dalam sejarah modern adalah bahwa perang Irak terjadi berdasarkan informasi intelijen yang salah, sebagaimana yang telah diakui oleh Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair dua belas tahun pasca perang tersebut. Menteri propaganda Nazi, Joseph Goebbels, menyatakan bahwa kebohongan yang dikatakan berulang-ulang akan dianggap sebagai kebenaran.
 
Cara sederhana menelusuri berita

Yang pertama dilakukan ketika menemukan informasi baru dan tak ada sumbernya adalah bertanya kepada si pemberi informasi. “Sumber dari mana?”. Jika ia tak bisa mengatakan dan hanya menjawab copy paste, maka langkah berikutnya adalah googling. Ya, tulis saja kata kunci yang terkait dengan informasi. Misal ketika heboh berita seorang remaja Arab selfie dengan jenazah kakeknya, saya mengetik ‘Arabian teenager selfie with his dead grandfather’ dan muncullah sederet artikel dari situs terkait. 

Selanjutnya, jika telah menemukan artikel di internet (bukan sekadar postingan di Whatsapp misalnya), cek sumber dari tulisan di situs itu. Setelah paragraf terakhir akan ada keterangan yang menunjukkan sumber darimana berita dikutip (jika situs tersebut bukan sumber pertama). Telusur sumber pertama tersebut dengan dikombinasikan dengan kata kunci terkait. Mengetahui sumber pertama informasi akan menjadi salah satu pertimbangan dalam respon kita terhadap informasi terkait bukan?

Seringkali, informasi yang cepat beredar adalah jika terkait dengan agama. Apalagi jika sebuah informasi disebutkan sebagai sebuah hadits. Perlu dipertanyakan : perawinya siapa? Apa derajat hadits tersebut? Jika tak mampu untuk melacak di kitab hadits atau bertanya kepada ustadz, minimal googling, adakah situs terpercaya yang memberikan informasi terkait dengan apa yang disebut sebagai hadits tersebut.

Menelusuri sumber pertama
Salah satu ‘hobi’ saya adalah menelusuri sumber informasi pertama. Caranya seperti yang saya sebutkan di atas. Ribet? Cara lebih gampangnya adalah mencari tahu di situs resmi atau media sosial dari pihak yang disebutkan di pemberitaan. Contohnya, jika ada artikel tentang kebijakan moneter, crosscheck di situs atau media sosial Bank Indonesia. Jika ada artikel atau pemberitaan tentang kebijakan fiskal, pajak, kekayaan negara, dan hal terkait lainnya tentu akan lebih valid jika informasi tersebut ada di situs Kementerian Keuangan atau terpampang di media sosialnya.

Jika membuka situs Kementerian Keuangan, informasi tak hanya dalam bentuk ‘dokumen asli’ yang membuat kening berkerut. Bayangkan jika membaca 94 halaman RUU APBN 2016, belum tentu mudah dipahami masyarakat. Untungnya dalam situs Kemenkeu, informasi tentang APBN 2016 diringkas lebih mudah dan menarik dalam sebuah infografis, selain itu di halaman beranda situs Kemenkeu juga terdapat banner infografis APBN 2016 di sebelah kanan atas. Tak hanya itu, Kementerian Keuangan merupakan salah satu instansi Pemerintah yang aktif di media sosial. Tengok saja akun Facebook Page, Twitter, Youtube hingga Instagram (at kemenkeuri). Ya, mencari tahu informasi dari sumber pertama menjadi semakin mudah bukan? 

Jika sudah follow atau like akun sumber, maka akan lebih mudah dalam terkoneksi. Semisal, ketika Go Glam Gojek belum resmi dirilis, saya mendapatkan informasi dalam bentuk gambar. Saya pikir itu editan karena ketika itu Gojek belum menginformasikan melalui email sebagaimana biasa dilakukan oleh Gojek jika terdapat informasi baru (salah satu pentingnya subscribe email). Maka, saya pun mengirimkan tweet ke Gojek. Jika terdapat akun dari sumber pertama, mengapa tak bertanya untuk mengklarifikasi bukan?

Setidak-tidaknya kita tak ikut menyebarkan berita yang keliru
Ada gambar yang bagus terkait dengan masifnya informasi yang saya dapatkan dari beranda salah seorang teman. Berikut gambarnya :

Jika malas untuk melakukan semua hal di atas, amat minimal jika kita tak ikut menyebarkan berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Jangan terpancing dengan judul bombastis, apalagi dari situs/blog tidak jelas. Skeptisme profesional (meminjam istilah dalam audit) amat diperlukan dalam menyaring informasi di era bebas seperti sekarang ini. Dan tentu saja, setiap perbuatan kita kelak akan dipertanggungjawabkan bukan?

11 comments:

  1. postingan ini sekalian ngeshare link2 kemenkeu yak :p

    saya mah biasanya udah su'uzhon aja kalo baca berita yang di-share di sosmed. jadinya biasanya langsung googling dan keyword-nya langsung saya tambahin hoax, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau ditambahin 'hoax' mempersempit kata kunci mba :P

      Delete
  2. Iya jama
    Sekarang susah cari informasi yang valid.

    Note. Penting mencantumkan sumber tulisan

    ReplyDelete
  3. bener nih, kita sering man sebar tanpa lihat itu benar atau cuma hoax

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena biasanya keburu heboh dulu jadi langsung sebar hihi

      Delete
  4. Berguna banget nih, soalnya aku suka geram sama yang main asal share berita tapi ngga dikroscek dulu. Yang paling parah kalo udah share, pake komenin yang negatif, cuma baca judulnya aja, eh tulisan atau beritanya salah trus udah terlanjur viral. Naudzubillah malah kesannya kayak menyebar fitnah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya betul mba.. berita hoax bs menjadi fitnah jika bukan kebohongan :(

      Delete
  5. Tabayun itu penting sebelum nge-share suatu berita/isu. Bahkan klo saya menulis tuk postingan blog saya berusaha mencari sumber informasi yg valid. Apalagi klo menyebarkan berita provokatif macam John Roe, ogah ah, Entar kena dosa, mancing2 emosi orang.

    Thanks postingannya Mbak Monika :D
    Great!

    ReplyDelete