Sunday, May 31, 2015

The Social Pressure


Yang namanya manusia sebagai makhluk sosial pasti pernah merasakan yang namanya ‘tekanan sosial’. Entah dalam ‘dosis’ ringan, sedang atau berat, pasti ada saja bentuk komentar atau sikap orang ke kita yang membuat merasa ‘tertekan’. Contohnya, tekanan sosial yang saya hadapi sejauh ini berkisar dengan ‘kok-belum-nikah-sudah-umur-berapa’. Yes, i’m at my 25 and i’m not yet married.  Mulai dari pertanyaan “kapan nikah?” yang sudah saya siapkan berbagai jawaban standar : a) doain aja yaa, b) tunggu aja ya, nanti kalau mau nikah insya Allah aku undang, c) ..


Pertanyaan kapan nikah pun berlanjut menjadi “kenapa belum nikah?” yang tentunya udah saya siapkan jawaban standar pula : a) belum nemu yang cocok, b) nunggu lulus kuliah (sekarang udah lulus jd nggak bisa pakai alasan ini lagi :p), c) ..... Nah, setelah kapan-nikah dan kenapa-belum-nikah akan ada lagi komentar demi komentar seperti :
“Mau nunggu sampai kapan? Umurmu udah 25 lho,”
“Kamu sih terlalu pemilih. Udah, siapa aja yang datang diterima aja,”
“Hari gini belum nikah juga. Kamu mau punya umur anak umur berapa?”
“Itu lho teman seangkatanmu udah pada punya anak dua. Kamu nikah aja belum,”
“Nyari yang kayak gimana sih? Mau nggak aku kenalin sama X?” (kayak gini yang paling mendingan lah ya haha)

And so on.. and so on...

Biasanya, saya senyum-senyum aja sambil bilang “Ya doain aja, pengennya juga segera,”. Namun, tak disangkal jika berbagai komentar itu terkadang memberikan semacam perasaan tertekan. Belum lagi jika ada yang memberi semacam tatapan ‘hari-gini-belum-laku-laku’ juga *sigh. Sometimes i feel how people judge others so easily..

Terus, kalau sudah nikah apakah tekanan sosial bakal berkurang? Nope. Pasti akan ada rentetan pertanyaan ‘kapan-hamil’ blablabla. Seorang teman yang sudah menikah (dan kebetulan belum dikaruniai keturunan) pernah berkata bahwa tekanan sosial yang dirasakan orang yang sudah menikah dan belum dikaruniai anak jauh lebih berat dibandingkan dengan single yang ditanya kapan nikah. “Rasanya pengen aku ‘pites’ orang yang nanya kapan hamil. Itu kan urusan Allah kapan dikasihnya,” 

Err. Jadi teringat pada suatu hari di grup, ada yang nanya ke seorang teman yang baru nikah dua minggu. “Udah isi belum?”. Yes, baru nikah dua minggu saja sudah ditanya. Social pressure starts...

Another social pressure that i feel is... about my weight

Ya, ‘stres skripsi’ kemarin memberikan dampak pada berat badan. Bertambah beberapa kilogram. Lingkungan sekitar mulai berkomentar, “Gendut amat sih sekarang,” “Tambah lebar aja” “Belum nikah udah gendut,”

Awalnya sih berusaha cuek saja dan tersenyum, “he-he-he” lama-lama sambil ngeles, “Efek skripsi ini,”

Yang paling menyebalkan adalah tatapan atau 'senyuman' orang yang seakan-akan ‘mengolok’.
Beberapa komentar memang diberikan karena orang ‘peduli’ sama kita. Namun, rasa-rasanya, ada saja yang berkomentar untuk sekadar ‘kasihan’.
Honestly, I don't need people to feel pity on me

Paling baik sih kalau sesudah berkomentar kemudian membantu atau setidaknya mendoakan. Atau beri komentar yang baik-baik :)

But, yes, of course sometimes we need a slap on our faces :)

Mencoba berprasangka baik bahwa orang-orang yang berkomentar menginginkan kebaikan untuk yang dikomentari. Agar orang yang dikomentari tergerak. Agar orang yang dikomentari melakukan sesuatu.

Although, afterall, anything we do will always be commented...Even, the silence of us

--
Jadi, tekanan sosial apa yang pernah kamu rasakan? And how do you handle the social pressure? Please, don’t hesitate to share your story :)

Sunday, May 24, 2015

Tidak Tahu Bagaimana Caranya Tetapi Akan Ke Sana


Anggap saja cerita berawal dari ‘perburuan’ dosen pembimbing skripsi. Sekitar bulan Oktober tahun lalu, batas akhir penyerahan proposal skripsi (tentunya disertai persetujuan dosbing) tinggal seminggu lagi. Saya sudah mengantongi satu nama calon dosbing yang kira-kira bersedia membimbing, tinggal menunggu beliau datang dari Jepang (kebetulan saat itu beliau sedang mengikuti short course) menyetujui calon judul skripsi saya. Voila, ternyata karena satu dan lain hal, beliau tidak bisa menjadi pembimbing saya. Hari itu hari Senin malam dan nama dosbing beserta proposal harus sudah ada maksimal pada Jum’at sore. Proposal sudah saya buat, tetapi dosbing belum ada, sementara dosbing tentunya harus menyetujui proposal tersebut. Panik, saya mencoba tetap tenang. Aduh, tinggal empat hari lagi.

Tidak tahu bagaimana caranya, saya pasti akan dapat dosbing sebelum Jum’at

Calon dosbing lain yang saya hubungi ternyata tidak bisa. Ada yang sedang tidak menerima mahasiswa bimbingan, spesialisasi beliau ternyata berbeda dengan calon judul skripsi saya (sementara saya tak mau ganti judul), dsb. Akhirnya, saya mendatangi salah satu dosen untuk meminta saran kira-kira siapa yang bisa membimbing saya dengan judul yang saya ajukan. Saya sama sekali tak berharap bahwa dosen yang saya datangi itu akan menjadi dosbing saya, karena ada semacam aturan di kampus bahwa satu dosen maksimal membimbing enam mahasiswa penyusun skripsi. Saya ceritakan proposal skripsi saya dan sama sekali tak disangka, beliau berkata, “Yawda, sama saya saja,”

What? Saya sama sekali tak menyangka beliau bersedia. Mengingat beliau salah satu dosen pembimbing terfavorit dan ‘kuota’ mahasiswa bimbingan beliau sudah enam orang.

Singkat cerita, beliau lah yang menjadi pembimbing saya, lepas dari saya harus mengajukan permohonan ke pimpinan tertinggi di kampus untuk menjadi mahasiswa bimbingan beliau (terkait ‘kuota’ yang sudah penuh tadi). 

Saya percaya apabila kita menginginkan sesuatu kebaikan, Allah akan membantu kita. Dengan cara yang terkadang tak terduga. Di luar nalar kita. Keyakinan ini yang coba saya pegang erat.

Pada saat kuliah D-III, saya memasang target IPK minimal 3,5. Saya bukan mahasiswa pintar yang kritis. Bukan tipe orang yang pertama dapat materi pelajaran langsung paham, saya harus mengulang-ulang. Bukan pula tipe yang bisa memecahkan sesuatu hal yang baru. I think i’m just mediocre. Tapi saya yakin saya bisa mencapai target yang saya tetapkan. Entah bagaimana caranya. 

Bismillah. I trust Allah

Dan alhamdulillah, target itu tercapai. Begitu pula saat kuliah D-IV, kali ini saya memasang target IPK minimal 3,6. Saya tak tahu bagaimana caranya, percaya saya, insya Allah bisa. Bukan tipe mahasiswa yang pintar-pintar amat, jarang bisa berpikir out of the box, suka pusing membaca materi akuntansi, blabla. Intinya, saya merasa sebenarnya target saya ketinggian. Tetapi, bismillah saja. Alhamdulilah tercapai.

Perkara hasil, itu urusan Allah. Saya meyakini hal itu. Mendapatkan hasil yang bagus bukan berarti saya pintar. Bisa jadi, Allah meridoi hasil bagus itu lantaran rido dengan doa ibu saya, rido dengan orang yang mendoakan saya, atau pas sedekah dan kemudian dibalas dengan kebaikan itu atau hal-hal lain yang menyebabkan Allah rido dengan hasil itu. 

He found you misguided and He guides you (Q.S 93:6)

Pernah pada suatu ujian Auditing, saya benar-benar blank. Sepuluh menit pertama habis hanya untuk membolak-balik soal. Ya Allah, apa ini, saya tak paham. Keringat dingin mulai bercucuran. Mencoba tenang, saya menghirup nafas dalam-dalam. Merapal doa “Allahumma arinal haqqo haqqon warzuqnat tiba’ah, wa arinal bathila bathilan warzuqnat tinabah” berulang-ulang. Ya Allah, tunjukkan pilihan mana dari pilihan ganda ini yang benar. Alhamdulillah, kemudian diberi kemantapan untuk memilih.

Begitu pula, flashback saat UAN Matematika SMA. Seperti ada ‘tangan gaib’ yang menuntun saya. Saya bisa mengerjakan soal yang menurut saya susah dengan penyelesaian yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya. Seperti tangan saya bergerak sendiri menggunakan rumus yang tak pernah saya pakai. Alhamdulillah. 

Saya tak tahu bagaimana caranya meraih mimpi demi mimpi yang saat ini terasa mengambang di langit. Saya hanya PNS biasa, dari keluarga biasa. Tak punya kemampuan di atas rata-rata.

Tetapi saya meyakini saya akan sampai ke sana. Memeluk mimpi demi mimpi yang saat ini menyesakkan dada. Tak tahu bagaimana caranya, tetapi saya yakin saya akan sampai ke sana.

Because I have Allah and I trust Him

Bagi-Nya semua mudah karena Dia-lah sang pemilik segala. Berdoalah kepada-Ku, niscaya Ku perkenankan bagimu. Bukankah demikian firman-Nya? Lalu mengapa ragu?

Yakin saja. Meski saat ini terasa gelap, tak tahu arah mana yang akan membawa
Yakin saja. Meski diri ini begitu lemah, rapuh dan penuh kekurangan
Yakin saja. Meski banyak orang mencibir dan menyangsikan
Yakin saja. Ya yakin saja. Yakin saja. Gigit erat keyakinanmu

Bismillah. Berwasilah dengan niat baik dan upaya terbaik. Semoga Dia rido. Memberikan apa yang menjadi mimpi-mimpi. Atau bahkan dibalas lebih baik, lebih baik, lebih baik. Mudah saja bagi-Nya.

Allahumma laa sahla illa maa ja'altahu sahlaa, wa anta taj'alul hazna idza syi'ta sahlaa

Bi’idznillah

*ditulis untuk menguatkan keyakinan dan azzam, semoga*
*judul ini diakhiri dengan 'insya Allah' dan 'bi'idznillah*