Tuesday, September 29, 2015

"Enak Nggak Kerja di Kemenkeu?"

Menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) atau sekarang disebut sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara) bukan merupakan cita-cita saya. Namun, jalan hidup membawa saya berada di sebuah gedung di dekat Monas, menghabiskan setidaknya sepuluh jam sehari. Kementerian Keuangan, tempat saya mencari penghidupan dan belajar.

Entah sudah berapa banyak pertanyaan yang sama dialamatkan, "Enak nggak kerja di Kemenkeu?" Saya tak bisa menjawabnya. Enak dari segi apa? Bagaimana? Secara pendapatan, bisa dibilang alhamdulillah cukup untuk hidup di Jakarta (walau rasanya tak bisa dibilang berlebih, kecuali mungkin jika bekerja di Ditjen Pajak dan kebetulan saya tidak). Dilihat dari kesempatan belajar, cukup banyak beasiswa dengan beberapa aturan yang membatasi (misal, baru boleh kuliah S1 setelah melewati dua tahun dari pengangkatan PNS dan itu lama). Dilihat dari jenjang karier, hmm, saya belum tahu, saya belum pernah berpikir mengejar karier untuk promosi. Dilihat dari kecemasan, saya cemas jika harus dimutasi (apalagi kalau jauh). Apalagi ya...

Orang Jawa berkata, "Urip iki sawang sinawang," (hidup itu saling memandang) atau secara istilah dapat diartikan bebas sebagai "Saya memandang hidupmu enak dan kamu memandang hidup saya enak," Saya memandang bahwa menjadi pegawai swasta enak lantaran gaji besar tidak terikat birokrasi sementara teman saya yang di swasta malah ingin menjadi PNS dan iri dengan saya. Rumput tetangga selalu lebih hijau bukan?

Yang jelas, apa yang ada saat ini saya syukuri. Saya bersyukur memiliki pekerjaan tetap yang cukup untuk hidup, bisa menjadi pegawai negeri dengan jalan terhormat, bisa kuliah dibiayai negara (gratis penuh) selama lima tahun, bersyukur dengan apa yang ada sekarang.

Walau saya tak tahu apa yang akan terjadi di depan nanti ya

Kadang-kadang saya temui orang-orang yang mengeluhkan tentang instansi bekerja di media sosial, bahkan terkadang keluh kesahnya 'keterlaluan'. Prinsip saya begini, "Take it or leave it," Kalau tak suka ya tinggalkan. Atau kalau belum bisa meninggalkan ya setidaknya diam saja, atau mengeluh sama teman dekat saja lah, tak perlu mengumbar di media sosial. Sederhana saja, jangan meludah di sumurmu sendiri :)

So, how's your job? Do you love it?

Sunday, September 27, 2015

Yuk, Berjualan dengan Lebih Elegan

Siapa sih yang tak suka berjualan? Apalagi di era digital ini yang mana banyak media pendukung seperti aplikasi chatting atau media sosial. Namun, berjualan tetaplah harus memiliki etika dan seni, bukan?

1. Jangan berjualan di lapak orang
    Ketika orang membuka lapak dunia maya, jangan berjualan di lapaknya. Misal dengan berlapak melalui komen di lapak orang lain. Have your ethics, please. Buat lapak sendiri itu selain menghargai orang lain juga menunjukkan bahwa penjual tersebut memiliki etika.

2. Don't spam
    Bagi pengguna instagram, pasti tak asing dengan komentar seperti, "Cek ig kami, sis," "Hijab murmer" blabla yang ada di postingan para selebgram (pengguna Instagram yang memiliki banyak followers). Entah apapun fotonya, selalu saja ada komentar spamming berjualan. Malah, ketika akun almarhumah pramugari Air Asia terekspose dan kemudian banyak diikuti, ada juga yang spamming jualan di akun almarhumah. Tidak sopan dan tidak berempati. Kalau saya melihat olshop 'berpromosi' dengan cara seperti itu, saya justru tak tertarik beli sama sekali di tempatnya. Begitu juga di blog, ada saja komentar spamming, cukup klik 'spam'.

3. Jangn berbohong
    Kalau Anda suka bermain Instagram dan mengikuti akun selebgram, Anda akan sering juga menemui komentar seperti, "Makasih ya kak (nama artis), berkat direkomendasikan kakak di (akun jualan) penampilanku makin oke," atau bahkan akun yang mengatasnamakan agama juga "Semenjak dikasih tau kakak tentang akun XX, pengetahuan agamaku makin bertambah,". Duh, beneran si artis merekomendasikan? Udah spamming, bohong pula.

4. Jangan broadcast sering-sering
    Pengguna BBM pasti sering menerima broadcasted message. Bolehlah broadcast sesekali tapi kalau setiap hari atau bahkan sehari beberapa kali tentu membuat orang yang melihat menjadi 'eneg'. Kalau saya sih hampir tidak pernah membaca BC jualan, atau menghapus kontak yang mengganggu seperti itu.

5. Do softselling
    Lebih menarik mana membaca judul BC "Sampo Unya Unyi, menghaluskan rambut" atau "9 Tips Merawat Rambut Mudah dan Murah". Judul pertama menunjukkan hardselling atau gampangnya jualan tanpa tedeng aling-aling. Judul kedua berisi tips merawal rambut yang diakhiri dengan kalimat seperti ini misalnya,"Salah satu solusi untuk memiliki rambut halus adalah sampo Unya Unyi, cukup 20rb saja bisa beli di kami,". Yes, berikan manfaat terlebih dahulu kepada pembaca, tak sekadar jualan. Dalam sebuah seminar bisnis yang saya ikuti, konten softselling yang bagus terdiri dari 80% sesuatu yang bermanfaat/menarik bagi calon pembeli, 20% di bagian akhir konten baru jualan. Apalagi di Facebook, sering kita jumpai artikel yang dibagikan dari akun jualan. Orang yang membagikannya tak peduli siapa yang mengunggah artikel tersebut tetapi peduli pada isinya. Kalau di blog, contoh penulis yang jago melakukan softselling menurut saya adalah Alit Susanto (shitlicious).

6. Bikin berbagai promo menarik, alih-alih 'spamming'
    Menjadi penjual yang baik tentu memerlukan 'seni'. Daripada spamming, lebih baik buat kuis/giveaway yang salah satu syaratnya adalah follow/like/share. Biarkan pembeli memutuskan apakah dia ingin mengikuti aturan main lomba. Atau bisa juga membuat diskon/free ongkir  dan berbagai kreasi berjualan lainnya.

7. Ungkit produk dengan tokoh ternama
    Promosi yang paling efektif dalam berjualan adalah melalui testimoni/review dari para pengguna. Dan selebgram/artis/influencer memiliki pengaruh cukup besar. Cari tokoh yang membuka peluang endorse atau menerima paid-promote.

So, here are my tips. Ada yang ingin menambahkan?

Friday, September 25, 2015

The Inner Peace

How do you handle pressure?

Hari ini saya belajar bahwa kedamaian sejati berasal dari dalam hati. Bukan lantaran diskon Wakai buy one get one free, bukan karena makanan enak yang saya makan, bukan pula es krim yang saya biarkan meleleh perlahan.

Saya sempat rapuh dengan suatu fakta yang baru saya tahu siang ini. Bahwa sebenarnya saya punya kesempatan atas suatu hal yang benar-benar pernah saya inginkan. Kesempatan yang baru saya ketahui dan meninggalkan bekas,

Had I known the truth earlier, would things have been the same?

Dan ya ternyata materi tak bisa membeli kedamaian hati. Adanya di dalam. Jauh di dalam. Mungkin Allah ingin menyentil saya, untuk menangis tergugu di atas sajadah. Sampai sesak nafas, untuk menyadarkan saya bahwa saya sepenuhnya bukan siapa-siapa dan tak bisa berbuat apa-apa. Tanpa Dia. Mungkin Allah ingin saya berlama-lama menderas firman-Nya.

Only who creates the heart can make peace from inside heart.. isnot it?

Wednesday, September 23, 2015

Cinta Di Atas Cinta, Holycow dan Kesalehan Sosial

Alkisah, puluhan tahun nabi Ibrahim as bersabar menunggu kehadiran seorang anak. Hingga akhirnya, lahirlah Ismail dari rahim Siti Hajar, istri kedua, ketika nabi Ibrahim berusia delapan puluh tahun. Kesabaran nabi Ibrahim kembali diuji ketika beliau diperintahkan Allah SWT untuk meninggalkan anak yang telah dinantinya puluhan tahun, Ismail, beserta sang ibu di bukit Shafa yang gersang dan tandus, terpisah begitu jauh dari nabi Ibrahim yang tinggal di Palestina. Bertahun menahan rindu sebelum akhirnya bertemu, kesabaran nabi Ibrahim tak henti duji, dengan perintah untuk menyembelih Ismail. Namun, cinta Ibrahim kepada Tuhannya melebihi cintanya kepada sang buah hati, dilakukannya perintah itu. Lalu, Allah SWT mengganti Ismail, tatkala pisau telah tajam telah menggesek lehernya, dengan seekor gibas (domba).

Bagi sebagian orang, lezatnya steak Holycow misalnya, bukanlah hal yang ‘luar biasa’. Bukan hal yang memberatkan untuk merogoh kocek sekian puluh atau ratus ribu untuk sekali menyantap hidangan favorit. Santapan dengan menu daging bisa jadi merupakan hal yang jamak sehari-hari. Namun bagi sebagian orang lainnya, daging merupakan hidangan mewah yang dinikmati amat jarang, pendek kata bisa makan saja merupakan sesuatu yang amat disyukuri.

Jika Idul Fitri didahului dengan tiga puluh hari puasa wajib Ramadhan, maka Idul Adha didahului dengan sembilan hari puasa sunnah. Sejatinya, dengan puasa umat Muslim selain diharapkan mampu menjadi orang yang bertakwa dengan mengendalikan hawa nafsunya, juga diharap mampu berempati dengan orang-orang yang ‘berpuasa’ lantaran tak memiliki cukup uang untuk membeli makanan. Hari raya adalah keriangan, ketika orang-orang merayakan kemenangan di bulan Ramadhan, turut berkurban sebagian harta melalui hewan sembelihan hingga suka cita orang-orang menikmati lezatnya daging.

Momentum Idul Adha patut untuk menjadi refleksi diri, apakah cinta kepada Allah melebihi cinta pada harta. Mengeluarkan dua setengah juta untuk  membeli tiket konser, misalnya, apakah lebih mudah dibandingkan dengan mengeluarkan jumlah yang sama untuk membeli hewan kurban. Malu, jika seorang pemulung mampu berkurban dua ekor kambing dengan menyisihkan pendapatannya selama tiga tahun, sementara yang bergaji sebulan berlipat dari harga kambing tidak mampu (atau tidak mau) untuk melaksanakan ibadah sekali setahun ini. Adakah yang lebih indah daripada iman di dada?

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (Terjemahan QS. Al Hajj: 37)

Selamat Hari Raya Idul Adha


Referensi :
1.       Kisah Ibrahim disarikan dari materi yang disampaikan ketika liqo. Jika ada yang kurang tepat mohon dikoreksi

2.       http://www.dakwatuna.com/2012/10/27/23742/setelah-menabung-3-tahun-pemulung-itu-pun-berqurban-2-kambing-terbesar/

Monday, September 21, 2015

9 Tips Belajar Bahasa Asing dengan Cepat


9 Tips Belajar Bahasa Asing dengan Cepat. Bismillah. Melanjutkan salah satu postingan viral di blog ini, Tips Mengerjakan Tes Bahasa Inggris dengan Cepat dan Tepat, yang sudah dilihat hampir 70rb kali, kali ini saya mau berbagi tips belajar bahasa asing (secara umum) dengan cepat. So, here are my tips :
 
1.         Get a mentor
Bagaimana cara paling cepat untuk sampai ke suatu tempat? Buka peta? Bisa jadi. Namun, akan butuh waktu untuk membaca dan memahami, juga mengeksplorasi hal yang benar-benar baru, belum jika ‘tersasar’. Cara paling cepat untuk sampai ke suatu tempat adalah bertanya kepada orang yang sudah sampai ke sana. Begitu juga dengan belajar bahasa asing yang notabene mempelajari sesuatu baru yang belum pernah dipelajari sebelumnya. Carilah orang yang sudah menguasai bahasa itu untuk mengajari, mulai dari pelafalan, tata bahasa hingga penulisan. Guru atau mentor bisa melalui kursus, belajar dari teman yang sudah terlebih dahulu bisa, menonton video tutorial bahasa di Youtube dan sebagainya. Tentu akan lebih baik jika memiliki mentor yang bisa bertemu langsung. Pembelajaran bisa lebih mendalam, interaktif dan dibenarkan jika salah.

2.         Dengar, dengar, dengar
Kata dalam bahasa asing apa yang pertama kali Anda dengarkan? Kelas 6 SD, saya masih ingat benar ketika seorang teman berkata “sam-wan”. Menguasai bahasa asing di era globalisasi seperti ini tentu lebih mudah dibanding tahun 1990 atau 2000an. Bahasa pertama merasuk melalui apa yang kita dengar, bukan? Maka, jika Anda ingin menguasai bahasa asing, Anda harus sering-sering mendengar bagaimana bahasa itu diucapkan. Lagu adalah salah satu ‘alat’ yang memudahkan penyebaran bahasa. Selain itu, terbiasa mendengar akan memudahkan dalam mempelajari tata bahasa karena telah terbiasa mendengarkan bagaimana suatu kalimat diucapkan.
Misal, saya mencari di Google “Lagu Mandarin Terbaik” untuk kemudian saya dengarkan sebelum saya ikut melafalkan atau menuliskannya. Yue Liang Dai Biao Wo De Xin
(月亮代表我的心) adalah lagu pertama saya belajar bahasa Mandarin dan lagu ini amat membantu karena ia lagu yang amat populer jadi secara tak sadar bisa ikut berdendang. Atau bagi umat Islam yang sudah amat terbiasa mendengarkan lantunan ayat suci Al Qur’an dalam bahasa Arab, hal itu amat membantu ketika belajar bahasa Arab. 
Contoh :
Istilah “Allahu Ma’ana” adalah istilah yang mungkin sudah amat sangat sering didengar umat Islam. Jika terbiasa mendengar Allahu Ma’ana tentu akan tahu jika Allah(a) ma’ana itu tidak tepat. Pelafalan Allah secara marfu’ (dibaca dengan akhiran ‘u’ sederhananya) karena dalam kalimat tersebut bertindak sebagai subjek, bukan dibaca manshub (dibaca  dengan akhiran ‘a’ sederhananya). Secara tak langsung, tata bahasa akan semakin mudah dengan lebih sering mendengar.

3.         Speak up!
Yang paling penting dari bahasa adalah bagaimana cara Anda mengucapkannya bukan? Ucapkan kata asing begitu Anda mendengar sebuah kata asing baru untuk pertama kalinya. Anda akan mendapatkan ‘feel’. Oh, begini kata itu diucapkan. Jangan terlalu memedulikan grammar atau tata bahasa ketika berbicara. Latihan berbicara akan membuat Anda ‘tak kelu lidah’ dan semakin fasih dalam pelafalan. Contoh, dalam bahasa Mandarin, satu kata ‘ma’ bisa memiliki empat cara pengucapan : nada satu dibaca datar, nada dua dibaca naik, nada dibaca turun lalu naik, nada empat dibaca turun. Beda pengucapan nada akan memberikan arti yang berbeda.
Tips :
Agar makin fasih berbahasa Inggris, kebiasaan saya adalah ‘latihan-satu-menit’. Pikirkan satu kata. ‘Love’ misalnya, lalu pasang timer selama satu menit. Dalam satu menit itu, jelaskan apa saja tentang kata yang sudah dipilih itu. Awalnya, mungkin masih banyak terdiam, lama-lama akan semakin fasih dan fasih.   

4.         Catat, catat dan catat
Mencatat sesuatu akan semakin memudahkan dalam belajar dan menghafal. Terlebih bahasa asing yang seringkali memiliki cara penulisan berbeda dengan bahasa Indonesia. Misal, seseorang dalam bahasa Inggris dibaca samwan tetapi ditulis someone. Atau, jika belajar bahasa Mandarin, tak ada pilihan lain selain sering-sering berlatih menulis. Untuk bisa membaca koran dalam bahasa Mandarin setidaknya perlu mengetahui dua ribu karakter yang berbeda satu titik atau garis pendek saja bisa berbeda arti. Misal bu (dibaca pu) memiliki arti ‘tidak’, sementara jika garis datarnya tembus seperti (mu) memiliki arti ‘pohon’.
Tips belajar bahasa Mandarin :
Tulis satu karakter minimal 20 kali. Lihat dari berbagai situs belajar bahasa Mandarin tentang cara atau urutan dalam karakter. Tips ini juga bisa dipraktekkan untuk belajar bahasa yang memiliki huruf 'unik' atau berbeda dengan alfabet latin.

Saturday, September 19, 2015

The More You See, The More You Hear (8 Tips To Be More Open-minded)


Are you an open-minded one?
Bertemu orang baru, pernahkah begitu mengasyikkan?

Siang sampai malam, lebih dari enam jam saya habiskan bersama Ninda, mengelilingi Mal Kelapa Gading lebih dari sepuluh ribu langkah (setidaknya hitungan di aplikasi S Health). Pada awalnya, saya tahu Ninda karena dia temannya teman kuliah. Eh, ternyata sepantaran dan kami sama-sama suka nulis di blog. Saling berkunjunglah. Lama-lama, kami kopdar (lupa siapa yang ngajak duluan :p) dan kemudian berlanjutlah, ini kopdar kami ketiga. Obrolan kami hari ini begitu seru, saya jadi dapat info merk-merk lipstik bagus, tas branded dan hal-hal menarik lainnya. Talking with her absolutely broadens my mind. Maklum, kami punya latar belakang yang cukup berbeda. Saya yang kuliah kedinasan dan kemudian menjadi PNS dengan dia yang bekerja swasta. Tak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar teman yang saya punya berasal dari latar belakang yang sama, yang secara tak langsung memiliki pola pikir yang tak jauh berbeda.

Ngomong-ngomong, di postingan kali ini saya ingin berbagi tips untuk menjadi orang yang lebih open-minded atau berpikiran terbuka :
1.         Meet new people
Seperti berkenalan di dunia maya dengan Ninda kemudian janjian bertemu. Berada di antara orang dengan latar belakang sama itu mengasyikkan karena kita tak perlu banyak penyesuaian. Namun bergaul dengan orang baru (yang memiliki beraneka perbedaan) itu penting, selain untuk menambah koneksi juga menambah wawasan. Misal saya yang berlatang belakang keuangan jadi dapat wawasan baru berkenalan dengan dokter. Dulu, saya nggak mau kalau makan bareng teman dan dia mengajak temannya yang nggak saya kenal. Lambat laun saya menyadari, justru ajang dikenalin dengan temannya temen itu kesempatan yang bagus untuk mendapatkan teman baru. Ya, temannya teman berarti orang baru yang terpercaya bukan? Bukan asal kenalan juga :D

2.         Read more books
Buku jendela dunia. Yes. Membaca buku tak hanya yang sesuai selera tetapi sesekali perlu juga melihat sudut pandang berbeda, dari pengarang yang berbeda. Misal, membaca buku dengan genre yang bukan favorit kamu.

3.         Watch more movies
Film merupakan sebuah dokumentasi yang bagus akan suatu tema. Ia tak hanya menggambarkan cerita sang tokoh tetapi juga memberikan berbagai pandangan, entah dari segi latar atau pesan yang tersirat disampaikan.

4.         Travel and wander
Well, bagi saya traveling memegang peranan besar dalam membentuk saya sekarang, memberikan pandangan dan pemahaman yang berbeda. Misalnya, ketika saya menjelajah pulau Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu atau ketika saya menjelajah Pulau Flores selama sembilan hari yang mana mayoritas penduduk Flores beragama Katolik. Atau, misal, tatkala berkelana ke kampung Badui Dalam dengan adat istiadatnya yang begitu kental. Traveling membuat saya lebih menerima dan menghargai perbedaan serta lebih mudah beradaptasi. Pikiran saya jauh lebih terbuka dengan traveling.

Thursday, September 17, 2015

Don't Walk Through My Mind with Your Dirty Feet

Bagaimana responmu terhadap ucapan yang mengganggumu?

Dua hari lalu seorang rekan kantor mengatakan suatu hal yang menyinggung, "Kok bisa Mon? Kamu kan nggak cantik," ketika saya memperoleh suatu hal yang diumumkan via surat dan kebetulan si rekan itu melihat saya membaca suratnya. (Btw, apa yang saya peroleh itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan kecantikan atau tampilan fisik)

"Eh?"

Terdiam sejenak sebelum membalas, "Ya nggak masalah juga si lo nganggep gw nggak cantik. Tapi lo nggak usah bilang gitu juga di depan gw kali,"

"Ya itu kan kenyataannya,"

Well. Saya kemudian memilih pergi. Yang pertama, saya nggak di posisi membanggakan diri (pas banget dia pas lewat dan kepo dengan surat saya). Dan yang kedua, saya nggak pernah menyinggung dia secara fisik. Yang ketiga, apa poinnya mengatakan saya nggak cantik? Toh cantik nggak nya saya pun nggak ada hubungannya dengan dia.

Ada orang memang yang memiliki kebiasaan mudah sekali 'nyinyir' atau 'mencela'. Sedikit-sedikit berkomentar. Sedikit-sedikit mencibir. "Eh, liat deh itu orang, aneh banget deh tampilannya, mana jelek pula," misal demikian perkataan melihat orang yang bahkan sekadar lewat di depannya. Padahal orang itu tidak mengganggunya.

Tak bisakah lisanmu ditahan dari ucapan yang menyakitkan?

Sejujurnya saya nggak terlalu peduli dianggap cantik apa enggak. Toh si rekan bukan orang yang ada dalam lingkaran saya. Bukan orang yang akrab. Nggak ada dia di hidup saya juga nggak masalah.

Tetapi perkataannya yang menyakitkan membuat saya memikirkan betapa ucapan bisa demikian menyinggung. Pelajaran juga buat saya untuk lebih menjaga ucapan. Bisa jadi sesuatu yang kamu anggap sepele itu mengganggu atau bahkan menyakiti orang lain.


And yeah.. like Mahatma Gandhi said, "I will not let anyone walk through my mknd with their dirty feet,"

Kamu harus pandai memilah ucapan mana yang patut kamu dengar dan seyogianya kamu anggap layaknya desau angin yang selintas lalu.


Tuesday, September 15, 2015

7 Alasan Menyukai Jakarta


7 Alasan Menyukai Jakarta. Bagi sebagian orang, Jakarta bukanlah kota yang nyaman untuk tinggal. Setidaknya begitu dikatakan salah seorang om saya, “Dibayar 20 juta saja aku nggak mau hidup di Jakarta,”. Polusi, macet, banjir, you name it. Namun, ngomong-ngomong, sejauh ini saya betah-betah saja di Jakarta dan memilih Jakarta pada urutan teratas dalam polling pilihan kota bekerja. Well, here are my reasons :
1.        Di Jakarta apa saja ada
Yes. Mau mencari segala jenis makanan, pakaian, hiburan. Semua. Tinggal mencari info tempat yang pas dari apa yang kita butuhkan (atau inginkan). Mau mencari aksesoris murah tinggal ke Asemka, kain dan pakaian ke Tanah Abang, mau nge-mal model apa juga ada.

2.         Jakarta memberikan banyak pilihan
Iya. Karena di Jakarta apa saja ada, semua adalah tentang pilihan kita. Mau menghabiskan waktu kemana atau menghabiskan uang untuk apa. Mau mencari kursus apa saja ada, mau ikut pengajian melimpah, atau mau cari tempat hiburan (atau bahkan maksiat) banyak. Mau naik KRL, transjakarta, gojek, bajaj ada. Terserah saja. Jakarta memberi banyak pilihan, bukan?

3.         Kesempatan besar bertemu dengan para tokoh
Tak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar tokoh nasional tinggal di Jakarta. Hal ini yang membuat saya betah di Jakarta. Saya berkesempatan lebih besar untuk bertemu mereka secara langsung. Biasanya, saya follow akun Twitter para tokoh yang saya kagumi dan saya catat kira-kira di mana saya bisa bertemu dan belajar dari mereka dari acara yang mereka hadiri. Misalnya, acara hebat seperti Kuliah Supermentor yang diprakarsai oleh Dino Patti Djalal memberikan kesempatan berharga untuk menyerap ilmu dari tokoh-tokoh ternama. Sebut saja, ketika acara tersebut dihadiri oleh para tokoh seperti BJ Habibie, Sri Mulyani Indrawati, Dahlan Iskan, Ridwan Kamil, Susi Susanti, dsb. Ya, tak semuanya gratis, terkadang sekali seminar dikenakan biaya sekian ratus ribu rupiah,  tetapi menurut saya kesempatan bertemu dan belajar dari para orang hebat itu amat berharga. 

4.         Ketika kebaikan itu ada di Jakarta, kamu akan lebih menghargainya
Jakarta itu keras. Benar. Orang-orangnya individualis. Bisa jadi. Menemukan kebaikan di Jakarta (yang mungkin kalau di daerah dianggap sebagai suatu hal yang biasa) itu rasanya indah sekali. Semisal, ketika saya hendak naik bis kota dan bertanya pada seorang gadis di sebelah saya, si mba tak cukup dengan memberikan petunjuk arah dan informasi nomor bis tetapi dia mengantarkan saya hingga ke bis yang dituju sekaligus berpesan kepada kondekturnya, “Bang, ini adek saya, mau ke X, tolong dijagain yah,” Aih,kata siapa ada sedikit orang baik di Jakarta. Sejauh ini, banyak orang baik yang saya temui di kota ini.

Sunday, September 13, 2015

The Best is Yet to Come

Jika wanita semulia Maryam saja diperintahkan Allah untuk menggoyangkan pangkal pohon kurma selagi kepayahan hendak melahirkan, maka ia memiliki pengharapan akan datangnya karunia setelah ia berupaya. Jika Thomas Alva Edison berhasil menciptakan lampu pijar pada percobaannya yang ke-9999, maka selama lebih dari sembilan ribu percobaan ia lalui dengan memeluk erat harapannya.
Jika Walt Disney mempercayai perkataan editor surat kabar tempatnya bekerja bahwa ia tidak memiliki imajinasi yang bagus, apakah dunia akan mengenangnya seperti sekarang?

Rabbana innana amanna faghfirlana zunubana waqina azaban-nar (Q.S.3:16)
Rabbana amanna bima anzalta wattaba 'nar-Rasula fak-tubna ma'asy-Syahidin (Q.S. 3:53)
Rabbana amanna faktubna ma 'asy-syahidin (Q.S. 5:83)
Rabbana amanna faghfirlana war-hamna wa-anta khairur-rahimin (Q.S. 23:109)

Ada harap yang terucap setelah amanna (kami beriman). Ada harap akan ampunan, perlindungan dari api neraka, serta dimasukkan ke dalam golongan orang yang menjadi saksi (akan keesaan Allah). Adakah yang lebih indah dari memiliki harapan pada Tuhanmu?

Maka, atas hari-harimu, detik demi detik yang kau lalui, di sana lah kau berdiri. Atas pengharapan yang kau bangun di atas keyakinan dan upayamu. Bahwa sisa umur yang kau lalui akan semakin menjadikanmu makhluk yang bergigih mengupayakan kebaikan. Untuk duniamu, untuk akhiratmu. 

Seperti kata Sapardi Djoko Damono, “Yang fana adalah waktu. Kita abadi

Maka, inginku bersimpuh. Luruh.
Tuhanku, ridai aku dengan kemahaanMu

----

Dua puluh enam

---

selftalk

Friday, September 11, 2015

Kamu yang Kutunggu

Kamu percaya bahwa hati adalah panglima? Aku percaya itu. Aku akan melakukan sesuatu ketika hatiku mantap untuk melakukannya dan aku meyakini sepenuh hati apa yang ku lakukan. Sesederhana itu.  

Aku belum tahu siapa kamu jika ada yang bertanya siapa calonku. Karena bagiku definisi calon adalah ketika ia telah datang meminang dan lamarannya sudah diterima olehku dan keluargaku. Berasal dari suku apa, di mana kamu tinggal sekarang, dan sebagainya. Namun, apakah kamu rasakan bahwa kita sedang berjalan ke arah yang sama, di mana kita akan bertemu di satu titik dan kemudian melangkah beriring. Kamu percaya bahwa selama jalan kita sama cepat atau lambat kita pasti berjumpa?1

Perkara menikah amatlah sakral bukan? Tak hanya sekadar menikah dengan siapa saja, tetapi banyak hal yang akan terjadi dengan pernikahan itu. Kamu harus yakin bahwa kamu akan mampu mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah bersamanya. Ia yang menimbulkan kenyamanan dan ketenteraman bagimu. Tak hanya untuk cinta yang menghasilkan hormon oksitosin sementara tetapi kamu yakin kamu akan mampu bersamanya dalam susah dan senang seumur hidupmu. Ya, seumur hidupmu. Kamu harus menikahi seseorang yang dengannya surga menjadi lebih dekat2. Ia yang mampu mengingatkanmu pada siapa yang menciptakanmu, ia yang akan berjuang bersamamu merengkuh rida penciptamu.

Apakah doa yang kukirimkan bisa kamu rasakan? Apakah ia menjelma menjadi  serupa isyarat yang berbisik kala hening menyapamu?

Doa tanpa nama penerima. Cukup ku namakan ‘dia’. Tuhan tahu segala bukan? Bahkan Dia yang menggerakkan hatiku menyebutmu.

Apakah kamu juga mendoakanku? Entah dari mana kamu mengirimkannya.

Kamu tahu kamu adalah tambahan daya untuk memperbaiki diriku. Karena, katanya, jodoh adalah cerminan diri. Mungkin Tuhan membiarkan kita untuk tumbuh cukup kuat sendiri dahulu sebelum kemudian dipertemukan dalam sebaik-baik keadaan. 

Di saat yang paling tepat. 

Mungkin kamu di sana sedang menyelesaikan pendidikanmu, mungkin kamu di sana sedang menunggu kakakmu menikah terlebih dahulu, mungkin kamu di sana perlu waktu untuk mempersiapkan dirimu... Begitu juga denganku... Tuhan yang lebih tahu...

Kamu bukanlah eskapisme dalam riuh Jakarta menghempasku. Seperti lirih nabi Zakariya berdoa, izinkan aku berucap, ”Rabbi la tadzarni fardan wa anta khairul waritsin”. Percayalah di sini aku menunggumu, dengan sebaik-baik upayaku.
---

Barangkali ada yang berkenan mendoakan, semoga segera dipersatukan dengan 'dia', yang baik dalam urusan agama lagi cocok dan sesuai kriteria, hehe... barangkali doanya lah yang diijabah atau sedang berada di saat yang diijabah.. karena doa kebaikan akan kembali pada sang pelantun doa bukan? :)





 

1 Selama jalan kita sama cepat atau lambat kita pasti berjumpa adalah kata-kata yang didapat dari tweet @felixsiauw
2(menikahlah dengan) seseorang yang dengannya surga menjadi lebih dekat adalah kata-kata yang dipopulerkan oleh Asma Nadia




Wednesday, September 9, 2015

25 Tahun dan Belum Menikah


25 Tahun dan Belum Menikah. Bagi sebagian orang, angka 25 adalah ‘angka keramat’ untuk menikah. “Saya mau menikah umur 25,” katanya. Namun, belum rezeki bagi saya untuk melepas  masa lajang di bilangan angka itu, hingga empat hari lagi saya akan meninggalkan usia 25. Berikut catatan tentang menjadi perempuan berusia seperempat abad dengan status belum menikah :

1.         Pertanyaan yang akan selalu kamu dapatkan, “Udah nikah belum?”
Ketika bertemu teman lama yang sudah sekian tahun tak jumpa pertanyaan pertamanya bukan apa kabar tetapi sudah nikah apa belum, ketika sedang nyalon mbak kapster mengajak ngobrol dan pertanyaannya sudah nikah apa belum, ketika pulang kampung sendirian ke Semarang menggunakan jasa kereta api ditanya orang yang duduk di sebelah kursi sudah nikah apa belum, dan masih banyak lagi. Pertanyaan sudah-nikah adalah salah satu pertanyaan sosial teratas hehe..

2.         Diam saja bisa kena bully
Misal ada pegawai baru pindah dan kemudian diketahui masih single, langsung lah kena “Mon, tuh mon ada pegawai baru single, siapa tahu jodohmu,” Mmm.  

3.         Dijodoh-jodohkan
Kalau ini kisah teman saya. Dia bercerita kalau beberapa rekan kantornya bersemangat sekali menjodohkannya dengan seorang kasi (kepala seksi) yang belum menikah. Mereka yakin teman saya mau. Marahlah si teman dijodoh-jodohkan dengan laki-laki yang usianya hanya terpaut dua tahun dari ibunya.

4.         “Si X anaknya udah tiga lho Mon, kamu nikah aja belum”
Well, saya percaya bahwa nikah itu bukan perkara dulu-duluan. Hehe. Kebetulan teman sepantaran sudah menikah dan dikaruniai tiga orang anak. Ya, terkadang kamu dibanding-bandingkan. Hehe.

5.         “Buruan nikah,”
Seorang rekan kerja berkata, “Mon, stok ikhwan bagus udah sedikit lho. Buruan sana nikah,” Mmm, saya cuma butuh satu kok, jawab saya kalem. Atau kata-kata yang menyebalkan seperti “Udah Mon, terima aja si X yang mau lamar, terima siapa aja yang datang. Kamu kan udah dua lima, kapan mau punya anaknya,” Err.

6.         “Kamu kenapa belum nikah-nikah sih?”
Well, ini pertanyaan yang beberapa kali saya dapatkan. Biasanya sih saya jawab santai “Ya, belum ketemu sama jodohnya,” tetapi seringnya dibalas dengan serentetan “Kamu sih pilih-pilih,” “Ngejar karier ya” dan lainnya.

Begitulah kira-kira menjadi single di usia 25. Kalau kamu yang kebetulan masih single juga di usia 25, apa kisahmu? *nyari teman :P

Tulisan ini ditutup dengan doa semoga segera dipersatukan sama yang lagi dalam perjalanannya :)

--
NB Sekali-kali posting ringan lah ya :D

Monday, September 7, 2015

Tips Menjadi Penulis Bestseller dan Go National


Siapa yang tak kenal  A. Fuadi dengan trilogi Negeri 5 Menara yang begitu fenomenal, siapa pula yang tak kenal dengan Asma Nadia atau siapa yang tak tahu Ippho Santosa? Ketiga penulis ternama Indonesia dengan penjualan terbaik (bestselling). Apa saja tips menulis dari mereka? Berikut catatan dari seminar “Menjadi Penulis Best Seller dan Go National yang diadakan di kantor Kompas Gramedia pada hari Ahad 6 September 2015 lalu. 

Menulis Membukakan Semua Pintu Kemungkinan untuk Saya
Anda pasti tahu dengan ‘mantra’ Man Jadda Wajada yang menjadi ‘ruh’dari kisah Alif dkk di Negeri 5 Menara. Ya, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Lalu, bagaimana kesungguhan A. Fuadi sang penulis sendiri dalam mengikat huruf demi huruf?

Laki-laki peraih sepuluh beasiswa luar negeri ini menerangkan bahwa menulis membutuhkan tiga hal yakni sebatang pulpen, secarik kertas dan sebongkah hati. Ya, semua kejadian dalam hidup kita bisa jadi tulisan. Contohnya, pada awalnya A. Fuadi berat hati menuruti perintah sang amak (ibu) untuk menuntut ilmu di pesantren Gontor yang terpisah ribuan kilometer jauhnya dari kampung halaman. Namun, kemudian buah mengikhlaskan keterpaksaan -begitu ia menyebutnya- amatlah manis. Ia tak hanya berhasil meraih pendidikan akademis dengan kualitas tinggi tetapi juga kisahnya mampu menjadi buku dan film yang menginspirasi jutaan orang di negeri ini. 

Proses menulis A. Fuadi terdiri dari empat pertanyaan besar yakni :
1.         WHY
Luruskan niat dalam menulis. Mengapa menulis? Niat yang tulus merupakan suntikan semangat yang tidak putus.
2.         WHAT
Apa yang hendak dituliskan? Kenal, peduli, familiar dan tahu akan apa yang ditulis merupakan “obat kuat tulisan”.
3.         HOW
Lakukan riset tentang apa yang hendak ditulis. Baca buku, kamus, tesaurus untuk memperkaya khazanah penulisan. Referensi berharga A. Fuadi adalah surat yang dikirimkannya kepada sang amak ketika masih menimba ilmu di pesantren yang masih tersimpah rapi. Selain itu, ia membaca banyak buku sebelum menulis, salah satunya adalah buku tentang kehidupan di asrama (yang mirip dengan kehidupan di pesantren).
4.         WHEN
Kapan Anda hendak menulis? Cicil setiap hari, begitu sarannya. Sedikit-sedikit lama-lama bisa menjadi buku bukan?

Tak lupa, A Fuadi berbagi tips agar bisa mendunia :
1.         Tema Indonesia
2.         Gali budaya, bahasa, agama, orang, legenda, alam
3.         Terjemahkan karya ke bahasa lain
4.         Aktif kenalkan karya di acara internasional seperti UWRF (Ubud Writers and Readers Festival)
5.         Gunakan social media
6.         Pelajari jalan penulis-penulis ternama seperti Pramoedya Ananta Toer, Andrea Hirata, dsb

Gambar diambil dari twitter @ipphoright
Serta tentu saja, “Terus belajar, terus membaca,” begitu pesan pemungkasnya. Menulis mampu membukakan semua pintu kemungkinan. Misal keliling dunia atau buku yang berubah medium menjadi film.

Saya Senang Jika Buku Saya Dibajak
Kalau Anda mendengar tentang Ippho Santosa, bisa jadi Anda akan teringat dengan ‘otak kanan’. Namun, jangan salah, laki-laki kelahiran Pekanbaru ini merupakan salah satu penulis mega bestseller di Indonesia. Karya fenomenalnya yang berjudul “7 Keajaiban Rezeki” berhasil menorehkan tinta emas dengan penjualan di atas satu juta eksemplar, sebuah angka yang teramat fantastis. Edisi bajakan juga dapat dijumpai dengan harga 20rb. Namun, sang penulis menegaskan bahwa ia senang jika bukunya dibajak, karena tidak semua buku dibajak, hal itu menunjukkan bahwa karyanya diakui.

Ippho mengisahkan bahwa pada awalnya ia ‘dipaksa’ menulis selaras dengan pekerjaannya di bidang marketing. Tak dinyana, tulisannya disukai. Ia kemudian menulis untuk surat kabar sebelum menerbitkan bukunya. 

Berikut tips agar go National ala Ippho Santosa :
1.         Start with the RIGHT
Awali dengan right intention alias niat yang benar dan kuat.
2.         Differentiation
Terdiri atas mencari a) segmen atau kesempatan, b) sesuai passion dan kompetensi hingga c) appearance dan wording
3.         Leverage
a)      Print and broadcast media, b) website and social media, c) certification, award and celebrity

Saturday, September 5, 2015

25 Hal yang (Mungkin) Kamu Sadari di Usia 25

Well, usia 25 terkadang disebut sebagai ‘awal kedewasaan’. Atau seringkali disebut sebagai ‘quarter-life-crisis’. Dikutip dari Wikipedia, The Bloston Globe (sebuah harian di Amerika Serikat) menyatakan bahwa the-quarter-life-crisis terjadi ketika seseorang berusia 20-an setelah memasuki ‘dunia nyata’. Berikut catatan penulis di penghujung usia 25 :

1.         You get more overthinking
Dikutip dari DetikHealth, peneliti di Inggris mengatakan bahwa orang dewasa hanya tertawa sebanyak 7,2 kali dalam sehari sementara anak-anak (terutama pada usia prasekolah) bisa tertawa hingga 350 kali dalam sehari. Banyak hal yang dipikirkan oleh orang dewasa mulai dari penampilan, keuangan, atau bagaimana jika begini bagaimana jika begitu. Jiwa muda identik dengan ‘taking risk’ dan ‘easy going’, tetapi terkadang pikiran demi pikiran semakin kompleks ‘berkeliaran’ di kepala.

2.         The Question of ‘Is It The Job You Really Want?’
Kamu memiliki cita-cita masa kecil yang berbeda dengan pekerjaan yang kamu lakoni sekarang dan kamu bertanya-tanya apakah pekerjaan itu adalah pekerjaan yang kamu inginkan. Apakah pekerjaan itu bisa memuaskan hatimu, tak hanya untuk penghidupanmu saja.

3.         The Question of ‘Is It The Life You Really Want?’
Kamu mengalami titik dalam hidupmu di mana kamu ingin berhenti sejenak, layaknya memencet tombol ‘pause’ dan merefleksikan hal-hal yang terjadi dalam 25 tahun hidupmu. Benarkah kamu ingin menjadi seperti kamu sekarang? Inikah hidup yang benar-benar ingin kamu jalani? Mau dibawa kemana hidupmu, apakah seperti ini?

4.        Kamu menyadari apa passion yang kamu miliki
Kamu menyadari bahwa tidak semua hal bisa kamu lakukan dan tak semua hal harus kamu sukai. Kamu tahu apa yang kamu inginkan dalam hidup, apa yang benar-benar kamu suka dan apa yang ingin kamu lakukan. You know what matters.

5.         Kamu tidak selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan
Berapa banyak kegagalan yang kamu hadapi hingga usia 25? Kamu boleh jadi amat menginginkan sesuatu tetapi tidak semua hal bisa kamu dapatkan. Man proposes, God disposes..

6.         What doesn’t kill you makes you stronger
Kamu telah mengalami cobaan yang (menurutmu) ‘berat’ dalam hidupmu. Namun, kamu bisa menghadapinya meski berat kamu lalui. Kamu merasa lebih kuat dan lebih ‘siap’ dalam menghadapi kehidupan.

7.         The fact is we don’t know the fact, yet we don’t know what life brings
Hidup tidak selalu berjalan mulus. Namun ternyata kamu kemudian mendapatkan lebih baik dari yang kamu harapkan. Yes, we never know what life will bring.

8.         Kamu tahu siapa yang layak untuk diperjuangkan
People come and go. Teman dekat saat kuliah bisa jadi orang yang asing bagimu saat ini. Actually, you don’t lose any friends, you just finally find out who your truly friends are.So, appreciate who are willing to stay in your life....

9.         Kamu tahu betapa banyak hal yang tidak kamu tahu
Kamu telah melewati fase pendidikan SD, SMP, SMA, hingga menjadi sarjana (atau bahkan pascasarjana). Semakin kamu belajar, semakin kamu menyadari bahwa banyak hal yang tidak kamu tahu dan sedikit sekali yang kamu ketahui. Dan kamu menyadari bahwa kehidupan adalah guru paling baik.

10.     You aren’t afraid of ‘expressing yourself’
Beginilah kamu, dengan kelebihan dan kekuranganmu. Kamu tak takut berpendapat atau mengekspresikan dirimu melalui gaya berbusana misalnya. Kamu tak takut menjadi diri sendiri, sesuatu yang tidak kamu lakukan di usia lebih muda yang mana (terkadang) kamu masih ikut-ikutan lingkungan sekitar.

11.     Kamu tidak harus menyenangkan semua orang
Kamu tahu bahwa kamu tidak bisa menyenangkan semua orang atau terkadang kamu mungkin mengecewakan mereka. But it’s okay.

12.     Perkataan orang tidak akan ada habisnya
Kamu tahu bahwa akan selalu ada orang yang berkomentar tentang hidupmu. Bahkan diammu saja akan dikomentarin. Di usia 25, kamu menyadari mana omongan orang yang layak untuk didengarkan dan mana yang sebaiknya diabaikan.

13.     It’s okay to be not okay
Terkadang kamu mengalami ‘bad day’ atau kamu merasa ‘bad about yourself’. Kamu melakukan kesalahan dan kamu menyesalinya.Still,  life goes on. It’s okay to be not okay as long as you promise yourself to be better next time.

Thursday, September 3, 2015

8 Fenomena Sosial dengan Adanya Whatsapp


Tak dapat dipungkiri, aplikasi Whatsapp dapat dikatakan sebagai aplikasi messenger terpopuler dewasa ini.  Sebelum adanya Whatsapp, orang biasa mengirimkan SMS (Short Message Service) atau BBM (Blackberry Messenger) dalam mengirimkan pesan. BBM (sebelum dapat diunduh bebas melalui Play Store) membentuk citra eksklusif karena hanya orang-orang yang menggunakan Blackberry yang dapat saling berkirim pesan melalui BBM. Whatsapp semakin populer dengan semakin populernya ponsel cerdas berbasis Android. Ngomong-ngomong, apa saja fenomena sosial masyarakat yang nampak dalam Whatsapp? Simak hasil pengamatan penulis berikut 

1.       Mengobrol sendiri di grup
Whatsapp memungkinkan penggunanya untuk melakukan percakapan secara personal ataupun dalam sebuah grup. Namun, seringkali pengguna Whatsapp dalam sebuah grup hanya merujuk pada satu orang anggota grup lainnya. Misal, dua orang saling bercakap di grup membicarakan hal yang hanya dimengerti oleh mereka berdua atau satu orang anggota grup mengajak ngobrol satu orang anggota grup lainnya di dalam grup. Jika demikian mengapa tidak menggunakan jalur pribadi saja? Bisa jadi digunakannya jalur umum (grup) tersebut dimaksudkan a) untuk memancing respon anggota grup lainnya, b) karena jika menggunakan jalur pribadi terasa terlalu personal  sementara jika menggunakan jalur umum (grup) dapat meminimalkan perasaan personal  karena menganggap semua orang tahu, atau?

2.       Fenomena left
Sering kita dapati notifikasi ‘Mr. X left’ dalam sebuah grup. Orang meninggalkan grup bisa jadi lantaran a) tidak nyaman dengan percakapan dalam grup, b) tersinggung ketika berinteraksi dalam grup, c) sudah tidak merasa ‘bagian’ dari grup, atau?

3.      Timbulnya asumsi dan emosi lantaran fitur Whatsapp
Jadi begini. Whatsapp menyediakan fitur ‘read’ dan ‘last seen’. Pertanda centang biru menunjukkan bahwa chat kita telah dibaca oleh orang yang dituju (read) dan fitur ‘last seen’ menunjukkan kapan terakhir kali seseorang membuka Whatsapp. Pernah suatu kali seseorang marah kepada saya lantaran saya tak membalas chat nya padahal sudah ada tanda centang biru (artinya saya telah membacanya). Atau seorang teman beranggapan temannya tidak menghargai karena tidak membalas chatnya padahal sedang dalam status ‘online’ (padahal online belum tentu sudah membuka percakapan dengan dia, bisa jadi sedang chatting dengan yang lain bukan). Atau ketika Anda sedang bersemangat membicarakan suatu hal dalam grup Whatsapp dan hanya sedikit yang menanggapi, Anda marah karena Anda tahu teman Anda membaca tetapi tidak menanggapi (berdasarkan info pada chat Anda dapat diketahui  siapa yang telah membaca dan siapa yang belum). Jadi saya memutuskan untuk tidak mengaktifkan fitur ‘read’ dan membatasi ‘last seen’. Sudah tahu caranya bukan?

Read receipts tak dicentang biar tak keluar centang biru

4.       Dimasukkan grup tanpa persetujuan
Pernahkah tiba-tiba Anda dimasukkan begitu saja dalam sebuah grup Whatsapp? Hanya bermodal nomor ponsel Anda yang telah terdeteksi menggunakan Whatsapp, seseorang dapat memasukkan Anda ke grup tanpa persetujuan Anda. Berbeda dengan BBM group yang mana membutuhkan persetujuan Anda sebelum bisa bergabung dalam grup tersebut.

5.       Copas komen
Copas atau copy paste chat orang lain merupakan hal yang jamak dilakukan anggota grup Whatsapp lainnya. Semisal mengucapkan selamat ulang tahun, selamat atas pernikahan, bela sungkawa atau ucapan lainnya. Fenomena copas komen tersebut dilakukan lantaran a) merasa komen orang lain cukup bagus dan telah mewakili, b) malas mengetik komen sendiri, c) tidak ingin merasa terlalu personal dengan mengirimkan pesan sendiri, atau d ?