Thursday, December 31, 2015

Penyesalan dan Tahun Baru

Apa yang paling mengganjal di penghujung tahun?

Penyesalan

Menyesal mengapa banyak hal yang disia-siakan. Waktu luang alangkah menjadi pedang bermata dua. Terlalu banyak melakukan hal yang tak perlu seperti banyak menghabiskan waktu di media sosial, sementara banyak hal produktif yang seharusnya bisa dikerjakan.

Menyesal tak sungguh-sungguh memperjuangkan mimpi di tahun 2015. Sekadar membuat resolusi tanpa berupaya habis-habisan agar terwujud. Nanti dan nanti. Betapa banyak hal baik yang tertunda atau malah tak jadi terwujud sama sekali.

Menyesal melewatkan kesempatan. Karena merasa minder, karena tak punya cukup mental untuk mengambil risiko gagal.

Menyesal tidak cukup berani mengatakan apa yang mengganjal. Yang mungkin saja mengubah keadaan.

Menyesal atas kesempatan berbuat baik yang dilepaskan.

~~

Tanggung jawab kita selalu lebih banyak dari waktu yang kita punya. Aku sering melupakannya....

~~

Welcoming new year. Because we need moment to reflect, to move on, to be excited of new things, to keep the hope that things will be better, to refresh our minds.

~~~



Friday, December 18, 2015

Pengumuman Pemenang Monilando’s Giveaway : Spread The Good Story

Pada awalnya, saya merasa kesal dengan berita-berita negatif yang bertebaran di dunia maya, khususnya di media sosial. Entah berita pembunuhan, kebencian terhadap sosok tertentu, perselingkuhan artis dan sebagainya. Namun, di tengah itu semua, berita kebaikan seperti pengguna media sosial yang membantu seorang pengendara gojek wanita, rombongan sedekah, dan sebangsanya layaknya sebuah oase di tengah semua berita negatif yang ada. Saya sungguh percaya dan meyakini bahwa kebaikan adalah salah satu naluri dasar manusia. Orang-orang baik ada di sekitar kita dan jika tidak ada, setidaknya mudah-mudahan kita bisa menjadi salah satunya.

Saya mengucapkan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para peserta giveaway. Insya Allah niatnya adalah membagikan kisah tentang perbuatan baik yang mudah-mudahan dapat menjadi inspirasi kebaikan bagi yang membacanya. Kebaikan itu menular bukan?

Tuesday, December 1, 2015

Does Beauty Really Rule?

"Kalau kamu cantik, masalah hidupmu selesai setengahnya," Dian berkata

Saya baru sadar kalau terkadang kecantikan merupakan rule pertama. Pertama, pada suatu percakapan beberapa bulan yang lalu, seorang teman laki-laki berkata, "Bagi gw sih kriteria milih istri yang pertama itu ya cantik," "Ohya, bukan agamanya?" tanya saya memastikan. "Nggak ah, menurut gw, agama itu bisa dtingkatkan. Tapi kalau cantik itu bawaan,"
Saya cuma ber-oh panjang. Selama ini yang saya dengar dari beberapa teman adalah agama-itu-nomor-satu dalam memilih pasangan tetapi kali itu saya mendengar perspektif baru.

Siapa yang tahu istilah late-bloomer? Nah mungkin saya salah satunya. Percaya atau nggak, baru di usia 25 tahun saya kenal dandan. Hah? telat banget ya. Iya, dari kuliah saya cuma memakai bedak sama lipgloss saja. Itu pun nggak touch-up lagi kalau bedaknya sudah luntur. Bahkan ketika di usia 21 tahun sudah bekerja pun penampilan tetap tak berubah. Jadi ya bisa dibilang penampilan 'lugu' kalau kata mama saya. Btw, mama sering mengingatkan untuk memperbaiki penampilan tapi saya cuek-cuek saja.


Hingga kemudian, di usia 25 tahun saya memutuskan untuk berdandan. Jangan dibayangkan berdandan ala mau datang kondangan ya. Definisi berdandan saya (saat ini) adalah memakai DD Cream + bedak + lipstik + eyeliner. Awalnya, biasa, beberapa orang men-cie-kan sebelum terbiasa melihat saya dengan penampilan baru. Saya juga touch up dandanan selepas salat Dhuhur atau ketika mau rapat.

Well, adakah yang berbeda?

Harus saya akui, iya. Semisal, saat saya rapat dengan orang-orang yang selama ini nggak pernah notice saya, lambat laun menjadi ramah dan menyapa duluan. Belum, cara menatap orang kepada saya berbeda. People notice me more than before. Apa ini lantaran 'penampilan berbeda' atau tidak, kemungkinan besarnya iya. Setelah memperhatikan saya beberapa saat di suatu acara, seorang kenalan bahkan terang-terangan mengatakan, "Eh, kayaknya kita pernah kenal ya?" Saya mengangguk, "Iya kan kita dulu pernah makan bareng (ramai-ramai)," Dia melanjutkan, "Ohiya, aku inget. Eh btw, kayaknya dulu kamu nggak kayak gini deh? Touch up ya sekarang?" Saya cuma tertawa mengiyakan.

Dulu, saya berpikir bahwa yang terpenting adalah 'isi'. Berdandan itu tidak penting. Berdandan itu berlebihan, bedak saja sudah cukup. People should not (only) recognize us from what we look. Tapi benarkah? Bukankah penampilan yang dilihat pertama kali? dan baru kemudian melihat lainnya. Ibarat mengambil buku, kita mengambil buku yang sampulnya menarik. Yang sampulnya tak menarik, terkadang, cuma dilirik sepintas lalu.

Ketika pandangan saya tentang penampilan berubah, saya berpikir bahwa berdandan itu bukan buat siapa-siapa, bukan bermaksud berlebihan, bukan karena ingin dipuji atau maksud tak baik lainnya.  Saya berdandan untuk menghargai diri sendiri. Dengan saya lebih menghargai diri, (ternyata) orang lain lebih menghargai.  

Bagi sebagian perempuan muslimah, berdandan termasuk tabarruj atau memamerkan kecantikan. Bahkan ada juga yang mengharamkan penggunaan bedak. Pokoknya, muslimah harus tanpa make-up apapun. Ah, saya tak berani berkomentar. Kalau saya pribadi, bedak dan lisptik saja untuk mendandani diri seperlunya. Dandan berlebihan itu seperti dandanan pengantin dengan penggunaan macam-macam (bulu mata palsu misalnya).


Bagaimana menurutmu? Apa kamu termasuk perempuan yang suka berdandan? Atau adakah yang late-bloomer juga? Silahkan tinggalkan jejak di kolom komentar ya :)