Thursday, March 10, 2016

Serunya Observasi Laut di Teluk Senunu

Tenggara Explorer meninggalkan Pelabuhan Benete
Pagi sungguh cerah di Pelabuhan Benete, dua tim bersiap mengeksplorasi perairan laut. Satu tim akan melakukan snorkeling dan diving untuk mengamati kondisi bawah laut di Teluk Benete, terutama terumbu karang. Adapun saya dan kelima rekan peserta Newmont Bootcamp Batch V lain bersiap melakukan observasi perairan laut di Teluk Senunu, area di mana penempatan tailing (limbah tambang) PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) berada.  Tujuan observasi perairan laut yang kami lakukan adalah mengecek kualitas air dan sedimen di area terdampak tailing. (Apa itu tailing dan mengapa PT NNT menempatkan limbah tambangnya di laut bisa dibaca di tulisan sebelum ini)

Kapal Tenggara Explorer merupakan kapal khusus yang digunakan untuk melakukan pemantauan perairan laut yang dilakukan secara rutin tiap tiga bulan. Dengan kecepatan 28 knot per jam, Tenggara Explorer mengantarkan kami. Perjalanan kami menuju titik pantau pertama kurang lebih ditempuh dalam waktu satu setengah jam. Terdapat empat titik pantau yang akan kami observasi pada hari itu, pada tiap-tiap titik pantau kami akan mengambil sampel air dan sedimen di tiga kedalaman berbeda : 50 meter, 125 meter dan 500 meter di bawah permukaan laut.

PT NNT memetakan oceanografi yang terdampak tailing menjadi tiga zona : zona A, zona B dan zona C. Sebagai gambaran, zona A merupakan zona yang paling dekat dengan jalur pipa laut penyalur tailing menuju palung laut Teluk Senunu, terhitung 120 meter di bawah permukaan laut sampai dengan dasar palung laut. Salah satu syarat PT NNT dapat melakukan Deep Sea Tailing Placement/DSTP adalah tailing tidak boleh keluar dari zona A. Pada zona A, baku mutu tidak diberlakukan karena pada zona A telah diprediksikan pasti terkena dampak dari tailing.

Ketika Rosette Sampler Terungkit
Alat untuk mengambil contoh (sampling) yang kami gunakan disebut dengan rosette sampler, perangkat standar penelitian oceanografi. Rosette sampler terdiri atas CTD dan go flow. Rangkaian alat penelitian tersebut berfungsi untuk mengukur kekeruhan, oksigen, kadar asam dan sebagainya. CTD ibarat ‘otak’ yang menggerakkan rosette sampler adapun go flow merupakan tabung yang akan diisi air sampel. Rosette sampler dimasukkan ke dalam lautan dan akan mengambil air pada tiga level kedalaman. Pemantauan bertujuan untuk mengetahui apakah tailing yang berada di zona tidak produktif naik ke area zona produktif laut alias apakah terdapat air laut yang tercemar tailing di luar zona yang telah diizinkan. Secara real time, berbagai indikator yang dibutuhkan (seperti kadar tailing, tingkat kekeruhan, dsb) dapat terpantau langsung di monitor melalui kabel yang dihubungkan ke CTD.
CTD, terletak di bagian bawah Rosette Sampler

Go Flow, tabung yang akan diisi oleh sampel air

Selain sampel air, kami juga mengambil sampel sedimen. Apabila sampel air ditampung di dalam go flow, sampel sedimen diambil dengan menggunakan logam berbentuk persegi. Baik sampel air maupun sampel sedimen diletakkan di wadah khusus untuk kemudian disimpan di Departemen Lingkungan PT NNT. Untuk menjaga independensi dari hasil penelitian, air dan sedimen akan dikirimkan ke laboratorium yang telah mendapatkan akreditasi dari Pemerintah Indonesia.


Pengambilan sampel sedimen
Aero-Fi Si Robot Laut
Selain melakukan pengambilan sampel, PT NNT memiliki robot aero-fi yang berfungsi melakukan pemantauan laut. Dengan robot canggih ini, dapat direkam gambar dan video kondisi terkini dari ekosistem laut, khususnya pada area terdampak tailing. Sayang, pada kesempatan kemarin aero-fi tidak diterjukan, sebagai gantinya diputar video hasil pemantauan laut terakhir. Tampak ikan berenang bebas di bawah ujung pipa yang mengalirkan tailing ke palung laut.

Pemantauan limbah tambang dan ekosistem laut merupakan sebuah konsekuensi dari sistem Deep Sea Tailing Placement/DSTP yang dipilih PT NNT sebagai muara dari limbah tambang yang dihasilkan. Penempatan, merujuk pada suatu kata yang mana atas kegiatan tersebut dilakukan secara berkala. Sejauh ini, PT NNT rutin melakukan pemantauan dan tim laboratorium independen menguji hasilnya untuk kemudian dilaporkan ke Pemerintah sebagai bahan pertimbangan apakah izin penempatan tailing tersebut layak dipertahankan (satu kali izin berlaku untuk lima tahun) dan izin dapat dicabut sewaktu-waktu bila terbukti terjadi pencemaran lingkungan laut.

Pemeliharaan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama antara perusahaan tambang dan pemerintah yang harus terus dijaga. Tak hanya untuk kepentingan masyarakat saat ini, tetapi juga sebagai sebuah warisan keberlangsungan bagi generasi mendatang.


1 comment: