Sunday, March 6, 2016

Ternyata Begini Akhir dari Limbah Tambang Newmont

Pertanyaan yang paling sering ditanyakan kepada perusahaan tambang adalah terkait dengan limbah tambang yang dihasilkan. Pun, gugatan yang sering diajukan, utamanya, terkait dengan pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh limbah. Lantas, bagaimana PT Newmont Nusa Tenggara (selanjutnya akan disebut Newmont saja) mengelola limbahnya?

Apa yang Dimaksud dengan Tailing?

Penampakan tailing (foto Hendra Wardhana)
Secara sederhana, tailing bermakna limbah tambang. Seperti telah dijelaskan dalam tulisan sebelum ini (Bagaimana Segunung Tembaga dan Emas Dihasilkan?), proses pengolahan tambang yang dilakukan oleh Newmont akan menghasilkan konsentrat dan tailing. Konsentrat merupakan mineral berharga yang dipisahkan dari bijih setelah mengalami pengolahan tertentu. Singkatnya, tailing merupakan sisa hasil pengolahan tambang yang tidak mengandung mineral berharga. Secara bentuk, ia seperti lumpur dan mengandung 20-45% partikel padat bercampur air laut dan/atau air tawar yang digunakan dalam proses pengolahan bijih.

Jadi, dalam proses pengolahan, bijih batuan akan menghasilkan konsentrat dan tailing. Konsentrat mengandung mineral berharga dan inilah yang akan dijual oleh Newmont, adapun tailing merupakan limbah tambang yang tidak mengandung mineral berharga.

Lalu, Bagaimana Akhir dari Tailing?

Tailing yang dihasilkan dalam proses pengolahan tambang akan ditampung sementara sebelum dialirkan melalui jaringan pipa darat sepanjang 6 km dan pipa laut sepanjang 3,4 km dari garis pantai hingga tepi palung laut di di Teluk Senunu pada kedalaman 125 m. Palung laut sebagai muara dari tailing berkedalaman 4000 meter, amat dalam. Newmont menolak keras istilah ‘membuang limbah’ dan menggunakan istilah ‘menempatkan limbah’.

“Membuang berarti meninggalkan begitu saja, tidak menengoknya lagi. Kami menggunakan istilah menempatkan, kami memantaunya secara berkala,” begitu penjelasan pak Toni, salah seorang pegawai senior di Departemen Lingkungan PT NNT.

Deep Sea Tailing Placement (DSTP) atau Sistem Penempatan Tailing Laut Dalam merupakan sistem yang dipilih oleh PT NNT dan disetujui oleh Pemerintah Indonesia pada saat dilakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Proyek Batu Hijau. 

Mengapa Limbah Tambang Ditempatkan di Laut? Mengapa Tidak di Darat?

Terdapat berbagai pertimbangan yang mendasari pemilihan DSTP. Pertama, jika limbah tambang tersebut ditempatkan di darat, maka diperlukan sekitar 2.300 hektar lahan. Padahal, lahan sekitar Newmont merupakan daerah yang subur, lahan produktif itu akan ‘dikorbankan’ sebagai tempat penampungan tailing.

Kedua, curah hujan tahunan rata-rata lebih dari 2.500 milimeter sehingga dikhawatirkan akan menyebabkan pengelolaan air dalam penampungan di darat akan sulit dilakukan. Ketiga, jika terjadi gempa di darat, dikhawatirkan penampungan tailing di darat dapat membahayakan masyarakat. Keempat, tailing ditempatkan di bawah zona photic laut yang produktif (berada di zona di mana sudah tidak terdapat sinar matahari sehingga produktivitas rendah) sehingga dapat meminimalkan dampak terhadap lingkungan. Secara zat, tailing memiliki kepadatan dan massa jenis yang lebih berat dari air laut sehingga ia akan mengendap di dasar palung laut.

Alasan-alasan tersebut di atas lah yang mendasari pemilihan DSTP sebagai sistem pengolahan limbah yang dilakukan oleh Newmont. Dapat dikatakan kondisi geografis dan ekologis sekitar area tambang Batu Hijau mendukung dilakukannya DSTP. 

Pengawasan Ketat Tailing

Tailing yang ditempatkan di palung laut Senunu bukannya dibiarkan begitu saja. Dari segi jumlah, terdapat batas maksimum jumlah tailing yang diizinkan yakni sebesar 54,8 juta dmt (dry metric ton) per tahun. Pengawasan yang ketat terhadap tailing dilakukan baik oleh pemerintah maupun Newmont. Dari pemerintah sendiri, izin operasi DSTP/Sistem Penempatan Tailing di Dasar Laut diberikan secara berkala untuk periode lima tahun, semisal izin operasi tersebut berlaku dari tahun 2011-2016. Agar izin pengoperasian DSTP untuk periode berikutnya dikeluarkan oleh Pemerintah (dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup), tailing akan diambil sampelnya dan menjalani beraneka macam tes. Tes dilakukan oleh para ilmuwan, baik dari LIPI maupun laboratorium yang memiliki akreditasi dari Pemerintah Indonesia. Uji toksisitas atau uji yang dilakukan untuk meneliti kadar racun misalnya, dilakukan pada hewan yang berada di Laut Senunu seperti anakan ikan kakap merah dan kerapu macan. Sejauh ini, pengujian yang dilakukan menunjukkan bahwa tailing yang dihasilkan oleh PT NNT tidak beracun secara akut atau kronis.
foto oleh I Putu Adiartana/fotosintesa.com
Selain itu, pemantauan berbagai aspek yang mungkin terdampak dari tailing juga dilakukan. Pemantauan meliputi pemantauan terumbu karang, sedimen laut, ikan, ekologi muara, dan mutu air. Para peserta Newmont Bootcamp diputarkan video yang menunjukkan ikan-ikan berenang dengan bebas di sekitar pipa penyaluran tailing
Pipa HDPE yang digunakan untuk mengalirkan tailing di dalam laut (dok. pri)
Sejauh ini, penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan independen dari dalam dan luar negeri menunjukkan bahwa tailing tidak menyebar ke arah pantai bagian pesisir dari Ngarai Senunu ataupun ke air permukaan pada kedalaman kurang dari 120 meter (kedalaman di mana tailing mulai disalurkan ke laut sebelum mengendap di palung).  Selain itu, hasil studi menunjukkan kandungan logam di semua lokasi terdampak sesuai dengan prediksi pada AMDAL, masih dalam batas baku mutu yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan HidupDapat dikatakan bahwa tailing tidak mencemari air laut. 

Pemantauan sebaran tailing di dalam laut dilakukan PT NNT secara terjadwal : setiap satu bulan, tiga bulan dan enam bulan. Kami berkesempatan memegang tailing secara langsung saat dilakukan pemantauan.  Bentuknya seperti lumpur. Bahkan, pada Newmont Bootcamp sebelumnya, ada salah seorang peserta yang berani meminum tailing (dengan inisiatif sendiri) dan puji syukur tidak terjadi apa-apa hingga sekarang.

Pencegahan Tumpahan Tailing

Selain dipantau secara berkala, tailing juga dicegah agar tak sampai tumpah. Untuk pipa darat tailing ditempatkan di sebuah ruang terbatas, jika terjadi tumpahan makan tumpahan tailing akan tertampung pada ruang tersebut. Adapun untuk upaya pencegahan kebocoran terhadap pipa laut tailing, PT NNT memiliki dua jalur pipa yang mana satu digunakan untuk operasi dan satu sebagai cadangan. Jika terjadi kebocoran pipa laut, sesegera mungkin pabrik dihentikan dan penempatan tailing dialihkan menggunakan pipa cadangan. Selain itu, penggantian pipa dilakukan secara berkala sebelum ketebalan pipa mencapai batas minimumnya.

Real Time Observation

Memandang pipa tailing darat (dok. pribadi)
Newmont berupaya bersikap transparan kepada para peserta Newmont Bootcamp, salah satunya melalui observasi laut dalam untuk melihat sendiri dampak tailing. Saya dan empat rekan lain diajak mengambil sampel tailing dan sedimen laut secara langsung. Pun, orang yang memahami diajak langsung mengobservasi, misal salah seorang rekan, Shouma, merupakan mahasiswi jurusan Biologi Kelautan. Dengan kapal Tenggara Explorer, kami menuju laut lepas dan menyaksikan bagaimana pemantauan ekosistem laut dan tailing dilakukan.

Tulisan selanjutnya tentang bagaimana pemantauan tailing dan ekosistem sekitar yang diprediksikan terdampak tailing dilakukan. 

***

Jangan lewatkan ulasan ilmiah menarik I Putu Adiartana tentang kemungkinan tailing naik ke permukaan laut berikut : http://www.fotosintesa.com/knowledge/gawat-tambang-batu-hijau-menyebabkan-permukaan-air-laut-naik-sebanyak-ini

23 comments:

  1. Makasih Mbak Monika, jadi tahu bagaimana NNT melakukan pengelolaan trailingnya. :)

    ReplyDelete
  2. Salam kenal mbak Monika, saya baru pertama mampir nih.

    Tailing atau sampah tambang ya? itu lumpur berbahaya yang memang harus dijauhkan dari permukiman manusia ya mbak. Salut pada orang-orang yang menangani hal ini karena perlu perhitungan tinggi untuk mengelolanya supaya tidak mencemari ekosistem laut :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejauh ini, hasil penelitian dan studi menunjukkan bahwa tailing tidak berbahaya melalui beraneka uji yang dilakukan. Tulisan berikutnya insya Allah membahas ekosistem bawah laut :)

      Makasih ya mba Anjar kunjungannya. Salam kenal :)

      Delete
  3. yaampun jadi pengin daftar jadi karyawan.. hihi gimana nih :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih.. perusahaan dengan standar tinggi :D

      Delete
  4. Waaah tulisannya cukup berat nih mbak. Penanganan limbah memang ngga bisa main-main ya mbak. Makasi infonya ya Mbaaak, nambah pengetahuan banget nih.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benar sekali mba... limbah berdampak luas bagi lingkungan jadi harus ekstra penanganannya.. Makasi ya mba kunjungannya :)

      Delete
  5. Memang benar ya, ternyata istilah menempatkan lbh tepat drpd membuang tailing, karena Newmont selalu mengecek secara reguler ;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. klo dibuang sih nggak ditengok2 lagi hehe

      Delete
  6. tulisannya mantab banget dahhhh

    ReplyDelete
  7. wah tulisan mb monik simple dan mudah dimengertii lohhh :3 mantepp

    ReplyDelete
  8. Tulisannya begitu membukakan mata bahwa tailing Newmont benar2 diperlakukan secara ketat mengedepankan aspek lingkungan,,

    tulisan yang bagus budhe..

    ReplyDelete
  9. Izin nyimak artikelnya ya gan? :D

    ReplyDelete
  10. Kalo pembuangan tailing seperti ini mudah-mudahan aman selamanya. Coba perusahaan lain pembuangan tailingnya juga bagus saya kira gak akan jadi polemik banyak pihak.

    Itu yang berani makan tailing ngeri aja bagi saya. Tailing itu banyak mengandung zat berbahaya, salah satunya merkuri.

    salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mas, PT NNT tidak menggunakan merkuri dalam pengolahan tambang yang dilakukannya. Proses pengolahan tambang secara fisika, bisa dibaca di artikel berikut ya mas

      http://www.monilando.com/2016/03/bagaimana-segunung-tembaga-dan-emas.html

      :)

      Delete