Wednesday, November 30, 2016

Menikah untuk Bahagia?



"Kamu lama nggak nikah-nikah kok kayaknya happy-happy aja?”

Jleb. Nggak ada angin nggak ada hujan, kemarin seorang rekan kantor tiba-tiba menanyakan hal itu ke saya yang secara nggak sengaja lewat di depannya. 

“Hah, terus aku harus gimana?”

“Ya, keliatan merana gitu kek, nangis sebulan, kamu kayaknya enjoy aja,”

Duh Gusti, paringono sabar (dalam hati), “Ya, terus aku harus nunggu menikah dulu buat bahagia? Aku bahagia dengan apa yang ada sekarang dan menikah adalah alat untuk melipatgandakan kebahagiaanku. Bukan menikah untuk bahagia, tetapi menikah untuk (lebih) bahagia,”

“Oh gitu ya. Berarti nggak nikah nggak papa juga, kan udah bahagia?”

Saya ngeloyor. 

**                                                     
“Please deh, kamu harus berubah,” Saya menatap tajam seorang teman perempuan. Ada saja kelakuan messy nya yang mengacaukan suasana. Ketika itu, sebilah pisau baru saja terjatuh di kepala saya, untung cuma gagang kayunya. Posisi saya waktu itu bersandar di ranjangnya, rupanya ia secara serampangan meletakkan pisau di ranjangnya.

I need somebody to save me,” suaranya lirih, “Aku bisa berubah kok kalau ada yang memintaku berubah,”

Saya geleng-geleng. “You should save yourself first,”

***


Usia saya dua puluh tujuh tahun lewat dua bulan, di usia sekarang ini ada beberapa teman seangkatan yang sudah menggendong anak ketiganya. And, i am still single. Namun, haruskah saya menunggu menikah dulu untuk bahagia? Haruskah saya jadi seorang gadis menye-menye, galau, tak berkeinginan melakukan apa-apa lantaran merisaukan jodohnya? Atau menjadi gadis yang merutuki nasibnya, menangis dan merasa rendah diri lantaran belum menikah?

Jodohmu sudah ditetapkan, lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi...

Yang pertama saya sadari, umur kedewasaan seseorang berbeda-beda. Mungkin ada yang berumur dua puluh satu tahun sudah dewasa lalu segera menikah. Kalau saya pribadi, sejujurnya, saya baru sepenuhnya menyadari bahwa siap menikah di usia dua puluh enam lewat sekian bulan. Sebelumnya mungkin masih ‘ingin’ saja, melihat kanan dan kiri sudah menikah, enak berduaan ke mana-mana. Siap adalah ketika saya paham betul apa konsekuensi dari sebuah pernikahan dan bersedia menanggung semua konsekuensi yang ditimbulkan. Saya siap menjadi istri dengan segala konsekuensinya, siap menjadi seorang ibu dengan segala konsekuensinya, siap menjadi seorang menantu dengan segala konsekuensinya, dan sebagainya.

Saya ingat betul perkataan tante ketika saya ‘galau-belum-menikah’ di usia ke-24 kala itu, “Udah tenang aja Monik, nanti ada masanya kamu ingin settle down, udah nikmati saja dulu apa yang ada. Tante dulu nikah di umur 27 ketika tante sudah puas ke sana ke mari dan kemudian tante pengen menikah,”

Waktu itu saya belum paham.

Tetapi seiring waktu, perkataan tante terbukti benar. Misalnya, saya yang dulunya sibuk berburu tiket promo sudah tak terlalu antusias, sudah cukup puas bertualang ke beberapa daerah di Indonesia, sudah puas ikut beraneka kursus mulai dari kursus pranikah hingga bahasa Mandarin, mengambil kesempatan belajar agama selama dua tahun di sebuah sekolah tinggi Islam tiga kali dalam sepekan. Secara emosional, dulu saya yang sempat merasa terganggu dengan tangisan dan rengekan anak kecil (kemudian istighfar) kini memandang anak kecil dengan sudut pandang berbeda. Tangisan mereka terdengar merdu, saya merasa sabar dan bisa mengatasi mereka, bahkan tiap melihat anak kecil saya sholawatin. Emosi terjaga stabil. Then, i talk to myself, “I am ready to settle down. I wanna settle down and make family,”

Ya, saya sempat merasa galau dengan kesendirian. Lebih-lebih melihat kebahagiaan yang dipamerkan oleh teman-teman di media sosial, kemesraan mereka dengan pasangan, kebahagiaan mereka dengan sang buah hati. Their lives seem perfect.

Hingga kemudian saya bertanya kepada diri, “Apa iya saya menunggu menikah dulu baru berbahagia?”

Dengan menikah bukan berarti masalah akan selesai, malah akan menimbulkan masalah baru. Kehidupan bukanlah dongeng Disney yang berakhir dengan kalimat “and they live happily ever after,” Ya, setiap fase kehidupan pasti ada tantangan masing-masing. Ketika SD ada ujiannya, ketika SMP ada ujiannya, bentuk ujiannya berbeda. Ketika masih single ada ujiannya, ketika sudah menikah pasti beda lagi bentuk ujiannya. 

Then, i choose to be happy and thankful for what I have now...

Saya punya keluarga yang amat menyayangi dan mendukung, punya teman-teman dekat luar biasa baiknya yang rasanya sudah kayak keluarga, punya pekerjaan tetap yang cukup untuk menghidupi dan bertahan di ibukota, dan masih banyak lagi hal yang harus saya syukuri. Jejaring koneksi yang cukup luas, teman komunitas ini dan itu, serta ada saja kegiatan ini dan itu. Mumpung masih single, pergiat cari ilmu ini itu, bergaul seluas-luasnya, ikut kegiatan ini itu, baca buku sebanyak-banyaknya. For now, i enjoy my life to the fullest and i feel good about myself. 

Bukan berarti nggak pengen segera menikah ya. Hanya mencoba mensyukuri dan menjadikan yang terbaik dari apa yang ada untuk saat ini.

Saya yakin semua hal ada hikmahnya. Begitu juga mengapa Allah belum mempersatukan saya dengan mas jodoh. Mungkin Allah pengen saya memperbaiki diri dulu, menyelesaikan urusan yang belum selesai, begitu juga dengan si mas jodoh. Mana tahu dia di sana harus ABC dulu, menunggu urusan XYZ selesai dulu. 

Yang saya yakini, saya dan dia akan dipertemukan dalam sebaik-baik keadaan. Dan saya yakin ketika pada akhirnya kami dipersatukan, akan terjawab semua tanya mengapa. Allah selalu punya rencana terbaik, bukan?

Ya, saya bahagia dan menikah adalah alat untuk melipatgandakan kebahagiaan saya nantinya. Menikah bukan untuk bahagia, melainkan menikah adalah untuk lebih bahagia.

Ngomong-ngomong, mohon doanya ya supaya segera dipersatukan dengan lelaki terbaik. Mana tahu doa kamu yang sedang membaca tulisan ini adalah doa yang mustajab, bukan?




  

27 comments:

  1. Mbak Monik... i know what you feel mbk. *Peluk

    Semoga mbak monik dpat jodoh di waktu yg tepat. Insya Allah. Barakallah ya mbak. Allah selalu bersamamu ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... Makasih Arinta *pelukjauh.. Doa kebaikan yang sama untukmu :*

      Delete
  2. Kok jadi pengen getok temenmu yg nanya kenapa hepi2 aja blm nikah

    Ya harus hepi lah... Life is all about happiness goals not body goals or relationship goals. Harus bahagia dulu, sebelum bikin orang lain bahagia gitu kann

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahihi.. bener banget cyin... Gmn bisa ngebahagiain orang lain, klo dia belum bahagia dengan dirinya sendiri *eh

      Delete
  3. Semangat monik.....semua sudah diatur sama yang diatas...

    ReplyDelete
  4. lho, siapa tahu juga salah satu orang yang sedang membaca ini adalah jodohmu, mon
    ehehe~

    ReplyDelete
  5. Can not agree more, mon....
    Lagipula cm orang yg sudah bahagia yg bisa menjalin hubungan keluarga yg sehat :)
    Smg segera dipersatukan dg pria yg terbaik utk monik (masih boleh panggil momon ga? Heheh) yaaaa....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahihi, aamiin... Makasi ya la :*

      Boleh banget dong :D

      Delete
  6. membayangkanmu berceramah langsung di depan kami, sahabat2mu tentang arti kebahagiaan sesungguhnya. Semoga segera dipertemukan dalam tempat, waktu, orang yang terbaik ya mon. #Lagilagihanyabisaberdoa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aih Man, masak kau cuma mendoakan aja? *ngambek

      Aamiinnn

      Delete
  7. Aamiin.. Semoga disegerakan ya Mon..

    ReplyDelete
  8. Aamiin.. Semoga disegerakan ya Mon..

    ReplyDelete
  9. wkwkwkwk. menikah kok tujuannya bahagia

    ReplyDelete
    Replies
    1. well, postingan ini dari satu perspektif sih dead, dengan latar belakang omongan orang tadi...

      klo dijabarin semua tujuan menikah sih panjang :p

      Delete
  10. Semangat Mbak. Mengutip kata seseorang. Marriage its not #LifeGoals.
    Semoga segera Allah pertemukan dengan jodohnya ya Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. Makasih ya Dek.. semoga makin samawa yah pernikahannya :)

      Delete
  11. mbak kece.... semoga segera terkabul ketemu mas jodohnya. bener banget allah lebih tau apa2 yg nggak kita tau... bismillahi tawakalna.... ��

    ReplyDelete
  12. Kak....Monik, aku juga pernah ditanya begitu..."kok kak Azmi selalu keliatan ceria, nggak pernah keliatan kalau karena belom nikah..bla bla bla"

    pengen ketawa aja aku jadinya...hihi

    Peluk kak Monik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, masak iya kudu kehilangan keceriaan ;)

      *pelukbalik

      Delete
  13. Allah akan kirimkan segala sesuatu setepatnya waktu, bukan secepatnya waktu. Nikmatin mbak, dan terus berprasangka baik sama Allah. :)

    Salam,
    Syanu.

    ReplyDelete
  14. Ini memang menjadi masalah perempuan yang udah memasuki usia 25an keatas, semua pada ribut tanya "kapan nikah?" dan seolah-oleh kita yang masih single di usia segini ini kayak dibilang ini itulah aneh-aneh gak jelas. Saya setuju dengan mbak, bahwa jodoh sudah ada yang ngatur. kita tinggal berprasangka baik ke Allah sambil terus berusaha, jika tiba waktunya nanti pasti datang. terima kasih mbak tulisannya indah :D

    ReplyDelete
  15. Setuju banget nih, defisi menikahnyamoga.
    Moga urusan ABC to XYZ keduanya nya segera biar segera bertemu juga dalam satu jalinan pernikahan, Aamiin.

    Anyway, udah calon kan? #eeh
    Moga disegerakan, Aamiin.;)

    ReplyDelete
  16. Bahagia banget kalau udah nikah terus di karuniai baby yang imut menggemaskan hehehe

    ReplyDelete