Thursday, December 22, 2016

Mama : Cinta yang Tak Pernah Semenjana

Dapatkah kita membayangkan seperti apa hidup tanpa kecerewetan Mama?
Adalah jarang bagi saya berada di rumah mengingat selepas SMA sudah hidup di perantaua
n. Kesempatan itu saya gunakan untuk mengamati kehidupan di rumah secara lebih mendetail.  Mulai dari sebelum subuh, Mama membangunkan Hilmy (si adik bungsu berusia empat belas tahun) untuk sholat tahajud yang katanya jauh lebih sering gagal. Kemudian tatkala azan subuh berkumandang, Mama membangunkan dengan lebih gigih. Kadang Hilmy 'berhasil' bangun dalam waktu lima menit kemudian meski dengan malas-malasan ia beranjak ke kamar mandi, menggosok gigi, berwudlu, dan kemudian menuju masjid. Kadang, ia bangun baru ketika Mama pulang dari sholat subuh di masjid dan mengulangi usahanya membangunkan.

Sabtu pagi tempo hari, Mama mengajak Hilmy ke pengajian bulanan seorang ustadz. Sempat takjub ketika Hilmy mau ikut sebelum Mama mengatakan,"Yah, kudu diiming-imingin dulu. Kemarin udah beli dua kaos," Haha. Entah dengan iming-iming atau 'ancaman', Mama selalu berupaya agar ibadah menjadi sebuah kebiasaan. Misal, uang saku Hilmy keesokan harinya akan dipotong sepertiga kalau ia tak mengaji di hari itu.

Untuk anak remaja, terkadang iming-iming atau 'ancaman' sudah tak mempan lagi. Lepas isya ketika saya di rumah beberapa waktu lalu, Mama menyuruh Hilmy untuk mengaji di masjid bersama seorang ustadz. Ada saja alasan Hilmy. Mulai dari "Ah sama aja di masjid apa di rumah, sama-sama ngaji," kemudian dijawab,"Beda dong Dek, di masjid ada yang ngoreksi kalau bacaannya salah," lalu Hilmy ngeles lagi, "Baju ngajiku cuma satu, malu pakai itu terus," kemudian dijawab Mama,"Ya udah, nanti dibeliin lagi,". Lanjut,"Nggak mau ah ngaji di masjid, temennya anak kecil semua," "Ya udah,nanti manggil ustadz ke rumah aja ya," Masih nggak mau kalah,"Ah Mama aja ngajinya  juga nggak pakai guru," yang baru tertukas dengan kalimat Mama,"Mama ngaji tiap hari sama ustadzah loh, tiap habis pulang kantor,"

Ya, akhirnya teladan orang tua yang dibutuhkan.

Dapatkah kita membayangkan kehidupan dewasa tanpa peran Mama menanamkan nilai agama di waktu kecil?

Monika kecil menaiki tiang besar sebuah masjid, ‘bergelantungan’ di sana. Usianya empat tahun, ia asyik berlari-lari, ke sana ke sini. Dari sekitar dua jam waktu mengaji, mungkin hanya setengahnya ia bisa duduk manis mengeja alif ba ta. Ya, dari usia empat tahun Mama sudah memasukkan saya ke TPQ, umur tujuh tahun sudah ikut khataman Al Qur’an. Mama yang waktu itu belum bisa mengaji memastikan anak-anaknya harus bisa mengaji sedini mungkin. Lepas pendidikan di TPQ, Mama memanggil guru ngaji ke rumah, seminggu lima kali, hingga SMA. Agaknya Mama khawatir jika tak didampingi guru, anak-anaknya belum bisa konsisten mengaji setiap hari.
kasih ibu, cinta ibu
Pic by me

Lelah? Ya. Kadang-kadang ingin bermain saja.

Itu baru urusan mengaji. Belum urusan sholat dhuha, sholat tahajud, sedekah dan puasa Senin-Kamis yang selalu ditekankan Mama. Misalnya, Mama menyuruh menyediakan kotak khusus untuk menampung sedekah harian. “Waktu Subuh itu waktu yang diberkahi. Sedekah setiap hari di waktu Subuh,”. Setiap saya melihat kotak itu, saya ingat Mama. Pesannya seakan selalu terngiang.

Hingga sekarang, Mama masih rajin mengingatkan. Puasa nggak hari Senin ini? Ohya, besok tiga hari puasa Ayyamul Bidh lho! Tadi sholat tahajud nggak? Sedekahnya jangan lupa ya!  Kadang-kadang beliau menelpon di waktu tahajud untuk memastikan anaknya ini sudah bangun.

Dulu saya protes, “Iya, Mama. Aku sudah tahu,”

Mama menanggapi kalem, “Ya namanya manusia, harus diingetin terus. Coba lihat Ustadz ceramah, kadang kan kita sudah tahu. Tapi memang manusia tempatnya salah dan khilaf,”

Jleb!

Itu baru urusan agama. Belum urusan dunia. Mama selalu menekankan pentingnya pendidikan. Beliau tak berkeberatan membayar mahal untuk kursus dan urusan pendidikan lainnya, selalu dicarikan biayanya. Pendidikan itu bukan biaya, melainkan investasi. Satu nilai kehidupan yang tertanam di antara sekian banyak nilai kehidupan yang Mama ajarkan.

Hal-hal luar biasa yang saya sadari ketika saya dewasa. Ketika saya berada ratusan kilometer jauhnya. Ketika saya berada jauh dari pengawasannya…

Ia selalu menjaga….. Dengan apa-apa  yang ditanamkannya, dengan yang diajarkannya, dengan apa yang dicontohkannya….

Benarlah jika dikatakan bahwa ibu adalah madrasatul 'ula, sekolah pertama bagi anak-anaknya. Tanpa mengesampingkan peran ayah, pada umumnya sang ibu yang lebih 'telaten', lebih 'gigih' (dengan efek samping disebut 'bawel' atau 'cerewet') dalam menanamkan kebiasaan atau nilai-nilai baik  kepada anak. Mengutip hikmah kisah nabi Yusuf as yang disampaikan oleh Ustadz Bendri Jaisyurrahman dalam sebuah kajian, nabi Yusuf as yang nyaris 'tergoda' dengan Zulaikha berhasil menghindari godaan tersebut lantaran 'di saat kritis', ia teringat 'tanda dari Tuhannya' yakni nilai-nilai yang ditanamkan sang ayah yang kemudian menyelamatkannya. Ustadz Bendri menegaskan bahwa nilai baik yang telah tertanam sedari kecil akan dirasakan di titik kritis kehidupan seseorang.
“All that I am or ever hope to be, I owe to my angel mother,” -Abraham Lincoln
Selamat Hari Ibu untuk Mama. I am nothing without you, but I can be everything with you by my side. 
Mama. Cintanya tak pernah semenjana
Selamat Hari Ibu. Untuk para ibu yang tak lelah mengajarkan dan memberi teladan.
Selamat Hari Ibu
***


13 comments:

  1. kalau sudah berjauhan memang terasa ya Mbak, kalau mama benar-benar menjaga kitaah

    ReplyDelete
  2. aku selalu kangen dicerewtins ama ibuku sampai usiaku sudah lansia , tetep cerewetnya ibu itu ngangenin

    ReplyDelete
  3. mama memang malaikat tak bersayap yaa Mbaa, sehat selalu untuk semua mama-mama kita di luar sana, amin..

    ReplyDelete
  4. Kasih ibu sepanjang masa gak akan bisa ditukar dengan isi dunia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, sang anak nggak akan bisa membalasnya :')

      Delete
  5. Tiada kata lain yang mewakili deskripsi Ibu selain "Segalanya". Aku hidup berdekatan dengan Ibu, tapi masih merasakan kerinduan kasih sayang dulu waktu aku kecil. ^_^

    ReplyDelete
  6. Ibu itu segalanya buatku. Surgaku, hidupku, semuanya

    ReplyDelete
  7. romantis ngettss, si ibu baca nggak cyin?
    ntuh om karl udin lama pengin tasnya tapi celengan jebol muluk jadi susah penuhnya LOL :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Monik. Peran ibu besar sekali

      Btw, DA saya naik 3 angka juga lho setelah bersih2 broken link :)

      Delete