Sunday, March 27, 2016

Simpler and Fresher Blog Layout, Wanna Try?




Siapa yang suka mengutak-atik tampilan blog? Bagi saya yang tak bisa bermain kode CSS (hiks!), mengubah-ubah tampilan layout hanya bisa standar dengan menu yang ditawarkan Blogger. Belum lagi ada teman yang memberikan kritik, “Mon, blogmu udah dotcom tapi tampilannya kayak masih blogspot gitu,” Mungkin, maksudnya kurang elegan gitu ya. Ya, wajar saja, untuk backgroud masih memakai gambar gratisan Blogspot. Hehe. Maafkan saya yang masih punya PR buat belajar membenahi layout.

Hingga, kira-kira sebulan lalu bertemu Ninda di Surabaya dan obrol punya obrol, mengapa tak meminta tolong kepada Ninda yang jago mengutak-atik tampilan blog. Akhirnya, kami pun berkomunikasi via whatsapp, saya menyampaikan konsep tampilan yang saya inginkan dan Ninda kemudian menerjemahkannya secara visual. 

Secara tema, saya suka warna oranye. Fresh and lively. Latar blog putih untuk memberikan kesan simpel elegan serta membuat pembaca lebih nyaman. Berikut desain dari Ninda yang saya suka :
1.         Header
Tulisan Monilando’s yang ‘meliuk-liuk’ dan ada icon blog ini dengan ‘awan’nya. Cukup menggambarkan empunya :p . Ukurannya pas di tengah dan ada garis oranye blink-blink yang cukup ‘festive
2.         Sub header
Life, books, traveling dan socmed yang merupakan tagline blog ini dituliskan sebagai sub header yang sekaligus sebagai label untuk memudahkan pembaca mengakses. Bunga matahari di depan tagline bikin kelihatan lebih ‘feminim’.
3.         Hello!
Ada foto ‘ala-ala’ dan sambutan selamat datang. Hello! Yang jika di-klik akan tersambung ke page ‘More About’.
4.         Social Media Button
Ada lima social media buttons di sidebar. Suka dengan kotak ‘oranye blink-blink’ agar blog tak terlalu polos.
5.         Back to Top
Walau nampaknya simpel, back to top itu cukup penting untuk memudahkan pembaca. Suka deh bulatan oranye di pojok kanan bawah. 

So far, suka sekali dengan hasil karya Ninda ini. Walau kata mas-mas yang memberikan kritik, blog ini masih kebanyakan widget. Hehe. Selain suka sama karyanya, saya juga puas sekali dengan pelayanannya. Totalitasnya tinggi. Ada saat saya kurang puas tapi sungkan menyuruh dia mengulang, kemudian dia tak keberatan membuat yang baru. Sampai tengah malam juga dia berkabar masih menyelesaikan layout. Wow.  So, jangan ragu-ragu mengintip Listeninda, bisa juga tanya-tanya atau minta dibuatin desain juga loh via email ke anindyarahadi at gmail com buat yang ingin tampilan blognya jadi lebih kece.

Bagaimana menurut teman-teman penampilan baru blog ini? Ada yang kiranya perlu ditambah atau dikurangi? Kalau teman-teman bagaimana, tema layout di blog kalian seperti apa?
Share, yuk!

Thursday, March 10, 2016

Mengintip Standar Tinggi Perusahaan Tambang

Sebagai sebuah industri, dapat dibilang tambang merupakan sebuah ‘industri seksi’. Mengesampingkan kepentingan politis, industri tambang sendiri merupakan sebuah industri bernilai strategis tinggi. Risiko tinggi pun menyertai industri bermodal besar ini. Tak heran jika perusahaan tambang mematok standar tinggi dalam berbagai aspek. Lalu, seperti apa standar tinggi yang diterapkan di PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT)?

Keselamatan Adalah yang Paling Utama

haul truck
Bagi PT NNT, keselamatan pekerja adalah prioritas utama. “Bekerja Aman Adalah Budaya Kita” merupakan moto yang tercetak besar pada bagian haul truck. Tak sembarang orang bisa mengemudikan haul truck, truk raksasa pengangkut bijih batuan dari mulut tambang. Seleksi cukup ketat diberlakukan, terdapat simulator haul truck untuk menguji para calon operator. Calon operator akan duduk di belakang kemudi simulator dan seakan-akan mengendarai haul truck dalam berbagai kondisi, mulai dari ban bocor hingga kebakaran. Hanya calon operator yang mampu bertahan mengendalikan haul truck minimal selama 1,5 jam yang akan lolos seleksi. Di lapangan, haul truck dikemudikan dengan kecepatan maksimal 50 kilometer per jam, jika tidak alarm sebagai tanda peringatan akan berbunyi. Berisiko tinggi tentunya jika truk bermuatan ratusan ton dikemudikan secara serampangan.

Selain itu, PT NNT melengkapi para pegawainya dengan seperangkat alat pengaman seperti helm pengaman, sepatu pengaman, masker pelindung dan pelindung telinga ketika berada di area yang menghasilkan bunyi berdensibel di atas rata-rata. Sepatu, misalnya, merupakan sepatu kulit berangka baja kuat  yang jika terdapat beban berat hingga ratusan ton tetap melindungi kaki. Sebagai contoh, salah seorang peserta Newmont Bootcamp terkena musibah disengat lebah tatkala ia sedang melepas sepatu pengaman.  

Serunya Observasi Laut di Teluk Senunu

Tenggara Explorer meninggalkan Pelabuhan Benete
Pagi sungguh cerah di Pelabuhan Benete, dua tim bersiap mengeksplorasi perairan laut. Satu tim akan melakukan snorkeling dan diving untuk mengamati kondisi bawah laut di Teluk Benete, terutama terumbu karang. Adapun saya dan kelima rekan peserta Newmont Bootcamp Batch V lain bersiap melakukan observasi perairan laut di Teluk Senunu, area di mana penempatan tailing (limbah tambang) PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) berada.  Tujuan observasi perairan laut yang kami lakukan adalah mengecek kualitas air dan sedimen di area terdampak tailing. (Apa itu tailing dan mengapa PT NNT menempatkan limbah tambangnya di laut bisa dibaca di tulisan sebelum ini)

Kapal Tenggara Explorer merupakan kapal khusus yang digunakan untuk melakukan pemantauan perairan laut yang dilakukan secara rutin tiap tiga bulan. Dengan kecepatan 28 knot per jam, Tenggara Explorer mengantarkan kami. Perjalanan kami menuju titik pantau pertama kurang lebih ditempuh dalam waktu satu setengah jam. Terdapat empat titik pantau yang akan kami observasi pada hari itu, pada tiap-tiap titik pantau kami akan mengambil sampel air dan sedimen di tiga kedalaman berbeda : 50 meter, 125 meter dan 500 meter di bawah permukaan laut.

PT NNT memetakan oceanografi yang terdampak tailing menjadi tiga zona : zona A, zona B dan zona C. Sebagai gambaran, zona A merupakan zona yang paling dekat dengan jalur pipa laut penyalur tailing menuju palung laut Teluk Senunu, terhitung 120 meter di bawah permukaan laut sampai dengan dasar palung laut. Salah satu syarat PT NNT dapat melakukan Deep Sea Tailing Placement/DSTP adalah tailing tidak boleh keluar dari zona A. Pada zona A, baku mutu tidak diberlakukan karena pada zona A telah diprediksikan pasti terkena dampak dari tailing.

Ketika Rosette Sampler Terungkit
Alat untuk mengambil contoh (sampling) yang kami gunakan disebut dengan rosette sampler, perangkat standar penelitian oceanografi. Rosette sampler terdiri atas CTD dan go flow. Rangkaian alat penelitian tersebut berfungsi untuk mengukur kekeruhan, oksigen, kadar asam dan sebagainya. CTD ibarat ‘otak’ yang menggerakkan rosette sampler adapun go flow merupakan tabung yang akan diisi air sampel. Rosette sampler dimasukkan ke dalam lautan dan akan mengambil air pada tiga level kedalaman. Pemantauan bertujuan untuk mengetahui apakah tailing yang berada di zona tidak produktif naik ke area zona produktif laut alias apakah terdapat air laut yang tercemar tailing di luar zona yang telah diizinkan. Secara real time, berbagai indikator yang dibutuhkan (seperti kadar tailing, tingkat kekeruhan, dsb) dapat terpantau langsung di monitor melalui kabel yang dihubungkan ke CTD.
CTD, terletak di bagian bawah Rosette Sampler

Go Flow, tabung yang akan diisi oleh sampel air

Sunday, March 6, 2016

Ternyata Begini Akhir dari Limbah Tambang Newmont

Pertanyaan yang paling sering ditanyakan kepada perusahaan tambang adalah terkait dengan limbah tambang yang dihasilkan. Pun, gugatan yang sering diajukan, utamanya, terkait dengan pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh limbah. Lantas, bagaimana PT Newmont Nusa Tenggara (selanjutnya akan disebut Newmont saja) mengelola limbahnya?

Apa yang Dimaksud dengan Tailing?

Penampakan tailing (foto Hendra Wardhana)
Secara sederhana, tailing bermakna limbah tambang. Seperti telah dijelaskan dalam tulisan sebelum ini (Bagaimana Segunung Tembaga dan Emas Dihasilkan?), proses pengolahan tambang yang dilakukan oleh Newmont akan menghasilkan konsentrat dan tailing. Konsentrat merupakan mineral berharga yang dipisahkan dari bijih setelah mengalami pengolahan tertentu. Singkatnya, tailing merupakan sisa hasil pengolahan tambang yang tidak mengandung mineral berharga. Secara bentuk, ia seperti lumpur dan mengandung 20-45% partikel padat bercampur air laut dan/atau air tawar yang digunakan dalam proses pengolahan bijih.

Jadi, dalam proses pengolahan, bijih batuan akan menghasilkan konsentrat dan tailing. Konsentrat mengandung mineral berharga dan inilah yang akan dijual oleh Newmont, adapun tailing merupakan limbah tambang yang tidak mengandung mineral berharga.

Lalu, Bagaimana Akhir dari Tailing?

Tailing yang dihasilkan dalam proses pengolahan tambang akan ditampung sementara sebelum dialirkan melalui jaringan pipa darat sepanjang 6 km dan pipa laut sepanjang 3,4 km dari garis pantai hingga tepi palung laut di di Teluk Senunu pada kedalaman 125 m. Palung laut sebagai muara dari tailing berkedalaman 4000 meter, amat dalam. Newmont menolak keras istilah ‘membuang limbah’ dan menggunakan istilah ‘menempatkan limbah’.

“Membuang berarti meninggalkan begitu saja, tidak menengoknya lagi. Kami menggunakan istilah menempatkan, kami memantaunya secara berkala,” begitu penjelasan pak Toni, salah seorang pegawai senior di Departemen Lingkungan PT NNT.

Deep Sea Tailing Placement (DSTP) atau Sistem Penempatan Tailing Laut Dalam merupakan sistem yang dipilih oleh PT NNT dan disetujui oleh Pemerintah Indonesia pada saat dilakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Proyek Batu Hijau. 

Wednesday, March 2, 2016

Bagaimana Segunung Tembaga dan Emas Dihasilkan?

Kaki saya berjejak dengan antusias memasuki gudang perusahaan besar sekelas PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT). Apakah sebentar lagi saya akan melihat bongkahan logam mulia yang berkilat-kilat? Ternyata saya keliru. Yang saya lihat di gudang dengan kapasitas maksimum 80 ribu ton itu sekilas layaknya gunungan pasir berwarna hitam, jika didekati baru nampak kilapnya. Ya, produk akhir dari area tambang Batu Hijau adalah berupa konsentrat yakni mineral berharga yang dipisahkan dari bijih setelah mengalami pengolahan tertentu.

Ngomong-ngomong, dalam konsentrat sendiri masih bercampur antara berbagai mineral seperti tembaga, emas, perak dan besi. Sebagai gambaran besar : kandungan tembaga sebesar 26-29%, kandungan emas sebesar 40 ppm atau sekitar 40 gram per ton. Jika satu ton metrik konsentrat senilai sekitar 2.000 dolar Amerika dan ketika kami berada di gudang kemarin terdapat sekitar 54ribu ton konsentrat, maka sejatinya kami berdiri di depan gunungan hitam senilai triliunan rupiah.

Perjalanan Panjang  Area Tambang

PT Newmont Nusa Tenggara merupakan perusahaan tambang tembaga dan emas yang beroperasi berdasarkan Kontrak Karya yang ditandatangani pada tanggal 2 Desember 1986. Penandatanganan kontrak karya bukan berarti bisa langsung melakukan produksi, proses penambangan masih panjang. Cebakan tembaga porfiri yang kemudian diberi nama Batu Hijau baru ditemukan pada tahun 1990. Lalu, dilakukan pengkajian teknis dan lingkungan selama enam tahun, hingga pada tahun 1996 Pemerintah Indonesia mengesahkan dokumen AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Pembangunan proyek Batu Hijau sendiri baru dimulai pada tahun 1997 dan kemudian operasi penuh Newmont dimulai pada tahun 2000.

Area tambang Batu Hijau merupakan open pit mining yang memiliki arti “bukaan yang dibuat di permukaan tanah, bertujuan untuk  mengambil bijih dan akan dibiarkan tetap terbuka (tidak ditimbun kembali) selama pengambilan bijih masih berlangsung”. Sebagai gambaran tentang open pit, terdapat satu buah lubang tambang (open pit) di area tambang Batu Hijau dengan diameter 2,8 km dan elevasi bawah -435 mRL.

Mengintip Open Pit
Terdapat tujuh fase (tahapan) penambangan, sederhananya, fase 1 merujuk pada fase awal dan semakin tinggi bilangan fase berarti semakin dalam penambangan telah dilakukan. Saat ini, fase penambangan Batu Hijau berada di fase 6 yang diperkirakan akan selesai pada tahun 2019 dan fase 7 akan dimulai pada tahun 2024. Selanjutnya, akan dilakukan pengolahan bijih batuan yang tersimpan di stockpile hingga tahun 2037, satu tahun sebelum kontrak karya PT NNT berakhir.

Bagaimana Konsentrat Dihasilkan? Begini Proses di Concentrator

Proses penambangan dimulai dengan kegiatan pengeboran dan peledakan. Batuan yang terlepas dari tanah akan dimuat ke dalam truk raksasa yang disebut sebagai haul truck dan diangkut menuju crusher (mesin penghancur) untuk diperkecil ukurannya sehingga diameter batuan menjadi kurang dari 15 cm. Selanjutnya, bijih batuan akan dikirimkan dari crusher menuju pabrik pengolahan (disebut sebagai concentrator) menggunakan overland conveyor yang memiliki panjang enam kilometer, lebar 1,8 meter dan kecepatan 4,6 meter per detik.
Penampakan Haul Truck
Overland conveyor
Concentrator Area (tampak depan)

Terdapat dua proses utama yang terjadi dalam pabrik pengolahan. Pertama adalah crushing and grinding (penghancuran penggerusan) yang merupakan proses untuk mengecilkan ukuran bijih batuan. Alat yang digunakan adalah SAG (Semi Autogenous) Mill dan Ball Mill. Urutannya adalah bijih batuan masuk ke dalam SAG Mill untuk dihancurkan lalu kemudian digerus di Ball Mill. Dari batuan berdiamter 17 sentimeter akan dihaluskan menjadi berdiameter 250 mikron saja. Selanjutnya, partikel halus yang terkandung dalam bubur bijih akan dipompa ke tangki siklon untuk pemisahan akhir partikel bijih. Bubur bijih halus dari tangki siklon dialirkan ke sejumlah tangki yang disebut dengan sel flotasi. Dari sini, dimulailah proses flotasi.
Penampakan Ball Mill