Wednesday, November 30, 2016

Menikah untuk Bahagia?



"Kamu lama nggak nikah-nikah kok kayaknya happy-happy aja?”

Jleb. Nggak ada angin nggak ada hujan, kemarin seorang rekan kantor tiba-tiba menanyakan hal itu ke saya yang secara nggak sengaja lewat di depannya. 

“Hah, terus aku harus gimana?”

“Ya, keliatan merana gitu kek, nangis sebulan, kamu kayaknya enjoy aja,”

Duh Gusti, paringono sabar (dalam hati), “Ya, terus aku harus nunggu menikah dulu buat bahagia? Aku bahagia dengan apa yang ada sekarang dan menikah adalah alat untuk melipatgandakan kebahagiaanku. Bukan menikah untuk bahagia, tetapi menikah untuk (lebih) bahagia,”

“Oh gitu ya. Berarti nggak nikah nggak papa juga, kan udah bahagia?”

Saya ngeloyor. 

**                                                     
“Please deh, kamu harus berubah,” Saya menatap tajam seorang teman perempuan. Ada saja kelakuan messy nya yang mengacaukan suasana. Ketika itu, sebilah pisau baru saja terjatuh di kepala saya, untung cuma gagang kayunya. Posisi saya waktu itu bersandar di ranjangnya, rupanya ia secara serampangan meletakkan pisau di ranjangnya.

I need somebody to save me,” suaranya lirih, “Aku bisa berubah kok kalau ada yang memintaku berubah,”

Saya geleng-geleng. “You should save yourself first,”

***