Saturday, December 31, 2016

2016 : Melepaskan

Dokumentasi pribadi


: 2016

Pada akhirnya, semua yang pernah kamu perjuangkan atau apa-apa yang terjadi pada dirimu, bermuara pada satu kesimpulan... Kamu hanya seorang hamba, dari Ia yang Maha Kuasa....

Ia yang menggenggam hatimu
Ia yang menunjuki jalan ketika arah laju hidup tak kamu tahu
Ia yang memberi ketika kamu mengiba
Ia yang mengasihi dengan membuka jalan-jalan dari arah yang tak pernah kamu duga
.
Menurutlah, maka hidupmu akan indah.....

Resensi Novel : Tentang Kamu

“Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita,” (Tentang Kamu, hal. 408)
Sumber : www.bukurepublika.id
Saya sempat ‘tertipu’ demi membaca penggalan dialog di atas yang dituliskan di cover belakang novel terbaru Tere Liye  di tahun 2016 ini. Bukan, novel ini bukanlah novel romansa, meski penggalan kehidupan romansa sang tokoh menjadi fragmen novel yang manis dikisahkan. Tentang Kamu adalah novel yang menggabungkan antara romansa, petualangan, penerimaan hidup dan perjuangan untuk memeluk rasa sakit.

Zaman Zulkarnaen merupakan seorang pengacara muda di Thompson & Co, sebuah firma hukum di London yang memiliki reputasi tinggi tentang keberanian dan integritas. Firma hukum yang bergerak di bidang elder law (perlindungan hukum bagi orang-orang tua beserta hartanya) ini memperoleh permohonan penanganan warisan seorang klien yang baru meninggal beberapa hari sebelumnya, seorang perempuan bernama Sri Ningsih yang tinggal di Paris. Warisan dengan jumlah yang teramat fantastis, satu miliar pundsterling! Sayangnya, permohonan penyelesaian warisan tersebut tak diikuti dengan surat wasiat. Yang lebih menarik, selama enam belas tahun kehidupan terakhirnya, Sri Ningsih menghabiskan waktu di sebuah panti jompo yang tenang. Namanya tak pernah tercatat sebagai orang kaya Indonesia. Itulah awal petualangan Zaman, ia berupaya menelusuri jejak kehidupan Sri Ningsih untuk menemukan ahli waris sekaligus surat wasiatnya.

Jika dalam beberapa hari Zaman tak berhasil menyelesaikan misinya, harta Sri Ningsih akan dialihkan kepada Ratu Inggris sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Berhasilkah Zaman menyelesaikannya?

Belajar dari kesahajaan
Penelusuran Zaman dimulai di panti jompo tempat Sri Ningsih meninggal dunia. Dari sana ia memperoleh buku diary yang menjadi petunjuk selanjutnya. Lima juz dalam buku tersebut berisikan penggalan tiap fase kehidupan Sri Ningsih. Juz pertama membawa Zaman ke Pulau Bungin, pulau di Sumbawa yang disebut sebagai pulau terpadat di dunia. Pulau di mana Sri Ningsih dilahirkan dan menghabiskan hidupnya hingga remaja. Pulau di mana Sri Ningsih pertama kali terluka dan merasakan kehilangan.

Jika mau, dengan harta yang berlimpah, Sri Ningsih bisa saja menghabiskan hidupnya dengan kemewahan. Namun, ia memilih hidup yang bersahaja di sebuah panti jompo di dekat Menara Eiffel. Mengapa?

Dalam novel setebal 524 halaman ini, Tere Liye secara apik menyisipkan pesan bahwa hidup sejatinya adalah bukan tentang seberapa banyak harta yang dimiliki seseorang karena harta tak akan ditinggal mati. Manusia bukanlah atribut dunia yang menempel padanya. Bagaimana Sri Ningsih memperoleh hartanya? Mengapa ia tinggalkan begitu saja dan tak ia nikmati?

Memeluk rasa sakit dan kehilangan
Selama tujuh puluh tahun kehidupan Sri Ningsih, ia mengalami banyak kehilangan dan rasa sakit. Ia dijahati oleh orang-orang yang selalu diperlakukannya dengan amat baik. Namun, tak pernah sekalipun dalam hidupnya, ia membenci mereka yang menjahatinya. Ia memilih untuk tidak pernah membenci dan tidak pernah berprasangka buruk. Ia memilih berdamai.

Thursday, December 22, 2016

Mama : Cinta yang Tak Pernah Semenjana

Dapatkah kita membayangkan seperti apa hidup tanpa kecerewetan Mama?
Adalah jarang bagi saya berada di rumah mengingat selepas SMA sudah hidup di perantaua
n. Kesempatan itu saya gunakan untuk mengamati kehidupan di rumah secara lebih mendetail.  Mulai dari sebelum subuh, Mama membangunkan Hilmy (si adik bungsu berusia empat belas tahun) untuk sholat tahajud yang katanya jauh lebih sering gagal. Kemudian tatkala azan subuh berkumandang, Mama membangunkan dengan lebih gigih. Kadang Hilmy 'berhasil' bangun dalam waktu lima menit kemudian meski dengan malas-malasan ia beranjak ke kamar mandi, menggosok gigi, berwudlu, dan kemudian menuju masjid. Kadang, ia bangun baru ketika Mama pulang dari sholat subuh di masjid dan mengulangi usahanya membangunkan.

Sabtu pagi tempo hari, Mama mengajak Hilmy ke pengajian bulanan seorang ustadz. Sempat takjub ketika Hilmy mau ikut sebelum Mama mengatakan,"Yah, kudu diiming-imingin dulu. Kemarin udah beli dua kaos," Haha. Entah dengan iming-iming atau 'ancaman', Mama selalu berupaya agar ibadah menjadi sebuah kebiasaan. Misal, uang saku Hilmy keesokan harinya akan dipotong sepertiga kalau ia tak mengaji di hari itu.

Untuk anak remaja, terkadang iming-iming atau 'ancaman' sudah tak mempan lagi. Lepas isya ketika saya di rumah beberapa waktu lalu, Mama menyuruh Hilmy untuk mengaji di masjid bersama seorang ustadz. Ada saja alasan Hilmy. Mulai dari "Ah sama aja di masjid apa di rumah, sama-sama ngaji," kemudian dijawab,"Beda dong Dek, di masjid ada yang ngoreksi kalau bacaannya salah," lalu Hilmy ngeles lagi, "Baju ngajiku cuma satu, malu pakai itu terus," kemudian dijawab Mama,"Ya udah, nanti dibeliin lagi,". Lanjut,"Nggak mau ah ngaji di masjid, temennya anak kecil semua," "Ya udah,nanti manggil ustadz ke rumah aja ya," Masih nggak mau kalah,"Ah Mama aja ngajinya  juga nggak pakai guru," yang baru tertukas dengan kalimat Mama,"Mama ngaji tiap hari sama ustadzah loh, tiap habis pulang kantor,"

Ya, akhirnya teladan orang tua yang dibutuhkan.

Dapatkah kita membayangkan kehidupan dewasa tanpa peran Mama menanamkan nilai agama di waktu kecil?

Monika kecil menaiki tiang besar sebuah masjid, ‘bergelantungan’ di sana. Usianya empat tahun, ia asyik berlari-lari, ke sana ke sini. Dari sekitar dua jam waktu mengaji, mungkin hanya setengahnya ia bisa duduk manis mengeja alif ba ta. Ya, dari usia empat tahun Mama sudah memasukkan saya ke TPQ, umur tujuh tahun sudah ikut khataman Al Qur’an. Mama yang waktu itu belum bisa mengaji memastikan anak-anaknya harus bisa mengaji sedini mungkin. Lepas pendidikan di TPQ, Mama memanggil guru ngaji ke rumah, seminggu lima kali, hingga SMA. Agaknya Mama khawatir jika tak didampingi guru, anak-anaknya belum bisa konsisten mengaji setiap hari.

Friday, December 2, 2016

Yang Bergemuruh di dalam Dada


: dua satu dua

Adakah yang bergemuruh di dalam dada
Tatkala pekik takbir menembus telinga
Dari jutaan manusia berakidah sama, menggelora
Dari seluruh penjuru nusantara, satu suara
Damai, damai yang kau rasa

Adakah yang bergemuruh di dalam dada
Para ulama, mereka yang mulia, menyerumu turut serta
Mendoakanmu, mendoakan negeri yang teramat kau cinta
Doa adalah senjata, orang-orang yang percaya