Wednesday, August 2, 2017

I Know Life is Hard, but Please Don’t Harm Yourself

Bunuh diri seakan menjadi berita yang popular beberapa minggu ini. Mulai dari vokalis grup band terkenal dunia, mantan pacar selebgram, hingga terbaru seorang putra pejabat di Sulawesi Selatan yang melakukan gantung diri secara live di media social Facebook.

I know life is hard

Ada yang diuji dengan keluarga, kondisi finansial, kisah percintaan, penyakit, dan ujian lain kehidupan. Ada yang tangguh, kuat, tabah menjalani. Ada yang merasa bahwa dirinya merupakan makhluk yang paling menderita sedunia.

Everyone we know is fighting the battles we know nothing about

Dan saya juga pernah merasakan… Merasa begitu menderita, merana, dan tidak bahagia.

And, guess what?

Seperti ada suara yang membisiki saya “Udah bunuh diri aja,” ketika secara tak sengaja saya melihat pisau atau gunting. No, no. Saya tak pernah memiliki keinginan bunuh diri sama sekali, tetapi setan itu bersuara di kepala saya. Berbisik.

Dan kamu tahu? Salah satu pekerjaan setan adalah memberikan bisikan demi bisikan untuk membuat manusia jauh dari Tuhannya, melakukan apa yang dilarang dan meninggalkan apa yang diperintahkan.

Lalu kalau bunuh diri masalah selesai begitu?

Ya, nggaklah. Malah akan menambahkan masalah baru yang jauh lebih besar. Masalah yang nggak akan sanggup seseorang tanggung. Kelar urusan dunia? Bisa jadi. Namun, hidup nggak hanya selesai di dunia, kehidupan di akhirat yang abadi menanti.
Barangsiapa menjatuhkan dirinya dari sebuah gunung sehingga membunuh dirinya, maka di dalam neraka Jahannam dia (juga) menjatuhkan dirinya dari sebuah gunung. Dia akan tinggal di dalam neraka Jahannam selama-lamanya. Barangsiapa meminum racun sehingga membunuh dirinya, maka racunnya akan berada di tangannya. Dia akan meminumnya di dalam neraka Jahannam. Dia tinggal di dalam neraka Jahannam selama-selamanya. Barangsiapa membunuh dirinya dengan besi, maka besinya akan berada di tangannya. Di dalam neraka Jahannam ia  akan menikam perutnya. Dia akan tinggal di dalam neraka Jahannam selama-lamanya,” (HR. Bukhâri, no. 5778; Muslim, no. 109; dari Abu Hurairah; lafazh bagi Bukhâri)
Duh, nggak bisa dibayangkan bagaimana azab yang abadi tak berakhir itu. Na’udzubillah min dzalik.

Please don’t harm yourself. At any way you could.

Nggak, nggak harus bunuh diri. Menyakiti diri sendiri itu beraneka macam bentuknya. In the way that you could imagine.

Menyakiti diri itu kalau kamu nggak move on dari seseorang yang pernah kamu anggap sebagai jodoh terbaikmu, dia sudah menikah dengan orang lain, dan kamu nggak bisa lepas dari sosoknya hingga mengabaikan orang baik yang bersedia mencintai dan menerimamu apa adanya…
Menyakiti diri itu kalau kamu nggak mau melakukan apa-apa lantaran pernah mengalami suatu kegagalan lalu kamu menjalani hidup bagaikan zombie. Bangun tidur, berangkat kerja, pulang kerja, tidur lagi, begitu terus setiap hari. Kamu mematikan potensi tersimpan yang bisa jadi berlian kalau kamu bersedia mengasahnya….
Menyakiti diri itu kalau kamu merasa Tuhan nggak adil lantaran kamu sudah melakukan usaha terbaikmu, sudah berdoa setengah mati, tapi kamu nggak juga mendapatkan apa yang kamu idam-idamkan. Lalu kamu marah kepada Tuhan. Berhenti beribadah. Nggak mau sholat lagi. Ada, ada yang seperti itu…
Kalau kamu nggak mau makan dan kemudian sakit karena saking beratnya memikirkan suatu masalah, bukankah itu justru akan menambah masalah baru? Kalau kamu nggak mau memaksakan diri move on, mau sampai kapan kamu menyiksa diri sendiri? Kalau kamu berhenti beribadah, kepada siapa lagi kamu bisa berharap?

Iya, ujian itu nggak enak. Iya, hati seakan-akan ditimpa batu yang luar biasa besarnya, pikiran tak tenang, sakit dan sedih.

Tapi, apa menyiksa diri sebagaimana yang saya sebutkan di atas itu akan menyelesaikan masalah?

Nggak, nggak sama sekali.

Bagi seorang Muslim, nikmat atau ujian bisa jadi sama saja. Iya, sama saja. Nikmat bisa jadi ujian kalau membuat seorang jauh dari Allah. Ujian bisa jadi nikmat kalau bisa membuat seseorang semakin dekat dengan Allah.

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits sahih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu)  

Oke, ngomong memang jauh lebih gampang, tetapi kalau kamu yang diuji bagaimana?

Well, semua orang pasti mengalami ujian, hanya saja ‘kertas ujian’ kita berbeda. Satu yang perlu kita yakini bahwa Allah memberikan ujian sesuai dengan kadar kesanggupan seorang hamba.

Allah gives the strongest battle to his toughest soldier
Yakinlah, bahwa Allah adalah Tuhanmu, Ia menyayangi hamba-Nya melebihi kasih seorang ibu kepada anaknya..
Yakinlah, badai pasti berlalu dan kamu akan baik-baik saja…
Yakinlah, kamu akan bisa melewati apapun masalah yang sedang kamu hadapi..
Yakinlah, kamu lebih kuat dari masalahmu…
Yakinlah, ada hikmah di balik ujianmu yang belum kamu tahu dan suatu hari nanti pasti akan kamu rasakan... 
Dan yakinlah…

Bahwa nggak ada ujian yang jauh lebih berat dibandingkan jauh dari Allah dan jauh dari agama. Nggak ada musibah yang benar-benar musibah kecuali musibah di negeri akhirat sana.

Genggam erat keyakinanmu kepada Allah, telan bulat-bulat segala prasangka baikmu pada-Nya…

Although, for now, things seem hard, you feel suffered and in pain….

***

Untukmu yang sedang diuji, untukmu yang sedang berjuang.. Dariku yang sedang berjuang, di sisi jalan yang berbeda…


5 comments:

  1. Gak semua orang bisa mengatasi perasaannya dengan baik. Tapi bagiku, semua orang dikasih kesempatan untuk 'memenangkan' pertandingan hidup ;)

    ReplyDelete
  2. blogger diuji dengan konsistensi menulis
    hahaha

    ReplyDelete
  3. Iya, Mba. Sekarang marak orang dengan kasus bunuh diri. Sakung mereka depresi dan putus asa dengan hidupnya sendiri. Bikin saya sedih jadinya. Sedih betapa kita seharusnya merangkul orang2 seperti itu. Mereka orang yang butuh pertolongan kita

    ReplyDelete
  4. semoga bisa jauh dari pikiran seperti itu sekalut apapun kondisinya, amiin

    ReplyDelete