Friday, October 27, 2017

Mama Cerewet?

Mama
Setua ini, Mama selalu menelpon sekitar jam tiga pagi. Memastikan putri sulungnya ini terbangun sehingga bisa salat Tahajud. “Tiap hari harus Tahajud, walaupun cuma dua raka’at,” tegas Mama. “Sedekah pas waktu Subuh,” pesan Mama berulang-ulang. “Gimana caranya Ma?” Mama lantas memberikan sebuah kotak kenclengan milik salah satu yayasan Islam ketika saya pulang ke rumah.
“Ini tiap subuh diisi. Nanti seminggu atau sebulan sekali kamu transfer ke rekeningnya,”

Kadang, saya merasa agak bosan mendengarkan pesan yang sama dari Mama secara berulang-ulang. “Sudah tahu Ma, Mama sudah sering bilang,” kata saya setengah merajuk. “Lho, itu Ustadz ngasih ceramah itu juga diulang-ulang. Biar ingat, biar meresap. Namanya juga manusia, tempatnya salah dan lupa,” tukas Mama santai.

Adalah Mama yang tak lelah mengingatkan : untuk sholat tepat waktu, sedekah, mengunjungi kerabat dalam rangka memperpanjang silaturahim dan lain sebagainya. Yang memperbanyak puasa sunnah agar semakin mustajab doanya untuk anak-anaknya. Yang tak pernah lelah mendoakan, minimal lima kali sehari katanya.

Adalah Mama yang walaupun uang kami pas-pasan, Mama selalu mengupayakan agar kami bertiga bisa mendapatkan pendidikan dan pengajaran terbaik. Mama yang keberatan untuk membelikan kami banyak baju tetapi tak pernah menolak jika saya mau mengambil kursus ini dan itu, meskipun hal itu berarti membuatnya harus banyak berhemat. Didikan itu yang teramat membekas hingga saya dewasa, kegiatan aneka kursus dan seminar selalu menjadi jadwal di sela-sela aktivitas bekerja.

Ketika ratusan kilometer jarak memisahkan kami, ketika kehidupan beranjak dari dalam pengawasan orang tua hingga kehidupan kos yang bebas dari orang tua, ketika kendali kehidupan benar-benar berada di tangan, pesan demi pesan Mama laksana kekang tak terlihat yang menjaga dari kejauhan.
Benarlah jika dikatakan bahwa ibu adalah madrasatul ‘ula, sekolah pertama bagi anak-anaknya. Tanpa mengesampingkan peran ayah, pada umumnya, sang ibu lah yang lebih telaten, lebih gigih (dengan efek samping disebut ‘bawel’ atau ‘cerewet’) dalam menanamkan kebiasaan atau nilai-nilai baik kepada anak.

Mengutip hikmah kisah nabi Yusuf as yang disampaikan oleh ustadz Bendri Jaisyurrahman dalam sebuah kajian, nabi Yusuf as yang nyaris ‘tergoda’ dengan Zulaikha berhasil menghindari godaan tersebut lantaran di ‘saat kritis’, ia teringat ‘tanda dari Tuhannya’ yakni nilai-nilai yang ditanamkan sang ayah yang kemudian menyelamatkannya. Ustadz Bendri menegaskan bahwa nilai baik yang telah tertanam sedari kecil akan dirasakan di titik kritis kehidupan seseorang.

Saya tak akan mengucapkan selamat ulang tahun kepada Mama, karena ia akan mengatakan bahwa pengucapan selamat ulang tahun tak ada tuntunannya dalam Islam. Namun, perkenankanlah saya menuliskan di hari ini bahwa jika seumur hidup, bahkan hingga di hari akhir nanti, saya berutang kepada Mama, perempuan terhebat di dalam hidup saya. Atas cintanya kepada saya yang mengajarkan cinta kepada Sang Maha Cinta dan atas cintanya yang menggerakkan cinta atas hal-hal baik yang ada dalam kehidupan.

Setiap saya memandang Mama, saya bisa merasakan betapa Allah SWT menyayangi hamba-Nya ini. Semoga Allah senantiasa merahmati, memberkahi dan memuliakanmu, Ma…. Di kehidupan kini dan kehidupan nanti…..

****

Oya Mama minta menantu untuk 'kado ulang tahunnya'. Doakan cepat dapat 'kadonya' ya!


3 comments:

  1. mengaminkan doa mama di hari ulang tahunnya..
    semoga semua yang terbaik buat putri kesayangan mama

    ReplyDelete
  2. ah sedih bacanya aku jadi inget almh ibu yang juga selalu berulang mengingatkan untuk ibadah dll hal-hal baik yang kadang sampe dengan saat ini aku masih alpa melakukannya. semoga mamah tetp sehat y mba :)

    ReplyDelete