Friday, July 6, 2018

Ingin Memperbaiki Pengelolaan Keuangan? Yuk, Mulai dengan Mencatat Pengeluaranmu


“Perasaan saya nggak beli apa-apa, tapi kok tabungan nggak nambah-nambah ya?”
“Perasaan gaji saya lumayan tapi kok tabungan saya sedikit ya?  


Well, kalau kamu pernah merasakan kedua hal tersebut di atas, selamat kamu nggak sendirian. Saya juga! Tapi itu dulu sebelum saya mulai menganggap pengelolaan keuangan sebagai hal yang serius. Awal-awal kerja, gaji nggak terlalu besar dibanding biaya hidup di Jakarta. Belum lagi, ditambah dengan ‘kekagetan’ punya uang sendiri, belanja nggak pakai mikir panjang. Menabung kalau ada ‘uang sisa’. Alhasil, tabungan tipis.

Lalu, saya pun bertekad untuk memperbaiki pengelolaan keuangan. Saya mulai melakukan ‘audit’ likuiditas : berapa tabungan dan uang kas di awal bulan dan di akhir bulan. Selisih saldo adalah pengeluaran bulan itu. Saya mulai menabung di awal bulan ketika gajian di tabungan terpisah. Nggak menunggu ‘uang sisa’ lagi. Saya juga lebih berhemat. Tabungan membaik.

Cukup? Engga. Pengelolaan keuangan saya bisa lebih baik lagi nih.\

Tapi, mulai darimana?

Akhirnya, saya menemukan satu hal yang menjadi dasar dalam pengelolaan keuangan. Sebelum saya berpikir untuk menabung, berhemat atau berinvestasi. Lakukan dulu pencatatan keuangan, khususnya mencatat pengeluaran.

Sederhana bukan nampaknya? Namun, hal yang nampak mudah ini memiliki efek yang dahsyat loh. Sudah lebih dari dua tahun saya telaten mencatat keuangan (pemasukan dan pengeluaran) melalui aplikasi yang ada di ponsel, setiap hari. Banyak aplikasi pencatatan keuangan yang tersedia secara gratis di App Store atau Play Store, bisa dipilih mana yang kira-kira cocok. Kalau saya sendiri memakai Money Lover.

Menurut saya, ini lima alasan mengapa kita harus rutin mencatat keuangan :

1.       Bisa mengetahui mana saja pos ‘bocor’

Perasaan nggak beli apa-apa tapi kok tabungan nggak nambah-nambah? Nah, mencatat pengeluaran adalah solusi dari ‘main perasaan’ itu.

Misalnya, perasaan saya nggak beli apa-apa (sesuatu yang nampak mahal), ternyata oh ternyata pengeluaran makan di bulan itu mencapai dua setengah juta rupiah. Lumayan juga kan? Ternyata pada waktu itu saya cukup sering makan di tempat makan fancy yang menguras kantong lebih dibandingkan makan di tempat makan ‘biasa’.

Selain itu, dari pemeriksaan catatan pengeluaran, ternyata saya cukup banyak ‘menyumbang’ ke Indomaret/Alfamaret untuk membeli makanan dan minuman ringan. Pengeluaran yang saya kategorikan ‘jajan’ itu mencapai enam ratus ribu sebulan. Lumayan juga ternyata ya?

2.       Bisa melihat tren pengeluaran dan mengantisipasinya

Terdapat tiga komponen pengeluaran menurut akuntansi biaya yakni biaya tetap (fixed cost), biaya variabel (variable cost), dan biaya tak terduga (overhead). Pengeluaran wajib itu ibarat biaya tetap yang nggak bisa diutak-atik, contohnya apa yang rutin dicicil tiap bulan dan jumlahnya tetap. Biaya variabel (jumlahnya bervariasi) misalnya pengeluaran untuk makan dan transportasi. Ada juga biaya tak terduga (overhead) seperti biaya menambal gigi yang berlubang.

Dari catatan pengeluaran selama dua tahun itu, saya bisa mengambil sebuah tren keuangan saya yakni biaya tak terduga saya rata-rata mencapai 10% dari penghasilan. Jadi, jumlah ini yang saya anggarkan menjadi pos tak terduga.

Dengan mengetahui tren berbagai kategori pengeluaran, kita akan mengetahui jumlah minimal untuk kita bertahan hidup berapa, untuk hidup nyaman berapa. Kita memiliki dasar yang kuat, nggak hanya sekadar asumsi.

Nah, kemudian kita bisa lebih baik mempersiapkan tentang keuangan.  

3.       Bisa mengetahui komposisi pengeluaran kita

Jadi, ketika mencatat pengeluaran, kita bisa mengkategorikannya sesuai kebutuhan. Misal, saya mengkategorikan ‘food and beverages’, ‘transportation’, ‘charity’ (zakat dan sedekah), dsb. Dari komposisi pengeluaran itu, saya jadi memiliki dasar untuk menilai apakah komposisi pengeluaran saya wajar (nggak berlebih-lebihan atau juga terlalu irit), dan sebagainya. 


4.       Mencatat pengeluaran merupakan dasar untuk berhemat, menabung, dan berinvestasi

Jika kamu ingin berhemat agar bisa menabung atau investasi, mencatat pengeluaran adalah dasarnya. Mengapa? Karena kamu akan tahu pengeluaran seperti apa yang bisa dihemat, penghematan itu kemudian akan dialokasikan menjadi tabungan atau investasi.

Misalnya, berdasarkan catatan pengeluaran, pengeluaran untuk makan saya pada bulan itu cukup besar (Rp2,5 juta). Maka, saya kemudian mengambil langkah untuk berhemat di pos pengeluaran yang menurut saya ‘bocor’ alias bisa dihemat itu. Kriteria ‘bocor’ tiap orang bisa jadi berbeda-beda ya. Kalau saya beranggapan, pengeluaran itu ‘bocor’ kalau sebenarnya nggak butuh-butuh banget, nggak harus beli itu tapi menuruti keinginan sesaat misalnya. Seperti makan di tempat ‘fancy’, saya masih melakukannya hanya saja mengurangi frekuensinya. Selain itu, saya usahakan untuk membawa air putih sendiri karena untuk sekali minum saja bisa mencapai Rp30 ribu. Nggak hanya untuk menghemat tetapi juga saya bertekad mengurangi gula biar lebih sehat sih.

Lalu, karena saya tahu bahwa jajan makanan dan minuman ringan itu nggak penting-penting banget dan kurang sehat, saya menguranginya. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui kan? Hehe.

Ngomong-ngomong, daripada menabung, saya pribadi lebih suka berinvestasi. Saya menjaga jumlah tertentu yang menurut saya merupakan batas aman dari sebuah tabungan, lalu kelebihan likuiditas dari jumlah itu saya investasikan. Karena nilai tabungan itu tergerus inflasi dan nggak berkembang (saya nggak mengharapkan dapat bunga dari tabungan).

Nah, untuk mengetahui jumlah berapa yang bisa saya investasikan, saya harus tahu berapa jumlah pengeluaran. Selanjutnya, saya bisa membandingkan apakah saya lebih banyak belanja (spending) atau investasi. Saya juga tahu persentase penghasilan dibandingkan pengeluaran sebulan. Berapa sih ‘kapasitas fiskal’ saya? Apakah kondisi keuangan saya bisa disebut sehat? Silakan definisikan standar keuangan sehat masing-masing ya. Kalau saya pribadi, kondisi keuangan saya sehat jika bisa menabung/berinvestasi minimal 30% dari penerimaan sebulan.

5.       Catatan pengeluaran merupakan dasar untuk membandingkan antara anggaran dan realisasi

Untuk berbagai kategori pengeluaran, saya membuat anggaran. Misalnya, anggaran untuk kecantikan (kosmetik dan skin care) sebulan sebesar sekian ratus ribu. Dengan catatan pengeluaran, saya bisa membandingkan antara realisasi kategori pengeluaran tertentu dan anggarannya. Over budget or under budget? Membuat anggaran adalah cara untuk mengontrol diri sekaligus agar pengeluaran keuangan terarah. Mencatat pengeluaran adalah dasar untuk menentukan apakah pengelolaan keuangan sudah berjalan on the track sesuai dengan anggaran yang ditetapkan.

Hal terpenting menurut saya dari mencatat keuangan adalah catatan keuangan itu lah yang akan menjadi dasar kita dalam mengambil keputusan finansial.
Apakah harus berhemat? Sejumlah berapa bisa menabung atau investasi? Apakah perlu mencari pemasukan tambahan jika misalnya merasa pemasukan yang ada masih kurang dibanding pengeluaran? Apakah ada kelonggaran dana untuk liburan? 
Seorang teman pernah berkata, “Ah, ribet. Kalau nyatet rinci nanti aku jadi pelit”. Dia bercerita bahwa dia hanya mencatat saldo awal bulan dan akhir bulan saja.

Benarkah ribet? Kalau kata saya sih nggak sama sekali. Semua kebiasaan baik itu pasti berasa ribet di awal alias ketika masih dalam masa pembiasaan. Kalau sudah jadi kebiasaan, insya Allah ringan. Saya cuma perlu waktu sepuluh menit atau kurang untuk mencatat pemasukan/pengeluaran di hari itu. Ya, kadang-kadang juga nggak detail banget, misal pengeluaran seperti uang parker atau uang kebersihan toilet dua ribuan nggak saya catet juga. Nah, itulah fungsi ‘audit keuangan’ di akhir bulan. Selisih antara catatan keuangan dengan saldo tabungan dan kas di tangan saya masukkan sebagai pengeluaran lain-lain.

Benarkah membuat pelit? Nggak lah, catatan pengeluaran kan catatan atas apa yang sudah kita keluarkan. Nggak ada hubungannya dengan pelit enggaknya. Hehe. Ibarat perusahaan, kita perlu membuat laporan keuangan, nah catatan keuangan adalah laporan keuangan versi sederhana.

Dengan rutin membuat catatan keuangan, saya bisa mengambil keputusan finansial yang lebih baik sekaligus menjaga kondisi keuangan saya sehat.

Jadi, percayalah, mencatat pengeluaran itu penting banget. Yuk, mulai menjadikannya sebagai kebiasaan.