Friday, August 31, 2018

Resensi Novel Pergi : Ke Mana Langkah Kaki Akan Dibawa?


Bukan Tere Liye namanya jika tidak menuliskan novel bernafaskan arti kehidupan. Sebut saja “Bidadari-Bidadari Surga” yang menceritakan kesabaran sang tokoh dalam menghadapi berbagai cobaan kehidupan, “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” yang mengajarkan arti penerimaan hidup,  atau “Pulang” yang mengisahkan bahwa ketika sang tokoh mampu berdamai dengan dirinya sendiri, sejatinya ia telah memenangkan seluruh pertempuran. 
Dalam novel “Pulang”, Bujang sebagai tokoh utama bertransformasi dari sosok anak muda di pelosok Sumatera menjadi jagal nomor satu di keluarga Tong sang penguasa ekonomi bayangan (shadow economy) dengan bisnis utama penyelundupan. Petualangan menegangkan Bujang yang sarat akan adegan baku hantam berlanjut pada novel “Pergi” yang merupakan sekuel dari “Pulang”.
Sang Tauke Besar sebagai pemimpin tertinggi keluarga Tong telah meninggal dunia akibat pengkhianatan salah seorang tukang pukul. Kemudian, Bujang mengambil alih tampuk kepemimpinan keluarga Tong dan menjadi Tauke Besar. Negara Meksiko menjadi latar cerita pembuka novel “Pergi”. Bujang memimpin pasukannya untuk merebut kembali hasil riset teknologi milik keluarga Tong yang dicuri oleh El Pacho, sindikat penyelundup narkoba terbesar di Amerika Selatan. Bujang dan anak buahnya telah berhasil melumpuhkan kelompok El Pacho dan ia nyaris berhasil menyelesaikan misinya. Tiba-tiba sesosok misterius bertopeng datang dan mengacaukan semuanya. 
 Pasukan Bujang sudah bersiap memuntahkan seluruh amunisi untuk menyingkirkan sosok tersebut sebelum sang sosok menyapa Bujang dengan bahasa asal Bujang dan menyebutkan nama asli Bujang. Bujang terperanjat, sangat sedikit orang yang tahu nama aslinya sedangkan ia tak pernah menemui sosok asing di depannya. Sosok yang tak pernah ditemuinya itu kemudian menantang Bujang untuk duel satu lawan satu, tanpa senjata. Pemenangnya berhak memiliki prototype anti serangan siber yang amat berharga.
Bujang menyanggupi. Tidak ada hal yang ditakutinya, ia sangat yakin akan kemampuannya. Ia adalah tukang jagal terbaik keluarga Tong yang menguasai berbagai teknik bela diri tingkat tinggi. Secara mengejutkan, Bujang kalah bertarung. Sebelum pergi, si sosok misterius berkata,”Adios, hermanito (selamat tinggal adik lelakiku),”
Siapakah ia? Apa hubungannya dengan Bujang?
Keingintahuan Bujang akan si sosok misterius menuntunnya menyelidiki masa lalu. Bagaikan menemukan potongan puzzle demi puzzle yang membentuk sebuah gambaran utuh. Ayahnya, Samad, mantan tukang pukul terhebat keluarga Tong pernah memiliki anak dari pernikahan sebelumnya. Anak yang tak pernah diketahuinya ada di dunia lantaran Samad dan istri pertamanya, seorang biduanita cantik asal Meksiko, berpisah sebelum Samad mengetahui kabar kehamilan sang istri. 
Cerita bergulir. Di tengah-tengah penyelidikannya akan sang kakak, keluarga Tong dikhianati oleh Master Dragon. Terdapat delapan kelompok penguasa shadow economy di seluruh dunia dengan Master Dragon yang berbasis di Hong Kong sebagai pemimpin. Pada awalnya, kedelapan kelompok tersebut hidup dengan harmonis lantaran memiliki wilayah kekuasaan masing-masing dan sepakat untuk tidak saling bertikai. Namun, Master Dragon mengkhianati dengan meletakkan mata-matanya di keluarga Tong untuk menghancurkan keluarga Tong. Bujang pun bergerak cepat, ia menghimpun kekuatan untuk mengalahkan Master Dragon dengan mengajak keluarga Yamaguchi di Jepang dan kelompok Bratva untuk beraliansi.
Mampukah Bujang mengalahkan Master Dragon? Bagaimanakah sosok sebenarnya dari sang kakak yang tak pernah diketahui oleh Bujang?
Kedua pertanyaan tersebut menjadi inti cerita dari novel setebal 455 halaman ini. Intrik demi intrik adalah bumbu sedap dalam novel yang akan membuat pembaca seolah-olah memasuki film laga. Tere Liye menunjukkan kelasnya sebagai salah satu penulis papan atas negeri ini. Tiga puluh satu bab disajikan dengan amat memikat, sanggup untuk membuat pembaca tak bosan meski alur cerita cukup panjang. 

Ditilik dari unsur instrinsik novel, terdapat berbagai keunggulan yang membuat novel “Pergi” ini amat sayang untuk dilewatkan :
Pertama, tema
Tere Liye berusaha menyentuh ruang terdalam di hati pembaca dengan menampilkan tema terkait “Pergi” : tujuan hidup. Apa tujuan hidupmu sebenarnya? Ke mana hidup kita akan dibawa pergi? Apa yang sebenarnya kamu cari? 

Untuk mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, Bujang harus mengalami berbagai peristiwa yang tak mengenakkan. Ia dikhianati oleh letnan kepercayaannya, menyaksikan kematian bocah laki-laki yang setia, berpindah dari satu pertarungan ke pertarungan lainnya.

Kedua, tokoh atau penokohan 
Karakter para tokoh digambarkan secara ciamik oleh Tere Liye. Ia begitu kuat membangun karakter para tokoh, mulai dari Bujang sebagai tokoh utama hingga para tokoh pendukung. Pembaca bisa mengetahui karakter setiap tokoh melalui deskripsi langsung seperti Bujang yang tak mengenal rasa takut atau Tuanku Imam, paman Bujang, sebagai sosok alim pemimpin pondok pesantren. Selain itu, pembaca bisa menyelami karakter para tokoh melalui percakapan antar tokoh atau pemikiran tokoh. 

Hal paling menarik terkait penokohan dalam novel “Pergi” ini adalah tidak ada tokoh yang benar-benar suci (protagonis) dan tidak ada tokoh yang benar-benar jahat (antagonis). Secara cermat, tokoh-tokoh penting dalam novel ini diceritakan memiliki sisi baik dan sisi buruk masing-masing. Bukankah memang demikian manusia?

Misalnya, Salonga guru menembak Bujang, sosok yang sudah menghabisi ribuan nyawa mengisahkan tentang titik balik hidupnya ketika ia nyaris dieksekusi mati (hal. 388),”Kejadian itu membuatku memikirkan sesuatu. Malam-malam menunggu hari eksekusi, aku merenungkan banyak hal- yang selama ini tidak pernah, atau aku abaikan begitu saja. Apa yang sesungguhnya yang kucari dalam hidup ini? Aku akan pergi ke mana lagi? Dari satu korban ke korban lainnya? Dari satu misi ke misi lainnya? Ke mana aku akan pergi? Apakah memang langit adalah batasnya? Ternyata tidak juga. Karena segala sesuatu pasti akan ada akhirnya...”

Ketiga, alur
Alur maju mundur agaknya menjadi alur favorit Tere Liye. Hebatnya, perpindahan antara alur maju dan mundur terasa halus.  Misalnya, Bujang mengetahui masa lalu sang ayah melalui beberapa surat yang dikirimkan sang kakak dari negeri jauh. Kisah demi kisah disuguhkan dalam tempo yang selaras dengan kejadian yang dialami oleh Bujang, cepat jika mengisahkan tentang perseteruan, lambat jika Bujang mulai merenungi tentang kehidupan. 

Keempat, latar cerita
Latar cerita merupakan unsur penguat pada novel. Pembaca akan disuguhkan dengan latar cerita yang beraneka ragam. Mulai Meksiko, Hong Kong, Jepang, hingga Rusia. Latar cerita merupakan unsur padu yang membentuk karakter dari para tokoh. Misalnya, sosok mafia Rusia digambarkan lebih berhati dingin. Tere Liye pastilah melakukan riset yang kuat karena latar cerita begitu hidup dengan bahasa asal yang sesuai. Selain itu, latar cerita juga disesuaikan dengan kondisi di dunia nyata. Misalnya, ketika latar cerita di Hong Kong, Tere Liye menggambarkan shadow economy di kawasan tersebut dengan menambahkan informasi riil “Master Dragon tidak memilih gedung mewah puluhan lantai atau istana megah ratusan hektar, dia memilih salah satu gedung paling bersejarah di Hong Kong. Dia menyukai pelajaran sejarah, jadi dia tahu, Hong Kong menjadi koloni Inggris sejak China kalah Perang Opium Pertama (Perang Candu Pertama) tahun 1839-1842...” (hal.417)

Kelima, misi atau amanat
Dalam setiap novelnya, Tere Liye selalu menyelipkan amanat mengenai nilai-nilai kehidupan. Sosok Bujang yang digambarkan nyaris sempurna : pintar, jago bela diri, kaya, dan berkuasa ternyata merasakan sebuah titik kehampaan. Apa yang sebenarnya hendak ia lakukan? Berada di titik tertinggi ternyata tidak membuat manusia menjadi puas. Ia akan merasa kurang dan selalu ingin mencari pemuasan selanjutnya. Begitu terus jika ia tak memutuskan untuk mengendalikan dirinya. Dalam hidup, kita harus tahu ke mana hidup akan kita bawa, tidak sekadar mencari kepuasan demi kepuasan yang bisa jadi bersifat semu.

Sebuah novel yang paripurna merangkum tentang kehidupan : tentang pencapaian, tujuan dan apa yang ada di antara keduanya. 

Jadi, siapkah diri Anda untuk hanyut dalam novel “Pergi”?


***

Judul      : Pergi
Penulis    : Tere Liye
Penerbit  : Republika
Tebal      : iv + 455 hal
Tahun     : 2018








No comments:

Post a Comment