Friday, September 28, 2018

Indonesia Sehat, Indonesia Bebas Stunting

“Nanti kalau pas umroh nggak usah ngoyo mencium Hajar Aswad ya. Orang Indonesia pendek-pendek, nanti kena sikut sama orang Arab yang tinggi-tinggi,”
Beberapa kali saya mendengar saran bernada sama seperti di atas sebelum berangkat ke tanah suci. Awalnya, siapa yang tak ingin mengikuti perbuatan Rasulullah SAW tersebut. Namun, melihat kondisi ketika thawaf yang mana di depan saya banyak orang tinggi besar, nyali saya ciut seketika. Kalah badan!

Ya, postur tubuh orang Indonesia memang tidak terlalu tinggi. Namun, tahukah kamu, ternyata Indonesia termasuk negara dengan rata-rata penduduk terpendek di dunia? Berdasarkan data World Atlas (2017), Indonesia menduduki peringkat kedua negara dengan penduduk terpendek yakni hanya sekitar 152 cm, satu tingkat lebih baik dari Bolivia yang menduduki peringkat pertama.

Wow, mencengangkan ya?

Badan pendek identik dengan stunting. Apakah stunting itu? 

Kementerian Kesehatan (2017) menyebutkan bahwa stunting merupakan sebuah kondisi yang mana tinggi badan seseorang  ternyata lebih pendek dibanding tinggi badan orang lain yang seusia pada umumnya. Adapun menurut Millenium Challenge Account (selanjutnya akan ditulis MCA), sebuah lembaga wali amanat yang salah satu fokusnya adalah proyek kesehatan untuk mengurangi anak pendek, stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Ngomong-ngomong tentang badan pendek, Indonesia menduduki posisi kelima negara dengan jumlah anak terbanyak dalam kondisi stunting. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan (2013), prevalensi (jumlah keseluruhan kasus penyakit yang terjadi pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah) stunting di Indonesia mencapai 37,2%. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan batas maksimal stunting yang ditetapkan World Health Organization sebesar 20%. Secara jumlah, pertumbuhan yang tidak maksimal dialami oleh sekita 8,9 juta anak Indonesia atau 1 dari 3 anak Indonesia mengalami stunting. Wow, banyak juga ya?

Berdasarkan data yang diolah oleh Katadata dari Kementerian Kesehatan (2017),  lima provinsi dengan tingkat prevalensi balita stunting tertinggi di Indonesia adalah Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan.

Nah, memang apa saja dampak dari stunting? Seberapa bahayanya?

Stunting tidak hanya berdampak pada individu yang mengalaminya, tetapi juga berdampak bagi keluarga serta negara. Kok bisa?

Dampak jangka pendek stunting pada anak bisa bermacam-macam. Dalam WHO Conceptual Framework (2013) disebutkan bahwa dampak jangka pendek stunting meliputi tiga dampak : kesehatan, perkembangan diri, dan ekonomi. Dampak kesehatan mencakup mortalitas (jumlah kematian) dan morbiditas (keadaan berpenyakit). Adapun dampak perkembangan diri meliputi perkembangan motorik, kognitif, dan bahasa yang terganggu. Lebih jauh lagi, dampak ekonomi akan menyebabkan bertambahnya pengeluaran kesehatan bertambah sekaligus juga adanya biaya kesempatan (opportunity cost) akibat harus merawat anak yang sakit tersebut.

Pendek kata, stunting akan menghasilkan anak yang kurang berkualitas alias tidak tumbuh dan berkembang secara optimal.

Nah, jika banyak anak-anak sebagai generasi muda penerus bangsa tidak tumbuh secara optimal, tentu negara tersebut akan mengalami kerugian secara langsung maupun tidak langsung, bukan?

Sebagaimana dampak jangka pendek, WHO Conceptual Framework (2013) juga menyebutkan bahwa dampak jangka panjang stunting meliputi dampak kesehatan, perkembangan, dan juga ekonomi. Anak yang mengalami kondisi stunting akan lebih rentan terhadap obesitas dan bahkan gangguan kesehatan reproduksi. Stunting juga akan menyebabkan kemampuan belajar yang rendah sehingga potensi anak tidak optimal. Berlanjut hingga rendahnya kemampuan kerja.

Bahkan, stunting menyebabkan dampak bagi negara yang cukup masif. Dalam publikasi Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan/TNP2K (2017) disebutkan bahwa terdapat hilangnya Produk Domestik Bruto (PDB) dan pengurangan pendapatan pekerja dewasa hingga 20% akibat stunting. Selain itu, stunting memiliki andil dalam semakin besarnya kesenjangan ekonomi dan kemiskinan antar generasi.

Wah, stunting bisa berdampak sangat sistemik ya?

Tentu, stunting pada anak menghasilkan dampak negatif untuk negara. Sebagaimana dikutip oleh Kementerian Kesehatan (2018), Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebutkan bahwa generasi penerus bangsa yang mengalami kondisi stunting akan berdampak pada rendahnya daya saing dan produktivitas negara.

Kabar baiknya, kondisi stunting bisa dicegah lho. Namun, sebelum mencegah agar kondisi stunting tidak terjadi, kita harus terlebih dahulu penyebabnya, bukan?

Apa saja hal-hal yang menyebabkan stunting dan bagaimana cara mencegahnya?

Pencegahan stunting tidak dimulai dari bayi lahir loh, tetapi dimulai ketika anak masih dalam kandungan. Yes, terdapat istilah seribu hari pertama kehidupan (1.000 HPK) yakni kehidupan dimulai semenjak fase kehamilan (270 hari) hingga amal berusia (730 hari).

Mengapa pencegahan stunting dimulai dari 1.000 HPK? Karena 1.000 HPK adalah masa terpenting bagi anak untuk menentukan kesehatan dan kecerdasannya.

Oleh karena itu, penyebab stunting erat kaitannya dengan kondisi yang dialami anak pada 1.000 HPK. WHO dalam publikasi terbaru berjudul “Reducing Stunting in Children” (2018) menjabarkan bahwa anak yang lahir dari ibu yang berpendidikan dan berpendapatan keluarga rendah cenderung memiliki anak dalam kondisi stunting.

Kok bisa? Hal itu terkait erat dengan kemampuan untuk menyediakan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil, makanan yang sehat dan bergizi pada anak, penyediaan ASI eksklusif hingga 6 bulan dan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang berkualitas. Yang tak kalah penting, sanitasi dan air bersih juga berperan sebagai penyebab stunting. Misalnya, sanitasi meliputi tidak buang air besar di ruang terbuka.

Bahkan, United Nations Children’s Fund (Unicef) India menyebutkan bahwa kondisi stunting pada awalnya dimulai ketika seorang gadis dewasa kekurangan nutrisi dan mengalami anemia.

Jadi, secara umum, penyebab utama stunting adalah gizi dan tingkat kebersihan. Bagaimana asupan gizi si anak dan bagaimana kondisi lingkungannya?

Nah, pencegahan stunting tentu terkait erat dengan penyebabnya sebagaimana disebut di atas. Tentu saja, pencegahan merupakan kewajiban bersama antara Pemerintah dan masyarakat.

Apa saja yang sudah dilakukan oleh Pemerintah?

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya aktif dalam rangka pencegahan maupun penanganan stunting pada skala nasional dan global. Pada skala internasional, Indonesia telah bergabung dalam Scaling Up Movement (SUN) pada Desember 2011. SUN merupakan sebuah gerakan internasional di bawah komando Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diikuti oleh 28 negara dalam upaya mengatasi permasalahan kurang gizi pada anak.

Sebagai tindak lanjut dari SUN, pada bulan September 2012 Pemerintah meluncurkan “Gerakan 1.000 Hari Pertama Kehidupan” atau gerakan 1.000 HPK. Gerakan tersebut bertujuan untuk perbaikan gizi anak Indonesia yang mana berfokus pada pemberian gizi sejak anak berada dalam kandungan si ibu, kelahiran anak, hingga ulang tahun kedua.

Gerakan tersebut terbagi menjadi dua konsep besar yakni intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif.

Apa itu intervensi gizi spesifik?

Intervensi gizi spesifik (intervensi secara langsung) adalah intervensi yang dilakukan pada anak pada 1.000 HPK yang meliputi intervensi di sektor kesehatan. Intervensi gizi spesifik menyasar ibu hamil, ibu menyusui dan anak usia 0-6 bulan, serta anak usia 7-23 bulan. Misalnya, memberikan makanan tambahan untuk para ibu hamil, mendorong pemberian ASI eksklusif minimal hingga usia 6 bulan, pendampingan pemberian MPASI, pemberian obat cacing pada anak, dan sebagainya.

Intervensi ini disebut-sebut berkontribusi dalam upaya penurunan stunting sebesar 30%. Sisanya apa ya?

Apa itu intervensi gizi sensitif?

Sebanyak 70% dari penurunan stunting berasal dari intervensi gizi sensitif (intervensi secara tidak langsung). Apakah itu? Intervensi gizi sensitif merupakan upaya Pemerintah untuk menurunkan tingkat prevalensi stunting nasional melalui kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan. Misalnya, Pemerintah menyediakan akses masyarakat atas air bersih, sanitasi yang layak, dan layanan kesehatan yang baik. Intinya adalah sarana dan prasarana yang mendukung kesehatan.
Selain itu, dalam upaya mempercepat penanganan stunting, Pemerintah mencanangkan prioritas penanganan stunting pada tahun 2017 dan 2018 terhadap 100 kabupaten/kota dengan tingkat stunting tertinggi di Indonesia.

Seberapa efektif upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah?

Upaya penurunan stunting yang dilakukan dari tahun 2012 tersebut mulai menumbuhkan hasil. Berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017 oleh Kementerian Kesehatan, tingkat prevalensi Indonesia menurun dari 37,2% di tahun 2013 menjadi 29,6% di tahun 2016. Artinya, terdapat indikator positif terhadap upaya penurunan stunting. Namun demikian, angka 29,6% tersebut masih di atas standar maksimal yang ditetapkan oleh WHO sebesar 20%.
Optimis ke depan akan semakin baik, ya!

Jadi, apa kesimpulannya?

Upaya pencegahan stunting agar tingkat prevalensi stunting di Indonesia lebih rendah dari standar maksimal yang ditetapkan oleh WHO atau bahkan kelak hilang sama sekali merupakan tugas bersama antara banyak pihak. Misalnya, Pemerintah yang terdiri dari berbagai unsur kementerian menggandeng lembaga wali amanat seperti MCA, lembaga internasional seperti Unicef, dan tentunya masyarakat.

Pemerintah menyediakan sarana kesehatan dan memenuhi gizi rakyat, lembaga melakukan upaya-upaya guna membantu Pemerintah, para perempuan menjaga asupan gizinya dengan baik selama mengandung dan menyusui, suami bertanggung jawab memenuhi kebutuhan gizi keluarga, dan sebagainya.

Salah satu fakta menarik tentang stunting adalah bahwa
gizi buruk tak hanya terjadi pada balita dari keluarga yang kurang mampu saja. Kondisi stunting juga dialami oleh keluarga yang tidak miskin (berada di atas 40% tingkat kesejahteraan sosial dan ekonomi) karena itu semua orang harus menyadari tentang pentingnya menjaga pola makan, pola asuhm serta sanitasi.

Jadi, sudah menjadi tugas kita bersama untuk melakukan upaya pencegahan stunting demi Indonesia Sehat, bukan? Indonesia sehat, Indonesia yang bebas dari stunting.

Semoga? Segera

**

Referensi :




4 comments:

  1. Wah, NTT memiliki tingkat prevalensi stunting di negara indonesia yang paling tinggi ya ternyata.

    ReplyDelete
  2. Huhu, selalu was-was dan kepikiran anak tiap baca artikel ttg stunting

    ReplyDelete
  3. tulisannya keren
    penuh dengan referensi
    butuh berapa jam ya buat nulis kek gini

    ReplyDelete